Connect with us

Blog

Kenapa Mobil Baru Sudah Jarang Pakai Rem Tangan Manual?

Published

on

Interior SUV harga 300 jutaan, Jetour X70 Plus

Kalau kamu naik mobil baru, coba perhatiin bagian konsol tengah. Banyak yang sekarang “kosong”. Gak ada lagi tuas rem tangan yang dulu biasa ditarik sampai bunyi “krek”. Sebagai gantinya, cuma ada tombol kecil bertuliskan “P”.

Saking jarangnya, survei menunjukkan bahwa dari puluhan mobil yang diluncurkan dalam setahun hanya sebagian kecil aja yang masih pakai rem tangan konvensional. Bahkan di pasar Eropa, kurang dari 10 persen mobil baru masih punya tuas rem tangan manual!

Kira-kira apa alasannya rem tangan manual sudah jarang digunakan?

  1. Lebih Praktis dan Modern

Rem tangan manual itu pakai kabel dan tuas, sementara Electronic Parking Brake (EPB) cuma butuh tekan tombol. Lebih ringan dan gampang banget dipakai, apalagi di kota yang sering macet cukup sentuh tombol, selesai!

Selain itu, EPB sering ikut terintegrasi dengan fitur lain seperti Auto Hold atau Hill Start Assist. Jadi saat berhenti di tanjakan, mobil bisa nahan otomatis tanpa kamu harus tarik rem tangan dulu.

  1. Tampilan Interior Jadi Lebih Rapi dan Lapang

Tuas rem tangan manual itu bentuknya besar dan makan tempat di konsol tengah. Kalau diganti tombol kecil, interior mobil jadi terlihat lebih bersih, lebih lega, dan bisa disulap untuk desain yang lebih modern.

Makanya pabrikan mobil yang ingin desain kabinnya “futuristik” sering banget pilih EPB daripada tuas manual.

  1. Rem Tangan Konvensional Suka Bermasalah

Rem tangan konvensional pakai kabel baja panjang dari tuas ke rem belakang. Seiring waktu, kabel ini bisa memanjang, berkarat, atau macet karena kotoran jalanan

Akibatnya, performa rem bisa menurun dan butuh sering diservis. EPB yang pakai motor elektrik di kaliper jauh lebih konsisten tanpa kabel panjang yang rawan masalah.

  1. Lebih Aman

Kalau di mobil baru yang pakai EPB, kadang rem parkir otomatis aktif saat mesin dimatikan, atau otomatis lepas saat kamu mulai jalan. Ini bisa mengurangi human error karena lupa narik rem tangan.

Walaupun rem tangan manual juga terkadang masih jadi pilihan di beberapa model murah atau mobil yang desainnya “old school”, tren global sekarang jelas menuju rem parkir elektronik.

Tapi… Ada Juga Keunggulan Rem Tangan Manual!

Walaupun makin jarang, rem tangan manual punya beberapa nilai plus menurut para pecinta mobil. Pertama terasa lebih “nyata” saat dipakai, terus lebih simpel dan biasanya lebih murah kalau servis, bisa jadi backup juga kalau sistem elektrik bermasalah.

Kalau kamu sendiri lebih suka yang mana nih? Tuas klasik yang bisa kamu tarik atau tombol kecil yang tinggal pencet aja?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Umur Baterai Mobil Listrik, Bisa Dipakai Berapa Tahun?

Published

on

By

Kalau lagi kepikiran beli mobil listrik, pasti pernah kepo, “Baterainya awet gak sih? Setahun turun berapa persen?”

Pertanyaan ini akhirnya dijawab lewat riset terbaru dari Geotab, perusahaan yang rutin ngumpulin data soal mobil listrik dan kebiasaan ngecas pemiliknya.

Hasilnya? Rata-rata baterai mobil listrik sekarang turun sekitar 2,3 persen per tahun. Angka ini sebenarnya sama seperti temuan mereka di 2020. Artinya, setelah dipakai 8 tahun, kapasitas baterai biasanya tinggal sedikit di atas 80 persen.

