Connect with us

Blog

Jok Mobil Listrik Terasa Lebih Tegak? Ternyata Ini Sebabnya

Published

on

interior Wuling Air ev

Pernah duduk di mobil listrik terus ngerasa posisi duduknya agak tegak? Bukan perasaan doang. Banyak mobil listrik memang punya jok yang terasa kurang rebah dibanding mobil bensin.

Tapi ini bukan karena desainnya aneh. Lebih ke soal “isi” mobil listrik yang beda.

Komponen paling besar di mobil listrik itu baterai, dan biasanya ditaruh di bawah lantai. Tujuannya bagus, biar pusat gravitasi rendah dan mobil lebih stabil waktu jalan.

Masalahnya, lantai kabin jadi sedikit lebih tebal. Nah, supaya ruang kepala tetap aman dan posisi nyetir enak, sudut jok akhirnya dibuat lebih tegak.

Hal ini gampang ditemui di mobil listrik kecil perkotaan. Misalnya model dari Wuling Motors lewat Wuling Air ev. Banyak pengguna bilang joknya memang tidak terlalu rebah, terutama kalau dipakai nunggu lama di dalam mobil.

Selain soal baterai, posisi duduk tegak juga ada hubungannya sama efisiensi ruang. Duduk lebih upright bikin kabin terasa lega tanpa harus bikin bodi mobil makin besar. Penting banget buat mobil listrik kompak yang fokusnya buat harian di kota.

Ada sisi enaknya juga sebenarnya. Posisi duduk tegak bikin pandangan ke depan lebih jelas, keluar masuk mobil lebih gampang, dan kontrol mobil terasa lebih natural apalagi di kecepatan rendah yang jadi habitat mobil listrik.

Tapi bukan berarti semua mobil listrik begitu. Model yang lebih besar biasanya kasih pengaturan jok lebih fleksibel, jadi bisa lebih santai. Contohnya hatchback listrik seperti MG 4 EV yang pengaturan kursinya lebih variatif.

Jadi kalau jok mobil listrik terasa tegak, itu lebih ke kompromi desain. Pabrikan harus ngatur ruang baterai, kabin, dan kenyamanan sekaligus. Ke depan sih kemungkinan ergonominya bakal makin enak, karena produsen juga makin paham kebutuhan pengguna.

Intinya, bukan joknya yang “pelit rebah”, tapi memang layout mobil listriknya yang beda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Mobil Sering Dipakai Macet, Kapan Wajib Servis?

Published

on

By

Banyak pemilik mobil masih berpatokan pada angka di odometer untuk menentukan jadwal servis. Selama kilometernya belum sampai batas servis berkala, kendaraan dianggap masih aman dipakai.

Padahal, mobil yang setiap hari dipakai menghadapi kemacetan punya kondisi kerja yang berbeda dibanding mobil yang lebih sering melaju di jalan bebas hambatan. Mesinnya memang tidak menempuh jarak jauh, tapi justru bekerja lebih lama karena sering berhenti dan berjalan secara berulang atau stop and go.

Terus, mobil yang sering dipakai di jalan macet memang harus diservis lebih cepat? Jawabannya, bisa iya.

Saat terjebak macet, mesin mobil tetap menyala walaupun kendaraan nyaris gak bergerak. Artinya, oli mesin tetap bekerja melumasi komponen, kipas pendingin terus berputar menjaga suhu mesin, dan sistem transmisi maupun rem juga lebih sering digunakan.

Kondisi seperti ini membuat beberapa komponen mengalami beban kerja lebih berat dibanding saat mobil melaju dengan kecepatan stabil.

Makanya, jangan hanya melihat angka kilometer. Perhatikan juga lamanya penggunaan mobil setiap hari.

Jangan Cuma Patok Kilometer

Sebagian besar pabrikan menyarankan servis berkala setiap 10.000 kilometer atau enam bulan, tergantung mana yang tercapai lebih dulu.

Artinya, meski odometer baru menunjukkan 6.000 atau 7.000 kilometer, tetapi sudah lebih dari enam bulan sejak servis terakhir, mobil tetap sebaiknya dibawa ke bengkel.

Apalagi kalau setiap hari digunakan di tengah kemacetan dengan durasi perjalanan yang cukup lama.

Oli Bisa Lebih Cepat Menurun

Salah satu komponen yang paling terdampak saat mobil sering menghadapi kemacetan adalah oli mesin.

Ketika mesin terus hidup dalam waktu lama, oli akan terus bersirkulasi untuk melumasi berbagai komponen. Seiring waktu, kualitas pelumas bisa menurun sehingga kemampuannya dalam melindungi mesin juga berkurang.

Kalau dibiarkan terlalu lama, gesekan antar komponen mesin bisa meningkat dan berpotensi mempercepat keausan.

Servis mobil berkala wajib dilakukan

Rem dan Ban Juga Bekerja Lebih Keras

Kondisi stop and go membuat pengemudi lebih sering menginjak pedal rem dan kembali berakselerasi.

