Connect with us

Blog

Kenalan Sama BMS, Otaknya Baterai Mobil Listrik

Published

on

Kalau ngomongin mobil listrik, kebanyakan orang biasanya fokus ke baterai. Wajar sih, karena komponen inilah yang jadi sumber tenaga utama kendaraan.

Tapi ternyata, baterai mobil listrik gak bekerja sendirian. Ada satu sistem penting yang tugasnya mengawasi, mengatur, sekaligus menjaga kesehatan baterai setiap saat. Namanya Battery Management System atau yang biasa disingkat BMS.

Bisa dibilang, BMS adalah “otak” yang mengendalikan baterai mobil listrik. Tanpa sistem ini, baterai berisiko mengalami kerusakan, performanya menurun, bahkan bisa menimbulkan masalah keselamatan.

BMS Kerjanya Apa Saja?

Secara sederhana, BMS bertugas memantau kondisi baterai secara real time.

Sistem ini terus mengawasi berbagai parameter penting seperti tegangan, arus listrik, suhu baterai, hingga kapasitas daya yang masih tersisa.

Informasi tersebut kemudian diproses agar baterai selalu bekerja dalam kondisi ideal.

Misalnya saat mobil sedang dicas. BMS akan memastikan proses pengisian berlangsung aman dan tidak terjadi overcharge atau kelebihan pengisian yang bisa merusak sel baterai.

Sebaliknya, ketika mobil digunakan, BMS juga mencegah baterai mengalami overdischarge atau kondisi daya terkuras terlalu dalam.

Menjaga Semua Sel Tetap Seimbang

Satu paket baterai mobil listrik sebenarnya terdiri dari ratusan hingga ribuan sel kecil yang bekerja bersama-sama.

Nah, tidak semua sel memiliki karakteristik yang benar-benar identik. Ada kalanya sebagian sel terisi lebih cepat atau justru lebih lambat dibanding yang lain.

Di sinilah peran penting BMS.

Sistem ini melakukan balancing atau penyeimbangan tegangan antar sel baterai. Tujuannya agar seluruh sel bekerja secara seragam dan umur baterai bisa lebih panjang.

Kalau ada sel yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tegangannya, BMS akan melakukan penyesuaian secara otomatis.

Mencegah Baterai Kepanasan

Baterai mobil listrik paling gak\ suka dengan suhu ekstrem.

Saat suhu terlalu tinggi, performa baterai bisa menurun dan risiko kerusakan meningkat. Sebaliknya, suhu terlalu dingin juga dapat membuat efisiensi baterai berkurang.

Karena itu, BMS selalu memantau temperatur baterai.

Jika suhu mulai naik di luar batas aman, sistem bisa memerintahkan pendingin baterai bekerja lebih keras atau bahkan membatasi performa kendaraan untuk sementara.

Langkah ini dilakukan untuk melindungi baterai dari kerusakan.

Alasan Mobil Listrik Bisa Menampilkan Persentase Baterai

Pernah melihat indikator baterai mobil listrik yang menunjukkan angka 80 persen, 50 persen, atau bahkan sisa jarak tempuh?

Data tersebut juga berasal dari BMS.

Sistem ini menghitung berapa energi yang masih tersimpan di dalam baterai dan memperkirakan jarak yang bisa ditempuh berdasarkan pola penggunaan kendaraan.

Makanya, semakin akurat kerja BMS, semakin akurat pula informasi yang diterima pengemudi.

Kalau BMS Bermasalah, Apa yang Terjadi?

Karena perannya sangat vital, gangguan pada BMS bisa memengaruhi banyak hal.

Mulai dari pengisian daya yang terganggu, performa mobil menurun, munculnya peringatan di panel instrumen, hingga kendaraan masuk ke mode perlindungan atau limp mode.

Pada kasus tertentu, mobil bahkan bisa menolak melakukan pengisian daya sampai masalahnya diperbaiki.

