Connect with us

Blog

Mobil Listrik Bisa Dicas di Rumah, Tapi Listriknya Kuat?

Published

on

Salah satu daya tarik utama mobil listrik itu sebenarnya bukan soal akselerasi atau teknologi canggihnya, tapi hal yang kelihatannya sepele, bisa ngecas di rumah. Pulang kerja, colok, tinggal tidur. Pagi-pagi baterai sudah penuh lagi. Lebih simpel dan katanya lebih irit biaya.

Tapi sebelum sampai ke situ, hampir semua calon pemilik mobil listrik pasti kepikiran satu hal yang sama, “Listrik rumah gue kuat gak, ya?”

Pertanyaan ini wajar. Soalnya mobil listrik memang gak butuh bensin, tapi butuh pasokan listrik yang stabil dan cukup. Bukan cuma kuat di awal, tapi juga sanggup jalan berjam-jam.

Untuk pemakaian rumahan, pengisian daya mobil listrik umumnya dilakukan lewat arus AC. Charger bawaan pabrikan biasanya bermain di kisaran 2.200 watt, sementara wall charger bisa lebih besar lagi. Artinya, selama mobil ngecas, rumah akan menanggung beban listrik tambahan cukup lama, bisa enam sampai delapan jam, tergantung kapasitas baterai.

Di sinilah mulai kelihatan bedanya rumah dengan daya pas-pasan dan rumah yang sudah siap mobil listrik. Secara teknis, listrik 2.200 VA sebenarnya sudah bisa dipakai untuk ngecas. Tapi prakteknya, pemilik harus pintar-pintar atur waktu. AC, rice cooker, pompa air, bahkan setrika, sebaiknya gak dipakai barengan. Kalau lengah sedikit, MCB bisa turun tanpa aba-aba.

Karena itu, banyak pengguna mobil listrik bilang 2.200 VA itu “cukup, tapi ribet”. Bisa dipakai, tapi harus disiplin. Sementara kalau daya rumah di angka 3.500 VA, ceritanya sudah jauh lebih santai. Mobil bisa tetap ngecas, peralatan rumah tangga masih bisa menyala, dan risiko listrik jeglek jauh berkurang.

Makanya, gak sedikit dealer mobil listrik yang sejak awal menyarankan konsumennya untuk memastikan daya rumah minimal di angka tersebut. Supaya pengalaman pakai mobil listriknya gak nyusahin.

Cerita lain muncul saat pemilik mobil listrik ingin naik kelas dengan wall charger. Waktu ngecas memang jauh lebih singkat dan stabil, tapi konsekuensinya jelas, daya rumah harus ikut naik. Biasanya ke 4.400 VA atau bahkan 5.500 VA.

Pada akhirnya, mobil listrik memang menawarkan biaya operasional yang lebih hemat dan pengalaman berkendara yang tenang. Tapi semua itu akan terasa maksimal kalau infrastrukturnya mendukung, termasuk dari rumah sendiri. Jangan sampai mobilnya senyap dan modern, tapi setiap kali ngecas malah bikin ribet dan gak nyaman.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Fast Charging Bikin Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak, Memang Iya?

Published

on

By

Kalau lagi ngobrol soal mobil listrik, satu pertanyaan ini hampir pasti muncul, “Sering fast charging, baterainya cepet jebol nggak sih?”

Wajar sih. Soalnya logikanya sederhana. Kalau ngecas HP pakai charger cepat terus, panas. Lama-lama baterai ngedrop. Terus jadi buat kita mikir, “Mobil listrik kan baterainya jauh lebih gede. Apa gak lebih parah?”

Ternyata jawabannya gak sesederhana itu. Fast charging itu memang “berat”, tapi bukan musuh utama

Jadi, fast charging memang bikin baterai kerja lebih keras. Arus listrik besar masuk dalam waktu singkat, dan itu memicu panas. Panas inilah yang jadi faktor utama degradasi baterai.

