Connect with us

Blog

Kenapa Mobil Listrik Belum Bisa Gantikan Mobil Bensin?

Published

on

Beberapa tahun terakhir, mobil listrik memang lagi naik daun banget. Mau ke mal, SPKLU mulai gampang ditemui. Di jalan juga makin sering lihat mobil yang jalannya senyap tanpa suara mesin. Bahkan banyak orang mulai bilang, “mobil bensin bentar lagi punah.”

Tapi kenyataannya, sampai sekarang mobil listrik belum benar-benar bisa menggantikan mobil konvensional sepenuhnya. Dan alasannya ternyata bukan cuma soal harga.

Kalau dipikir-pikir, mobil bensin itu memang masih terlalu nyaman buat banyak orang.

Isi bensin cuma lima menit, SPBU ada di mana-mana, bengkel banyak, dan orang sudah terbiasa pakainya puluhan tahun.

Sementara mobil listrik masih punya beberapa PR besar yang bikin sebagian orang belum sepenuhnya yakin buat pindah.

Salah satu yang paling terasa tentu soal charging.

Walau stasiun pengisian mulai bertambah, pengalaman pakainya masih beda jauh dibanding isi bensin biasa.

Bayangin lagi buru-buru atau road trip luar kota, terus harus mikirin charger tersedia atau gak. Belum lagi waktu ngecas yang bisa makan puluhan menit sampai berjam-jam kalau pakai charger rumahan.

Buat orang kota yang tinggal di rumah dan punya charger pribadi mungkin aman. Tapi buat yang tinggal di apartemen atau sering perjalanan jauh, ceritanya beda lagi.

Terus ada juga soal jarak tempuh.

Di brosur memang kadang tertulis bisa tembus 400 sampai 500 km. Tapi di dunia nyata, angka itu bisa berubah tergantung gaya nyetir, macet, AC, sampai kondisi jalan.

Makanya banyak pengguna mobil listrik masih punya “range anxiety” alias takut baterai habis di tengah jalan.

Hal lain yang jarang dibahas adalah kebiasaan orang.

MID

Mobil bensin sudah jadi bagian hidup selama puluhan tahun. Orang tahu cara pakainya, bengkel paham, montir ngerti, bahkan obrolan tongkrongan otomotif juga sudah terbiasa dengan mesin bensin.

Mobil listrik mengubah semuanya.

Sensasi nyetir beda, suara mesin hilang, bahkan beberapa orang merasa mobil listrik kurang punya “rasa”.

Buat car enthusiast, suara mesin, getaran, dan perpindahan gigi itu bagian dari pengalaman berkendara. Dan itu sulit diganti mobil listrik.

Makanya sampai sekarang mobil sport bensin masih punya penggemar loyal.

Selain itu, harga juga masih jadi faktor besar.

Memang ada mobil listrik yang mulai terjangkau, terutama dari brand China. Tapi secara umum, harga EV masih lebih mahal dibanding mobil bensin sekelas.

Belum lagi soal baterai. Walau sekarang garansi baterai sudah panjang, banyak orang tetap khawatir soal biaya penggantian di masa depan.

Apalagi di Indonesia, budaya beli mobil masih sering mikirin harga jual kembali. Dan pasar mobil listrik bekas sampai sekarang belum sekuat mobil bensin.

SPKLU

Tapi bukan berarti mobil listrik gagal.

Justru sekarang arahnya lebih realistis. Banyak orang mulai sadar kalau EV dan mobil bensin kemungkinan bakal hidup berdampingan cukup lama.

Mobil listrik cocok buat penggunaan kota, harian, dan yang mau biaya operasional murah.

Sementara mobil bensin dan hybrid masih terasa lebih fleksibel buat perjalanan jauh atau orang yang belum siap pindah total ke EV.

Menariknya, sekarang beberapa produsen juga mulai tidak terlalu “memaksa” full EV. Banyak yang malah fokus ke hybrid karena dianggap jadi jalan tengah paling masuk akal.

