Connect with us

Blog

Charger Mobil Listrik Gak Dicabut Semalaman, Aman Gak?

Published

on

Buat pemilik mobil listrik, ngecas mobil sebelum tidur lalu baru dicabut pagi harinya mungkin sudah jadi rutinitas.

Tapi pernah kepikiran gak, kalau baterai sudah penuh ternyata charger tetap terpasang sampai semalaman, bahkan sampai pagi?

Tenang, pada mobil listrik modern kondisi seperti ini umumnya sudah diperhitungkan oleh sistem mobil dan charger. Jadi, bukan berarti baterai bakal terus “dipaksa” menerima listrik setelah kapasitasnya penuh.

Saat Baterai Penuh, Pengisian Gak Terus-terusan Ngegas

Mobil listrik punya sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) yang memantau kondisi baterai, termasuk tingkat pengisian dayanya.

Ketika baterai sudah mencapai batas pengisian yang ditentukan, sistem akan mengatur proses pengisian supaya baterai gak terus menerima daya seperti saat proses charging normal.

Makanya, kalau mobil dicolok malam hari dan baterainya penuh sebelum pagi, gak berarti baterai terus diisi dengan daya maksimal sepanjang malam.

Pada beberapa mobil, sistem juga bisa mengatur pengisian berdasarkan batas persentase yang sudah ditentukan pemilik.

Misalnya, kalau pengguna mengatur batas pengisian sampai 80 persen, mobil akan berhenti melakukan pengisian utama ketika batas tersebut tercapai.

Justru Ngecas Malam Hari Bisa Lebih Praktis

Buat pemilik mobil listrik yang punya charger di rumah, ngecas malam hari memang cukup masuk akal.

Mobil bisa ditinggal tidur dan pagi harinya sudah siap digunakan. Apalagi kalau mobil mendukung pengaturan jadwal charging, pengguna bisa menentukan kapan proses pengisian dimulai.

Jadi gak harus buru-buru bangun tengah malam cuma buat mencabut charger.

Meski begitu, bukan berarti kabel charger boleh dibiarkan terpasang sembarangan. Pastikan konektor terpasang dengan benar dan instalasi listrik yang digunakan memang sesuai untuk kebutuhan charging mobil.

Yang Perlu Diperhatikan Bukan Cuma Baterainya

Kalau kebiasaan ngecas semalaman dilakukan setiap hari, yang perlu diperhatikan bukan hanya kondisi baterai.

Instalasi listrik rumah juga penting. Pastikan stop kontak, kabel, circuit breaker, dan perangkat charger punya kapasitas yang sesuai.

Hindari penggunaan sambungan listrik abal-abal atau kabel ekstensi yang gak dirancang untuk beban charging kendaraan listrik.

Kalau menggunakan home charger, pemasangannya juga sebaiknya mengikuti spesifikasi dari produsen dan dilakukan dengan instalasi yang benar.

Jadi, Aman Gak?

Secara umum, aman meninggalkan mobil listrik dalam kondisi terhubung ke charger semalaman, selama mobil dan perangkat charging bekerja normal serta instalasi listriknya sesuai.

Yang lebih penting justru jangan asal colok ke sumber listrik yang kondisinya gak jelas.

Selain itu, kalau mobil punya fitur pengaturan batas pengisian, manfaatkan fitur tersebut. Untuk penggunaan sehari-hari, pengguna bisa mengikuti rekomendasi batas pengisian dari masing-masing pabrikan.

Jadi, kalau mau tidur dan mobil masih dicas, gak perlu panik harus bangun buat mencabut charger begitu baterai penuh. Sistem mobil memang dirancang untuk mengatur proses pengisian tersebut.

Tapi tetap ingat, aman atau gaknya proses charging juga sangat bergantung pada kondisi mobil, charger, dan instalasi listrik yang digunakan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Kenapa Rem Mobil Kadang Bunyi Setelah Terobos Genangan?

Published

on

By

Pernah gak sih habis menerobos genangan, tiba-tiba rem mobil bunyi “cit-cit” atau terdengar agak kasar saat pedal diinjak?

Tenang, suara tersebut gak selalu berarti rem mobil langsung bermasalah. Ada kondisi yang memang bisa bikin rem mengeluarkan suara setelah terkena air, terutama kalau sebelumnya mobil melewati genangan yang cukup dalam.

Salah satu penyebab paling umum adalah air yang masih menempel di cakram dan kampas rem.

