Blog
Kenapa Mobil Baru Gampang Ringsek, Tapi Hasil Crash Test-nya Bagus?

Belakangan ini, kalau ada video kecelakaan mobil baru di media sosial, komentar netizen hampir selalu sama. “Mobil sekarang kok ringkih banget?”, “Mobil sekarang body-nya tipis”, dan masih banyak lagi.
Tenang dulu… bisa jadi itu bukan karena kualitasnya jelek, tapi justru karena mobil tersebut dibikin lebih mikirin keselamatan.
Di dunia otomotif modern, ada istilah yang namanya crumple zone. Sederhananya, ini bagian mobil yang memang dirancang buat hancur saat terjadi tabrakan. Biasanya ada di bagian depan dan belakang.
Kedengarannya aneh, mobil kok sengaja dibikin gampang ringsek? Tapi justru di situlah kuncinya. Saat benturan terjadi, energi tabrakan gak langsung dihantamkan ke kabin, melainkan diserap dulu oleh struktur bodi.
Makanya, jangan heran kalau mobil baru kelihatan gampang penyok. Itu ibarat energinya lagi diserap.

Kalau ditarik ke belakang, mobil-mobil lama memang terkenal bandel. Bodinya keras, besinya tebal. Tapi saat nabrak, tenaga benturannya langsung dikirim ke kabin. Mobilnya mungkin masih kelihatan utuh, tapi manusianya justru bisa menerima dampak paling besar.
Crumple zone bekerja bersama sabuk pengaman, airbag, dan rangka kabin yang lebih kaku. Semua dirancang supaya gaya benturan gak menghantam penumpang secara langsung.
Jadi kalau sekarang melihat mobil baru gampang penyok, jangan buru-buru menyimpulkan kualitasnya turun. Bisa jadi, mobil itu justru sedang menjalankan tugasnya dengan baik. Penyok bisa diperbaiki, tapi keselamatan orang di dalam mobil tidak bisa ditukar sama struktur body yang kelihatan kuat.
Kalau pilihannya antara mobil tetap mulus tapi penumpang cedera, atau mobil ringsek tapi penumpang selamat, rasanya jawabannya sudah jelas.
So, sebelum komentar “mobil zaman sekarang ringkih”, ingat satu hal, yang penting bukan seberapa kuat bodinya, tapi seberapa besar bisa melindungi penggunanya saat hal terburuk terjadi.
Blog
Siap-siap Mobil Baru Banyak Pakai Tombol Fisik Lagi!

Mau ada aturan baru nih buat mobil-mobil keluaran terbaru! Regulator industri dan teknologi China, Ministry of Industry and Information Technology (MIIT), lagi siapin aturan baru. Intinya, beberapa fungsi penting di mobil nantinya wajib punya tombol atau kontrol fisik, gak boleh cuma ngandelin layar sentuh doang.
Fungsi yang dimaksud mulai dari lampu sein, buka-tutup kaca, sampai tombol buat ngaktifin sistem bantuan mengemudi canggih (ADAS). Aturan ini rencananya mulai wajib buat mobil yang diproduksi baru per 1 Juli 2027.
Beberapa tahun terakhir, desain kabin mobil listrik dan mobil energi baru di China memang lagi tren minimalis. Tombol fisik makin sedikit, semua dipindahin ke layar tengah yang gede. Bahkan kadang ditambah layar hiburan buat penumpang depan. Kelihatannya futuristis, tapi gak semua orang suka.
Wakil Presiden Geely bahkan sempat nyentil tren ini, bilang industri otomotif China lagi kena “penyakit ikut-ikutan tren” tanpa mikir fungsi dasarnya.
Lewat revisi standar nasional soal penandaan dan kontrol komponen kendaraan, pemerintah pengin balikin fungsi tombol fisik buat fitur-fitur penting. Tujuannya simpel, biar pengemudi bisa ngoperasikan fitur tanpa harus terus lihat layar. Jadi gangguan saat nyetir bisa dikurangin.