Untungnya, BMS modern sudah dirancang sangat canggih dan mampu mendeteksi gangguan sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Jangan Anggap Sepele

Meski jarang terlihat oleh pengguna, Battery Management System merupakan salah satu komponen paling penting pada mobil listrik.

Tanpa BMS, baterai gak akan bekerja secara optimal dan aman. Sistem ini yang memastikan setiap sel baterai tetap sehat, suhu terjaga, proses pengisian aman, serta performa kendaraan tetap konsisten.

Jadi saat mendengar istilah BMS di dunia mobil listrik, anggap saja ini adalah “manajer” yang bekerja 24 jam mengurus seluruh aktivitas baterai agar mobil bisa digunakan dengan aman dan nyaman setiap hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

AC Mobil Listrik Bikin Jarak Tempuh Cepat Berkurang?

Published

on

By

Kalau naik mobil listrik, AC jadi salah satu fitur yang paling sering dipakai. Apalagi kalau cuaca lagi panas-panasnya, rasanya gak mungkin berkendara tanpa menyalakan AC.

Tapi ada satu pertanyaan yang sering muncul, kalau AC terus nyala, jarak tempuh mobil listrik jadi lebih cepat berkurang gak?

Jawabannya, iya, penggunaan AC memang mengambil energi dari baterai. Tapi bukan berarti setiap kali AC dinyalakan, jarak tempuh langsung anjlok drastis.

AC Memang Pakai Energi dari Baterai

Pada mobil bensin, AC menggunakan tenaga dari mesin. Sementara pada mobil listrik, sistem pendingin kabin membutuhkan energi listrik.

Artinya, ketika AC dinyalakan, sebagian energi baterai dipakai untuk menjaga kabin tetap dingin.

Besarnya konsumsi juga gak selalu sama. Saat mobil baru dinyalakan dalam kondisi kabin sangat panas, misalnya setelah parkir di bawah matahari, sistem AC biasanya bekerja lebih keras untuk menurunkan suhu.

Setelah kabin sudah dingin dan suhu yang diinginkan tercapai, kebutuhan energinya bisa lebih rendah.

Jangan Cuma Salahkan AC

Kalau jarak tempuh mobil listrik terasa lebih cepat berkurang, jangan langsung menganggap AC sebagai biang keladinya.

Ada banyak faktor lain yang ikut memengaruhi konsumsi energi, seperti kecepatan, gaya mengemudi, kondisi lalu lintas, tekanan ban, beban kendaraan, sampai kondisi jalan.

Berkendara dengan kecepatan tinggi di jalan tol misalnya, biasanya membutuhkan energi lebih besar dibandingkan melaju santai dengan kecepatan rendah.

Jadi, kalau konsumsi baterai terasa lebih boros saat perjalanan jauh, penyebabnya bisa merupakan gabungan dari beberapa faktor.

GPS tracker di mobil

Parkir di Bawah Matahari Bikin AC Kerja Lebih Keras

Nah, ini yang cukup sering terjadi di Indonesia.

Mobil diparkir beberapa jam di bawah matahari, begitu masuk kabin rasanya seperti oven. AC pun langsung disetel dingin dan kipas maksimal.

Dalam kondisi seperti ini, sistem pendingin harus bekerja lebih keras untuk menurunkan temperatur kabin.

Karena itu, kalau memungkinkan, parkir di tempat teduh atau gunakan pelindung kaca. Sebelum jalan, buka pintu atau kaca sebentar untuk membantu mengeluarkan udara panas dari kabin.

Setelah itu baru nyalakan AC dan mulai berkendara.

Jadi, Harus Matikan AC Biar Hemat Baterai?

Gak perlu juga.

Kalau cuaca panas, mematikan AC hanya demi mengejar jarak tempuh malah bikin perjalanan gak nyaman.

Lebih baik gunakan AC secara normal dan atur suhunya dengan wajar. Gak perlu terus-terusan disetel pada suhu paling rendah.

Yang juga penting, jangan hanya fokus pada AC. Cara mengemudi yang halus, menjaga tekanan ban sesuai rekomendasi, dan menghindari akselerasi atau pengereman yang berlebihan juga bisa membantu penggunaan energi lebih efisien.

