Connect with us

Blog

Mobil Kamu FWD, RWD, AWD atau 4WD? Ini Bedanya!

Published

on

Pernah gak sih lagi lihat brosur mobil atau scroll spek di internet, terus ketemu tulisan FWD, RWD, AWD, sama 4WD? Tapi masih bertanya-tanya arti sebenarnya apa.

Tenang, kalian gak sendirian, karena pasti banyak yang kayak gitu. Apalagi cewek-cewek, biasanya milih mobil cuma karena modelnya lucu, warnanya oke dan fiturnya yang banyak banget. Padahal huruf-huruf itu sebenernya ngaruh banget ke kelakuan mobil pas dipakai tiap hari.

Gampangnya, ini tuh soal roda mana yang dapat tugas narik mobil buat jalan.

Yang paling sering kita temui itu FWD (Front Wheel Drive). Mobil-mobil harian kebanyakan pakai ini, kayak LCGC, city car sampai MPV.

Tenaganya dikirim ke roda depan. Rasanya ringan, setir enak diputer, bensin juga gak terlalu boros. Buat macet, hujan, parkir mepet, masih santai. Cuma ya… kadang kalau mesinnya lumayan kencang, setir bisa terasa kayak ditarik dikit ke samping. Bukan rusak, tapi memang karakternya begitu.

Kalau RWD (Rear Wheel Drive), tugasnya pindah ke roda belakang. Nah ini biasanya mulai kerasa beda. Pas injak gas, mobil kayak didorong dari belakang. Lebih enak buat akselerasi, lebih “hidup” rasanya.

Mobil sport atau sedan yang rada niat biasanya pakai ini. Tapi tetap ada minusnya, pas hujan atau jalan licin, bagian belakang bisa lebih gampang kehilangan kendali. Jadi harus agak sopan bawanya.

Lokasi Offroad di Indonesia

Terus ada AWD. Ini tipe yang gak pilih-pilih, semua roda kebagian kerja. Tapi pembagiannya pinter, otomatis. Lagi jalan normal, santai. Begitu ketemu hujan, tanjakan, atau jalan jelek, sistemnya langsung atur sendiri biar mobil tetap nempel ke aspal.

Cocok buat yang sering ke luar kota atau doyan road trip. Minusnya ya klasik, harga mobilnya biasanya lebih mahal dan bensinnya lebih cepat habis dikit.

Kalau 4WD, ini beda lagi ceritanya. Ini sudah level mobil yang doyan diajak susah. Masuk lumpur, pasir, jalan berbatu, sampai tanjakan curam.

Biasanya ada tombol atau tuas buat milih mau pakai dua roda atau langsung empat roda. Mobil off-road sejati pakai ini. Dipakai harian? Bisa saja, tapi berat dan boros.

Jadi intinya, gak ada yang “paling” semua tinggal disesuain sama kebutuhan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Kelihatan Sepele, Garis di Kaca Mobil Ini Penting Saat Hujan

Published

on

By

Kalau lagi duduk di dalam mobil, coba deh sesekali lirik kaca belakang. Hampir semua mobil punya garis-garis tipis yang membentang horizontal di sana.

Sekilas kelihatan kayak elemen desain biasa, bahkan ada yang mikir itu cuma hiasan biar gak polos. Padahal, garis-garis ini punya fungsi penting yang sering banget gak disadari.

Garis tersebut adalah bagian dari sistem defogger atau pemanas kaca belakang.

Fungsinya sederhana tapi krusial cukup krusial, menghilangkan embun atau kabut yang menempel di kaca belakang.

Saat kondisi dingin atau hujan, kaca belakang sering tertutup embun yang bikin pandangan ke belakang jadi buram. Nah, garis-garis ini bekerja dengan cara menghantarkan panas tipis ke permukaan kaca, sehingga embun bisa cepat hilang.

Makanya, kalau kamu tekan tombol defogger di dashboard, sebenarnya yang kerja itu ya garis-garis tadi.

Menariknya, sistem ini bukan sekadar tempelan. Garis-garis tersebut terbuat dari material konduktor listrik yang memang dirancang untuk menghasilkan panas saat dialiri arus. Jadi, meskipun bentuknya tipis, fungsinya cukup vital untuk keselamatan berkendara.

Kalau sampai rusak atau terputus, biasanya ada bagian kaca yang tetap berembun meski defogger sudah dinyalakan. Ini sering kejadian, apalagi kalau kaca belakang sering dibersihkan sembarangan atau tergores.

Makanya, garis-garis ini sebenarnya enggak boleh dianggap remeh. Bahkan saat membersihkan kaca, sebaiknya jangan terlalu kasar supaya jalurnya tetap utuh.

Jadi, lain kali kalau lihat garis-garis di kaca belakang, sekarang sudah tahu, itu bukan hiasan, tapi pemanas tersembunyi yang bantu jaga visibilitas tetap jelas.

