Connect with us

Blog

Sering Nunda Isi Bensin, Emang Bahaya Buat Mobil?

Published

on

Siapa yang masih punya kebiasaan nunggu lampu indikator bensin nyala dulu baru mampir ke SPBU?

Atau malah baru isi bensin saat jarumnya sudah benar-benar mepet huruf E?

Kalau sesekali mungkin gak masalah. Tapi kalau dijadikan kebiasaan, ternyata ada beberapa risiko yang bisa muncul, lho.

Bukan berarti mobil langsung rusak, tapi ada beberapa komponen yang bisa bekerja lebih berat kalau tangki bensin terlalu sering dibiarkan hampir kosong.

Pompa Bensin Ikut “Kerja Keras”

Di dalam tangki mobil ada komponen yang namanya fuel pump atau pompa bensin.

Tugasnya mengalirkan bensin dari tangki ke mesin agar proses pembakaran berjalan normal.

Yang banyak gak disadari, pompa bensin ini juga memanfaatkan bensin di dalam tangki untuk membantu proses pendinginan.

Makanya, kalau isi tangki terlalu sering dibiarkan hampir kosong, pompa bisa bekerja dalam kondisi yang kurang ideal.

Bukan berarti langsung rusak, tapi kalau dilakukan terus-menerus dalam waktu lama, umur komponen ini bisa saja lebih pendek.

Endapan di Tangki Ikut Tersedot?

Banyak yang bilang kalau bensin tinggal sedikit, endapan di dasar tangki bakal ikut tersedot ke mesin. Bener gak sih?

Sebenarnya, mobil modern sudah dibekali filter bahan bakar yang bertugas menyaring kotoran sebelum bensin masuk ke mesin.

Namun, seiring usia kendaraan, endapan atau kotoran memang bisa saja menumpuk di dalam tangki. Kalau jumlahnya banyak dan filter sudah mulai kotor, performa sistem bahan bakar bisa ikut terpengaruh.

Karena itu, menjaga tangki tidak terlalu sering kosong juga bisa menjadi salah satu langkah pencegahan.

Takut Kehabisan Bensin di Tengah Jalan

Risiko yang paling terasa justru yang satu ini.

Kalau terlalu sering menunda isi BBM, peluang kehabisan bensin di jalan tentu jadi lebih besar.

Apalagi kalau sedang terjebak macet panjang atau ternyata SPBU terdekat sedang tutup atau antre.

Selain bikin repot, mobil yang mogok karena kehabisan bensin juga bisa mengganggu pengguna jalan lain.

Jadi Kapan Sebaiknya Isi Bensin?

Sebenarnya gak ada aturan baku harus isi bensin saat jarum berada di posisi tertentu.

Tapi banyak mekanik menyarankan jangan menunggu sampai tangki benar-benar hampir kosong.

Patokan yang paling mudah, isi ulang saat indikator bensin mulai mendekati seperempat tangki atau sebelum lampu peringatan menyala.

Selain lebih aman, cara ini juga bikin perjalanan lebih tenang karena enggak perlu terus-menerus mencari SPBU.

Jangan Tunggu Lampunya Nyala Terus

Kadang memang ada rasa puas bisa memaksimalkan isi tangki sampai tetes terakhir.

Tapi kalau dilakukan terus-menerus, risikonya juga ikut bertambah.

Toh, mampir ke SPBU beberapa menit lebih awal jauh lebih nyaman daripada harus panik mencari bensin saat indikator sudah berkedip.

Jadi, kalau mulai lihat jarum bensin turun mendekati seperempat tangki, mungkin itu saat yang pas buat belok sebentar ke SPBU.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Senggolan di Jalan Bikin Ribet, Pasang Dashcam Bisa Jadi Solusi!

Published

on

By

Dulu, dashcam mungkin cuma dianggap aksesori tambahan di mobil. Yang pasang biasanya hobi merekam perjalanan atau bikin konten di media sosial.

Tapi sekarang kondisinya sudah beda.

Dengan lalu lintas yang makin padat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, dashcam justru mulai dianggap sebagai salah satu perangkat yang wajib ada di mobil.

Alasannya sederhana, karena kita gak pernah tahu apa yang bakal terjadi di jalan.

Rekaman Bisa Jadi Bukti Saat Terjadi Kecelakaan

Di jalan raya, senggolan kecil sampai kecelakaan bisa terjadi kapan saja.

Masalahnya, gak semua kejadian punya saksi yang benar-benar melihat peristiwa tersebut. Kalaupun ada, keterangannya kadang berbeda-beda.

Nah, di sinilah dashcam punya peran penting.

