Blog
Cobain Autonomous VLA 2.0 XPENG di Guangzhou, Gimana Rasanya?

XPENG sebelumnya udah ngenalin teknologi VLA 2.0 di event Beijing Auto Show bulan April lalu. Nah kemarin, tim Halotomotif akhirnya dapet kesempatan buat nyobain langsung teknologi autonomous driving ini di Headquarter XPENG yang ada di Guangzhou, China lewat acara XPENG Physical AI “Immersive”. Bisa dibilang ini jadi pengalaman yang cukup mind blowing karena kita benar-benar ngerasain mobil nyetir sendiri di kondisi jalanan real.
Sebelum masuk ke pengalaman test drive-nya, kita bahas dulu nih apa itu VLA. VLA atau Vision-Language-Action adalah model AI yang menggabungkan kemampuan melihat, memahami situasi, dan mengambil tindakan dalam satu sistem terpadu. Simpelnya, mobil bisa “lihat” kondisi sekitar lewat kamera lalu langsung memutuskan harus melakukan apa. Teknologi ini nantinya bukan cuma dipakai buat mobil autonomous aja, tapi juga robot humanoid, Robotaxi, sampai perangkat pintar lainnya. Jadi bisa dibilang, VLA ini adalah evolusi autopilot canggih versi XPENG.
Pertama kali cobain teknologi VLA dari XPENG
Sesi pengetesan diawali dengan bikin SIM sementara di kantor kepolisian China. Setelah urusan administrasi selesai, barulah kami mencoba beberapa line-up XPENG yang sudah dibekali teknologi VLA. Ada dua model yang disiapkan, yaitu XPENG P7 dan XPENG G7. Beruntung banget kami kebagian nyobain XPENG P7 yang jadi flagship sekaligus backbone dari brand ini.
Acara dimulai dengan sesi familiarisasi dulu bersama instruktur mengemudi. Kami diajak keliling sekitar 15 menit buat mengenal karakter mobil dan sistemnya. Setelah itu barulah kami duduk di kursi pengemudi dan mulai test drive langsung. Kondisi saat pengetesan juga nggak ideal-ideal amat karena cuaca lagi gerimis dan lalu lintas cukup padat. Tapi justru di situ serunya, karena jadi pembuktian apakah sistem VLA benar-benar bisa diandalkan di situasi nyata.
First impression saat duduk di balik setir, XPENG P7 ini terasa nyaman banget. Posisi duduk gampang diatur karena joknya sudah elektrik lengkap, ditambah setir tilt dan telescopic yang bikin posisi nyetir makin pas. Untuk mengaktifkan VLA juga ternyata simpel. Tinggal set tujuan di maps yang ada di layar multimedia, jalanin mobil secara manual sebentar, lalu tekan tombol bulat di sebelah kiri setir. Setelah itu sistem autonomous langsung aktif tanpa drama.
Selama pengetesan, performa VLA 2.0 ini honestly bikin kagum. Mobil bisa baca lampu lalu lintas, mendeteksi motor dan pejalan kaki, sampai nyalip kendaraan di depannya dengan gerakan yang halus banget. Bahkan kami sempat lewat jalan kecil dengan kondisi kurang bagus dan harus berpapasan sama truk besar. Di momen itu, sistem langsung mengarahkan mobil sedikit ke bahu jalan supaya aman. Ban kanan bahkan sempat keluar dari badan jalan demi kasih ruang ke truk lewat. Setelah aman, mobil langsung balik lagi ke jalur dan lanjut jalan secara autonomous. Tapi demi keamanan, pengemudi tetap harus sesekali menyentuh setir supaya sistem tahu kalau driver masih fokus dan sadar.
Ada juga satu momen cukup tense waktu kami lagi ada di tengah perempatan. Tiba-tiba semua lampu lalu lintas berubah merah secara mendadak. “Semua memang sudah auto, tapi kita tetap harus aware sama sekitar. Walaupun saya percaya mobil ini sebenarnya juga bisa membaca kondisi darurat,” ujar Miki, instruktur mengemudi yang mendampingi kami selama test drive.
Hal menarik dari VLA 2.0 XPENG
Yang bikin teknologi ini makin menarik, VLA 2.0 disebut sudah masuk kategori autonomous driving level 4. Sistemnya juga diklaim bisa membaca kondisi jalan hingga 200 meter ke depan dan menentukan arah mobil secara real-time. Karena basisnya full kamera tanpa lidar, mobil bahkan bisa membaca gerakan tangan polisi lalu lintas dan mencari jalur alternatif meskipun kondisi jalan tidak sesuai dengan maps.
Dibanding teknologi autonomous lain di industri, XPENG VLA 2.0 punya pendekatan yang cukup berbeda. Mereka menghilangkan lapisan perantara “Language Representation”, jadi sistem bisa langsung memproses visual dan menghasilkan aksi lebih cepat layaknya refleks manusia. XPENG juga menyebut teknologi ini sebagai intelligent driving model pertama di China yang punya potensi menuju autonomous driving level 4 dan jadi rival serius buat Tesla FSD. Fokus pengembangannya sendiri ada di empat poin utama, yaitu mengurangi error, respons lebih cepat, pengalaman berkendara yang lebih natural, dan kemampuan AI yang makin adaptif di berbagai kondisi jalan.
Blog
8 Kebiasaan Ini Bikin Mobil Kamu Cepat Rusak!