Continue Reading

Blog

Batas Kecepatan Tol di Berbagai Negara, Indonesia Paling Pelan?

Published

on

By

Kalau lagi masuk jalan tol, biasanya tanpa sadar kita langsung “set” ke kecepatan aman. Di Indonesia, angkanya juga sudah cukup familiar, gak terlalu pelan, tapi juga gak bisa dibilang bebas ngebut.

Tapi pernah kepikiran gak, sebenarnya batas kecepatan tol di Indonesia itu termasuk cepat atau justru pelan dibanding negara lain?

Di Indonesia, batas kecepatan di jalan tol umumnya berkisar antara 60 km/jam sampai 100 km/jam, tergantung jenis ruas dan kondisinya. Di beberapa jalan tol tertentu bahkan bisa sampai 120 km/jam, tapi tetap ada aturan minimum supaya lalu lintas tetap lancar.

Angka ini sebenarnya dirancang bukan cuma soal kecepatan, tapi juga keselamatan. Faktor seperti kondisi jalan, kepadatan kendaraan, sampai perilaku pengemudi ikut jadi pertimbangan.

Kalau dibandingkan dengan luar negeri, baru terasa bedanya.

Di Jerman misalnya, ada ruas jalan tol yang terkenal karena tidak memiliki batas kecepatan tetap, yaitu Autobahn. Tapi bukan berarti bebas ugal-ugalan, karena tetap ada rekomendasi kecepatan dan aturan ketat soal keselamatan.

Sementara itu di Amerika Serikat, batas kecepatan tol bervariasi tergantung negara bagian, umumnya di kisaran 105 sampai 130 km/jam. Jalan yang panjang dan lurus jadi salah satu alasan kenapa batasnya bisa lebih tinggi.

Berbeda lagi dengan Jepang. Meski dikenal dengan teknologinya yang maju, batas kecepatan di tol justru relatif konservatif, sekitar 80 sampai 100 km/jam. Alasannya mirip dengan Indonesia, kepadatan lalu lintas dan faktor keselamatan.

Kalau dilihat dari sini, Indonesia sebenarnya ada di tengah-tengah. Gak seketat Jepang, tapi juga gak se-“longgar” beberapa ruas di Jerman atau Amerika.

Yang menarik, batas kecepatan ini bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa paling sesuai dengan kondisi jalan dan kebiasaan penggunanya. Jalan yang mulus belum tentu aman buat ngebut kalau lalu lintasnya padat atau perilaku pengemudinya belum tertib.

Jadi, meski kelihatannya di luar negeri bisa lebih kencang, bukan berarti aturan di Indonesia ketinggalan. Justru disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Continue Reading

Blog

Kenapa Setir Mobil di Indonesia Letaknya di Kanan?

Published

on

By

Interior Chery J6

Pernah kepikiran gak sih, kenapa setir mobil di Indonesia posisinya di kanan?

Padahal kalau nonton film luar atau lihat konten otomotif global, banyak mobil justru setirnya di kiri. Sekilas kelihatan sepele, tapi ternyata ini bukan soal gaya atau selera pabrikan.

Di Indonesia, kendaraan berjalan di sisi kiri jalan. Nah, dari situ logikanya kebalik, setirnya jadi di kanan. Posisi ini bikin pengemudi lebih mudah melihat kondisi di depan, terutama ke arah tengah jalan saat mau nyalip. Jadi bukan asal beda, tapi memang soal visibilitas dan keamanan.

Kalau ditarik ke belakang, sistem ini juga gak lepas dari sejarah. Indonesia mewarisi pola lalu lintas dari masa kolonial Belanda, yang dulu juga menerapkan berkendara di sisi kiri. Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai sekarang.

mobil manual

Menariknya, dunia memang terbagi dua. Ada negara yang sama seperti Indonesia, jalan di kiri, setir di kanan, seperti Jepang atau Inggris. Tapi ada juga yang kebalik, seperti Amerika Serikat dan Jerman yang pakai setir kiri karena mereka berkendara di sisi kanan jalan.

Cerita soal ini bahkan sudah ada sejak zaman sebelum mobil ditemukan. Dulu, saat orang masih pakai kuda, mayoritas pengendara memilih berada di sisi kiri jalan supaya tangan kanan mereka bebas, buat berjaga atau bahkan pegang senjata kalau ada ancaman. Dari kebiasaan itu, sistem lalu lintas kiri mulai terbentuk di beberapa wilayah dunia.

Seiring waktu, sebagian negara beralih ke sistem kanan jalan, terutama karena pengaruh industri otomotif modern yang berkembang pesat di Amerika Serikat. Tapi sebagian lainnya, termasuk Indonesia, tetap mempertahankan sistem lama.

Continue Reading

Trending