Connect with us

Blog

Kenapa Jalan Tol Bikin Cepat Mengantuk? Ternyata Ini Alasannya

Published

on

Pernah gak sih, sebelum masuk tol rasanya masih segar bugar. Ngobrol lancar, nyanyi ikut lagu di radio, bahkan sempat semangat injak gas untuk perjalanan jauh.

Tapi anehnya, baru 15-20 menit melaju di jalan tol, mata mulai berat, menguap terus, dan rasanya ingin segera cari rest area.

Kalau pernah mengalaminya, tenang, kamu gak sendirian.

Fenomena ini ternyata cukup umum dialami pengemudi dan bukan selalu karena kurang tidur. Ada kondisi yang dikenal sebagai highway hypnosis atau hipnosis jalan raya.

Meski namanya terdengar menyeramkan, kondisi ini bukan berarti pengemudi benar-benar tertidur di balik kemudi. Justru yang terjadi adalah otak seperti masuk ke mode “autopilot”.

Mobil tetap berjalan, tangan masih memegang setir, mata masih melihat ke depan, tetapi tingkat fokus dan kewaspadaan perlahan menurun.

Nyetir di jalan

Kenapa Jalan Tol Bikin Cepat Ngantuk?

Jawabannya ada pada kondisi jalan itu sendiri.

Coba bandingkan saat berkendara di dalam kota. Pengemudi harus memperhatikan lampu merah, motor yang tiba-tiba menyalip, pejalan kaki, hingga jalan berlubang yang muncul tanpa aba-aba.

Otak dipaksa terus bekerja karena banyak hal yang harus diperhatikan.

Sementara di jalan tol, situasinya berbeda. Jalur cenderung lurus, lalu lintas lebih teratur, dan pemandangan yang dilihat mata relatif sama dalam waktu lama.

Bagi otak, kondisi yang terlalu monoton ini bisa membuat tingkat kewaspadaan perlahan menurun.

Gak sedikit pengemudi yang tiba-tiba sadar sudah melewati beberapa kilometer perjalanan tanpa benar-benar mengingat detail jalan yang baru dilalui.

Kalau pernah mengalami hal itu, kemungkinan kamu lagi merasakan gejala highway hypnosis.

Yang perlu diwaspadai, kondisi ini gak selalu ditandai dengan mata yang hampir terpejam.

Kadang pengemudi merasa masih sadar penuh, tetapi respons terhadap situasi di sekitar sudah mulai melambat.

Misalnya lebih lambat mengerem saat kendaraan di depan mengurangi kecepatan atau terlambat menyadari ada kendaraan yang berpindah jalur.

Karena itulah perjalanan di jalan tol tetap membutuhkan konsentrasi tinggi, meski kondisi jalannya terlihat mudah dan nyaman.

Mobil mogok di jalan tol


Biar Tetap Fokus Saat Perjalanan Jauh

Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan supaya gak mudah terserang kantuk saat berkendara di tol.

Yang pertama tentu saja tidur cukup sebelum berangkat. Jangan berharap secangkir kopi bisa menggantikan waktu istirahat yang kurang.

Selain itu, sempatkan berhenti di rest area setiap beberapa jam untuk meregangkan tubuh. Keluar dari mobil selama 10-15 menit bisa membantu mengembalikan fokus.

Memutar musik dengan tempo yang lebih dinamis juga bisa membantu menjaga otak tetap aktif selama perjalanan.

Namun yang paling penting, jangan memaksakan diri jika tanda-tanda kantuk mulai muncul. Kalau sudah sering menguap, mata terasa berat, atau konsentrasi buyar, lebih baik menepi dan beristirahat sejenak.

Sebab pada akhirnya, musuh terbesar saat berkendara jarak jauh bukan hanya kemacetan atau cuaca buruk, melainkan rasa kantuk yang datang diam-diam ketika pengemudi merasa semuanya baik-baik saja.

Jadi, lain kali kalau baru masuk tol lalu tiba-tiba merasa mengantuk, jangan langsung menyalahkan kurang kopi. Bisa jadi otak Anda sedang masuk mode autopilot akibat perjalanan yang terlalu monoton.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Mau Pakai Pelat Nomor Cantik, Berapa Sih Biayanya?

Published

on

By

Pernah lihat mobil pakai pelat nomor seperti B 8, D 99, B 777, atau kombinasi angka yang mudah diingat?

Sekilas memang terlihat simpel. Tapi buat sebagian orang, pelat nomor seperti ini bisa bikin mobil terlihat lebih eksklusif dan punya identitas sendiri.

Makanya gak heran kalau banyak pemilik kendaraan rela keluar uang lebih demi mendapatkan pelat nomor yang diinginkan.

Lalu, sebenarnya berapa sih biayanya?

Pelat Nomor Cantik Ada Tarif Resminya

Banyak yang mengira pelat nomor cantik cuma bisa dimiliki pejabat atau orang-orang tertentu.

Padahal, siapa saja sebenarnya bisa mengajukan Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) pilihan, selama nomor yang diinginkan masih tersedia.