Gampangnya gini, kalau waktu baru jarak tempuhnya 560 km, delapan tahun kemudian bisa jadi tinggal sekitar 450 km.

Padahal sempat ada kabar bagus. Di 2023, penurunan baterai sempat membaik jadi 1,8 persen per tahun. Tapi data terbaru di 2025 malah naik lagi ke 2,3 persen.

Penyebab utamanya ternyata bukan karena teknologi baterai. Justru sebaliknya, baterai sekarang sudah lebih pintar soal manajemen panas dan kimianya juga makin canggih.

Masalahnya ada di kebiasaan pengguna yaitu terlalu sering pakai fast charging DC. Ngecas cepat memang praktis, tapi kalau keseringan, efeknya kurang bagus buat umur baterai.

Riset ini juga nemuin hal menarik lainnya. Mobil listrik yang bodinya gede dan berat ternyata lebih cepat mengalami penurunan kapasitas dibanding EV kecil dan ringan.

Selain itu, penurunan baterai biasanya paling terasa di awal-awal pemakaian, bukan lurus pelan-pelan dari tahun ke tahun.

Soal fast charging, datanya cukup jelas. EV yang fast charging-nya kurang dari 12 persen dari total pengisian, baterainya turun sekitar 1,5 persen per tahun.

Tapi yang lebih dari 12 persen, penurunannya bisa tembus 2,5 persen per tahun.

Belum lagi faktor lain seperti cuaca panas dan kebiasaan ngecas sampai penuh terus. Baterai yang sering berada di atas 80 persen ternyata lebih cepat “menua”.

Makanya sekarang banyak EV modern punya fitur pembatas charging cuma sampai 80 persen, biar umur baterai lebih panjang.

Kesimpulannya, teknologi mobil listrik memang makin maju, tapi cara pakainya juga harus ikut pintar.

Ke depan, kalau baterai solid-state benar-benar sudah dipakai massal, mungkin ceritanya bakal beda lagi. Tapi untuk sekarang, kalau mau baterai awet, jangan kebanyakan fast charging dan gak usah sering-sering ngecas sampai 100 persen.

Continue Reading

Blog

Mobil Bukan Smartphone, Era Tombol Fisik Balik Lagi

Published

on

By

head unit hyptec ht

Mobil-mobil baru sekarang identik dengan layar sentuh berukuran besar, apalagi yang datang dari China. Hampir semua fungsi dipindah ke layar, dari AC sampai volume audio. Tombol fisik? Perlahan tersingkir.

Masalahnya, makin ke sini banyak yang merasa cara ini malah ribet dan bikin gak fokus nyetir.

Bahkan Volkswagen saja akhirnya angkat tangan. Kepala Desain VW, Andreas Mindt, pernah bilang, “Ini bukan ponsel, ini mobil.” Jadi mulai 2026, VW memastikan tombol fisik bakal balik lagi ke semua modelnya.

Artinya, konsep serba layar sentuh ternyata gak sepenuhnya disukai orang.

Banyak pengemudi mengeluh karena harus buka menu ini itu cuma buat hal sepele seperti kecilin volume atau atur AC. Di beberapa mobil VW, seperti ID.4, hampir semua fungsi penting ada di layar. Praktis sih di atas kertas, tapi di jalan malah bikin perhatian buyar.

VW pun mengaku salah langkah. Ke depan, mereka bakal pasang lagi tombol fisik untuk fungsi-fungsi penting seperti volume, AC kiri-kanan, kipas, sampai lampu hazard. Tombol di setir juga bakal balik.

Suzuki New Swift 2024

Sementara itu, ada juga pabrikan yang dari awal memang gak terlalu ‘ngotot digital’, seperti MG. Di model terbaru macam MG ZS, tombol fisik masih ada di setir dan di bawah layar. Simpel, gampang diraba, dan nggak bikin panik pas lagi nyetir.

Hyundai juga mulai berubah arah. Setelah tampil super futuristis di Ioniq 5 dan Ioniq 6 yang minim tombol, sekarang di Santa Fe terbaru tombol fisik muncul lagi. Menurut tim desain Hyundai, banyak pengemudi merasa stres karena harus buru-buru buka menu di layar untuk hal yang seharusnya bisa satu tekan.