Saat mobil melewati genangan, cakram rem yang sebelumnya panas bisa langsung terkena air. Permukaannya kemudian menjadi basah dan membuat gesekan antara kampas dengan cakram berubah.

Akibatnya, ketika pedal rem diinjak beberapa kali setelah keluar dari genangan, bisa muncul suara berdecit atau gesekan yang terasa sedikit berbeda.

Biasanya Hilang Setelah Rem Dipakai

Kalau penyebabnya cuma karena rem basah, suara biasanya akan berkurang setelah mobil berjalan dan rem digunakan beberapa kali.

Air yang menempel di permukaan cakram dan kampas akan perlahan mengering karena gesekan dan panas dari sistem pengereman.

Makanya, setelah melewati genangan, pengemudi bisa melakukan pengereman secara bertahap dan halus di tempat yang aman untuk memastikan respons rem kembali normal.

Bukan berarti pedal rem harus diinjak keras-keras. Justru, lakukan secara normal sambil memastikan mobil tetap bisa mengurangi kecepatan dengan baik.

Jangan Langsung Panik Kalau Ada Bunyi

Suara rem setelah kena air juga bisa berbeda-beda. Ada yang cuma berupa bunyi decit sebentar, ada juga yang terasa seperti suara gesekan kasar.

Kalau suara tersebut hilang setelah beberapa kali pengereman dan performa rem kembali normal, biasanya gak perlu langsung panik.

Tapi kalau bunyi terus muncul meski rem sudah kering, nah, ini baru perlu diperhatikan.

Apalagi kalau dibarengi gejala lain seperti pedal rem terasa berbeda, mobil bergetar saat pengereman, jarak pengereman terasa lebih panjang, atau mobil cenderung menarik ke satu sisi.

Kalau sudah muncul gejala seperti itu, sebaiknya jangan cuma mengandalkan asumsi bahwa rem masih basah. Sistem pengereman perlu diperiksa.

Jangan Abaikan Kalau Bunyi Terus-terusan

Rem merupakan salah satu komponen yang gak boleh dianggap sepele. Jadi, kalau suara aneh tetap muncul setelah mobil kembali digunakan secara normal, ada baiknya segera cek kondisi kampas, cakram, dan komponen pengereman lainnya.

Terlebih kalau mobil cukup sering digunakan menerobos genangan. Air bukan satu-satunya masalah, karena genangan juga bisa membawa pasir, lumpur, atau kotoran yang kemudian menempel di area rem.

Jadi, kalau setelah menerobos genangan rem sempat bunyi, gak selalu berarti ada kerusakan. Bisa saja sistem pengereman masih basah dan suaranya akan hilang setelah kembali kering.

Yang penting, tetap perhatikan perubahan rasa pengereman. Kalau bunyinya gak hilang atau muncul gejala lain, jangan ditunda untuk diperiksa.

Continue Reading

Blog

BBM Makin Sulit Dicari, Ini Cara Bikin Mobil Lebih Irit di Jalan

Published

on

By

Kondisi BBM yang belakangan lebih sulit ditemukan di sejumlah wilayah membuat pengendara harus lebih pintar mengatur pemakaian bahan bakar.

Apalagi buat yang setiap hari menggunakan mobil untuk bekerja atau beraktivitas. Ketika antrean SPBU mengular dan pengisian BBM gak bisa dilakukan seperti biasanya, konsumsi bahan bakar menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Sebenarnya, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan supaya mobil lebih irit saat digunakan sehari-hari. Cara ini gak selalu membutuhkan modifikasi atau perangkat tambahan.

Jangan Sering Gas dan Rem Mendadak

Salah satu kebiasaan yang cukup berpengaruh terhadap konsumsi BBM adalah gaya berkendara.

Terlalu sering menginjak pedal gas dalam-dalam kemudian mengerem mendadak membuat mesin bekerja lebih berat. Setelah itu, mobil kembali harus berakselerasi dari kecepatan rendah.

Sebisa mungkin, jaga kecepatan tetap stabil dan manfaatkan momentum mobil ketika kondisi lalu lintas memungkinkan.

Bukan berarti harus berkendara sangat pelan, tetapi hindari kebiasaan mengejar kecepatan kemudian melakukan pengereman secara mendadak.

Jangan Biarkan Mesin Menyala Terlalu Lama Saat Berhenti

Saat antre panjang, pengemudi sering kali membiarkan mesin tetap menyala sambil menunggu.