Cuma, ada biaya tambahan yang harus dibayar di luar biaya penerbitan STNK dan pelat nomor biasa.

Besaran tarif ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 76 Tahun 2020 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku di lingkungan Polri.

Semakin Eksklusif, Biayanya Makin Mahal

Tarifnya dibedakan berdasarkan jumlah angka dan ada atau tidaknya huruf di belakang nomor.

Kalau ingin pelat nomor satu angka tanpa tambahan huruf, biayanya paling tinggi, yakni Rp 20 juta.

Sementara untuk satu angka dengan tambahan huruf di belakang, tarifnya Rp 15 juta.

Kalau memilih dua angka tanpa huruf, biayanya juga Rp 15 juta, sedangkan dua angka dengan huruf dikenakan Rp 10 juta.

Untuk tiga angka, tarifnya Rp 10 juta tanpa huruf dan Rp 7,5 juta jika menggunakan huruf di belakang.

Sementara yang paling terjangkau adalah empat angka. Tarifnya Rp 7,5 juta tanpa huruf belakang atau Rp 5 juta jika memakai tambahan huruf.

Gak Semua Nomor Bisa Dipilih

Meski siapa saja bisa mengajukan, bukan berarti semua kombinasi nomor pasti tersedia.

Kalau nomor yang diincar sudah lebih dulu dipakai orang lain, yaa gak bisa digunakan.

Karena itu, pemohon biasanya perlu mengecek dulu ketersediaan nomor di Samsat sebelum mengajukan permohonan.

Masa Berlakunya Mengikuti STNK

Ada satu hal yang sering luput diketahui.

Biaya pelat nomor pilihan bukan dibayar sekali seumur hidup.

Masa berlakunya mengikuti STNK, yaitu lima tahun.

Artinya, saat melakukan perpanjangan STNK lima tahunan, pemilik kendaraan juga perlu membayar kembali biaya NRKB pilihan sesuai ketentuan yang berlaku jika ingin tetap menggunakan nomor tersebut.

Jadi, Worth It Gak?

Kalau tujuannya sekadar membuat mobil terlihat lebih beda atau punya nomor yang mudah diingat, pelat nomor cantik memang bisa jadi pilihan.

Apalagi buat pemilik mobil hobi, kolektor, atau mereka yang ingin nomor kendaraan punya makna khusus, seperti tanggal lahir, angka keberuntungan, atau nomor favorit.

Tapi kalau tujuannya hanya untuk gaya, tentu keputusan akhirnya kembali ke masing-masing.

Soalnya, dengan dana mulai Rp 5 juta sampai Rp 20 juta, sebagian orang mungkin lebih memilih menggunakannya untuk menambah aksesori mobil, servis besar, atau bahkan menambah uang muka saat membeli mobil baru.

Continue Reading

Blog

Nyobain Geely Coolray di Sirkuit Mandalika

Published

on

By

Geely coolray di sirkuit mandalika

Geely nunjukin kalau mereka makin serius berada di Indonesia. Lewat acara “Geely Refining Tomorrow” yang digelar di Mandalika International Circuit, Lombok, Geely spill deretan mobil dan teknologi terbaru yang siap beredar di jalanan Indonesia.

Gak cuma sekadar pamer mobil, acara ini juga jadi ajang buat Geely nunjukin kalau mereka punya banyak pilihan kendaraan buat berbagai kebutuhan. Mulai dari mobil listrik seperti Geely EX2 dan Geely EX5, SUV hybrid Geely Starray EM-i, sampai lini premium dari ZEEKR, yaitu ZEEKR 009 dan ZEEKR 7X.

Yang paling menarik perhatian, Geely akhirnya resmi memperkenalkan Geely Coolray ke publik Indonesia. SUV bermesin bensin (ICE) ini jadi model ICE pertama Geely yang dipasarkan di Indonesia. Secara global, Coolray juga bukan nama baru. Penjualannya sudah tembus lebih dari 1,35 juta unit, jadi gak heran kalau mobil ini jadi salah satu andalan Geely di berbagai negara. Kini, Coolray hadir dengan spesifikasi yang disesuaikan sama kebutuhan konsumen Indonesia.

Menurut Evin Ye, Vice President of Geely Automobile International Corporation, Indonesia punya peran penting dalam strategi global Geely. Karena itu, mereka gak cuma bawa mobil listrik, tapi juga kendaraan bermesin bensin dan lini premium lewat brand ZEEKR. Tujuannya jelas, supaya pilihan mobil yang ditawarkan bisa lebih lengkap dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Nyobain Coolray Langsung di Mandalika

Gak cuma dikenalin secara resmi, Geely juga langsung ngajak buat nyobain performa Geely Coolray di Sirkuit Mandalika. Di lintasan, SUV ini langsung nunjukin karakter berkendaranya. Akselerasinya terasa responsif, perpindahan jalurnya lincah, dan tetap stabil saat diajak melibas tikungan dengan kecepatan tinggi. Sensasi berkendaranya juga cukup percaya diri, bikin pengemudi lebih nyaman saat menekan pedal gas.

