Connect with us

Blog

8 Kebiasaan Ini Bikin Mobil Kamu Cepat Rusak!

Published

on

Merawat mobil ternyata gak selalu soal rajin servis ke bengkel atau pakai oli mahal. Cara menggunakan mobil setiap hari juga punya pengaruh besar terhadap usia pakai berbagai komponennya.

Masalahnya, banyak kebiasaan kecil yang sering dilakuin tanpa sadar justru bisa membuat mobil bekerja lebih berat. Kalau terus dibiarkan, kerusakan bisa muncul lebih cepat dan biaya perbaikannya tentu enggak murah.

Mulai dari kebiasaan menahan kopling, sering menginjak rem saat jalan menurun, sampai malas mengecek indikator di panel instrumen, hal-hal kecil seperti ini bisa berdampak ke kondisi kendaraan.

Berikut beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai dikurangi kalau kamu sering melakukan ini!

Sering Menginjak Pedal Kopling Setengah

Buat pengguna mobil manual, kebiasaan memainkan kopling memang sering dilakukan, terutama saat terjebak macet atau parkir di tempat sempit.

Namun, terlalu sering menahan pedal kopling setengah bisa membuat kampas kopling lebih cepat aus. Gesekan yang terus terjadi membuat komponen tersebut bekerja lebih keras dari seharusnya.

Lebih baik injak kopling penuh saat perlu mengganti gigi dan lepaskan secara perlahan ketika mulai berjalan.

Jarang Memanaskan Mobil yang Lama Gak Dipakai

Mobil modern memang gak selalu membutuhkan waktu lama untuk dipanaskan. Namun, kendaraan yang jarang digunakan tetap perlu diperhatikan kondisinya.

Saat mobil lama diam, oli mesin bisa turun dan belum melumasi seluruh bagian mesin ketika pertama kali dinyalakan. Makanya, setelah lama gak dipakai, sebaiknya biarkan mesin bekerja beberapa saat sebelum langsung dipakai untuk perjalanan berat.

Langsung Menggeber Mesin Saat Baru Menyala

Banyak pemilik mobil yang langsung menjalankan mobil dengan putaran mesin tinggi setelah mesin baru hidup.

Padahal, saat kondisi masih dingin, oli belum sepenuhnya bersirkulasi ke seluruh komponen mesin. Kebiasaan langsung menggeber mobil bisa membuat gesekan antar komponen meningkat.

Cukup berkendara dengan santai di awal perjalanan sampai suhu kerja mesin tercapai.

Sering Mengabaikan Lampu Peringatan di Dashboard

Lampu indikator di panel instrumen bukan sekadar pajangan.

Masih banyak pemilik mobil yang membiarkan lampu peringatan menyala karena mobil masih terasa normal saat digunakan.

Padahal, indikator tersebut bisa menjadi tanda awal adanya masalah, mulai dari gangguan mesin, sistem pengereman, aki, hingga suhu mesin.

Semakin lama dibiarkan, risiko kerusakan yang lebih besar juga makin tinggi.

Terlambat Mengganti Oli

Oli menjadi salah satu komponen penting untuk menjaga mesin tetap bekerja dengan baik.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menunda penggantian oli karena merasa mobil masih nyaman digunakan.

Padahal, oli yang sudah kehilangan kualitasnya tidak mampu melindungi komponen mesin secara optimal. Akibatnya, gesekan meningkat dan bisa mempercepat keausan.

Sering Menghantam Jalan Rusak dengan Kecepatan Tinggi

Jalan berlubang atau polisi tidur memang sulit dihindari. Tapi kebiasaan melewatinya dengan kecepatan tinggi bisa membuat kaki-kaki mobil bekerja lebih berat.

Komponen seperti shock absorber, tie rod, ball joint, hingga bushing bisa mengalami tekanan berlebih.

Kalau sering dilakukan, bukan cuma kenyamanan yang berkurang, tapi biaya perbaikannya juga bisa membengkak.

Membawa Barang Terlalu Berat

Mobil memang dirancang untuk membawa penumpang dan barang, tetapi bukan berarti bisa terus diberikan beban berlebihan.

