Connect with us

Tips

Mobil Elektrifikasi Ternyata Tetap Pakai Aki, Lho!

Published

on

Buat yang baru pindah haluan ke mobil elektrifikasi entah itu mobil listrik (BEV) atau hybrid (HEV), pasti sempat dengar rumor kalau mobil hybrid gak pakai aki.

Padahal, faktanya seluruh mobil hybrid dan mobil listrik tetap memakai auxiliary battery alias aki 12 volt, sama seperti mobil konvensional.

Walaupun sudah dibekali baterai besar tegangan tinggi buat menggerakkan motor listrik, keberadaan aki kecil ini tetap penting.

Tugasnya sama, suplai listrik ke komponen bertegangan rendah seperti lampu, audio, klakson, sampai berbagai sistem elektronik termasuk ECU.

Bedanya, aliran daya ke aki pada BEV datang dari baterai tegangan tinggi, sementara pada HEV menggunakan pasokan dari motor generator.

Intinya, tanpa aki kecil ini, banyak fungsi dasar mobil hybrid atau listrik yang gak akan jalan dengan optimal. Jadi tetap wajib dirawat, ya!

Melansir dari Auto2000, ada berapa cara merawat aki kecil di mobil hybrid & listrik yang bisa kamu lakuin dengan mudah.

  1. Cek Level Air Aki
    Untuk aki basah, pastikan airnya gak kehabisan tapi juga gak kepenuhan. Air aki yang terlalu banyak bisa meluap saat mobil berguncang, dan sifatnya yang asam bisa bikin area sekitar cepat berkarat.
  2. Kencangkan Dudukan Aki
    Aki yang longgar gampang berguncang. Selain bikin umur aki pendek, risiko terburuknya air aki bisa tumpah atau kepala aki menyentuh bagian logam hingga berpotensi korsleting.
  3. Rawat Terminal Aki
    Debu, kotoran, atau cipratan air aki bisa bikin terminal berkarat dan menurunkan daya hantar listrik. Bersihkan pakai sikat kawat, lalu kasih sedikit pelumas biar terlindungi dari karat. Pastikan juga baut terminal gak kendur.
  4. Waspada Aki Bocor
    Kalau aki retak, penyok, atau kelihatan ada cairan keluar, langsung ganti. Aki yang bocor bukan cuma melemahkan daya, tapi juga bisa merusak komponen.
  5. Matikan Kelistrikan Saat Mesin Mati
    Biasakan matikan AC, lampu, atau perangkat kelistrikan lain sebelum mematikan mobil. Kebiasaan ini bikin beban aki lebih ringan saat mobil gak digunakan dan daya aki jadi lebih awet.
  6. Nyalakan Mobil ke Mode “Ready” 1–2 Minggu Sekali
    Kalau mobil jarang dipakai, tetap hidupkan mobil dengan posisi Ready selama 15–20 menit. Tujuannya supaya aki kecil tetap terisi. Pastikan rem parkir aktif, transmisi di posisi P, dan kendaraan aman.
  7. Hindari Menambah Beban Kelistrikan
    Pabrikan sudah menghitung kapasitas aki sesuai kebutuhan mobil. Menambah perangkat elektronik sembarangan bisa bikin aki cepat tekor, bahkan memicu korsleting.
    Salah pasang juga bisa menggugurkan garansi. Jadi kalau mau modifikasi, pastikan pemasangannya aman dan tidak membebani sistem.
  8. Cek Berat Jenis Air Aki
    Setelah isi ulang air aki, periksa berat jenisnya pakai hydrometer. Kalau sudah di bawah standar, lebih aman ganti aki baru.
  9. Rutin Servis Berkala
    Cara paling simpel merawat aki mobil hybrid adalah dibawa servis berkala tiap 6 bulan. Aki dan sistem kelistrikan akan dicek, dibersihkan, dan dicegah dari masalah.

Gimana, cukup mudah kan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tips

Mau Mudik Pakai Mobil Listrik? Cek Dulu Hal Ini!

Published

on

By

Mudik pakai mobil listrik sekarang mulai jadi pilihan banyak orang. Selain lebih hemat biaya energi, mobil listrik juga dikenal lebih halus dan nyaman buat perjalanan jauh.

Tapi beda dengan mobil bensin atau diesel, perjalanan jauh pakai mobil listrik butuh sedikit perencanaan ekstra. Terutama soal pengisian daya baterai selama di perjalanan.

