Connect with us

Blog

Kenapa Rem Mobil Kadang Bunyi Setelah Terobos Genangan?

Published

on

Pernah gak sih habis menerobos genangan, tiba-tiba rem mobil bunyi “cit-cit” atau terdengar agak kasar saat pedal diinjak?

Tenang, suara tersebut gak selalu berarti rem mobil langsung bermasalah. Ada kondisi yang memang bisa bikin rem mengeluarkan suara setelah terkena air, terutama kalau sebelumnya mobil melewati genangan yang cukup dalam.

Salah satu penyebab paling umum adalah air yang masih menempel di cakram dan kampas rem.

Saat mobil melewati genangan, cakram rem yang sebelumnya panas bisa langsung terkena air. Permukaannya kemudian menjadi basah dan membuat gesekan antara kampas dengan cakram berubah.

Akibatnya, ketika pedal rem diinjak beberapa kali setelah keluar dari genangan, bisa muncul suara berdecit atau gesekan yang terasa sedikit berbeda.

Biasanya Hilang Setelah Rem Dipakai

Kalau penyebabnya cuma karena rem basah, suara biasanya akan berkurang setelah mobil berjalan dan rem digunakan beberapa kali.

Air yang menempel di permukaan cakram dan kampas akan perlahan mengering karena gesekan dan panas dari sistem pengereman.

Makanya, setelah melewati genangan, pengemudi bisa melakukan pengereman secara bertahap dan halus di tempat yang aman untuk memastikan respons rem kembali normal.

Bukan berarti pedal rem harus diinjak keras-keras. Justru, lakukan secara normal sambil memastikan mobil tetap bisa mengurangi kecepatan dengan baik.

Jangan Langsung Panik Kalau Ada Bunyi

Suara rem setelah kena air juga bisa berbeda-beda. Ada yang cuma berupa bunyi decit sebentar, ada juga yang terasa seperti suara gesekan kasar.

Kalau suara tersebut hilang setelah beberapa kali pengereman dan performa rem kembali normal, biasanya gak perlu langsung panik.

Tapi kalau bunyi terus muncul meski rem sudah kering, nah, ini baru perlu diperhatikan.

Apalagi kalau dibarengi gejala lain seperti pedal rem terasa berbeda, mobil bergetar saat pengereman, jarak pengereman terasa lebih panjang, atau mobil cenderung menarik ke satu sisi.

Kalau sudah muncul gejala seperti itu, sebaiknya jangan cuma mengandalkan asumsi bahwa rem masih basah. Sistem pengereman perlu diperiksa.

Jangan Abaikan Kalau Bunyi Terus-terusan

Rem merupakan salah satu komponen yang gak boleh dianggap sepele. Jadi, kalau suara aneh tetap muncul setelah mobil kembali digunakan secara normal, ada baiknya segera cek kondisi kampas, cakram, dan komponen pengereman lainnya.

Terlebih kalau mobil cukup sering digunakan menerobos genangan. Air bukan satu-satunya masalah, karena genangan juga bisa membawa pasir, lumpur, atau kotoran yang kemudian menempel di area rem.

Jadi, kalau setelah menerobos genangan rem sempat bunyi, gak selalu berarti ada kerusakan. Bisa saja sistem pengereman masih basah dan suaranya akan hilang setelah kembali kering.

Yang penting, tetap perhatikan perubahan rasa pengereman. Kalau bunyinya gak hilang atau muncul gejala lain, jangan ditunda untuk diperiksa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Momen Max Verstappen Lawan 100 Pembalap Go-Kart

Published

on

By

Banyak orang mungkin merasa dirinya sudah jago nyetir. Tapi ketika harus berhadapan dengan pembalap Formula 1 seperti Max Verstappen, levelnya tentu beda.

Hal itu dibuktikan Verstappen dalam tantangan unik yang digelar Red Bull di Silverstone. Pembalap asal Belanda tersebut harus start dari posisi paling belakang dan menyalip 100 pembalap go-kart.

Bukan balapan biasa, tantangan ini dibuat sebagai balapan go-kart terbesar yang pernah digelar di Silverstone. Aksinya juga disiarkan melalui Disney+ dan ESPN App.

