Connect with us

Blog

Ternyata Ini Alasan Mobil Listrik Gak Punya Gril!

Published

on

interior Jaecoo J5 EV

Kalau perhatiin mobil listrik zaman sekarang, ada satu ciri yang gampang banget dikenalin bagian depannya banyak yang “ketutup”. Gak ada gril besar bolong-bolong kayak mobil bensin. Sekilas malah kelihatan kayak belum dipasang aksesori.

Banyak yang ngira itu cuma soal desain biar terlihat futuristis. Padahal, alasan utamanya justru soal kebutuhan teknis.

Di mobil bensin, gril depan itu ibarat lubang napas. Fungsinya buat ngasih aliran udara ke radiator dan ruang mesin supaya suhu tetap stabil. Mesin pembakaran dalam memang menghasilkan panas tinggi, jadi butuh banyak udara masuk dari depan.

Nah, di mobil listrik ceritanya beda.

Motor listrik gak menghasilkan panas sebesar mesin bensin. Komponen yang butuh pendinginan memang tetap ada seperti baterai dan modul kontrol tapi sistemnya gak selalu mengandalkan aliran udara langsung dari depan mobil.

Banyak EV sudah pakai sistem pendinginan cair (liquid cooling) yang jalurnya lebih tertutup dan terkontrol. Jadi, gak perlu lagi pakai grill besar kayak mobil-mobil bensin.

Karena kebutuhan lubang udara berkurang, desainer jadi punya kebebasan bikin tampang depan lebih rapat. Hasilnya, gril tertutup.

Tapi bukan cuma itu. Ada alasan lain yang lebih ilmiah, yaitu aerodinamika.

Mobil listrik sangat peduli sama efisiensi. Makin kecil hambatan angin, makin irit energi yang dipakai, makin jauh jarak tempuhnya. Gril terbuka bikin udara masuk ke ruang depan lalu berputar-putar di dalam, menciptakan turbulensi. Itu nambah drag.

Dengan gril tertutup, aliran udara bisa meluncur lebih mulus di permukaan mobil. Efeknya mungkin gak terasa langsung buat pengemudi, tapi bisa berpengaruh ke efisiensi dan range.

Makanya banyak EV tampil dengan muka halus, licin, dan minim lubang. Bahkan beberapa model menambahkan active air flap lubang udara yang bisa buka-tutup otomatis. Jadi cuma terbuka saat sistem memang butuh pendinginan ekstra, selebihnya ditutup demi aerodinamika.

Menariknya, walau disebut gril tertutup, area depan itu sering tetap dipakai buat hal lain. Di balik panelnya biasanya disimpan radar, sensor ADAS, kamera, sampai modul berbagai sistem bantuan mengemudi. Jadi bukan kosong, tapi lebih kayak pindah fungsi.

Ujungnya, desain gril tertutup di mobil listrik itu bukan sekadar gaya biar terlihat modern. Itu hasil kombinasi kebutuhan pendinginan yang berbeda, kejar efisiensi, plus integrasi teknologi. Bonusnya, tampang jadi beda sendiri sekali lihat, orang bisa langsung nebak “Oh, ini mobil listrik.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Kenapa Mobil Listrik Akselerasinya Galak Diawal?

Published

on

By

PEVS 2025

Kalau lihat spek atau coba mobil listrik, biasanya ada satu hal yang langsung bikin terasa beda dari mobil bensin, yaitu akselerasinya yang galak banget. Injak pedal, langsung melesat. Bahkan banyak EV keluarga bisa 0–100 km per jam di angka yang dulu cuma milik mobil performa.

Tapi di sisi lain, begitu lihat top speed, sering kali angkanya gak seekstrem mobil sport bermesin bensin. Jadi pertanyaannya, kenapa mobil listrik bisa kencang di awal?

Jawabannya ada di karakter dasar motor listrik itu sendiri.

Beda sama mesin bensin yang perlu naik putaran dulu baru tenaganya terasa, motor listrik bisa langsung ngeluarin torsi maksimum sejak putaran nol. Jadi dari posisi diam pun, dorongannya sudah penuh.

Makanya sensasi nariknya terasa spontan dan “ngejambak”. Ini yang bikin EV terasa responsif banget di kecepatan rendah sampai menengah. Karakter ini juga yang sering dijelasin dalam pengujian performa EV.

Selain itu, kebanyakan mobil listrik pakai transmisi satu percepatan alias single speed. Jadi gak ada perpindahan gigi kayak mobil bensin. Setup ini simpel dan efisien, tapi efeknya rasio gigi biasanya diatur buat akselerasi, bukan buat ngejar kecepatan puncak setinggi mungkin.

Beberapa pabrikan performa memang mulai pakai dua percepatan, tapi mayoritas EV harian masih satu gigi saja. Pembahasan soal ini juga sering diulas di media otomotif teknis seperti HotCars dan Motor and Wheels.

Faktor lain yang jarang dibahas, top speed tinggi itu bukan prioritas utama mobil listrik massal. Pabrikan lebih fokus ke respons awal, kenyamanan, dan efisiensi energi. Soalnya, di pemakaian nyata, orang jauh lebih sering butuh tarikan cepat dari lampu merah atau buat nyalip, ketimbang ngebut di kecepatan maksimum lama-lama.

Kecepatan puncak tinggi justru bikin konsumsi energi boros dan suhu baterai cepat naik, jadi biasanya dibatasi secara elektronik demi menjaga daya tahan sistem.

Belum lagi urusan bobot. Mobil listrik rata-rata lebih berat karena bawa baterai besar di lantai. Makin berat kendaraan, makin besar juga energi yang dibutuhkan buat terus nambah kecepatan di ujung atas. Hambatan angin juga makin terasa di kecepatan tinggi, dan itu jadi “musuh” utama saat ngejar top speed.