Tapi…mobil listrik bukan HP.

Mini Aceman

Baterai mobil listrik sudah dibekali battery management system (BMS) dan sistem pendingin aktif. Ada yang pakai cairan, ada juga yang pakai udara. Fungsinya menjaga suhu baterai tetap aman.

Kalau suhu mulai naik, sistemnya bakal otomatis nurunin kecepatan ngecas atau bahkan menghentikan fast charging sementara

Yang bikin baterai cepat capek itu bukan fast charging-nya doang. Menurut beberapa riset, degradasi baterai itu lebih dipengaruhi oleh kombinasi kebiasaan. Misalnya, sering fast charging saat baterai hampir nol, atau langsung ngecas cepat habis dipakai ngebut jauh.

Bisa juga membiarkan baterai sering dibiarkan 100 persen atau 0 persen dalam waktu lama.

Makanya banyak pabrikan nyaranin ngecas harian cukup di 20–80 persen, dan fast charging dipakai saat butuh aja, misalnya perjalanan jauh.

Jadi, kalau ditanya aman atau gak Jawaban singkatnya, aman, asal gak berlebihan.

Perlu diingat kalau yang bikin baterai cepat turun performanya adalah cara pakainya, bukan cuma metode ngecasnya.

Continue Reading

Blog

Sunyi Jadi Ciri Mobil Listrik, Tapi Ada Risikonya

Published

on

By

Charging Wuling Air ev

Buat yang pertama kali coba mobil listrik, satu hal yang langsung kerasa adalah… sunyi. Nyalain mobil, gak ada suara mesin. Jalan pelan, masih aja senyap. Bahkan kadang bikin mikir, “Ini mobil beneran udah nyala belum, sih?”

Nah, kondisi ini memang bukan kebetulan. Mobil listrik dari sananya emang dirancang minim suara.

Kenapa mobil listrik bisa senyap?

Soalnya mobil listrik gak pakai mesin bensin atau diesel. Gak ada proses pembakaran, gak ada ledakan di ruang mesin, dan gak ada knalpot. Yang kerja cuma motor listrik, dan itu kerjanya halus banget.

Suara yang biasanya kedengeran cuma dari ban yang muter atau angin kalau mobil udah agak ngebut. Di kecepatan rendah? Hampir nihil.

Sunyi itu enak, tapi…

Buat pengemudi, jelas enak. Kabin lebih tenang, perjalanan terasa santai, dan gak capek di telinga. Tapi buat orang di luar mobil, ceritanya bisa beda.

Di kecepatan pelan, mobil listrik bisa datang tanpa suara sama sekali. Pejalan kaki, pesepeda, atau orang di parkiran bisa gak sadar kalau ada mobil mendekat. Apalagi di area perumahan atau pusat perbelanjaan.

Makanya, mobil listrik sering dibilang terlalu senyap sampai berpotensi bikin bahaya.

Buat ngatasin masalah itu, sekarang banyak mobil listrik dibekali suara buatan alias Acoustic Vehicle Alerting System (AVAS).

Fungsinya ngasih bunyi saat mobil jalan pelan, biasanya di bawah 20–30 km per jam. Jadi orang sekitar bisa sadar kalau ada mobil lewat, tanpa harus bikin ribut.

Uniknya, suara ini beda-beda tiap merek. Ada yang kayak dengungan halus, ada juga yang dibikin futuristis biar kedengeran “mobil masa depan”.

Di beberapa negara, fitur ini bahkan udah wajib. Jadi mobil listrik nggak boleh terlalu senyap di kecepatan rendah.

Walaupun udah ada suara buatan, pengemudi mobil listrik tetap harus ekstra waspada. Jangan mentang-mentang mobil sunyi terus ngerasa aman.

Lewat gang sempit, area sekolah, atau parkiran, kecepatan harus dijaga. Soalnya, gak semua orang langsung ngeh ada mobil listrik yang lagi jalan.