Jadi, AC memang bisa mengurangi jarak tempuh mobil listrik karena menggunakan energi baterai, tapi bukan berarti harus dimatikan supaya mobil lebih irit.

Apalagi di Indonesia, kenyamanan dan visibilitas saat berkendara tetap lebih penting. Tinggal atur penggunaannya dengan bijak supaya kabin tetap nyaman tanpa membuat konsumsi energi berlebihan.

Continue Reading

Blog

Boleh Gak Langsung Menyalakan AC Mobil Setelah Mesin Nyala?

Published

on

By

ac mobil

Masih banyak pengemudi yang punya kebiasaan menyalakan mesin mobil dulu, menunggu beberapa saat, baru menyalakan AC.

Katanya, AC gak boleh langsung dinyalakan setelah mesin hidup karena bisa bikin mesin bekerja terlalu berat.

Tapi, sebenarnya boleh gak sih langsung menyalakan AC setelah mesin mobil dinyalakan?

Jawabannya, boleh. Mobil modern pada dasarnya sudah dirancang untuk bekerja dengan sistem AC sejak mesin dinyalakan.

Gak Perlu Nunggu Lama

Kalau mesin sudah menyala dan kondisi mobil normal, AC sebenarnya bisa langsung dinyalakan.

Jadi, gak ada keharusan untuk menunggu beberapa menit sebelum menekan tombol AC.

Yang lebih penting adalah memberikan waktu sebentar supaya mesin menyala dengan stabil, terutama ketika baru pertama kali dinyalakan setelah mobil lama terparkir.

Setelah itu, AC bisa digunakan seperti biasa.

Terus Kenapa Banyak yang Bilang Harus Tunggu?

Anggapan tersebut kemungkinan berasal dari kebiasaan pada mobil-mobil zaman dulu.

Teknologi mesin dan sistem AC sekarang sudah jauh berkembang. Sistem kendaraan juga sudah dirancang supaya berbagai komponen bisa bekerja bersamaan.

Jadi, kebiasaan menunggu lama sebelum menyalakan AC sebenarnya gak wajib dilakukan pada mobil modern.

Ada Cara Biar Kabin Lebih Cepat Dingin

Meski boleh langsung menyalakan AC, ada satu hal yang sebaiknya diperhatikan kalau mobil habis parkir di bawah matahari.

Jangan langsung menutup semua kaca lalu berharap AC seketika membuat kabin dingin.

Udara di dalam kabin biasanya sudah sangat panas. Kalau memungkinkan, buka pintu atau kaca sebentar untuk membuang udara panas.

Setelah itu, nyalakan AC dan atur suhunya sesuai kebutuhan.

Cara sederhana ini bisa membantu AC lebih cepat terasa dingin karena gak harus terus-menerus melawan udara panas yang terperangkap di dalam kabin.

Mazda MX-30 Mesin

Gak Perlu Setel AC di Suhu Paling Rendah

Satu kebiasaan lain yang sering dilakukan adalah langsung mengatur AC ke suhu paling rendah supaya kabin cepat dingin.

Padahal, yang lebih penting adalah mengatur suhu dan hembusan udara sesuai kebutuhan.

Kalau kabin sudah nyaman, gak perlu terus memaksa AC bekerja pada pengaturan paling dingin.

Selain membuat kabin terlalu dingin, kebiasaan tersebut juga gak selalu membuat mobil lebih cepat dingin.

Jadi, Boleh Langsung Nyalakan AC?

Boleh.

Pada mobil modern, AC bisa langsung digunakan setelah mesin menyala. Gak perlu menunggu sampai beberapa menit hanya karena khawatir mesin atau AC bakal rusak.

Yang lebih penting adalah memastikan sistem AC memang dalam kondisi baik dan digunakan dengan wajar.

Kalau mobil habis terparkir di bawah matahari, justru lebih masuk akal membuang udara panas dari kabin terlebih dahulu. Setelah itu, nyalakan AC dan berkendara seperti biasa.