Program revisi aturan ini sudah jalan sejak 2023 dan ngerangkul banyak pabrikan serta lembaga riset otomotif. Di antaranya BYD, Great Wall Motor, sampai lembaga pengujian nasional otomotif China.
Beberapa fungsi yang nantinya wajib punya kontrol fisik antara lain, lampu sein, hazard, dan klakson, pemindah gigi P/R/N/D model geser gigi lewat layar doang gak dibolehin, tombol aktivasi ADAS, wiper, defogger, power window, tombol panggilan darurat (AECS), sampai sakelar pemutus daya mobil listrik.
Bahkan diatur juga detailnya. Ukuran area tombol minimal 10 x 10 mm, posisinya harus tetap, bisa dioperasikan tanpa lihat (blind operation), dan ada feedback sentuhan atau bunyi.
Yang gak kalah penting, fungsi dasar ini tetap harus jalan walau sistem mobil error atau listrik utama mati.
Jadi meski layar makin canggih, tombol fisik buat fitur penting kayaknya bakal tetap dipertahanin. Demi keselamatan dan biar gak ribet pas nyetir.
Blog
Mau Hemat BBM Pas Road Trip? Ikutin Cara Ini!

Road trip keluar kota pakai mobil pribadi memang paling fleksibel. Bisa mampir sesuka hati, dan barang bawaan gak ribet. Tapi yang sering bikin kepikiran, konsumsi BBM kadang terasa lebih boros dari biasanya.
Padahal ada beberapa trik gampang yang bisa bikin pemakaian bensin tetap hemat tanpa harus nyetir super pelan. Cocok buat yang mau road trip tapi gak mau bolak-balik mampir SPBU.
- Jaga Kecepatan Stabil
Di jalan tol misalnya, usahakan kecepatan stabil. Mobil yang larinya konstan biasanya lebih irit dibanding yang sebentar ngebut sebentar ngerem. Kalau mobil punya fitur cruise control, bisa dimanfaatkan, lumayan bantu jaga ritme.
- Jangan akselerasi mendadak
SInjak pedal gas terlalu dalam saat mulai jalan atau menyalip bikin suplai BBM meningkat drastis. Lebih baik naikkan kecepatan secara bertahap dan halus. Selain lebih irit, juga lebih nyaman buat penumpang.
- Cek Tekanan Ban
Ban kurang angin = mobil terasa lebih berat jalan. Mesin jadi kerja ekstra, bensin ikut terkuras. Sebelum berangkat, cek tekanan ban. Kalau bawa banyak orang dan koper, tambah sedikit sesuai rekomendasi.

- Perhatiin Isi Bagasi
Namanya juga liburan, pasti bawa banyak barang. Tapi kalau ada yang gak penting-penting amat, mending ditinggal. Beban berlebih bikin kerja mesin makin berat.
Roof rack kosong di atap juga sebaiknya dilepas, nambah hambatan angin, bikin boros tanpa sadar.
- Gunain AC Secukupnya
AC penting buat kenyamanan, apalagi siang hari. Tapi setel suhu sewajarnya saja. Gak perlu paling dingin terus. Mesin ada bebannya, dan itu ngaruh ke konsumsi BBM.
- Pilih Waktu Berangkat yang Tepat
Macet itu musuh utama keiritan. Mesin nyala, mobil jalan pelan, bensin tetap kepakai. Kalau memungkinkan, berangkat lebih pagi atau pilih jam yang lalu lintasnya lebih longgar.
- Cek Kondisi Mobil
Filter udara kotor, oli telat ganti, atau busi kurang prima bisa bikin pembakaran gak optimal. Efeknya bikin BBM lebih boros. Servis ringan dulu sebelum jalan jauh itu bukan lebay, justru bikin perjalanan lebih tenang.
Blog
Trend Setir Yoke Ternyata Dianggap Bahaya!