Ford malah lebih dulu sadar. Mereka tetap pakai layar besar, tapi masih mempertahankan tombol dan kenop di beberapa model seperti F-150, Mustang Mach-E, sampai Puma Gen-E.

Soal kenapa tombol fisik diminta balik lagi, jawabannya simpel, lebih aman. Banyak pengemudi mengaku pernah terdistraksi gara-gara utak-atik layar sentuh saat mobil jalan.

Makanya, mulai 2026, Euro NCAP bakal “kasih hukuman” mobil yang tidak punya tombol fisik untuk fungsi penting seperti sein, hazard, klakson, wiper, dan tombol darurat. Nilai keselamatannya bisa turun.

Industri otomotif pun mulai sadar, mobil bukan gadget. Digital itu penting, tapi gak semua harus lewat layar.

Kadang, tombol sederhana yang bisa dipencet tanpa lihat justru jauh lebih masuk akal dan bikin nyetir tetap aman, nyaman, dan santai.

Continue Reading

Blog

Mobil Kamu FWD, RWD, AWD atau 4WD? Ini Bedanya!

Published

on

By

Pernah gak sih lagi lihat brosur mobil atau scroll spek di internet, terus ketemu tulisan FWD, RWD, AWD, sama 4WD? Tapi masih bertanya-tanya arti sebenarnya apa.

Tenang, kalian gak sendirian, karena pasti banyak yang kayak gitu. Apalagi cewek-cewek, biasanya milih mobil cuma karena modelnya lucu, warnanya oke dan fiturnya yang banyak banget. Padahal huruf-huruf itu sebenernya ngaruh banget ke kelakuan mobil pas dipakai tiap hari.

Gampangnya, ini tuh soal roda mana yang dapat tugas narik mobil buat jalan.

Yang paling sering kita temui itu FWD (Front Wheel Drive). Mobil-mobil harian kebanyakan pakai ini, kayak LCGC, city car sampai MPV.

Tenaganya dikirim ke roda depan. Rasanya ringan, setir enak diputer, bensin juga gak terlalu boros. Buat macet, hujan, parkir mepet, masih santai. Cuma ya… kadang kalau mesinnya lumayan kencang, setir bisa terasa kayak ditarik dikit ke samping. Bukan rusak, tapi memang karakternya begitu.

Kalau RWD (Rear Wheel Drive), tugasnya pindah ke roda belakang. Nah ini biasanya mulai kerasa beda. Pas injak gas, mobil kayak didorong dari belakang. Lebih enak buat akselerasi, lebih “hidup” rasanya.

Mobil sport atau sedan yang rada niat biasanya pakai ini. Tapi tetap ada minusnya, pas hujan atau jalan licin, bagian belakang bisa lebih gampang kehilangan kendali. Jadi harus agak sopan bawanya.

Lokasi Offroad di Indonesia

Terus ada AWD. Ini tipe yang gak pilih-pilih, semua roda kebagian kerja. Tapi pembagiannya pinter, otomatis. Lagi jalan normal, santai. Begitu ketemu hujan, tanjakan, atau jalan jelek, sistemnya langsung atur sendiri biar mobil tetap nempel ke aspal.

Cocok buat yang sering ke luar kota atau doyan road trip. Minusnya ya klasik, harga mobilnya biasanya lebih mahal dan bensinnya lebih cepat habis dikit.

Kalau 4WD, ini beda lagi ceritanya. Ini sudah level mobil yang doyan diajak susah. Masuk lumpur, pasir, jalan berbatu, sampai tanjakan curam.

Biasanya ada tombol atau tuas buat milih mau pakai dua roda atau langsung empat roda. Mobil off-road sejati pakai ini. Dipakai harian? Bisa saja, tapi berat dan boros.

Jadi intinya, gak ada yang “paling” semua tinggal disesuain sama kebutuhan.

Continue Reading

Trending