Jadi kalau dibilang mobil listrik itu kencang atau gak, jawabannya kencang banget, tapi di cara yang berbeda. Bukan jago lari marathon di top speed, tapi jago sprint dari garis start. Buat kondisi jalanan harian, justru karakter ini yang paling sering kepakai.

Continue Reading

Blog

Mobil Listrik Bisa Dicas di Rumah, Tapi Listriknya Kuat?

Published

on

By

Salah satu daya tarik utama mobil listrik itu sebenarnya bukan soal akselerasi atau teknologi canggihnya, tapi hal yang kelihatannya sepele, bisa ngecas di rumah. Pulang kerja, colok, tinggal tidur. Pagi-pagi baterai sudah penuh lagi. Lebih simpel dan katanya lebih irit biaya.

Tapi sebelum sampai ke situ, hampir semua calon pemilik mobil listrik pasti kepikiran satu hal yang sama, “Listrik rumah gue kuat gak, ya?”

Pertanyaan ini wajar. Soalnya mobil listrik memang gak butuh bensin, tapi butuh pasokan listrik yang stabil dan cukup. Bukan cuma kuat di awal, tapi juga sanggup jalan berjam-jam.

Untuk pemakaian rumahan, pengisian daya mobil listrik umumnya dilakukan lewat arus AC. Charger bawaan pabrikan biasanya bermain di kisaran 2.200 watt, sementara wall charger bisa lebih besar lagi. Artinya, selama mobil ngecas, rumah akan menanggung beban listrik tambahan cukup lama, bisa enam sampai delapan jam, tergantung kapasitas baterai.

Di sinilah mulai kelihatan bedanya rumah dengan daya pas-pasan dan rumah yang sudah siap mobil listrik. Secara teknis, listrik 2.200 VA sebenarnya sudah bisa dipakai untuk ngecas. Tapi prakteknya, pemilik harus pintar-pintar atur waktu. AC, rice cooker, pompa air, bahkan setrika, sebaiknya gak dipakai barengan. Kalau lengah sedikit, MCB bisa turun tanpa aba-aba.

Karena itu, banyak pengguna mobil listrik bilang 2.200 VA itu “cukup, tapi ribet”. Bisa dipakai, tapi harus disiplin. Sementara kalau daya rumah di angka 3.500 VA, ceritanya sudah jauh lebih santai. Mobil bisa tetap ngecas, peralatan rumah tangga masih bisa menyala, dan risiko listrik jeglek jauh berkurang.

Makanya, gak sedikit dealer mobil listrik yang sejak awal menyarankan konsumennya untuk memastikan daya rumah minimal di angka tersebut. Supaya pengalaman pakai mobil listriknya gak nyusahin.

Cerita lain muncul saat pemilik mobil listrik ingin naik kelas dengan wall charger. Waktu ngecas memang jauh lebih singkat dan stabil, tapi konsekuensinya jelas, daya rumah harus ikut naik. Biasanya ke 4.400 VA atau bahkan 5.500 VA.

Pada akhirnya, mobil listrik memang menawarkan biaya operasional yang lebih hemat dan pengalaman berkendara yang tenang. Tapi semua itu akan terasa maksimal kalau infrastrukturnya mendukung, termasuk dari rumah sendiri. Jangan sampai mobilnya senyap dan modern, tapi setiap kali ngecas malah bikin ribet dan gak nyaman.

Continue Reading

Blog

Fast Charging Bikin Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak, Memang Iya?

Published

on

By

Kalau lagi ngobrol soal mobil listrik, satu pertanyaan ini hampir pasti muncul, “Sering fast charging, baterainya cepet jebol nggak sih?”

Wajar sih. Soalnya logikanya sederhana. Kalau ngecas HP pakai charger cepat terus, panas. Lama-lama baterai ngedrop. Terus jadi buat kita mikir, “Mobil listrik kan baterainya jauh lebih gede. Apa gak lebih parah?”

Ternyata jawabannya gak sesederhana itu. Fast charging itu memang “berat”, tapi bukan musuh utama

Jadi, fast charging memang bikin baterai kerja lebih keras. Arus listrik besar masuk dalam waktu singkat, dan itu memicu panas. Panas inilah yang jadi faktor utama degradasi baterai.

Tapi…mobil listrik bukan HP.

Mini Aceman

Baterai mobil listrik sudah dibekali battery management system (BMS) dan sistem pendingin aktif. Ada yang pakai cairan, ada juga yang pakai udara. Fungsinya menjaga suhu baterai tetap aman.

Kalau suhu mulai naik, sistemnya bakal otomatis nurunin kecepatan ngecas atau bahkan menghentikan fast charging sementara

Yang bikin baterai cepat capek itu bukan fast charging-nya doang. Menurut beberapa riset, degradasi baterai itu lebih dipengaruhi oleh kombinasi kebiasaan. Misalnya, sering fast charging saat baterai hampir nol, atau langsung ngecas cepat habis dipakai ngebut jauh.

Bisa juga membiarkan baterai sering dibiarkan 100 persen atau 0 persen dalam waktu lama.

Makanya banyak pabrikan nyaranin ngecas harian cukup di 20–80 persen, dan fast charging dipakai saat butuh aja, misalnya perjalanan jauh.

Jadi, kalau ditanya aman atau gak Jawaban singkatnya, aman, asal gak berlebihan.

Perlu diingat kalau yang bikin baterai cepat turun performanya adalah cara pakainya, bukan cuma metode ngecasnya.

Continue Reading

Trending