Menariknya, pengalaman di sirkuit ini juga nunjukin kalau Coolray bukan cuma enak dipakai buat ngebut di trek. Mobil ini tetap nyaman dan mudah dikendalikan untuk dipakai sehari-hari di jalanan kota. Baik saat berpindah jalur, melewati tikungan, maupun menghadapi berbagai kondisi jalan, handling-nya terasa konsisten dan memberikan rasa aman.

Lewat sesi test drive ini, Geely ingin memperlihatkan kalau Coolray bukan sekadar SUV bergaya sporty, tapi juga punya performa dan kenyamanan yang bisa diandalkan untuk aktivitas harian.

Continue Reading

Blog

Beli Mobil Cash atau Kredit, Mana yang Lebih Untung?

Published

on

By

Pertanyaan ini hampir selalu muncul setiap ada orang yang mau beli mobil pertama.

“Enakan bayar cash atau kredit, ya?”

Jawabannya ternyata balik lagi ke kondisi keuangan dan kebutuhan masing-masing.

Ada yang merasa lebih tenang karena mobil langsung lunas. Ada juga yang justru memilih kredit supaya uang tabungannya enggak langsung habis.

Nah, biar gak bingung, coba lihat plus minusnya dulu.

Cash, Gak Punya Cicilan

Alasan paling sering orang memilih beli mobil secara cash tentu karena gak mau punya utang.

Begitu transaksi selesai, mobil langsung jadi milik sendiri. Gak ada lagi cicilan bulanan yang harus dipikirkan.

Selain itu, total uang yang dikeluarkan juga biasanya lebih kecil dibanding membeli secara kredit karena gak ada bunga.

Buat sebagian orang, rasa tenang seperti ini memang gak bisa diukur dengan angka.

Tapi Uang Tabungan Langsung Berkurang Banyak

Di sisi lain, beli mobil cash juga punya konsekuensi.

Misalnya harga mobil Rp 350 juta. Artinya, uang sebesar itu langsung keluar dalam satu waktu.

Kalau setelah beli mobil tabungan jadi tinggal sedikit, kondisi ini justru bisa bikin keuangan kurang sehat.

Belum lagi kalau tiba-tiba ada kebutuhan mendadak, seperti biaya rumah sakit, renovasi rumah, atau urusan keluarga lainnya.

Makanya, banyak perencana keuangan menyarankan jangan sampai seluruh tabungan habis hanya demi membeli mobil.

Kredit, Uang Bisa Dipakai Buat Hal Lain

Inilah alasan kenapa kredit masih jadi pilihan banyak orang.

Dengan uang muka yang lebih ringan, sisa dana bisa disimpan sebagai dana darurat, modal usaha, atau investasi.

Misalnya, seseorang sebenarnya punya uang Rp 400 juta.

Kalau semuanya dipakai buat beli mobil, tabungannya habis.

Tapi kalau memilih kredit dengan uang muka tertentu, masih ada dana yang bisa dipakai untuk kebutuhan lain.

Buat sebagian orang, strategi seperti ini justru terasa lebih nyaman.

Mobil baru atau bekas_Freepik

Tapi Jangan Lupa, Ada Bunga

Nah, yang perlu diingat, membeli mobil secara kredit tentu ada biaya tambahan.

Semakin lama tenor yang dipilih, biasanya total pembayaran juga akan semakin besar karena ada bunga yang harus dibayar.

Makanya, sebelum tanda tangan kontrak, hitung dulu total cicilan sampai lunas, jangan cuma melihat angsuran bulanannya saja.

Kadang cicilannya memang terlihat ringan, tapi kalau dijumlahkan, selisihnya bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah dibanding harga mobil.

Jangan Sampai Maksain

Apa pun metode pembayarannya, yang paling penting sebenarnya bukan soal cash atau kredit.

Yang lebih penting adalah jangan sampai membeli mobil di luar kemampuan.

Kalau memilih kredit, usahakan cicilan bulanan tetap sesuai kemampuan finansial dan gak mengganggu kebutuhan sehari-hari.

Sebaliknya, kalau memilih cash, pastikan masih punya dana darurat dan tabungan yang cukup setelah transaksi selesai.

Jadi, Mana yang Lebih Untung?

Kalau bicara total biaya, tentu beli cash lebih hemat karena gak ada bunga.

Tapi kalau bicara pengelolaan keuangan, kredit juga bukan pilihan yang salah, asalkan cicilannya masih sehat dan sesuai kemampuan.

Jadi, gak ada jawaban yang benar-benar mutlak.

Kalau kondisi keuangan memang memungkinkan dan membeli secara cash enggak menguras tabungan, tentu itu bisa jadi pilihan.

Tapi kalau ingin menjaga arus kas tetap aman dan punya dana cadangan, membeli mobil secara kredit juga sah-sah saja.

Yang penting, jangan beli mobil cuma karena gengsi atau ikut-ikutan. Soalnya, mobil seharusnya memudahkan aktivitas, bukan malah bikin pusing setiap akhir bulan saat tanggal cicilan tiba.

Continue Reading

Trending