Baru Start, Verstappen Langsung Gaspol

Begitu lampu start menyala, 100 pembalap amatir langsung melaju memenuhi lintasan.

Dengan trek go-kart yang sempit dan penuh tikungan, situasi pun cepat jadi ramai. Para pembalap harus berebut posisi sambil mencari celah untuk menyalip.

Sementara peserta lain masih berusaha menemukan ritmenya, Verstappen langsung bergerak dari satu kart ke kart lainnya.

Dalam waktu singkat, dia sudah melewati lebih dari selusin pembalap. Bahkan, ketika lap pertama selesai, Verstappen sudah berhasil menyalip lebih dari 60 pembalap.

Pembalap yang Disalip Langsung Gugur

Ada aturan khusus dalam tantangan ini. Setiap pembalap yang berhasil dilewati Verstappen langsung dinyatakan gugur.

Aturan tersebut dibuat supaya 100 go-kart gak terus memenuhi lintasan sampai balapan 30 lap selesai.

Verstappen pun terus melaju dan gak butuh waktu lama untuk masuk ke posisi lima besar.

Memasuki lap kedelapan, pembalap Red Bull Racing F1 itu mulai mengejar tiga pembalap terdepan yang sebelumnya berhasil membuat jarak karena kekacauan di belakang.

Gak lama kemudian, Verstappen akhirnya berhasil mencapai posisi terdepan.

Total waktu yang dibutuhkan Verstappen untuk menyelesaikan tantangan tersebut sekitar 35 menit.

Verstappen Kembali ke Dasar

Setelah memenangkan tantangan tersebut, Verstappen mengatakan dirinya senang bisa kembali mengendarai go-kart. Menurutnya, pengalaman itu mengingatkan kembali masa-masa awal ketika dirinya mulai balapan.

“Senang rasanya bisa kembali mengendarai go-kart dan kembali ke dasar-dasarnya. Ini mengingatkan saya pada masa-masa balapan dulu,” kata Verstappen setelah meraih kemenangan.

Dia juga memuji karakter lintasan yang digunakan dalam tantangan tersebut.

“Ini benar-benar lintasan yang indah dan dirancang dengan baik. Saya juga suka karena semua data bisa dikirim melalui radio. Saya menjalani hari yang menyenangkan dan senang bisa keluar sebagai pemenang,” kata Verstappen.

Bukan Cuma Soal Berani Gas

Kalau diperhatikan, kemampuan Verstappen di lintasan bukan cuma soal berani membuka gas.

Di trek go-kart yang sempit, pembalap harus bisa membaca posisi lawan, melihat celah, menentukan jalur yang tepat, sekaligus mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Hal itu yang membuat Verstappen bisa melewati puluhan pembalap hanya dalam satu lap.

Jadi, meski kelihatannya cuma balapan go-kart, tantangan ini bisa jadi gambaran sederhana soal perbedaan antara pembalap profesional dan pembalap amatir ketika berada di lintasan.

Continue Reading

Blog

Charger Mobil Listrik Gak Dicabut Semalaman, Aman Gak?

Published

on

By

Buat pemilik mobil listrik, ngecas mobil sebelum tidur lalu baru dicabut pagi harinya mungkin sudah jadi rutinitas.

Tapi pernah kepikiran gak, kalau baterai sudah penuh ternyata charger tetap terpasang sampai semalaman, bahkan sampai pagi?

Tenang, pada mobil listrik modern kondisi seperti ini umumnya sudah diperhitungkan oleh sistem mobil dan charger. Jadi, bukan berarti baterai bakal terus “dipaksa” menerima listrik setelah kapasitasnya penuh.

Saat Baterai Penuh, Pengisian Gak Terus-terusan Ngegas

Mobil listrik punya sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) yang memantau kondisi baterai, termasuk tingkat pengisian dayanya.

Ketika baterai sudah mencapai batas pengisian yang ditentukan, sistem akan mengatur proses pengisian supaya baterai gak terus menerima daya seperti saat proses charging normal.