Muatan yang terlalu berat bisa membuat suspensi, ban, rem, dan mesin bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, komponen tersebut bisa mengalami keausan lebih cepat.

Meremehkan Tekanan Ban

Tekanan ban yang gak sesuai sering dianggap masalah kecil. Padahal, ban memiliki peran besar terhadap keselamatan dan kenyamanan berkendara.

Ban yang kurang angin membuat mesin bekerja lebih berat karena hambatan gulir meningkat. Sementara tekanan terlalu tinggi bisa mengurangi daya cengkeram ban ke permukaan jalan.

Mulai Perhatikan Kebiasaan Berkendara

Mobil yang awet bukan cuma hasil dari servis rutin, tetapi juga dari cara pemiliknya memperlakukan kendaraan setiap hari.

Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Jadi, sebelum mobil mengalami masalah serius, ada baiknya mulai mengubah beberapa kebiasaan sederhana saat berkendara.

Toh, menjaga mobil tetap sehat jauh lebih murah dibanding harus memperbaiki kerusakan besar akibat hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Kenapa Pedal Gas di Kanan dan Rem di Tengah?

Published

on

By

Buat yang sering nyetir mobil, posisi pedal gas di kanan dan rem di sebelah kirinya mungkin sudah terasa biasa. Tinggal injak gas buat jalan, lalu pindahkan kaki ke rem saat perlu mengurangi kecepatan.

Namun, pernah kepikiran gak kenapa susunan pedal mobil dibuat seperti itu? Kenapa pedal gas gak ditaruh di kiri, sementara rem di kanan?

Ternyata, posisi pedal bukan asal pasang. Susunannya mempertimbangkan kemudahan pengoperasian, kebiasaan pengemudi, dan keselamatan saat berkendara.

Pedal Gas di Kanan, Rem di Sebelahnya

Pada mobil yang umum digunakan saat ini, pedal gas berada di sisi paling kanan. Sementara itu, pedal rem ditempatkan di sebelah kirinya.

Keduanya dibuat berdekatan supaya pengemudi bisa memindahkan kaki kanan dari pedal gas ke rem dengan cepat saat dibutuhkan.

Ketika mobil melaju, kaki kanan digunakan untuk mengatur kecepatan lewat pedal gas. Saat harus mengurangi kecepatan atau berhenti, kaki tersebut dipindahkan ke pedal rem.

Penempatan seperti ini membuat pengemudi gak perlu memindahkan kaki terlalu jauh untuk beralih dari akselerasi ke pengereman.

Kenapa Gak Pakai Kaki Kiri untuk Rem?

Pada mobil manual, kaki kiri punya tugas tersendiri, yaitu mengoperasikan pedal kopling. Karena itu, kaki kanan digunakan untuk pedal gas dan rem.

Sementara pada mobil matik, gak ada pedal kopling yang perlu diinjak. Meski begitu, pengemudi umumnya tetap menggunakan kaki kanan untuk mengoperasikan gas dan rem, sedangkan kaki kiri beristirahat di area pijakan kaki.

Kebiasaan ini membantu mengurangi risiko kedua pedal diinjak bersamaan secara tidak sengaja. Menggunakan kaki kiri untuk mengerem saat kaki kanan masih menginjak gas juga bisa membuat pengoperasian pedal kurang konsisten, terutama bagi pengemudi yang belum terbiasa.

Karena itu, pengemudi mobil matik tetap dianjurkan menggunakan kaki kanan untuk gas dan rem, bukan membagi tugas kedua pedal ke kaki yang berbeda.

Terus, Kenapa Pedal Rem Mobil Manual Ada di Tengah?

Kalau diperhatikan, mobil manual punya tiga pedal. Dari kiri ke kanan, urutannya adalah kopling, rem, lalu gas.

Pedal rem berada di tengah karena posisinya harus bisa dijangkau kaki kanan, sementara kaki kiri digunakan untuk mengoperasikan kopling.

