Connect with us

Blog

Fitur Kalah Canggih, Kenapa Mobil Jepang Tetap Paling Laris?

Published

on

Kalau lihat mobil-mobil baru sekarang, terutama dari merek China, pasti banyak yang mikir.

“Fiturnya udah kayak mobil premium, tapi kok masih kalah laris sama mobil Jepang?”

Padahal kalau dibandingkan di atas kertas, beberapa mobil Jepang memang sering kalah soal fitur. Ada yang belum punya panoramic sunroof, ADAS-nya masih terbatas, head unit biasa aja, sampai kamera 360 derajat pun kadang cuma ada di varian tertinggi.

Tapi anehnya, mobil Jepang tetap jadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Kenapa bisa begitu?

Orang Indonesia Beli Mobil Buat Dipakai Bertahun-tahun

Buat sebagian besar orang Indonesia, beli mobil bukan keputusan yang bisa diulang tiap dua atau tiga tahun.

Banyak yang beli mobil buat dipakai 5 sampai 10 tahun, bahkan lebih. Makanya yang dicari bukan cuma fitur keren, tapi rasa aman selama memiliki mobil itu.

Pertanyaan yang sering muncul justru begini, “Kalau rusak gampang servis gak?”, “Sparepart-nya ada di mana-mana gak?”, “Lima tahun lagi masih gampang dijual gak?”. Nah, di sinilah mobil Jepang unggul.

Salah satu kekuatan merek Jepang adalah jaringan aftersales.

Mau lagi di kota besar atau lagi mudik ke daerah, peluang ketemu bengkel resmi atau bengkel umum yang paham mobil Jepang jauh lebih besar.

Kalau ada komponen yang rusak, biasanya juga lebih gampang dicari. Hal-hal seperti ini sering dianggap sepele, padahal baru terasa penting ketika mobil mulai dipakai setiap hari.

Reputasi yang Dibangun Puluhan Tahun

Merek-merek Jepang udah puluhan tahun ada di Indonesia.

Selama itu juga mereka membangun kepercayaan soal mesin yang awet, konsumsi BBM yang irit, sampai biaya servis yang relatif masuk akal.

Makanya banyak orang yang akhirnya berpikir, “Daripada fiturnya banyak tapi belum tahu awet atau gak, mending pilih yang udah terbukti.”

Cara berpikir seperti ini masih cukup kuat, terutama buat pembeli mobil pertama.

Interior Chery J6

Harga Jual Kembali Masih Jadi Pertimbangan

Ini salah satu faktor yang sering dilupakan. Banyak orang Indonesia selalu mikir soal harga jual kembali sejak pertama kali membeli mobil.

Mobil Jepang umumnya punya resale value yang lebih stabil. Jadi kalau beberapa tahun lagi mau upgrade mobil, kerugiannya biasanya gak terlalu besar.

Buat sebagian orang, ini bahkan lebih penting daripada punya fitur yang paling lengkap.

Fitur Memang Penting, Tapi Bukan Segalanya

Bukan berarti fitur gak penting. Sekarang pembeli juga mulai memperhatikan ADAS, kamera 360, wireless Android Auto dan Apple CarPlay, sampai electric tailgate.

Makanya belakangan merek Jepang juga mulai mengejar ketertinggalan dengan menambah fitur di model-model terbarunya.

Di sisi lain, merek China juga terus memperluas jaringan dealer, meningkatkan layanan purnajual, dan membangun kepercayaan konsumen.

Artinya, persaingan sekarang gak lagi cuma soal siapa yang fiturnya paling banyak.

Pada akhirnya, alasan mobil Jepang masih mendominasi bukan semata-mata karena fiturnya. Yang dibeli konsumen sebenarnya adalah rasa tenang.

Tenang karena bengkelnya mudah dicari. Tenang karena sparepart tersedia. Tenang karena mekaniknya banyak yang paham. Tenang karena harga jualnya masih bagus.