Jadi, apakah mobil listrik bakal menggantikan mobil bensin sepenuhnya? Mungkin iya… tapi gak secepat yang dulu dibayangkan banyak orang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Mengenal V2L, Powerbank Raksasa di Mobil Listrik

Published

on

By

Vehicle to load (V2L) electric car

Mobil listrik bukan cuma bisa dipakai buat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seiring perkembangan teknologi, sekarang banyak mobil listrik yang punya fitur tambahan yang cukup menarik, yaitu Vehicle-to-Load (V2L).

Kalau disederhanakan, V2L memungkinkan baterai mobil listrik dipakai untuk menyuplai listrik ke perangkat elektronik di luar mobil. Jadi, mobil gak cuma mengisi daya untuk dirinya sendiri, tapi juga bisa “membagi” listrik ke perangkat lain.

Makanya, gak sedikit yang menyebut fitur ini sebagai powerbank raksasa berjalan.

Cara Kerjanya Gimana?

Sebenarnya konsepnya cukup sederhana. Energi listrik yang tersimpan di baterai mobil dialirkan keluar melalui soket khusus atau adaptor V2L.

Dari situ, pengguna bisa mencolokkan berbagai perangkat elektronik layaknya menggunakan stop kontak rumah.

Mulai dari charger laptop, rice cooker, mesin kopi, kipas angin, televisi, lampu penerangan, sampai peralatan camping bisa mendapatkan suplai daya langsung dari mobil.

Pada beberapa model, daya yang bisa dikeluarkan bahkan mencapai 2.000 hingga 3.600 watt. Angka tersebut sudah cukup untuk menjalankan beberapa perangkat sekaligus.

Cocok Buat Camping dan Aktivitas Outdoor

Salah satu alasan fitur V2L mulai populer adalah karena gaya hidup outdoor yang makin digemari.

Bayangkan saat camping di area yang jauh dari sumber listrik. Pengguna bisa tetap menyalakan lampu, memasak menggunakan kompor listrik, mengisi daya gadget, bahkan menonton film menggunakan proyektor hanya dengan memanfaatkan baterai mobil.

Praktisnya, pengguna gak perlu lagi membawa genset yang berisik atau power station tambahan yang ukurannya cukup besar.

Tinggal parkir, colok perangkat, lalu listrik siap digunakan.

vehicle to load

Bisa Jadi Penyelamat Saat Listrik Padam

Selain buat rekreasi, fitur V2L juga bisa berguna dalam kondisi darurat.

Saat terjadi pemadaman listrik, mobil bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi sementara untuk menyalakan lampu, modem internet, kulkas kecil, atau perangkat penting lainnya.

Memang kapasitasnya tetap terbatas karena bergantung pada sisa baterai mobil. Tapi untuk kebutuhan darurat beberapa jam, fitur ini cukup membantu.

Apalagi kapasitas baterai mobil listrik saat ini rata-rata sudah berada di kisaran 40 kWh sampai lebih dari 70 kWh. Jauh lebih besar dibandingkan powerbank konvensional yang biasa dipakai sehari-hari.

Apakah Bikin Baterai Cepat Habis?

Jawabannya tentu iya, karena energi yang tersimpan di baterai digunakan untuk menyuplai perangkat lain.

Namun selama pengguna memahami kebutuhan daya yang dipakai, pengaruhnya biasanya gak terlalu signifikan.

Sebagai contoh, jika sebuah mobil memiliki baterai 50 kWh dan hanya digunakan untuk menyalakan lampu, laptop, serta perangkat elektronik ringan selama beberapa jam, konsumsi dayanya relatif kecil dibandingkan total kapasitas baterai yang tersedia.

Karena itu, banyak pabrikan sudah menyiapkan sistem pengaman agar baterai gak terkuras habis saat fitur V2L digunakan.