Di sisi lain, pejalan kaki juga perlu adaptasi. Sekarang gak bisa cuma ngandelin suara mesin, tapi harus lebih rajin lihat kiri-kanan.

Mobil listrik yang senyap itu bukan kekurangan, justru salah satu keunggulan. Jalanan jadi gak berisik, kabin lebih nyaman, dan polusi suara berkurang. Tapi di balik itu, tetap ada tanggung jawab.

Continue Reading

Blog

Ini Warna Mobil Favorit Orang Sedunia!

Published

on

By

Warna mobil yang sering kamu anggap membosankan justru jadi favorit jutaan orang di seluruh dunia.

Pernah gak kamu perhatiin, begitu lihat parkiran mal atau jalan tol, yang paling sering kelihatan hampir selalu mobil warna putih, hitam, abu-abu, atau silver? Ini bukan kebetulan lho, tapi memang fakta yang muncul dari data penjualan mobil di seluruh dunia.

Pilihan warna mobil itu bukan cuma soal “enak dipandang”. Di balik itu, ada alasan psikologis, praktikal, sampai budaya yang bikin warna tertentu jadi favorit banyak orang. Apa saja sih warna mobil yang paling banyak digunakan di dunia?

  1. Putih

Kalau ditanya warna yang paling banyak dipilih di seluruh dunia? Putih jawabannya. Banyak laporan dari riset otomotif menyebutkan bahwa sekitar 30 sampai 35 persen mobil di jalanan global dicat warna putih. Ini bukan tren sesaat, tetapi sudah berlangsung bertahun-tahun.

Pertama karena praktis di cuaca panas. Putih memantulkan panas lebih baik daripada warna gelap, jadi interior mobil tetap relatif lebih sejuk di negara tropis atau panas.

Kedua, resale value kuat. Mobil putih cenderung lebih mudah dijual lagi karena banyak pembeli yang tidak keberatan dengan warna netral.

Terakhir, bersih & timeless. Putih memberi kesan minimalis, bersih, dan cocok buat semua jenis model mobil.

No wonder, di banyak pasar besar seperti China, Eropa, dan Amerika Utara, putih selalu nongol di puncak daftar warna favorit!

jenis Mobil CRV untuk road trip

  1. Hitam

Setelah putih, hitam jadi pilihan populer berikutnya. Warnanya sering diasosiasikan dengan kelas, kemewahan, dan kesan elegan, makanya banyak SUV mewah atau sedan premium datang dengan warna hitam sebagai opsi utama.

Meskipun warna gelap bisa menyerap panas lebih banyak (kurang ideal di iklim tropis), hitam tetap digemari karena kesan dramatisnya di jalan. Dan buat sebagian orang, mobil hitam terasa seperti statement gaya tersendiri.

  1. Abu-abu & Silver

Warna abu-abu (gray) dan silver juga sering muncul di posisi atas daftar warna favorit dunia. Dua warna ini punya “smart look” yang cocok di banyak model mobil modern.

Negara-negara seperti di Eropa bahkan menunjukkan bahwa abu-abu kadang bisa menyalip hitam dalam hal popularitas karena memberikan nuansa lebih modern dan futuristik pada body car.

Warna Cerah? Masih Ada tapi Minoritas

Kalau kamu suka warna merah, biru, atau hijau tenang, mereka tetap ada kok! Cuma, kalau dibanding warna netral tadi, partisipasinya di jalanan dunia masih relatif kecil.

Biru dan merah kadang muncul sekitar 5–10 persen dari semua mobil.

Warna-warna cerah seperti kuning, oranye, atau hijau hanya sedikit mewarnai parkiran, biasanya di model sport atau edisi khusus.

Kenapa Banyak Orang Pilih Warna Netral?

Soal preferensi warna itu bukan sekadar selera, tapi juga soal praktikalitas dan nilai ekonomi, salah satunya yaaa… karena mudah dijual kembali.

Continue Reading

Trending