Jadi meski beberapa rival datang dengan teknologi yang lebih canggih, buat banyak orang Indonesia mobil tetap dianggap sebagai investasi jangka panjang. Selama rasa aman itu masih dimiliki merek-merek Jepang, dominasi mereka rasanya belum bakal mudah tergeser.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

P, R, N, D di Mobil Matik Artinya Apa?

Published

on

By

Buat yang sehari-hari pakai mobil matik, posisi tuas transmisi P, R, N, dan D mungkin sudah terasa otomatis.

Mau parkir, pindah ke P. Mau mundur, geser ke R. Berhenti sebentar, biasanya N. Sementara kalau mau jalan, tinggal masuk D.

Tapi pernah kepikiran gak, sebenarnya huruf-huruf itu singkatan dari apa?

Ternyata masing-masing posisi punya fungsi yang berbeda dan gak bisa asal dipakai.

P untuk Park

Huruf P berarti Park atau posisi parkir.

Saat tuas berada di posisi P, transmisi akan mengunci mekanisme penggerak sehingga mobil gak seharusnya bergerak maju atau mundur.

Makanya posisi ini digunakan saat mobil diparkir dan mesin dimatikan.

Tapi bukan berarti P bisa menggantikan rem parkir sepenuhnya. Di kondisi menanjak atau menurun, tetap sebaiknya aktifkan rem parkir agar beban kendaraan gak sepenuhnya ditahan mekanisme pengunci transmisi.

R untuk Reverse

Selanjutnya ada R, singkatan dari Reverse alias mundur.

Ketika tuas dipindahkan ke R, transmisi mengatur arah putaran roda agar mobil bisa bergerak ke belakang.

Yang perlu diperhatikan, jangan memindahkan tuas dari D ke R saat mobil masih bergerak maju. Begitu juga sebaliknya.

Sebaiknya mobil benar-benar berhenti terlebih dulu sebelum mengganti arah.

N untuk Neutral

Nah, kalau N berarti Neutral.

Dalam posisi ini, transmisi berada dalam kondisi netral sehingga tenaga mesin gak diteruskan ke roda seperti saat berada di D.

Posisi N biasanya digunakan ketika mobil perlu berada dalam kondisi netral, misalnya saat berhenti dalam kondisi tertentu atau ketika kendaraan perlu didorong sesuai prosedur yang dianjurkan pabrikan.

Tapi jangan menganggap N sebagai posisi wajib setiap kali berhenti sebentar di lampu merah. Untuk penggunaan sehari-hari, ikuti petunjuk di buku manual mobil masing-masing.

D untuk Drive

Terakhir ada D, singkatan dari Drive.

Ini adalah posisi yang paling sering digunakan saat mobil berjalan normal.

Ketika tuas berada di D, transmisi akan memilih rasio gigi yang sesuai secara otomatis berdasarkan kondisi berkendara.

Jadi, pengemudi gak perlu repot memindahkan gigi satu per satu seperti pada mobil manual.

Ada L, S, atau B? Fungsinya Apa?

Beberapa mobil matik juga punya posisi tambahan seperti L, S, atau B.

Fungsinya bisa berbeda tergantung jenis transmisi dan pabrikan.

Misalnya, L umumnya berkaitan dengan rasio rendah untuk kondisi tertentu, sementara S pada beberapa mobil digunakan untuk mode berkendara yang lebih responsif.

Khusus mobil hybrid atau listrik, posisi B juga cukup sering ditemui. Mode ini biasanya berkaitan dengan peningkatan efek perlambatan dan regenerative braking, sehingga energi saat mobil melambat bisa dimanfaatkan untuk membantu mengisi baterai.

Jadi, meski kelihatannya cuma huruf-huruf sederhana di samping tuas transmisi, masing-masing punya fungsi sendiri.