Lewat rekaman video, kronologi kejadian bisa terlihat lebih jelas. Mulai dari posisi kendaraan, kondisi lalu lintas, sampai siapa yang sebenarnya lebih dulu melakukan pelanggaran.

Bahkan, gak sedikit video dari dashcam yang akhirnya dijadikan bukti untuk membantu proses penyelidikan kecelakaan.

Jalanan Makin Ramai, Risiko Juga Ikut Naik

Kemacetan sudah jadi makanan sehari-hari di banyak kota besar.

Di kondisi seperti ini, potensi terjadinya senggolan, pengendara yang menyerobot jalur, sampai pengemudi yang tiba-tiba mengerem mendadak juga semakin besar.

Belum lagi masih ada pengendara yang melawan arus, menerobos lampu merah, atau berpindah jalur tanpa memberi sein.

Kalau sampai terjadi insiden, rekaman dashcam bisa membantu menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.

Gak Cuma Merekam Kecelakaan

Banyak dashcam sekarang juga punya fitur yang lebih lengkap.

Misalnya parking mode, yang tetap bisa merekam ketika mobil sedang terparkir. Jadi kalau ada kendaraan lain yang menyenggol mobil di parkiran lalu kabur, rekamannya masih bisa tersimpan.

Ada juga dashcam yang sudah dilengkapi kamera depan dan belakang, sehingga sudut pandang yang direkam jadi lebih luas.

Bahkan beberapa model sudah dibekali GPS untuk merekam kecepatan kendaraan dan lokasi saat kejadian.

Investasi Kecil, Manfaatnya Besar

Mudah-mudahan dashcam yang terpasang di mobil memang gak pernah dipakai untuk merekam kecelakaan.

Tapi kalau suatu saat terjadi insiden yang tidak diinginkan, rekaman tersebut bisa menjadi bukti penting untuk menjelaskan kronologi kejadian.

Makanya, sekarang banyak pemilik mobil yang mulai menganggap dashcam bukan lagi sekadar aksesori tambahan.

Di tengah kondisi lalu lintas yang semakin padat dan penuh risiko, perangkat ini justru sudah menjadi salah satu perlengkapan yang layak diprioritaskan demi rasa aman selama berkendara.

Continue Reading

Blog

Tesla Rilis Balance Bike, Desainnya Mirip Mobil Listriknya

Published

on

By

Tesla ternyata gak cuma jago bikin mobil listrik. Pabrikan asal Amerika Serikat ini juga cukup sering mengeluarkan produk lifestyle yang unik-unik.

Setelah sempat menjual tequila, peluit, sampai robot mainan, sekarang Tesla punya produk baru lagi. Kali ini giliran balance bike alias sepeda tanpa pedal buat anak-anak.

Meski terlihat sederhana, harganya gak bisa dibilang murah. Tesla membanderol sepeda ini 225 dollar AS.

Yang menarik, penjualannya baru dimulai 31 Juli. Kalau melihat produk-produk lifestyle Tesla sebelumnya, bukan gak mungkin stoknya bakal cepat ludes.

Buat Anak yang Baru Belajar Naik Sepeda

Balance bike ini ditujukan buat anak usia 2 sampai 5 tahun.

Karena belum punya pedal, anak cukup mendorong sepeda menggunakan kaki sambil belajar menjaga keseimbangan. Kalau sudah terbiasa, biasanya proses pindah ke sepeda kayuh jadi lebih gampang.

Tesla juga membuat rangkanya dari material magnesium yang ringan, jadi lebih mudah dikendalikan anak-anak.

Desainnya pun gak jauh beda dengan mobil-mobil Tesla, simpel, modern, dan minim ornamen.

Logo huruf “T” khas Tesla langsung terlihat di bagian depan, sementara tulisan Tesla membentang di sisi rangka.

Jok Bisa Ikut “Tumbuh”

Salah satu bagian yang cukup menarik ada di joknya.

Tesla membuat jok ini bisa diatur dalam lima posisi ketinggian. Jadi, seiring anak bertambah tinggi, posisi duduknya tinggal disesuaikan.

Cara mengaturnya juga simpel. Jok cukup digeser naik atau turun di bagian belakang rangka tanpa mekanisme yang ribet.

Tesla menyebut sepeda ini cocok dipakai anak dengan panjang kaki minimal 35 cm.

Sementara bobot pengendara yang disarankan maksimal 30 kg, dengan batas paling tinggi 35 kg.

Datang Belum Dirakit

Kalau berniat membeli, jangan kaget saat barang datang.

Soalnya balance bike ini dikirim dalam kondisi belum dirakit.

Tenang saja, Tesla mengatakan semua alat yang dibutuhkan untuk merakitnya sudah disertakan di dalam kotak.

Mahal, Tapi Bukan yang Termahal

Kalau dibandingkan balance bike pada umumnya, harga Rp 3 jutaan memang tergolong tinggi.