Kalau gak direncanakan dengan baik, perjalanan mudik bisa jadi kurang nyaman.

  1. Cek Jarak Tempuh Mobil

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah jarak tempuh mobil listrik dalam sekali pengisian baterai.

Setiap mobil listrik punya kemampuan berbeda-beda. Ada yang bisa menempuh sekitar 300 km, ada juga yang lebih dari 400 km.

Dari situ, pengemudi bisa memperkirakan kapan harus berhenti untuk mengisi daya selama perjalanan mudik.

  1. Rencanakan Lokasi Charging

Ini salah satu hal paling penting saat mudik pakai mobil listrik.

Sebaiknya cari tahu dulu lokasi SPKLU atau stasiun pengisian kendaraan listrik di sepanjang rute perjalanan.

Sekarang sudah banyak aplikasi atau peta digital yang bisa membantu menemukan lokasi charging station.

Dengan begitu, perjalanan jadi lebih tenang karena sudah tahu di mana harus berhenti untuk isi daya.

  1. Perhitungkan Waktu Pengisian

Berbeda dengan isi bensin yang hanya butuh beberapa menit, mengisi daya mobil listrik bisa memakan waktu lebih lama.

Kalau pakai fast charging, biasanya butuh sekitar 30 sampai 60 menit untuk mengisi sebagian besar baterai.

Makanya, waktu pengisian ini juga perlu dimasukkan ke dalam rencana perjalanan supaya tidak terburu-buru di jalan.

SPKLU

  1. Pastikan Kondisi Mobil Prima

Sama seperti mobil konvensional, mobil listrik juga tetap perlu dicek sebelum perjalanan jauh.

Beberapa hal yang bisa diperiksa antara lain kondisi ban, sistem pengereman, serta memastikan baterai dalam kondisi optimal.

Kalau perlu, lakukan pengecekan di bengkel resmi sebelum berangkat mudik.

  1. Gunakan Aplikasi Pendukung

Sekarang banyak aplikasi yang bisa membantu pemilik mobil listrik selama perjalanan.

Mulai dari aplikasi untuk mencari lokasi charging station, memantau kondisi baterai, sampai merencanakan rute perjalanan.

Aplikasi ini cukup membantu supaya perjalanan mudik pakai mobil listrik jadi lebih praktis.

Mudik dengan mobil listrik sebenarnya bukan hal yang sulit. Selama perjalanan direncanakan dengan baik, mobil listrik juga bisa dipakai untuk perjalanan jarak jauh dengan nyaman.

Yang penting, pastikan soal jarak tempuh, lokasi charging, dan waktu pengisian daya sudah diperhitungkan sejak awal.

Dengan begitu, perjalanan mudik bisa tetap lancar tanpa khawatir kehabisan daya di tengah jalan

Continue Reading

Tips

Mobil Bekas Low Kilometer, Beneran Worth It?

Published

on

By

Mobil bekas dengan kilometer rendah sering banget jadi incaran. Angkanya kecil, tampilannya biasanya masih segar, dan kesannya jarang dipakai. Banyak yang langsung mikir, “Wah pasti bagus nih unitnya”.

Tapi sebenarnya, mobil bekas low kilometer gak selalu otomatis jadi pilihan paling aman.

Angka di odometer memang penting, tapi bukan satu-satunya patokan.

Kilometer rendah itu memang ada plusnya

Gak bisa dipungkiri, mobil yang jarang dipakai biasanya punya keausan komponen lebih minim. Mesin, interior, sampai kaki-kaki berpotensi masih lebih fresh dibanding mobil yang pemakaiannya tinggi.

Biasanya juga, kondisi jok masih bagus, setir masih oke, suspensi masih enak, riwayat servis kadang lebih rapi.

Kalau kondisinya benar, mobil low kilometer memang bisa jadi value bagus. Tapi ada hal yang sering kelewat.

Mobil jarang dipakai juga punya risiko lho! Komponen karet seperti seal, bushing, selang, sampai ban bisa getas karena usia, bukan pemakaian. Oli dan fluida juga bisa menurun kualitasnya walau mobil jarang jalan.

Kasus yang sering kejadian, rem bunyi karena lama diam, aki cepat soak, ban retak halus, AC kurang dingin, fluida kotor karena jarang diganti. Jadi low kilometer bukan berarti bebas PR.