Merawat mobil ternyata gak selalu soal rajin servis ke bengkel atau pakai oli mahal. Cara menggunakan mobil setiap hari juga punya pengaruh besar terhadap usia pakai berbagai komponennya.
Masalahnya, banyak kebiasaan kecil yang sering dilakuin tanpa sadar justru bisa membuat mobil bekerja lebih berat. Kalau terus dibiarkan, kerusakan bisa muncul lebih cepat dan biaya perbaikannya tentu enggak murah.
Mulai dari kebiasaan menahan kopling, sering menginjak rem saat jalan menurun, sampai malas mengecek indikator di panel instrumen, hal-hal kecil seperti ini bisa berdampak ke kondisi kendaraan.
Berikut beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai dikurangi kalau kamu sering melakukan ini!
Sering Menginjak Pedal Kopling Setengah
Buat pengguna mobil manual, kebiasaan memainkan kopling memang sering dilakukan, terutama saat terjebak macet atau parkir di tempat sempit.
Namun, terlalu sering menahan pedal kopling setengah bisa membuat kampas kopling lebih cepat aus. Gesekan yang terus terjadi membuat komponen tersebut bekerja lebih keras dari seharusnya.
Lebih baik injak kopling penuh saat perlu mengganti gigi dan lepaskan secara perlahan ketika mulai berjalan.
Jarang Memanaskan Mobil yang Lama Gak Dipakai
Mobil modern memang gak selalu membutuhkan waktu lama untuk dipanaskan. Namun, kendaraan yang jarang digunakan tetap perlu diperhatikan kondisinya.
Saat mobil lama diam, oli mesin bisa turun dan belum melumasi seluruh bagian mesin ketika pertama kali dinyalakan. Makanya, setelah lama gak dipakai, sebaiknya biarkan mesin bekerja beberapa saat sebelum langsung dipakai untuk perjalanan berat.
Langsung Menggeber Mesin Saat Baru Menyala
Banyak pemilik mobil yang langsung menjalankan mobil dengan putaran mesin tinggi setelah mesin baru hidup.
Padahal, saat kondisi masih dingin, oli belum sepenuhnya bersirkulasi ke seluruh komponen mesin. Kebiasaan langsung menggeber mobil bisa membuat gesekan antar komponen meningkat.
Cukup berkendara dengan santai di awal perjalanan sampai suhu kerja mesin tercapai.
Sering Mengabaikan Lampu Peringatan di Dashboard
Lampu indikator di panel instrumen bukan sekadar pajangan.
Masih banyak pemilik mobil yang membiarkan lampu peringatan menyala karena mobil masih terasa normal saat digunakan.
Padahal, indikator tersebut bisa menjadi tanda awal adanya masalah, mulai dari gangguan mesin, sistem pengereman, aki, hingga suhu mesin.
Semakin lama dibiarkan, risiko kerusakan yang lebih besar juga makin tinggi.
Terlambat Mengganti Oli
Oli menjadi salah satu komponen penting untuk menjaga mesin tetap bekerja dengan baik.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menunda penggantian oli karena merasa mobil masih nyaman digunakan.
Padahal, oli yang sudah kehilangan kualitasnya tidak mampu melindungi komponen mesin secara optimal. Akibatnya, gesekan meningkat dan bisa mempercepat keausan.
Sering Menghantam Jalan Rusak dengan Kecepatan Tinggi
Jalan berlubang atau polisi tidur memang sulit dihindari. Tapi kebiasaan melewatinya dengan kecepatan tinggi bisa membuat kaki-kaki mobil bekerja lebih berat.
Komponen seperti shock absorber, tie rod, ball joint, hingga bushing bisa mengalami tekanan berlebih.
Kalau sering dilakukan, bukan cuma kenyamanan yang berkurang, tapi biaya perbaikannya juga bisa membengkak.