Akibatnya, kampas rem bisa lebih cepat aus dibanding mobil yang lebih sering digunakan di jalan tol. Ban juga mengalami beban lebih besar karena proses pengereman dan akselerasi yang berulang.

Karena itu, saat servis berkala sebaiknya minta teknisi memeriksa ketebalan kampas rem, kondisi ban, serta tekanan anginnya.

Jangan Abaikan Cairan dan Filter

Selain oli mesin, beberapa komponen lain juga perlu diperhatikan, seperti cairan pendingin, minyak rem, filter udara, hingga filter kabin.

Mobil yang sering dipakai di lingkungan perkotaan umumnya lebih banyak terpapar debu dan polusi. Akibatnya, filter udara maupun filter kabin bisa lebih cepat kotor sehingga perlu dicek secara berkala.

Sesuaikan dengan Pola Pemakaian

Pada akhirnya, jadwal servis gak bisa disamakan untuk semua mobil. Kendaraan yang setiap hari dipakai menghadapi kemacetan tentu memiliki beban kerja berbeda dibanding mobil yang lebih sering digunakan untuk perjalanan luar kota.

Kalau mobil lebih banyak dipakai di kondisi stop and go, jangan ragu mengikuti jadwal servis berdasarkan waktu, bukan hanya kilometer. Dengan perawatan yang rutin, performa mobil tetap terjaga dan risiko kerusakan yang lebih besar di kemudian hari juga bisa diminimalkan.

Continue Reading

Blog

Jangan Kaget! Mobil Baru Kini Bisa Tahu Kamu Lagi Melamun

Published

on

By

Kalau selama ini mobil cuma punya kamera buat parkir atau ADAS, sekarang ceritanya beda. Mulai 7 Juli 2026, semua mobil penumpang baru yang dijual di Uni Eropa wajib dibekali Driver Monitoring System (DMS) atau sistem yang bisa memantau kondisi pengemudi lewat pergerakan mata dan kepala.

Sebenarnya teknologi ini bukan barang baru. Beberapa merek mobil sudah lebih dulu memakainya buat mendeteksi pengemudi yang mulai ngantuk atau kehilangan fokus. Bedanya, sekarang fitur tersebut bukan lagi pelengkap, melainkan jadi syarat wajib untuk semua mobil baru yang dipasarkan di Eropa.

Bahkan, aturan serupa juga diprediksi bakal menyusul di Amerika Serikat mulai 2027.

Mata Terlalu Lama Lihat Layar? Mobil Langsung Kasih Peringatan

Sistem yang diwajibkan Uni Eropa ini bernama Advanced Driver Distraction Warning (ADDW). Cara kerjanya mengandalkan sensor inframerah dan software yang bisa membaca arah pandangan mata serta gerakan kepala pengemudi.

Yang dipantau bukan cuma kondisi mata, tapi juga ke mana pengemudi terlalu lama mengalihkan pandangan.

Misalnya, saat mata terlalu lama menatap panel instrumen, layar infotainment, setir, dasbor, atau konsol tengah.

Kalau pengemudi terus melihat area tersebut lebih dari 6 detik saat mobil melaju di kecepatan 20-50 kph, atau lebih dari 3,5 detik saat kecepatannya di atas itu, mobil bakal langsung mengeluarkan peringatan berupa suara dan tampilan visual.

Supaya gak gampang salah deteksi, sistem ini juga dibekali toleransi sekitar 50 milidetik.

Kenapa Sampai Dibikin Wajib?

Alasannya sederhana, karena pengemudi yang kehilangan fokus masih jadi salah satu penyebab utama kecelakaan.

Komisi Eropa memperkirakan sekitar 10-30 persen kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut terjadi akibat pengemudi terdistraksi.

Kalau aturan ini berjalan sesuai harapan, sistem pemantau pengemudi diyakini bisa membantu menyelamatkan sekitar 25.000 nyawa hingga 2038.

Di Amerika Serikat kondisinya juga gak jauh berbeda. Data National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menunjukkan gangguan konsentrasi menjadi penyebab 16 persen kecelakaan fatal, 21 persen kecelakaan yang menimbulkan korban luka, dan 22 persen dari seluruh kecelakaan lalu lintas.

Dianggap Ganggu dan Bikin Khawatir

Meski tujuannya bagus, teknologi ini ternyata juga menuai pro dan kontra.

Sejumlah pengulas otomotif menilai sistem seperti ini kadang terlalu sensitif. Kedipan mata normal atau gerakan kepala biasa bisa saja dianggap sebagai tanda pengemudi mengantuk. Akibatnya, mobil terus memberikan peringatan meski pengemudi sebenarnya masih fokus.

Selain itu, ada juga yang khawatir harga mobil bakal makin mahal karena harus dibekali perangkat elektronik tambahan.

Yang paling banyak disorot justru soal privasi.