Makanya, kalau mobil dicolok malam hari dan baterainya penuh sebelum pagi, gak berarti baterai terus diisi dengan daya maksimal sepanjang malam.

Pada beberapa mobil, sistem juga bisa mengatur pengisian berdasarkan batas persentase yang sudah ditentukan pemilik.

Misalnya, kalau pengguna mengatur batas pengisian sampai 80 persen, mobil akan berhenti melakukan pengisian utama ketika batas tersebut tercapai.

Justru Ngecas Malam Hari Bisa Lebih Praktis

Buat pemilik mobil listrik yang punya charger di rumah, ngecas malam hari memang cukup masuk akal.

Mobil bisa ditinggal tidur dan pagi harinya sudah siap digunakan. Apalagi kalau mobil mendukung pengaturan jadwal charging, pengguna bisa menentukan kapan proses pengisian dimulai.

Jadi gak harus buru-buru bangun tengah malam cuma buat mencabut charger.

Meski begitu, bukan berarti kabel charger boleh dibiarkan terpasang sembarangan. Pastikan konektor terpasang dengan benar dan instalasi listrik yang digunakan memang sesuai untuk kebutuhan charging mobil.

Yang Perlu Diperhatikan Bukan Cuma Baterainya

Kalau kebiasaan ngecas semalaman dilakukan setiap hari, yang perlu diperhatikan bukan hanya kondisi baterai.

Instalasi listrik rumah juga penting. Pastikan stop kontak, kabel, circuit breaker, dan perangkat charger punya kapasitas yang sesuai.

Hindari penggunaan sambungan listrik abal-abal atau kabel ekstensi yang gak dirancang untuk beban charging kendaraan listrik.

Kalau menggunakan home charger, pemasangannya juga sebaiknya mengikuti spesifikasi dari produsen dan dilakukan dengan instalasi yang benar.

Jadi, Aman Gak?

Secara umum, aman meninggalkan mobil listrik dalam kondisi terhubung ke charger semalaman, selama mobil dan perangkat charging bekerja normal serta instalasi listriknya sesuai.

Yang lebih penting justru jangan asal colok ke sumber listrik yang kondisinya gak jelas.

Selain itu, kalau mobil punya fitur pengaturan batas pengisian, manfaatkan fitur tersebut. Untuk penggunaan sehari-hari, pengguna bisa mengikuti rekomendasi batas pengisian dari masing-masing pabrikan.

Jadi, kalau mau tidur dan mobil masih dicas, gak perlu panik harus bangun buat mencabut charger begitu baterai penuh. Sistem mobil memang dirancang untuk mengatur proses pengisian tersebut.

Tapi tetap ingat, aman atau gaknya proses charging juga sangat bergantung pada kondisi mobil, charger, dan instalasi listrik yang digunakan.

Continue Reading

Blog

BBM Makin Sulit Dicari, Ini Cara Bikin Mobil Lebih Irit di Jalan

Published

on

By

Kondisi BBM yang belakangan lebih sulit ditemukan di sejumlah wilayah membuat pengendara harus lebih pintar mengatur pemakaian bahan bakar.

Apalagi buat yang setiap hari menggunakan mobil untuk bekerja atau beraktivitas. Ketika antrean SPBU mengular dan pengisian BBM gak bisa dilakukan seperti biasanya, konsumsi bahan bakar menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Sebenarnya, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan supaya mobil lebih irit saat digunakan sehari-hari. Cara ini gak selalu membutuhkan modifikasi atau perangkat tambahan.

Jangan Sering Gas dan Rem Mendadak

Salah satu kebiasaan yang cukup berpengaruh terhadap konsumsi BBM adalah gaya berkendara.

Terlalu sering menginjak pedal gas dalam-dalam kemudian mengerem mendadak membuat mesin bekerja lebih berat. Setelah itu, mobil kembali harus berakselerasi dari kecepatan rendah.

Sebisa mungkin, jaga kecepatan tetap stabil dan manfaatkan momentum mobil ketika kondisi lalu lintas memungkinkan.