Pada mobil matik, pedal kopling gak ada. Susunannya jadi lebih sederhana, yakni pedal rem di sebelah kiri dan pedal gas di sebelah kanan.

Jadi, meskipun jumlah pedalnya berbeda, prinsip pengoperasian gas dan rem pada kedua jenis mobil tersebut tetap sama: menggunakan kaki kanan.

Bukan Sekadar Soal Kebiasaan

Susunan pedal yang umum digunakan sekarang juga berkaitan dengan standardisasi desain kendaraan dan kebiasaan pengemudi yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Dengan posisi yang konsisten, pengemudi bisa lebih mudah beradaptasi saat berpindah dari satu mobil ke mobil lain, meskipun tetap perlu mengenali karakter pedal masing-masing kendaraan.

Hal yang gak kalah penting, pengemudi perlu menjaga posisi kaki agar gak menginjak pedal gas dan rem secara bersamaan. Saat berkendara, fokus juga harus tetap tertuju pada kondisi jalan, bukan hanya pada pedal.

Jadi, posisi pedal gas di kanan dan rem di sebelah kirinya bukan sekadar desain yang sudah telanjur populer. Susunan tersebut membantu pengemudi mengatur kecepatan dan melakukan pengereman dengan gerakan kaki yang lebih praktis.

Continue Reading

Blog

Tulisan Ambulans Kok Terbalik? Ternyata Ini Alasannya!

Published

on

By

Pernah lagi di jalan, terus melihat mobil ambulans lewat dan menyadari kalau tulisan di bagian depannya malah terbalik? Bukannya Ambulance, huruf-hurufnya justru terlihat seperti ditulis dari arah yang salah.

Tenang, bukan karena petugasnya keliru memasang stiker. Ada alasan praktis di balik desain yang satu ini.

Tulisan Ambulance di bagian depan mobil sengaja dibuat terbalik secara horizontal supaya bisa dibaca dengan normal lewat kaca spion.

Jadi, saat ambulans mendekat dari belakang, pengendara di depannya bisa melihat tulisan tersebut melalui kaca spion tengah atau samping. Karena pantulan cermin membalik arah tulisan, tulisan yang awalnya terbalik justru terlihat normal.

Dengan begitu, pengendara bisa lebih cepat mengenali ambulans yang sedang mendekat dan memperhatikan kondisi di sekitarnya.

Kenapa Harus Dibuat Terbalik?

Coba bayangkan kalau tulisan Ambulance di bagian depan ditulis seperti biasa. Saat pengendara melihatnya lewat kaca spion, tulisan itu justru akan terlihat terbalik sehingga lebih sulit dibaca secara spontan.

Nah, dengan membalik tulisan sejak awal, masalah tersebut bisa diatasi. Pengendara gak perlu menerka-nerka tulisan yang terlihat di spion.

Cara ini memanfaatkan prinsip pantulan cermin. Tulisan yang dibalik secara horizontal akan terlihat normal ketika dipantulkan oleh kaca spion.

Kenapa Tulisan di Belakang Gak Ikut Terbalik?

Kalau diperhatikan, tulisan Ambulans di bagian depan biasanya terbalik, sedangkan tulisan di bagian samping atau belakang umumnya ditulis normal.

Alasannya sederhana, arah pandang orang yang melihatnya berbeda.

Tulisan di depan ditujukan agar lebih mudah dibaca pengendara yang berada di depan ambulans melalui kaca spion. Sementara itu, tulisan di samping dan belakang bisa dibaca langsung oleh pengguna jalan dari arah tersebut.

Jadi, gak semua tulisan pada bodi ambulans perlu dibuat terbalik.

Biar Pengendara Lebih Sigap Memberi Jalan

Tulisan terbalik ini bukan sekadar ciri khas ambulans. Desain tersebut membantu pengendara mengenali kendaraan darurat dari pantulan kaca spion.

Meski begitu, tulisan saja tentu gak cukup. Lampu isyarat dan sirene juga membantu memberi tahu pengguna jalan bahwa ambulans sedang bertugas.