Jadi, kalau selama ini kamu selalu menunggu beberapa menit sebelum menyalakan AC, sebenarnya gak perlu selama mobil dalam kondisi normal.

Continue Reading

Blog

Mobil Hybrid Kehabisan Bensin, Masih Bisa Jalan?

Published

on

By

Punya mobil hybrid tapi sampai kehabisan bensin di jalan? Nah, ini salah satu kondisi yang sebaiknya jangan sampai terjadi.

Soalnya, meski mobil hybrid punya baterai dan motor listrik, bukan berarti mobil bisa terus jalan ketika bensinnya benar-benar habis.

Pada mobil hybrid konvensional (HEV), mesin bensin dan motor listrik memang bekerja bergantian atau bareng sesuai kondisi. Baterainya juga bisa mendapat energi kembali saat mobil melakukan pengereman.

Tapi, baterai tersebut bukan pengganti bensin.

Baterai Masih Ada, Kok Tetap Bisa Berhenti?

Ini yang sering bikin orang salah paham.

Saat bensin habis, mungkin saja baterai hybrid masih menunjukkan sisa daya. Dalam kondisi tertentu, mobil bahkan bisa masih bergerak menggunakan tenaga listrik untuk sementara.

Tapi jangan menganggap kondisi tersebut bisa membuat mobil terus berjalan sampai SPBU berikutnya.

Sistem hybrid membutuhkan mesin bensin untuk berbagai kondisi pengoperasian dan untuk menjaga sistem tetap bekerja sebagaimana mestinya. Ketika bahan bakar sudah benar-benar habis, mobil pada akhirnya bisa berhenti.

Jadi kalau indikator bensin sudah masuk kondisi kritis, jangan mengandalkan sisa baterai untuk mencari aman.

Kalau PHEV Gimana?

Pada plug-in hybrid (PHEV), ceritanya sedikit berbeda.

PHEV memiliki baterai yang kapasitasnya jauh lebih besar dan bisa diisi dari sumber listrik eksternal. Karena itu, beberapa PHEV memang bisa berjalan menggunakan tenaga listrik saja dalam jarak tertentu.

Tapi tetap saja, ketika bensin habis, jangan menganggap mobil bisa digunakan seperti mobil listrik murni tanpa batas.

Kemampuan mobil untuk tetap berjalan dalam kondisi tersebut sangat tergantung pada sistem dan strategi pengoperasian masing-masing model.

Artinya, aturan paling aman tetap sama: jangan sengaja membiarkan tangki bensin sampai kosong.

Jangan Tunggu Sampai Indikator Bensin Nol

Sama seperti mobil bensin biasa, kebiasaan berkendara sampai bahan bakar benar-benar habis sebaiknya dihindari.

Selain berisiko bikin mobil berhenti di tempat yang gak diinginkan, kondisi tersebut juga bisa merepotkan karena mobil hybrid punya sistem penggerak yang lebih kompleks.

Kalau indikator bensin sudah menunjukkan sisa yang sedikit, lebih baik langsung cari SPBU.

Apalagi kalau sedang perjalanan jauh atau melewati daerah yang jarang punya SPBU. Jangan sampai cuma karena merasa masih punya baterai, pengisian bensin malah ditunda.

Jadi, Masih Bisa Jalan atau Gak?

Jawabannya, jangan mengandalkan mobil hybrid untuk terus berjalan setelah bensin habis.

Memang ada kemungkinan mobil masih bisa bergerak menggunakan energi listrik dalam kondisi tertentu, tetapi itu bukan berarti mobil hybrid dirancang untuk dipakai tanpa bensin.

Baterai hybrid pada dasarnya bekerja bersama mesin bensin, bukan menggantikannya.

Jadi, meskipun punya mobil hybrid, aturan sederhananya tetap berlaku, kalau indikator bensin sudah hampir habis, cari SPBU. Jangan tunggu sampai benar-benar kosong.

Continue Reading

Trending