Membawa Barang Terlalu Berat
Mobil memang dirancang untuk membawa penumpang dan barang, tetapi bukan berarti bisa terus diberikan beban berlebihan.
Muatan yang terlalu berat bisa membuat suspensi, ban, rem, dan mesin bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, komponen tersebut bisa mengalami keausan lebih cepat.
Meremehkan Tekanan Ban
Tekanan ban yang gak sesuai sering dianggap masalah kecil. Padahal, ban memiliki peran besar terhadap keselamatan dan kenyamanan berkendara.
Ban yang kurang angin membuat mesin bekerja lebih berat karena hambatan gulir meningkat. Sementara tekanan terlalu tinggi bisa mengurangi daya cengkeram ban ke permukaan jalan.
Mulai Perhatikan Kebiasaan Berkendara
Mobil yang awet bukan cuma hasil dari servis rutin, tetapi juga dari cara pemiliknya memperlakukan kendaraan setiap hari.
Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Jadi, sebelum mobil mengalami masalah serius, ada baiknya mulai mengubah beberapa kebiasaan sederhana saat berkendara.
Toh, menjaga mobil tetap sehat jauh lebih murah dibanding harus memperbaiki kerusakan besar akibat hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah.
Blog
Bukan Karena Rusak, Banyak Orang Jual Mobil Demi Naik Kelas

Pernah lihat mobil bekas yang kondisinya masih mulus, kilometer rendah, bahkan usia pakainya belum terlalu lama, tapi sudah masuk pasar jual beli?
Banyak orang mungkin langsung berpikir, mobil tersebut dijual karena ada masalah. Padahal, kenyataannya gak gitu.
Banyak pemilik mobil memilih melepas kendaraannya bukan karena sudah rusak atau sering masuk bengkel, melainkan karena ingin naik kelas ke mobil yang lebih baru dengan fitur yang lebih lengkap.
Hal ini juga terlihat dari studi OLX Autos Indonesia Consumer Profile 2021. Dalam riset tersebut, alasan terbesar konsumen membeli mobil bekas adalah untuk upgrade ke mobil yang lebih baru, dengan persentase mencapai 34 persen.
Artinya, mobil bekas yang beredar di pasaran tidak selalu berasal dari kendaraan yang sudah bermasalah. Sebagian justru berasal dari mobil yang masih layak pakai, tetapi pemiliknya ingin mengganti dengan model yang lebih sesuai kebutuhan.
Fitur Baru Jadi Alasan Banyak Orang Ganti Mobil
Perkembangan teknologi otomotif yang semakin cepat membuat banyak orang mulai tertarik mengganti mobil meski kendaraan lamanya masih bisa digunakan.
Dulu, alasan utama mengganti mobil mungkin karena mesin sudah mulai bermasalah atau biaya perawatan semakin tinggi.
Sekarang, faktor kenyamanan dan teknologi juga punya pengaruh besar.
Misalnya, mobil keluaran terbaru menawarkan fitur yang sebelumnya hanya tersedia di kendaraan premium, seperti kamera 360 derajat, sistem bantuan berkendara ADAS, konektivitas smartphone, hingga teknologi elektrifikasi seperti hybrid dan mobil listrik.
Buat sebagian orang, punya mobil dengan fitur lebih modern bisa menjadi alasan kuat untuk melakukan upgrade.

Kebutuhan Hidup Ikut Mengubah Pilihan Mobil
Selain teknologi, perubahan kondisi hidup juga sering membuat seseorang mengganti kendaraan.
Contohnya, saat masih lajang seseorang mungkin merasa cukup dengan mobil kecil yang irit bahan bakar. Tapi saat sudah berkeluarga, kebutuhan berubah dan mobil dengan kabin lebih luas seperti MPV atau SUV mulai dilirik.
Begitu juga dengan orang yang sebelumnya sering bepergian jauh. Mereka mungkin mencari mobil dengan kenyamanan lebih baik, fitur keselamatan lebih lengkap, atau konsumsi bahan bakar yang lebih efisien.
Jadi, bukan berarti mobil lama sudah gak bagus. Tapi, kebutuhan pemiliknya sudah berubah.
Fenomena Ini Bikin Pasar Mobil Bekas Semakin Menarik
Banyaknya orang yang melakukan upgrade juga membuat pilihan mobil bekas semakin beragam.
Gak sedikit kendaraan dengan usia muda dan kondisi masih prima yang masuk ke pasar karena pemiliknya ingin mengganti model terbaru.
Tapi, calon pembeli tetap perlu melakukan pengecekan sebelum membeli. Riwayat servis, kondisi mesin, transmisi, kaki-kaki, hingga kelengkapan dokumen tetap harus diperhatikan.
Pada akhirnya, keputusan mengganti mobil bukan cuma soal kendaraan masih bagus atau gak. Bagi sebagian orang, mobil adalah bagian dari kebutuhan yang terus berubah.
Jadi, kalau menemukan mobil bekas yang masih terlihat segar di pasaran, belum tentu pemilik sebelumnya menjual karena ada masalah. Bisa jadi, mereka hanya ingin upgrade ke mobil yang lebih baru.
Blog
Mobil Sering Dipakai Macet, Kapan Wajib Servis?

