Blog
Bensin Tinggal E, Mobil Masih Bisa Dipakai Berapa KM?

Ada satu momen yang hampir pasti pernah dialami semua pemilik mobil, indikator bensin sudah di huruf E. Buat sebagaian orang, itu cuma peringatan kecil,
Tapi buat orang lain.. itu kayak alarm tanda bahaya. Pikirannya bisa langsung ke mana-mana, “Ini mobil masih kuat berapa kilometer lagi, ya?”. Pertanyaan ini wajar banget, apalagi buat yang gak biasa bawa mobil.
Sebenarnya ketika indikator bensin di huruf E itu masih ada sisa bahan bakar, jadi gak benar-benar habis sepenuhnya.
Pabrikan mobil sengaja bikin indikator bensin gak jujur-jujur amat. Saat jarum sudah di E atau lampu bensin menyala, di dalam tangki biasanya masih tersisa sekitar 5–10 persen dari kapasitas total.
Contohnya, tangki mobil kamu kapasitasnya 40 liter, berarti masih ada sisa sekitar 2-4 liter. Atau tangki mobil kamu 50 liter? berarti mobil masih punya cadangan BBM sekitar 3-5 liter.
Sisa bahan bakar ini memang disiapkan sebagai cadangan darurat, buat kamu segera cari SPBU terdekat.

Kalau ditanya dengan kapasitas BBM kurang dari lima liter bisa tempuh jarak berapa KM, ini tergantung dari beberapa hal. Mulai dari kondisi jalan dan gaya nyetir, konsumsi BBM mobil, sampai kapasitas tangki itu sendiri. Tapi secara kasar, mobil bisa jalan sekitar 15-30 KM.
Selain itu, alasan mobil masih bisa berjalan meski indikator sudah E juga berkaitan dengan komponen di dalam tangki. Pompa bensin itu butuh bahan bakar sebagai pelumas sekaligus pendingin.
Kalau bensin benar-benar habis, pompa berisiko cepat panas dan rusak. Makanya, indikator dibuat lebih konservatif supaya pengemudi gak nekat menghabiskan bensin sampai tetes terakhir.
Tapi hal ini bukan berarti kamu jadi sering ngebiarin bensin sampai E. Karena sisa bahan bakar yang sedikit bisa bikin kotoran di dasar tangki ikut tersedot. Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak ke sistem bahan bakar dan membuat komponen bekerja lebih berat.
Blog
Kenapa Tombol Fisik di Mobil Baru Makin Sedikit?

Coba perhatiin interior mobil-mobil baru sekarang. Dashboard rapi, layar besar nempel di tengah, tapi tombol fisiknya minim. Mau atur AC, buka menu dulu. Mau kecilin kipas, harus sentuh layar. Sekilas modern, tapi buat sebagian pengemudi, ini justru bikin ribet.
Perpindahan tombol ke layar sebenarnya bukan sekadar ikut tren. Buat pabrikan, layar sentuh itu lebih fleksibel. Satu layar bisa ganti banyak fungsi tanpa perlu nambah komponen fisik. Desain dashboard jadi lebih simpel, biaya produksi bisa ditekan, dan tampilan terlihat modern.
Selain itu, konsumen sekarang juga makin akrab sama layar. Smartphone jadi benda wajib, jadi pabrikan merasa pengemudi sudah terbiasa geser dan sentuh layar.
Masalahnya, mobil beda dengan ponsel. Saat nyetir, mata harus fokus ke jalan. Tombol fisik bisa dihafal posisinya, diputar tanpa perlu melirik. Layar sentuh menuntut perhatian lebih, apalagi kalau menu terlalu dalam.

Bahkan, lembaga seperti Euro NCAP (program penilaian keselamatan mobil di Eropa) mulai menerapkan standar yang mendorong penggunaan tombol fisik untuk fungsi penting supaya pengemudi gak terlalu melihat layar saat berkendara, ini menyebabkan beberapa pabrikan memikirkan ulang desain mereka
Makanya, belakangan mulai muncul tren balik arah. Beberapa pabrikan kembali menghadirkan tombol fisik untuk fungsi penting seperti AC dan volume. Ternyata, yang kelihatan futuristik belum tentu paling nyaman dipakai harian.
Teknologi memang bikin mobil makin modern. Tapi di balik layar besar dan dashboard minimalis, ada satu hal yang gak boleh dilupain, mobil itu dipakai sambil bergerak. Dan buat urusan nyetir, kadang tombol lama justru lebih safety.
Blog
Banyak Mobil Baru Gak Punya Ban Serep, Ternyata Ini Alasannya!