Bukan berarti harus berkendara sangat pelan, tetapi hindari kebiasaan mengejar kecepatan kemudian melakukan pengereman secara mendadak.

Jangan Biarkan Mesin Menyala Terlalu Lama Saat Berhenti

Saat antre panjang, pengemudi sering kali membiarkan mesin tetap menyala sambil menunggu.

Kalau hanya sebentar tentu bukan masalah besar. Namun, ketika antrean berlangsung lama, mesin yang terus menyala tetap mengonsumsi BBM meski mobil gak bergerak.

Kalau kondisinya memungkinkan dan aman, mesin bisa dimatikan ketika harus berhenti cukup lama.

Tetapi jangan sampai terlalu sering mematikan dan menyalakan mesin dalam jeda yang sangat singkat karena manfaat penghematannya bisa gak signifikan.

Periksa Tekanan Ban

Tekanan ban juga jangan disepelekan.

Ban yang kekurangan angin membuat hambatan gulir semakin besar. Akibatnya, mesin membutuhkan tenaga lebih untuk menggerakkan mobil.

Karena itu, pastikan tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan. Informasinya biasanya bisa ditemukan di pilar pintu pengemudi atau buku manual kendaraan.

Gak perlu sengaja mengurangi atau menambah tekanan ban demi mengejar konsumsi BBM. Ikuti saja angka yang direkomendasikan.

Kurangi Barang yang Gak Perlu

Kalau di bagasi masih ada barang-barang berat yang sebenarnya jarang digunakan, sebaiknya dikeluarkan.

Semakin berat kendaraan, semakin besar pula tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkannya, terutama saat berakselerasi.

Memang, mengeluarkan beberapa barang dari bagasi gak akan langsung membuat konsumsi BBM berubah drastis. Namun, mengurangi beban yang gak diperlukan tetap bisa membantu efisiensi, terutama jika dilakukan terus-menerus.

ac mobil

Gunakan AC Secukupnya

AC juga mengambil energi dari mesin pada mobil bermesin konvensional.

Bukan berarti harus mematikan AC sepanjang perjalanan. Justru, pengemudi tetap harus mempertimbangkan kenyamanan dan keselamatan.

Namun, hindari menyetel AC terlalu dingin ketika kondisi kabin sebenarnya sudah nyaman. Pastikan juga filter kabin dan sistem AC dirawat secara berkala supaya kerjanya tetap optimal.

Jangan Menunggu Mesin Bermasalah

Mobil yang jarang dirawat juga berpotensi mengalami penurunan efisiensi.

Filter udara yang kotor, tekanan ban yang gak sesuai, oli yang sudah waktunya diganti, sampai gangguan pada sistem pembakaran bisa memengaruhi kerja mesin.

Karena itu, servis berkala tetap penting meskipun tujuan utamanya sedang menghemat BBM.

Jangan sampai karena ingin menghemat biaya, perawatan justru ditunda dan akhirnya konsumsi BBM semakin boros atau muncul kerusakan yang biayanya lebih besar.

Atur Rute Sebelum Berangkat

Terakhir, coba rencanakan perjalanan sebelum berangkat.

Rute yang lebih pendek belum tentu selalu lebih hemat kalau jalannya macet total. Sebaliknya, sedikit memutar tetapi lalu lintasnya lebih lancar bisa saja membuat waktu perjalanan dan konsumsi BBM lebih rendah.

Kalau harus mengunjungi beberapa tempat, usahakan susun rute agar perjalanan gak bolak-balik.

Di tengah kondisi BBM yang lebih sulit dicari, kebiasaan sederhana seperti ini bisa membantu mengurangi frekuensi mampir ke SPBU.

Intinya, menghemat BBM gak harus selalu dilakukan dengan mengubah mobil. Cara berkendara, kondisi kendaraan, beban, sampai perencanaan perjalanan punya peran dalam menentukan seberapa cepat bahan bakar habis.

Dengan begitu, ketika harus menghadapi antrean SPBU atau stok BBM yang gak selalu tersedia, jarak tempuh dari satu pengisian ke pengisian berikutnya bisa dibuat lebih panjang.

Continue Reading

Trending