Kalau hanya sebentar tentu bukan masalah besar. Namun, ketika antrean berlangsung lama, mesin yang terus menyala tetap mengonsumsi BBM meski mobil gak bergerak.

Kalau kondisinya memungkinkan dan aman, mesin bisa dimatikan ketika harus berhenti cukup lama.

Tetapi jangan sampai terlalu sering mematikan dan menyalakan mesin dalam jeda yang sangat singkat karena manfaat penghematannya bisa gak signifikan.

Periksa Tekanan Ban

Tekanan ban juga jangan disepelekan.

Ban yang kekurangan angin membuat hambatan gulir semakin besar. Akibatnya, mesin membutuhkan tenaga lebih untuk menggerakkan mobil.

Karena itu, pastikan tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan. Informasinya biasanya bisa ditemukan di pilar pintu pengemudi atau buku manual kendaraan.

Gak perlu sengaja mengurangi atau menambah tekanan ban demi mengejar konsumsi BBM. Ikuti saja angka yang direkomendasikan.

Kurangi Barang yang Gak Perlu

Kalau di bagasi masih ada barang-barang berat yang sebenarnya jarang digunakan, sebaiknya dikeluarkan.

Semakin berat kendaraan, semakin besar pula tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkannya, terutama saat berakselerasi.

Memang, mengeluarkan beberapa barang dari bagasi gak akan langsung membuat konsumsi BBM berubah drastis. Namun, mengurangi beban yang gak diperlukan tetap bisa membantu efisiensi, terutama jika dilakukan terus-menerus.

ac mobil

Gunakan AC Secukupnya

AC juga mengambil energi dari mesin pada mobil bermesin konvensional.

Bukan berarti harus mematikan AC sepanjang perjalanan. Justru, pengemudi tetap harus mempertimbangkan kenyamanan dan keselamatan.

Namun, hindari menyetel AC terlalu dingin ketika kondisi kabin sebenarnya sudah nyaman. Pastikan juga filter kabin dan sistem AC dirawat secara berkala supaya kerjanya tetap optimal.

Jangan Menunggu Mesin Bermasalah

Mobil yang jarang dirawat juga berpotensi mengalami penurunan efisiensi.

Filter udara yang kotor, tekanan ban yang gak sesuai, oli yang sudah waktunya diganti, sampai gangguan pada sistem pembakaran bisa memengaruhi kerja mesin.

Karena itu, servis berkala tetap penting meskipun tujuan utamanya sedang menghemat BBM.

Jangan sampai karena ingin menghemat biaya, perawatan justru ditunda dan akhirnya konsumsi BBM semakin boros atau muncul kerusakan yang biayanya lebih besar.

Atur Rute Sebelum Berangkat

Terakhir, coba rencanakan perjalanan sebelum berangkat.

Rute yang lebih pendek belum tentu selalu lebih hemat kalau jalannya macet total. Sebaliknya, sedikit memutar tetapi lalu lintasnya lebih lancar bisa saja membuat waktu perjalanan dan konsumsi BBM lebih rendah.

Kalau harus mengunjungi beberapa tempat, usahakan susun rute agar perjalanan gak bolak-balik.

Di tengah kondisi BBM yang lebih sulit dicari, kebiasaan sederhana seperti ini bisa membantu mengurangi frekuensi mampir ke SPBU.

Intinya, menghemat BBM gak harus selalu dilakukan dengan mengubah mobil. Cara berkendara, kondisi kendaraan, beban, sampai perencanaan perjalanan punya peran dalam menentukan seberapa cepat bahan bakar habis.

Dengan begitu, ketika harus menghadapi antrean SPBU atau stok BBM yang gak selalu tersedia, jarak tempuh dari satu pengisian ke pengisian berikutnya bisa dibuat lebih panjang.

Continue Reading

Blog

Baterai LFP Lebih Aman dari Kebakaran? Cek Faktanya!

Published

on

By

Belakangan ini makin banyak mobil listrik yang menggunakan baterai LFP (Lithium Iron Phosphate).

Selain diklaim punya umur pakai yang panjang, baterai LFP juga sering disebut lebih aman dari risiko kebakaran dibandingkan jenis baterai lithium-ion lainnya.

Tapi, benar kayak gitu?

Jawabannya, LFP memang punya karakter yang lebih stabil secara termal, tetapi bukan berarti kebal terhadap kebakaran.

Kenapa LFP dianggap lebih aman?