Dulu, ban serep itu sudah kayak paket wajib. Buka bagasi, pasti ketemu. Mau mobilnya sedan, MPV, sampai SUV, semuanya punya roda cadangan lengkap sama dongkrak. Sekarang? Rata-rata cuma ada cuma ada bagasi, toolkit tipis, atau cairan tambal ban.
Hilangnya ban serep di mobil-mobil modern sebenarnya bukan tanpa alasan. Pabrikan sekarang lagi kejar satu hal, efisiensi.
Ban serep, pelek, dan dongkrak bisa nambah bobot belasan kilo. Bobot itu berpengaruh ke konsumsi BBM, emisi, sampai jarak tempuh mobil.
Belum lagi urusan ruang. Dengan menyingkirkan ban serep, bagasi bisa lebih luas dan lantainya rata. Buat mobil hybrid atau EV, ruang kosong ini sering dipakai buat baterai atau komponen kelistrikan lain.

Sebagai gantinya, pabrikan biasanya nyediain tire repair kit, semacam cairan penambal ban darurat. Memang bukan solusi ideal, tapi cukup buat kondisi bocor kecil dan ngejar bengkel terdekat.
Masalahnya, kondisi jalan di Indonesia gak selalu ramah. Paku, baut, sampai lubang aspal masih jadi menu harian. Di situ, ban serep konvensional jelas lebih menenangkan, apalagi buat yang sering ke luar kota atau lewat jalur sepi.
Pada akhirnya, mobil dengan ban serem mungkin lebih efisien di atas kertas. Tapi, buat sebagian orang, rasa aman itu sesederhana, buka bagasi, lihat ban serep, perjalanan bisa lebih tenang.
Blog
Kenapa Mobil Baru Gampang Ringsek, Tapi Hasil Crash Test-nya Bagus?

Belakangan ini, kalau ada video kecelakaan mobil baru di media sosial, komentar netizen hampir selalu sama. “Mobil sekarang kok ringkih banget?”, “Mobil sekarang body-nya tipis”, dan masih banyak lagi.
Tenang dulu… bisa jadi itu bukan karena kualitasnya jelek, tapi justru karena mobil tersebut dibikin lebih mikirin keselamatan.
Di dunia otomotif modern, ada istilah yang namanya crumple zone. Sederhananya, ini bagian mobil yang memang dirancang buat hancur saat terjadi tabrakan. Biasanya ada di bagian depan dan belakang.
Kedengarannya aneh, mobil kok sengaja dibikin gampang ringsek? Tapi justru di situlah kuncinya. Saat benturan terjadi, energi tabrakan gak langsung dihantamkan ke kabin, melainkan diserap dulu oleh struktur bodi.
Makanya, jangan heran kalau mobil baru kelihatan gampang penyok. Itu ibarat energinya lagi diserap.

Kalau ditarik ke belakang, mobil-mobil lama memang terkenal bandel. Bodinya keras, besinya tebal. Tapi saat nabrak, tenaga benturannya langsung dikirim ke kabin. Mobilnya mungkin masih kelihatan utuh, tapi manusianya justru bisa menerima dampak paling besar.
Crumple zone bekerja bersama sabuk pengaman, airbag, dan rangka kabin yang lebih kaku. Semua dirancang supaya gaya benturan gak menghantam penumpang secara langsung.
Jadi kalau sekarang melihat mobil baru gampang penyok, jangan buru-buru menyimpulkan kualitasnya turun. Bisa jadi, mobil itu justru sedang menjalankan tugasnya dengan baik. Penyok bisa diperbaiki, tapi keselamatan orang di dalam mobil tidak bisa ditukar sama struktur body yang kelihatan kuat.
Kalau pilihannya antara mobil tetap mulus tapi penumpang cedera, atau mobil ringsek tapi penumpang selamat, rasanya jawabannya sudah jelas.
So, sebelum komentar “mobil zaman sekarang ringkih”, ingat satu hal, yang penting bukan seberapa kuat bodinya, tapi seberapa besar bisa melindungi penggunanya saat hal terburuk terjadi.
BlogBacaan 2 menitIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
NewsBacaan 2 menitMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
NewsBacaan 2 menitVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
NewsBacaan 3 menitIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
NewsBacaan < 1 menitiCar – Mobil Listrik Apple Batal Diproduksi
NewsBacaan 3 menit8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
YouTubeReview Modifikasi Semi-alto Hyundai Creta Prime
NewsBacaan 2 menitFix Harga Wuling Cloud EV Gak Sampe 400 Juta





