Kalau bertemu ambulans yang menggunakan isyarat darurat, pengendara perlu memperhatikan situasi lalu lintas dan memberi jalan jika aman dilakukan. Jangan sampai niat memberi jalan malah bikin pengendara lain mengerem mendadak atau memicu kecelakaan.

Jadi, sekarang kalau melihat tulisan Ambulance yang terbalik di bagian depan, gak perlu bingung lagi. Bukan salah cetak, melainkan supaya lebih mudah dibaca lewat kaca spion.

Continue Reading

Blog

Ada Lubang Kecil di Bawah Pintu, Jangan Ditutup

Published

on

By

Pernah lihat ada beberapa lubang kecil di bagian bawah pintu mobil?

Ukurannya memang kecil dan letaknya juga gak terlalu kelihatan. Karena itu, gak sedikit yang mungkin mengira lubang tersebut cuma bagian dari desain atau bahkan lubang yang gak sengaja dibuat.

Padahal, lubang kecil itu punya fungsi penting.

Namanya drain hole atau lubang pembuangan. Tugasnya adalah membantu mengeluarkan air yang masuk dan mengendap di dalam pintu mobil.

Air ternyata bisa masuk ke dalam pintu

Pintu mobil memang dirancang supaya bagian dalamnya terlindungi dari air. Tapi bukan berarti air sama sekali gak bisa masuk.

Saat hujan atau ketika mobil dicuci, sebagian air bisa melewati celah di sekitar kaca dan masuk ke bagian dalam pintu.

Tenang, kondisi tersebut memang sudah diperhitungkan oleh pabrikan.

Air yang masuk kemudian diarahkan ke bagian bawah pintu dan dikeluarkan melalui lubang kecil tersebut.

Makanya, lubang itu memang sengaja dibuat.

Kalau lubangnya tersumbat, apa yang terjadi?

Masalah bisa muncul kalau lubang tersebut tertutup kotoran.

Debu, lumpur, daun kecil, atau kotoran lainnya bisa menumpuk di bagian bawah pintu dan menghambat aliran air.

Kalau air gak bisa keluar dengan baik, air bisa menggenang di dalam pintu.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan bagian logam di dalam pintu lebih mudah mengalami korosi atau karat.

Selain itu, air yang mengendap juga bisa menimbulkan bau lembap dan mengganggu komponen tertentu yang berada di dalam pintu.

Jangan ditutup atau disumbat

Karena ukurannya kecil, ada saja yang menganggap lubang tersebut perlu ditutup supaya air atau kotoran gak masuk.

Padahal justru sebaliknya.

Jangan menyumbat lubang pembuangan tersebut.

Lubang itu memang dibuat sebagai jalur keluarnya air.

Kalau terlihat kotor, cukup bersihkan secara perlahan supaya jalurnya kembali terbuka. Gak perlu menusuknya menggunakan benda tajam atau benda keras karena bisa merusak bagian di sekitar lubang.

Bisa dicek saat cuci mobil

Lubang pembuangan di bawah pintu termasuk bagian yang gampang diperiksa sendiri.

Saat mencuci mobil atau melakukan pemeriksaan sederhana, coba lihat bagian bawah setiap pintu.

Pastikan lubangnya gak tertutup lumpur atau kotoran.

Kalau setelah hujan atau mencuci mobil terdengar suara air seperti “kocak-kocak” dari dalam pintu ketika mobil bergerak, ada baiknya bagian tersebut diperiksa.

Bisa jadi ada air yang tertahan karena jalur pembuangannya gak bekerja dengan baik.

Kecil, tapi fungsinya penting

Jadi, kalau menemukan lubang kecil di bagian bawah pintu mobil, jangan buru-buru menganggapnya sebagai cacat atau bagian yang harus ditutup.

Lubang tersebut justru membantu menjaga supaya air gak menetap di dalam pintu.

Kelihatannya sepele, tapi kalau sampai tersumbat, bisa jadi masalah di kemudian hari.

Makanya, saat bersih-bersih mobil, bagian kecil seperti ini juga jangan sampai dilewatkan.

Continue Reading

Trending