Banyak pemilik mobil masih berpatokan pada angka di odometer untuk menentukan jadwal servis. Selama kilometernya belum sampai batas servis berkala, kendaraan dianggap masih aman dipakai.
Padahal, mobil yang setiap hari dipakai menghadapi kemacetan punya kondisi kerja yang berbeda dibanding mobil yang lebih sering melaju di jalan bebas hambatan. Mesinnya memang tidak menempuh jarak jauh, tapi justru bekerja lebih lama karena sering berhenti dan berjalan secara berulang atau stop and go.
Terus, mobil yang sering dipakai di jalan macet memang harus diservis lebih cepat? Jawabannya, bisa iya.
Saat terjebak macet, mesin mobil tetap menyala walaupun kendaraan nyaris gak bergerak. Artinya, oli mesin tetap bekerja melumasi komponen, kipas pendingin terus berputar menjaga suhu mesin, dan sistem transmisi maupun rem juga lebih sering digunakan.
Kondisi seperti ini membuat beberapa komponen mengalami beban kerja lebih berat dibanding saat mobil melaju dengan kecepatan stabil.
Makanya, jangan hanya melihat angka kilometer. Perhatikan juga lamanya penggunaan mobil setiap hari.
Jangan Cuma Patok Kilometer
Sebagian besar pabrikan menyarankan servis berkala setiap 10.000 kilometer atau enam bulan, tergantung mana yang tercapai lebih dulu.
Artinya, meski odometer baru menunjukkan 6.000 atau 7.000 kilometer, tetapi sudah lebih dari enam bulan sejak servis terakhir, mobil tetap sebaiknya dibawa ke bengkel.
Apalagi kalau setiap hari digunakan di tengah kemacetan dengan durasi perjalanan yang cukup lama.
Oli Bisa Lebih Cepat Menurun
Salah satu komponen yang paling terdampak saat mobil sering menghadapi kemacetan adalah oli mesin.
Ketika mesin terus hidup dalam waktu lama, oli akan terus bersirkulasi untuk melumasi berbagai komponen. Seiring waktu, kualitas pelumas bisa menurun sehingga kemampuannya dalam melindungi mesin juga berkurang.
Kalau dibiarkan terlalu lama, gesekan antar komponen mesin bisa meningkat dan berpotensi mempercepat keausan.

Rem dan Ban Juga Bekerja Lebih Keras
Kondisi stop and go membuat pengemudi lebih sering menginjak pedal rem dan kembali berakselerasi.
Akibatnya, kampas rem bisa lebih cepat aus dibanding mobil yang lebih sering digunakan di jalan tol. Ban juga mengalami beban lebih besar karena proses pengereman dan akselerasi yang berulang.
Karena itu, saat servis berkala sebaiknya minta teknisi memeriksa ketebalan kampas rem, kondisi ban, serta tekanan anginnya.
Jangan Abaikan Cairan dan Filter
Selain oli mesin, beberapa komponen lain juga perlu diperhatikan, seperti cairan pendingin, minyak rem, filter udara, hingga filter kabin.
Mobil yang sering dipakai di lingkungan perkotaan umumnya lebih banyak terpapar debu dan polusi. Akibatnya, filter udara maupun filter kabin bisa lebih cepat kotor sehingga perlu dicek secara berkala.
Sesuaikan dengan Pola Pemakaian
Pada akhirnya, jadwal servis gak bisa disamakan untuk semua mobil. Kendaraan yang setiap hari dipakai menghadapi kemacetan tentu memiliki beban kerja berbeda dibanding mobil yang lebih sering digunakan untuk perjalanan luar kota.
Kalau mobil lebih banyak dipakai di kondisi stop and go, jangan ragu mengikuti jadwal servis berdasarkan waktu, bukan hanya kilometer. Dengan perawatan yang rutin, performa mobil tetap terjaga dan risiko kerusakan yang lebih besar di kemudian hari juga bisa diminimalkan.
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News2 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News2 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
News1 year agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
Blog2 years ago4 Mobil SUV Termahal di Dunia, Kepoin dulu Beli Nanti!
News2 years agoKatakan Selamat Tinggal ke Calo, Kini SIM Gak Bisa Nembak Lagi!




