Waspada odometer “dimanipulasi”

Ini yang paling bikin was-was. Pasar mobil bekas masih punya praktik ubah odometer. Angkanya terlihat kecil, tapi kondisi mobil gak sejalan.

Makanya jangan cuma percaya angka. Kamu juga perlu waspada dan cocokkin dengan, kondisi pedal, setir, jok pengemudi, riwayat servis, sampai baut kap mesin dan kaki-kaki.

Kalau kilometer rendah tapi komponen sudah aus, patut curiga.

Selain itu, mobil yang dipakai rutin justru sering lebih sehat karena semua sistem bekerja normal. Mesin panas setiap hari, fluida bersirkulasi, komponen gak lama diam.

Jadi mobil 70-90 ribu km dengan perawatan bagus kadang lebih layak dibanding mobil 20 ribu km tapi jarang dipakai dan servisnya ga jelas. Intinya bukan angka, tapi perawatan.

Jadi worth it gak?

Worth it, kalau kondisinya benar dan riwayatnya jelas. Kilometer rendah itu bonus, bukan jaminan.

Continue Reading

Tips

Jangan Buru-buru Deal, Ini Tips Cari Mobil Bekas yang Aman!

Published

on

By

Mobil baru atau bekas_Freepik

Beli mobil bekas itu ibarat cari jodoh. Kelihatannya cakep, harga cocok, tapi kalau gak dicek detail bisa bikin pusing di belakang. Supaya gak failed, ada beberapa hal penting yang wajib diperhatikan sebelum deal.

Jangan cuma lihat tampang

Mobil kinclong belum tentu sehat. Banyak mobil bekas yang dipoles biar kelihatan segar. Coba cek panel bodi, perhatikan celah pintu, kap mesin, atau bagasi. Kalau ada beda warna atau sambungan kurang rapi, bisa jadi bekas tabrakan.

Interior juga penting. Jok sobek, setir aus berlebihan, atau bau apek bisa jadi tanda mobil sering dipakai keras atau kurang dirawat.

Mesin wajib dicek

Ini bagian paling krusial. Hidupkan mesin, dengarkan suara. Kalau ada bunyi kasar, getar berlebihan, atau asap knalpot aneh, mending pikir ulang.

Cek juga ada rembesan oli atau gak. Mesin kering biasanya pertanda perawatan oke. Tapi kalau basah oli di beberapa titik, siap-siap keluar biaya tambahan.

Tips merawat mobil biar awet

Wajib test drive

Jangan beli mobil bekas tanpa nyetir langsung. Pas jalan, rasakan perpindahan gigi, respons gas, sampai kenyamanan suspensi.

Perhatikan setir. Kalau mobil narik ke satu sisi, getar, atau bunyi aneh saat jalan jelek, bisa jadi ada masalah kaki-kaki.

Cek riwayat servis

Mobil dengan buku servis lengkap biasanya lebih terjamin. Kita bisa tahu mobil rutin dirawat atau cuma dipakai sampai rusak.

Kalau beli dari pemilik langsung, jangan ragu tanya, sering servis di mana, pernah tabrakan atau banjir, sampai pemakaian harian seperti apa.

Wajib cek dokumen

Pastikan STNK, BPKB, dan nomor rangka atau mesin sesuai. Ini basic tapi sering disepelekan.

Kalau pajak mati lama atau ada kejanggalan data, hitung juga biaya tambahan sebelum deal supaya gak kaget.

Sisakan budget buat peremajaan

Mobil bekas hampir pasti butuh sentuhan. Minimal ganti oli, filter, kampas rem, atau ban. Jadi jangan habiskan budget di harga beli. Sisakan dana cadangan biar mobil langsung enak dipakai.

Intinya, sabar itu adalah kunci!

Banyak orang kejebak karena buru-buru. Padahal unit bagus itu ada, cuma butuh waktu buat nemu.

Lebih baik nunda sedikit daripada keburu beli tapi malah keluar biaya besar setelahnya.

Beli mobil bekas bisa jadi keputusan cerdas kalau teliti. Anggap aja lagi investigasi kecil, makin detail dicek, makin kecil risiko zonk. Kalau ragu, ajak teman yang ngerti mobil atau bawa ke bengkel buat inspeksi, jadi lebih aman!

Continue Reading

Trending