Mulai Banyak Ditemui di Mobil Listrik

Dulu fitur ini hanya tersedia di beberapa model tertentu. Tapi sekarang V2L mulai menjadi fitur yang cukup umum di berbagai mobil listrik modern.

Alasannya sederhana, konsumen kini gak hanya mencari kendaraan yang efisien, tapi juga kendaraan yang bisa mendukung berbagai aktivitas sehari-hari.

Dengan adanya V2L, mobil listrik jadi punya fungsi lebih luas. Bukan cuma alat transportasi, tapi juga bisa berubah menjadi sumber listrik portabel saat dibutuhkan.

Jadi kalau ada yang bilang mobil listrik cuma bisa dipakai buat jalan, mungkin sekarang saatnya melihat sisi lain yang jarang dibahas. Sebab dalam kondisi tertentu, mobil listrik juga bisa berperan sebagai powerbank raksasa yang siap menyuplai listrik ke mana saja.

Continue Reading

Blog

Kenalan Sama WLTP, NEDC, EPA, dan CLTC

Published

on

By

Kalau lagi lihat spesifikasi mobil listrik, pasti pernah nemu angka jarak tempuh yang bikin bingung.

Misalnya ada mobil yang diklaim bisa menempuh 600 kilometer. Tapi pas lihat di sumber lain, angkanya cuma 500 kilometer. Bahkan ada yang turun lagi jadi sekitar 450 kilometer.

Padahal mobilnya sama.

Nah, perbedaan itu biasanya bukan karena ada yang salah tulis. Penyebabnya adalah standar pengujian yang dipakai berbeda.

Sama kayak konsumsi bahan bakar mobil bensin yang bisa berbeda tergantung metode tesnya, jarak tempuh mobil listrik juga punya beberapa standar pengukuran. Yang paling sering ditemui adalah NEDC, WLTP, EPA, dan sekarang mulai banyak juga CLTC.

Buat yang lagi cari mobil listrik, memahami perbedaan standar ini penting supaya gak salah berekspektasi.

NEDC, angkanya biasanya paling bikin senang

NEDC atau New European Driving Cycle merupakan metode pengujian yang sudah dipakai sejak lama di Eropa.

Masalahnya, standar ini dibuat saat kondisi lalu lintas dan karakter kendaraan masih jauh berbeda dibanding sekarang.

Dalam pengujiannya, mobil diuji dengan pola berkendara yang relatif santai. Kecepatan rata-rata rendah, akselerasi pelan, dan simulasi kondisi jalan juga gak terlalu menantang.

Alhasil, hasil jarak tempuh yang keluar biasanya cukup optimistis.

Makanya banyak mobil listrik yang punya klaim jarak tempuh tinggi kalau memakai standar NEDC. Tapi saat dipakai sehari-hari, hasilnya sering kali gak semanis angka di brosur.

Kalau diibaratkan, NEDC ini seperti menghitung konsumsi BBM saat jalanan kosong terus tanpa macet.

WLTP, sekarang paling sering dipakai

Karena NEDC dianggap sudah kurang relevan, kemudian hadir WLTP atau Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure.

Saat ini WLTP menjadi salah satu standar yang paling banyak digunakan oleh pabrikan mobil di berbagai negara.

Dibanding NEDC, pengujian WLTP jauh lebih realistis. Kecepatan kendaraan lebih bervariasi, akselerasi lebih sering dilakukan, dan durasi tes juga lebih panjang.

Karena simulasinya lebih mendekati kondisi berkendara sehari-hari, hasil yang didapat biasanya lebih masuk akal.

Makanya, kalau melihat satu mobil dengan angka WLTP lebih rendah daripada NEDC, itu hal yang normal.

Banyak pengguna EV juga menganggap angka WLTP cukup dekat dengan pemakaian nyata, meski hasil akhirnya tetap tergantung cara mengemudi dan kondisi jalan.

EPA, standar yang terkenal paling “jujur”

Kalau melihat mobil listrik asal Amerika Serikat, biasanya mereka menggunakan standar EPA atau Environmental Protection Agency.