Perbedaan utamanya ada pada material kimia yang digunakan.

Baterai LFP menggunakan lithium iron phosphate sebagai material katoda. Sementara beberapa baterai EV lain menggunakan kimia seperti NMC (Nickel Manganese Cobalt).

Salah satu keunggulan LFP adalah struktur materialnya lebih stabil ketika terkena panas.

Ketika terjadi kondisi ekstrem, baterai LFP cenderung lebih sulit mengalami pelepasan oksigen dibanding beberapa jenis baterai lithium-ion berbasis nikel.

Hal ini penting karena panas tinggi dan reaksi kimia yang gak terkendali merupakan salah satu faktor yang bisa memicu thermal runaway.

Sederhananya, semakin stabil material baterai ketika suhunya naik, semakin kecil kecenderungannya untuk mengalami reaksi berantai yang menghasilkan panas semakin tinggi.

Tapi LFP tetap bisa terbakar

Nah, bagian ini yang sering salah dipahami.

LFP bukan berarti anti kebakaran.

Kalau battery pack mengalami kerusakan parah, misalnya akibat kecelakaan, korsleting, pengisian daya yang bermasalah, atau kerusakan internal sel, baterai LFP tetap bisa mengalami thermal runaway.

Artinya, risiko kebakaran tetap ada. Cuma, karakteristik reaksinya berbeda.

Pada kondisi tertentu, LFP cenderung menghasilkan panas dan reaksi yang lebih terkendali dibandingkan beberapa jenis baterai lithium-ion lainnya.

Jadi, lebih tepat menyebut LFP punya stabilitas termal yang lebih baik, bukan baterai yang gak bisa terbakar.

Apa yang terjadi kalau baterai LFP terlalu panas?

Baterai lithium-ion memiliki rentang temperatur kerja tertentu.

Kalau suhunya terlalu tinggi, berbagai reaksi kimia di dalam sel bisa terganggu.

Dalam kondisi ekstrem, kerusakan dapat berkembang menjadi thermal runaway.

Pada tahap ini, panas yang dihasilkan sel bisa semakin tinggi dan kemudian memengaruhi sel-sel di sekitarnya.

Itulah kenapa battery pack mobil listrik dibuat dengan berbagai sistem perlindungan.

Ada sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) yang bertugas memantau berbagai parameter baterai, termasuk tegangan dan temperatur.

Sistem tersebut membantu menjaga baterai tetap bekerja dalam kondisi yang aman.

LFP juga punya kelebihan lain

Selain soal keamanan, LFP punya beberapa karakter yang membuatnya menarik untuk digunakan pada mobil listrik.

Salah satunya adalah umur siklus yang umumnya panjang. Artinya, baterai bisa mengalami banyak siklus pengisian dan pengosongan sebelum kapasitasnya mengalami penurunan signifikan.

LFP juga gak menggunakan nikel dan kobalt sebagai material katodanya.

Namun, ada komprominya.

Dari sisi kepadatan energi, LFP umumnya masih berada di bawah beberapa jenis baterai berbasis nikel. Artinya, untuk kapasitas energi yang sama, battery pack LFP bisa membutuhkan ukuran atau bobot yang lebih besar.

Meski begitu, perkembangan teknologi membuat kepadatan energi LFP terus meningkat.

Jadi, LFP lebih aman atau gak?

Kalau pertanyaannya “apakah LFP lebih stabil terhadap panas?”, jawabannya iya.

Karakter kimia LFP membuatnya memiliki stabilitas termal yang baik dan cenderung lebih tahan terhadap kondisi yang bisa memicu thermal runaway dibanding beberapa kimia baterai lithium-ion lainnya.

Tapi kalau pertanyaannya “apakah mobil listrik dengan baterai LFP gak bisa terbakar?”, jawabannya tentu gak.

LFP tetap menyimpan energi dalam jumlah besar dan tetap bisa mengalami kebakaran kalau terjadi kerusakan atau kondisi ekstrem.

Jadi, jangan menganggap mobil listrik dengan baterai LFP bebas dari risiko kebakaran.

Yang lebih tepat, LFP punya karakter yang membuatnya relatif lebih stabil secara termal, tetapi sistem perlindungan baterai, kualitas produksi, sistem pendinginan, dan cara penggunaan kendaraan tetap punya peran penting dalam keselamatan.

Dengan kata lain, jenis kimia baterai memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa aman sebuah mobil listrik.

Continue Reading

Trending