Secara aturan, sistem ADDW seharusnya bekerja dengan konsep closed-loop, artinya data yang dikumpulkan tidak dikirim ke luar kendaraan.

Namun, sejumlah pegiat privasi mempertanyakan apakah semua pabrikan benar-benar menjalankan aturan tersebut.

Laporan Risky Business yang mengutip media Belgia VRT bahkan menyebut Volvo mengakui sistem pemantau pengemudinya memproses data secara real-time melalui server cloud eksternal yang aman.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru, apalagi sebelumnya beberapa pabrikan seperti GM, Hyundai, dan Kia pernah terseret kasus pengumpulan data kebiasaan berkendara konsumen yang kemudian dijual ke broker data dan digunakan perusahaan asuransi untuk menentukan besaran premi.

Bukan Cuma Kamera Pengemudi

Aturan baru Uni Eropa ini ternyata gak cuma mewajibkan Driver Monitoring System.

Semua mobil penumpang dan van baru juga harus dibekali Autonomous Emergency Braking (AEB) yang lebih pintar, termasuk mampu mendeteksi pejalan kaki dan pesepeda.

Selain itu, pabrikan juga diwajibkan meningkatkan visibilitas ke depan, memperluas area kaca keselamatan untuk melindungi pejalan kaki saat tabrakan, hingga melakukan pengujian tambahan pada ban yang sudah aus.

Dengan aturan ini, Uni Eropa berharap keselamatan di jalan bisa meningkat. Di sisi lain, tantangan soal akurasi sistem dan perlindungan data pribadi juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Continue Reading

Blog

Gen Z Gak Dipercaya Ganti Ban Mobil? Ada Surveinya Lho!

Published

on

By

Pernah kebayang gak, lagi apes ban mobil kempis di pinggir jalan, terus minta bantuan orang sekitar? Nah, kalau kejadiannya di Amerika Serikat, sepertinya Gen Z bukan orang pertama yang bakal dipercaya buat ganti ban.

Hal itu terungkap dari survei global terbaru yang dilakukan Autotrader UK. Hasilnya cukup mengejutkan, karena gak ada satu pun responden di Amerika yang memilih pengemudi Gen Z sebagai sosok paling bisa diandalkan buat ganti ban mobil.

Survei ini melibatkan lebih dari 3.000 pengemudi dari 15 negara. Di Amerika Serikat sendiri, mayoritas responden justru lebih percaya sama Generasi X alias mereka yang sekarang berusia sekitar 46 sampai 61 tahun.

Sebanyak 67 persen responden memilih Gen X sebagai generasi yang paling jago kalau urusannya perbaikan darurat di pinggir jalan, termasuk ganti ban. Sementara Gen Z? Skornya nol persen.

Ternyata bukan cuma di Amerika. Responden di Inggris, Portugal, dan Australia juga punya pandangan yang sama. Gen Z lagi-lagi gak mendapat satu pun suara sebagai generasi yang dipercaya buat urusan ganti ban.

Kalau dilihat secara global, dukungan buat Gen Z juga cuma 2 persen. Sebaliknya, Gen X masih jadi juaranya dengan 57 persen responden menganggap mereka paling bisa diandalkan.

Cek ban sebelum mudik penting

Gen Z Sebenarnya Pede

Meski banyak orang masih ragu, Gen Z sendiri ternyata cukup yakin sama kemampuan mereka.

Di Inggris, sekitar 43 persen pengemudi muda merasa sanggup ganti ban sendiri, walaupun sekarang makin sedikit mobil yang masih dibekali ban cadangan. Sementara di Amerika, ada 29 persen responden Gen Z yang juga yakin bisa melakukannya.

Jadi masalahnya bukan karena mereka gak pede, tapi lebih ke orang lain yang belum yakin sama kemampuan mereka.

Belajar dari TikTok Sampai AI

Survei ini juga memperlihatkan kalau cara belajar Gen Z memang beda dibanding generasi sebelumnya.

Daripada tanya bengkel atau baca buku panduan, mereka lebih sering cari tutorial lewat media sosial, YouTube, TikTok, sampai memanfaatkan AI buat mencari solusi kalau mobil bermasalah.

Menariknya, Amerika Serikat jadi pengecualian. Di sana, justru generasi Milenial yang paling sering mencari tips otomotif lewat media sosial. Sementara pengguna AI terbanyak untuk urusan perbaikan mobil malah datang dari Generasi X.

Yang bikin hasil survei ini makin menarik, citra Gen Z ternyata gak seburuk anggapan banyak orang.

Dari para pengemudi muda yang pernah mencoba memperbaiki mobil sendiri, lebih dari 80 persen mengaku berhasil tanpa bikin kerusakan jadi lebih parah. Artinya, usaha mereka cukup berhasil.

Cuma ada satu pengecualian, yaitu di Afrika Selatan. Hampir separuh responden Gen Z di sana mengaku justru bikin masalah mobil makin parah saat mencoba memperbaikinya sendiri.

Continue Reading

Trending