Di kalangan pecinta EV, EPA punya reputasi sebagai standar yang paling konservatif.

Kenapa? Karena metode pengujiannya lebih ketat dibanding standar lain. Hasilnya pun cenderung lebih rendah.

Tapi justru karena itu banyak orang menganggap EPA sebagai angka yang paling aman untuk dijadikan patokan.

Misalnya ada mobil listrik dengan jarak tempuh 550 kilometer versi WLTP. Saat diuji EPA, bisa saja hasilnya cuma sekitar 480-500 kilometer.

Kelihatannya turun jauh, tapi biasanya angka tersebut lebih mendekati kondisi penggunaan di dunia nyata.

Makanya kalau melihat mobil dengan klaim EPA 500 kilometer, banyak orang merasa cukup yakin mobil tersebut memang bisa mendekati angka itu dalam penggunaan normal.

CLTC, bikin angka jarak tempuh terlihat panjang

Belakangan, standar CLTC atau China Light-Duty Vehicle Test Cycle juga makin sering muncul.

Wajar saja, karena sekarang banyak mobil listrik asal China yang masuk ke Indonesia.

Nah, CLTC ini sering menghasilkan angka yang lebih tinggi dibanding WLTP.

Pola pengujiannya dinilai lebih ringan sehingga hasil jarak tempuhnya terlihat lebih panjang.

Makanya jangan heran kalau ada mobil listrik yang diklaim mampu menempuh 700 kilometer berdasarkan CLTC, tapi saat dikonversi ke WLTP angkanya bisa turun cukup banyak.

Bukan berarti mobilnya jadi lebih boros, tapi memang metode tesnya berbeda.

Jadi yang mana yang harus dipercaya?

Sebenarnya gak ada standar yang bisa menjamin hasilnya bakal sama persis saat mobil dipakai di jalan.

Soalnya masih banyak faktor lain yang berpengaruh, mulai dari gaya berkendara, kondisi lalu lintas, suhu udara, penggunaan AC, kontur jalan, sampai beban kendaraan.

Jadi mulai sekarang, kalau melihat brosur mobil listrik dengan klaim jarak tempuh yang fantastis, jangan cuma fokus ke angkanya.

Cek juga standar pengujiannya.

Sebab mobil dengan jarak tempuh 500 kilometer versi WLTP bisa saja punya performa nyata yang lebih baik dibanding mobil dengan klaim 600 kilometer versi NEDC atau CLTC.

Continue Reading

Blog

Ternyata Ini Cerita di Balik Logo-logo Mobil

Published

on

By

Kalau lagi kena macet, pernah gak iseng merhatiin logo-logo mobil di sekitar? Ada yang bentuknya oval, ada yang pakai bintang, ada juga yang cuma tiga berlian sederhana.

Buat sebagian orang, logo mungkin cuma penanda merek. Begitu lihat langsung tahu itu Toyota, BMW, Ferrari, atau Lamborghini. Padahal di balik gambar yang kelihatannya simpel itu, tersimpan cerita panjang, mulai dari sejarah pendiri perusahaan, identitas daerah asal, sampai simbol keberuntungan.

Berikut beberapa kisah menarik di balik logo pabrikan mobil terkenal di dunia.

BMW

Banyak yang percaya kalau logo BMW terinspirasi dari baling-baling pesawat yang sedang berputar. Wajar sih, karena BMW memang pernah memproduksi mesin pesawat terbang di masa lalu.

Tapi faktanya, cerita itu lebih dekat ke strategi pemasaran yang terlanjur populer.

Warna biru dan putih yang ada di dalam lingkaran logo BMW sebenarnya diambil dari warna bendera Bavaria, wilayah di Jerman yang menjadi tempat kelahiran BMW. Jadi, logo tersebut lebih merepresentasikan identitas daerah asal mereka ketimbang baling-baling pesawat.