Yang paling penting, jangan asal memindahkan posisi tuas. Kenali dulu fungsi setiap mode dan cek buku manual mobil karena pengoperasian transmisi bisa berbeda antara satu model dengan model lainnya.

Continue Reading

Blog

AC Mobil Listrik Bikin Jarak Tempuh Cepat Berkurang?

Published

on

By

Kalau naik mobil listrik, AC jadi salah satu fitur yang paling sering dipakai. Apalagi kalau cuaca lagi panas-panasnya, rasanya gak mungkin berkendara tanpa menyalakan AC.

Tapi ada satu pertanyaan yang sering muncul, kalau AC terus nyala, jarak tempuh mobil listrik jadi lebih cepat berkurang gak?

Jawabannya, iya, penggunaan AC memang mengambil energi dari baterai. Tapi bukan berarti setiap kali AC dinyalakan, jarak tempuh langsung anjlok drastis.

AC Memang Pakai Energi dari Baterai

Pada mobil bensin, AC menggunakan tenaga dari mesin. Sementara pada mobil listrik, sistem pendingin kabin membutuhkan energi listrik.

Artinya, ketika AC dinyalakan, sebagian energi baterai dipakai untuk menjaga kabin tetap dingin.

Besarnya konsumsi juga gak selalu sama. Saat mobil baru dinyalakan dalam kondisi kabin sangat panas, misalnya setelah parkir di bawah matahari, sistem AC biasanya bekerja lebih keras untuk menurunkan suhu.

Setelah kabin sudah dingin dan suhu yang diinginkan tercapai, kebutuhan energinya bisa lebih rendah.

Jangan Cuma Salahkan AC

Kalau jarak tempuh mobil listrik terasa lebih cepat berkurang, jangan langsung menganggap AC sebagai biang keladinya.

Ada banyak faktor lain yang ikut memengaruhi konsumsi energi, seperti kecepatan, gaya mengemudi, kondisi lalu lintas, tekanan ban, beban kendaraan, sampai kondisi jalan.

Berkendara dengan kecepatan tinggi di jalan tol misalnya, biasanya membutuhkan energi lebih besar dibandingkan melaju santai dengan kecepatan rendah.

Jadi, kalau konsumsi baterai terasa lebih boros saat perjalanan jauh, penyebabnya bisa merupakan gabungan dari beberapa faktor.

GPS tracker di mobil

Parkir di Bawah Matahari Bikin AC Kerja Lebih Keras

Nah, ini yang cukup sering terjadi di Indonesia.

Mobil diparkir beberapa jam di bawah matahari, begitu masuk kabin rasanya seperti oven. AC pun langsung disetel dingin dan kipas maksimal.

Dalam kondisi seperti ini, sistem pendingin harus bekerja lebih keras untuk menurunkan temperatur kabin.

Karena itu, kalau memungkinkan, parkir di tempat teduh atau gunakan pelindung kaca. Sebelum jalan, buka pintu atau kaca sebentar untuk membantu mengeluarkan udara panas dari kabin.

Setelah itu baru nyalakan AC dan mulai berkendara.

Jadi, Harus Matikan AC Biar Hemat Baterai?

Gak perlu juga.

Kalau cuaca panas, mematikan AC hanya demi mengejar jarak tempuh malah bikin perjalanan gak nyaman.

Lebih baik gunakan AC secara normal dan atur suhunya dengan wajar. Gak perlu terus-terusan disetel pada suhu paling rendah.

Yang juga penting, jangan hanya fokus pada AC. Cara mengemudi yang halus, menjaga tekanan ban sesuai rekomendasi, dan menghindari akselerasi atau pengereman yang berlebihan juga bisa membantu penggunaan energi lebih efisien.

Jadi, AC memang bisa mengurangi jarak tempuh mobil listrik karena menggunakan energi baterai, tapi bukan berarti harus dimatikan supaya mobil lebih irit.