Desain setir mobil ternyata nggak cuma soal gaya, tapi juga urusan keselamatan. Di China, regulator otomotif lagi menyiapkan aturan baru yang bisa bikin setir model “setengah lingkaran” atau yoke steering pelan-pelan menghilang dari mobil produksi massal. Bukan karena tren lewat, tapi karena dinilai makin susah memenuhi standar uji keselamatan terbaru.
Lewat Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT), mereka merilis draf standar nasional wajib terbaru soal sistem kemudi kendaraan. Yang bikin ramai, aturan baru ini secara terang-terangan “menghapus” dukungan teknis untuk setir model setengah alias yoke steering.
Aturan baru dengan kode GB 11557-202X ini rencananya mulai berlaku 1 Januari 2027. Tujuannya buat meningkatkan perlindungan pengemudi dari risiko cedera akibat mekanisme setir saat kecelakaan.
Standar lama yang dipakai sejak 2011 dinilai sudah ketinggalan zaman, apalagi sekarang teknologi mobil listrik berkembang cepat banget.
Di versi terbaru, sejumlah parameter uji dibuat lebih ketat. Salah satunya soal batas gaya benturan horizontal ke setir yang sekarang disamakan dengan standar internasional UN R12, yaitu 11.110 Newton. Selain itu, pergerakan kolom setir saat tabrakan baik ke arah atas maupun ke belakang juga dibatasi lebih ketat.
Yang paling krusial, sekarang gak ada lagi pengecualian tes benturan untuk model tertentu. Semua mobil wajib lolos uji dampak ke area setir, tanpa alasan khusus seperti di aturan lama.

Nah, di sinilah masalah buat setir model setengah. Dalam standar baru, setir harus diuji di 10 titik benturan berbeda di bagian lingkarannya. Termasuk titik tengah area terlemah dan bagian tanpa penopang terpendek.
Sementara setir model yoke tidak punya lingkar penuh bagian atasnya hilang. Artinya, beberapa titik uji itu memang gak ada secara fisik. Imbasnya, desain setir seperti ini bakal susah, bahkan hampir mustahil, buat lolos standar baru.
Data kecelakaan yang dikutip juga jadi alasan kenapa aturan ini diperketat. Disebutkan sekitar 46 persen cedera pengemudi berasal dari area mekanisme kemudi. Setir bulat konvensional dianggap lebih aman karena bisa jadi “penahan” saat tubuh terdorong ke depan. Sementara setir setengah bikin tubuh lebih mudah lolos dari area setir saat benturan kedua, yang justru bisa bikin cedera lebih parah.
Belum lagi urusan airbag. Di aturan baru, komponen keras seperti logam atau plastik gak boleh mengarah ke penumpang saat airbag mengembang. Desain setir setengah dengan struktur yang tidak simetris dinilai punya pola pecah yang sulit diprediksi ketika airbag meledak dalam hitungan milidetik. Ini bikin proses validasi keamanannya lebih ribet.
Dari sisi pemakaian harian, setir model setengah juga sering dikeluhkan. Beda dengan mobil balap yang rasio setirnya kecil, mobil jalan raya butuh putaran setir besar buat manuver seperti parkir atau putar balik. Banyak pengguna merasa kurang nyaman, susah pakai satu tangan, bahkan kadang tidak sengaja menyentuh layar dashboard saat muter setir.
Kalau aturan ini resmi berlaku di 2027, semua model mobil baru di China wajib ikut standar tersebut. Buat model yang sudah lebih dulu disetujui, kemungkinan bakal dikasih masa transisi sekitar 13 bulan buat menyesuaikan desain. Artinya, masa depan setir model yoke di mobil produksi massal bisa jadi makin sempit.
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News1 year ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News1 year agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
News2 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News2 years agoiCar – Mobil Listrik Apple Batal Diproduksi
Blog2 years agoMobil Paling Irit BBM, Harga di bawah Rp 300 jutaan!



