Ferrari

Kalau melihat logo Ferrari, pasti langsung teringat dengan kuda jingkrak alias Cavallino Rampante.

Menariknya, simbol itu bukan hasil ciptaan Enzo Ferrari. Kuda itu awalnya merupakan lambang yang digunakan pilot tempur Italia, Francesco Baracca.

Setelah Baracca gugur, keluarganya memberikan simbol tersebut kepada Enzo Ferrari. Mereka percaya lambang itu bisa membawa keberuntungan.

Ternyata memang ampuh. Kuda jingkrak itu kemudian menjadi salah satu logo paling ikonik di dunia otomotif.

Oh ya, warna kuning di belakang kuda Ferrari juga bukan dipilih sembarangan. Warna tersebut merupakan warna kebanggaan Kota Modena, kampung halaman Enzo Ferrari.

Mercedes-Benz

Logo Mercedes-Benz terlihat sederhana, cuma bintang bersudut tiga di dalam lingkaran. Tapi maknanya ternyata cukup ambisius.

Bintang tersebut melambangkan cita-cita Gottlieb Daimler untuk membuat mesin yang bisa digunakan di darat, laut, dan udara.

Artinya, sejak awal Mercedes-Benz memang ingin menunjukkan bahwa teknologi mereka bisa hadir di berbagai sektor transportasi.

Lamborghini

Kalau Ferrari identik dengan kuda, Lamborghini punya banteng sebagai identitasnya.

Banyak yang mengira logo itu dipilih karena Ferruccio Lamborghini menyukai adu banteng. Memang benar, tapi ada alasan lain yang lebih personal.

Pendiri Lamborghini itu lahir dengan zodiak Taurus yang simbolnya juga banteng.

Selain itu, banteng dianggap mewakili karakter kuat, agresif, dan keras kepala. Karakter yang kemudian sangat identik dengan mobil-mobil Lamborghini yang terkenal buas dan penuh tenaga.

Toyota

Sekilas, logo Toyota cuma terlihat seperti tiga oval yang saling bertumpuk. Padahal, desain tersebut punya filosofi yang cukup dalam.

Dua oval di bagian tengah melambangkan hubungan antara pelanggan dan produk Toyota. Sementara oval besar yang mengelilinginya menggambarkan perkembangan global perusahaan.

Yang lebih menarik lagi, kalau diperhatikan dengan saksama, seluruh huruf pada kata TOYOTA sebenarnya bisa ditemukan di dalam bentuk logo tersebut.

Ada juga yang mengaitkan desain itu dengan sejarah Toyota sebagai perusahaan pembuat alat tenun. Bentuk ovalnya disebut menyerupai jarum dan benang yang sedang digunakan.

Mitsubishi

Logo Mitsubishi mungkin jadi salah satu yang paling mudah dikenali. Tiga bentuk berlian merah tersusun rapi membentuk simbol khas yang hampir tidak pernah berubah sejak lama.

Ternyata logo tersebut memang sesuai dengan arti nama Mitsubishi. Dalam bahasa Jepang, “Mitsu” berarti tiga, sementara “Hishi” berarti berlian atau bentuk wajik.

Logo itu merupakan gabungan lambang keluarga Iwasaki, pendiri Mitsubishi, dengan lambang keluarga Tosa yang memiliki hubungan erat dengan sejarah awal perusahaan.

Logo Bukan Sekadar Pajangan

Di dunia otomotif, logo bukan cuma soal desain supaya mobil terlihat keren atau mudah dikenali.

Di balik setiap garis, warna, dan bentuknya, ada cerita tentang sejarah perusahaan, identitas budaya, hingga ambisi besar para pendirinya.

Makanya, lain kali saat berhenti di lampu merah atau terjebak macet, coba perhatikan logo mobil di sekitar. Siapa tahu, di balik emblem kecil yang menempel di kap mesin itu, tersimpan cerita yang jauh lebih menarik daripada yang terlihat sekilas.

Continue Reading

Trending