Apalagi di Indonesia, kenyamanan dan visibilitas saat berkendara tetap lebih penting. Tinggal atur penggunaannya dengan bijak supaya kabin tetap nyaman tanpa membuat konsumsi energi berlebihan.

Continue Reading

Blog

Boleh Gak Langsung Menyalakan AC Mobil Setelah Mesin Nyala?

Published

on

By

ac mobil

Masih banyak pengemudi yang punya kebiasaan menyalakan mesin mobil dulu, menunggu beberapa saat, baru menyalakan AC.

Katanya, AC gak boleh langsung dinyalakan setelah mesin hidup karena bisa bikin mesin bekerja terlalu berat.

Tapi, sebenarnya boleh gak sih langsung menyalakan AC setelah mesin mobil dinyalakan?

Jawabannya, boleh. Mobil modern pada dasarnya sudah dirancang untuk bekerja dengan sistem AC sejak mesin dinyalakan.

Gak Perlu Nunggu Lama

Kalau mesin sudah menyala dan kondisi mobil normal, AC sebenarnya bisa langsung dinyalakan.

Jadi, gak ada keharusan untuk menunggu beberapa menit sebelum menekan tombol AC.

Yang lebih penting adalah memberikan waktu sebentar supaya mesin menyala dengan stabil, terutama ketika baru pertama kali dinyalakan setelah mobil lama terparkir.

Setelah itu, AC bisa digunakan seperti biasa.

Terus Kenapa Banyak yang Bilang Harus Tunggu?

Anggapan tersebut kemungkinan berasal dari kebiasaan pada mobil-mobil zaman dulu.

Teknologi mesin dan sistem AC sekarang sudah jauh berkembang. Sistem kendaraan juga sudah dirancang supaya berbagai komponen bisa bekerja bersamaan.

Jadi, kebiasaan menunggu lama sebelum menyalakan AC sebenarnya gak wajib dilakukan pada mobil modern.

Ada Cara Biar Kabin Lebih Cepat Dingin

Meski boleh langsung menyalakan AC, ada satu hal yang sebaiknya diperhatikan kalau mobil habis parkir di bawah matahari.

Jangan langsung menutup semua kaca lalu berharap AC seketika membuat kabin dingin.

Udara di dalam kabin biasanya sudah sangat panas. Kalau memungkinkan, buka pintu atau kaca sebentar untuk membuang udara panas.

Setelah itu, nyalakan AC dan atur suhunya sesuai kebutuhan.

Cara sederhana ini bisa membantu AC lebih cepat terasa dingin karena gak harus terus-menerus melawan udara panas yang terperangkap di dalam kabin.

Mazda MX-30 Mesin

Gak Perlu Setel AC di Suhu Paling Rendah

Satu kebiasaan lain yang sering dilakukan adalah langsung mengatur AC ke suhu paling rendah supaya kabin cepat dingin.

Padahal, yang lebih penting adalah mengatur suhu dan hembusan udara sesuai kebutuhan.

Kalau kabin sudah nyaman, gak perlu terus memaksa AC bekerja pada pengaturan paling dingin.

Selain membuat kabin terlalu dingin, kebiasaan tersebut juga gak selalu membuat mobil lebih cepat dingin.

Jadi, Boleh Langsung Nyalakan AC?

Boleh.

Pada mobil modern, AC bisa langsung digunakan setelah mesin menyala. Gak perlu menunggu sampai beberapa menit hanya karena khawatir mesin atau AC bakal rusak.

Yang lebih penting adalah memastikan sistem AC memang dalam kondisi baik dan digunakan dengan wajar.

Kalau mobil habis terparkir di bawah matahari, justru lebih masuk akal membuang udara panas dari kabin terlebih dahulu. Setelah itu, nyalakan AC dan berkendara seperti biasa.

Jadi, kalau selama ini kamu selalu menunggu beberapa menit sebelum menyalakan AC, sebenarnya gak perlu selama mobil dalam kondisi normal.

Continue Reading

Trending