Tapi di kelas premium, sebenarnya masih ada beberapa produk lain yang dibanderol lebih mahal.

Yang dijual Tesla lebih mengandalkan desain khasnya yang minimalis dan futuristis. Jadi, buat penggemar berat merek ini, tampilannya mungkin jadi nilai jual utama.

Rencananya, pengiriman pertama akan dimulai pada akhir Agustus.

Kalau melihat pengalaman sebelumnya, berbagai produk lifestyle Tesla sering habis hanya dalam hitungan jam setelah dijual. Jadi, buat yang sudah kepincut, sepertinya harus siap berebut saat pemesanannya dibuka nanti.

Continue Reading

Blog

Kenapa Banyak Orang Beli Mobil Listrik Buat Jadi Mobil Kedua?

Published

on

By

Pernah gak kepikiran, kenapa banyak orang yang beli mobil listrik tapi mobil bensinnya masih dipertahankan?

Padahal kalau dipikir-pikir, kalau mobil listrik sudah dipakai setiap hari, harusnya mobil lama bisa dijual buat nambah biaya, kan? Nyatanya gak gitu.

Fenomena ini justru cukup sering ditemui di Indonesia. Banyak pemilik mobil listrik yang menjadikan EV sebagai kendaraan kedua di rumah, sementara mobil bensin tetap dipakai untuk kebutuhan tertentu.

Terus kenapa fenomenanya kayak gitu?

Mobil Listrik Enak Buat Dipakai Harian

Banyak pemilik EV memilih mobil listrik buat menemani aktivitas sehari-hari.

Mulai dari berangkat kerja, nganter anak sekolah, sampai jalan ke mal atau nongkrong, semuanya bisa dilakukan tanpa harus mampir ke SPBU.

Kalau di rumah sudah ada charger, tinggal colok semalaman. Besok paginya baterai sudah penuh dan mobil siap dipakai lagi.

Belum lagi biaya “isi energinya” yang biasanya lebih murah dibanding isi bensin.

Tapi Kalau Keluar Kota, Mobil Bensin Masih Jadi Andalan

Meski jaringan SPKLU terus bertambah, gak sedikit orang yang masih merasa lebih tenang pakai mobil bensin buat perjalanan jauh.

Alasannya sederhana.

Isi bensin cuma butuh beberapa menit, sementara ngecas mobil listrik tetap memerlukan waktu, apalagi kalau sedang ramai.

Makanya, saat liburan, mudik, atau road trip lintas kota, banyak yang memilih tetap memakai mobil bensin.

Biar Gak Pusing Mikirin Jarak Tempuh

Satu lagi yang masih sering jadi pertimbangan adalah soal jarak tempuh.

Memang, mobil listrik sekarang sudah punya daya jelajah yang semakin jauh. Tapi buat sebagian orang, terutama yang sering bepergian ke daerah yang belum banyak fasilitas pengisian daya, mobil bensin masih terasa lebih praktis.

Jadi, daripada khawatir harus mencari SPKLU di tengah perjalanan, mereka memilih menyimpan dua mobil dengan fungsi yang berbeda.

Mobil Lama Masih Enak, Ngapain Dijual?

Ada juga yang memilih mempertahankan mobil lamanya karena kondisinya masih bagus.

Daripada dijual dengan harga yang dirasa kurang sesuai, banyak pemilik memilih tetap menyimpannya sebagai mobil cadangan.

Kalau suatu hari mobil listrik sedang dicas atau dipakai anggota keluarga lain, masih ada mobil bensin yang siap digunakan.

Dua Mobil, Dua Fungsi

Sekarang mulai banyak keluarga yang membagi peran kendaraannya.

Mobil listrik dipakai buat aktivitas harian karena lebih hemat biaya operasional dan nyaman digunakan di dalam kota.

Sementara mobil bensin lebih sering keluar garasi saat akhir pekan, liburan, atau perjalanan jarak jauh.

Pola seperti ini membuat keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Nanti Bakal Berubah?

Seiring bertambahnya SPKLU, teknologi baterai yang semakin maju, dan jarak tempuh mobil listrik yang terus meningkat, bukan tidak mungkin pola ini bakal berubah.

Bisa saja beberapa tahun ke depan mobil listrik benar-benar menjadi kendaraan utama di setiap rumah.

Tapi untuk saat ini, buat banyak orang Indonesia, mobil listrik masih lebih sering mengambil peran sebagai mobil kedua. Bukan karena kemampuannya kurang, melainkan karena dianggap paling pas untuk kebutuhan harian, sementara mobil bensin masih jadi andalan saat harus bepergian lebih jauh.

Continue Reading

Trending