Connect with us

Blog

Mengenal Beda Mild Hybrid, Full Hybrid, dan Plug-in Hybrid

Published

on

Toyota prius HEV di GIIAS 2024

Mobil hybrid makin banyak ditemui di Indonesia. Pilihannya juga beragam, mulai dari SUV, MPV, sedan, sampai hatchback. Menariknya lagi, sekarang istilah hybrid gak cuma satu. Ada yang disebut mild hybrid, full hybrid, dan plug-in hybrid (PHEV).

Buat yang baru mulai melirik mobil elektrifikasi, tiga istilah ini sering bikin bingung. Sama-sama ada embel-embel hybrid, tapi ternyata cara kerjanya cukup berbeda.

Nah, biar gak salah paham, yuk kenalin satu per satu.

Apa Itu Mobil Hybrid?

Sebelum masuk ke jenis-jenisnya, perlu dipahami dulu bahwa mobil hybrid adalah kendaraan yang menggunakan dua sumber tenaga.

Biasanya kombinasi antara mesin bensin dan motor listrik. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar sekaligus mengurangi emisi gas buang.

Yang membedakan adalah seberapa besar peran motor listrik dalam menggerakkan mobil.

Mild Hybrid, Motor Listrik Cuma Membantu

Mild hybrid bisa dibilang menjadi level paling dasar dalam teknologi hybrid.

Pada sistem ini, motor listrik gak bisa menggerakkan mobil sendirian. Tugasnya hanya membantu mesin bensin saat akselerasi, menjaga sistem kelistrikan, atau membantu proses start-stop mesin.

Karena perannya terbatas, kapasitas baterainya juga relatif kecil.

Saat mobil melaju, sumber tenaga utama tetap berasal dari mesin bensin.

Keunggulannya, sistem ini lebih sederhana, bobot kendaraan gak bertambah terlalu banyak, dan harga mobil biasanya lebih terjangkau dibanding hybrid jenis lain.

Makanya banyak pabrikan menggunakan teknologi mild hybrid sebagai langkah awal menuju elektrifikasi.

Full Hybrid, Bisa Jalan Pakai Motor Listrik

Kalau full hybrid, kemampuan motor listriknya sudah jauh lebih besar.

Pada kondisi tertentu, mobil bisa berjalan hanya menggunakan tenaga listrik tanpa bantuan mesin bensin.

Misalnya saat merayap di kemacetan, berjalan pelan di area parkir, atau ketika kecepatan rendah.

Saat baterai mulai berkurang, mesin bensin akan menyala secara otomatis untuk membantu menggerakkan mobil sekaligus mengisi ulang baterai.

Yang menarik, pengguna gak perlu mencolok mobil ke sumber listrik eksternal.

Energi baterai diperoleh dari mesin dan sistem regenerative braking yang memanfaatkan energi saat mobil melambat atau mengerem.

Jenis inilah yang saat ini paling banyak ditemui di Indonesia.

Plug-in Hybrid, Gabungan Hybrid dan Mobil Listrik

Kalau plug-in hybrid atau PHEV, level elektrifikasinya lebih tinggi lagi.

Mobil jenis ini memiliki baterai yang jauh lebih besar dibanding full hybrid. Karena itu, jarak tempuh dalam mode listrik murninya juga lebih jauh.

Bahkan beberapa model bisa menempuh 50 sampai lebih dari 100 kilometer tanpa menyalakan mesin bensin sama sekali.

Bedanya dengan full hybrid, baterai PHEV bisa diisi ulang dari luar menggunakan charger atau stasiun pengisian kendaraan listrik.

Makanya disebut plug-in hybrid.

Dalam penggunaan harian, banyak pemilik PHEV yang jarang menggunakan bensin karena kebutuhan perjalanan mereka sudah bisa dipenuhi oleh mode listrik.

Tapi saat harus melakukan perjalanan jauh, mesin bensin tetap siap bekerja sehingga pengemudi gak perlu khawatir soal jarak tempuh.

Mana yang Paling Irit?

Jawabannya tergantung pola penggunaan.

Kalau hanya melihat teknologi, plug-in hybrid biasanya menawarkan konsumsi bahan bakar paling rendah karena bisa berjalan cukup jauh menggunakan listrik.

Namun efisiensi maksimal baru terasa jika pemilik rajin mengisi daya baterai.

Kalau baterainya jarang dicas, keunggulan PHEV bisa berkurang karena mobil tetap membawa baterai berukuran besar yang menambah bobot kendaraan.

Di sisi lain, full hybrid menjadi pilihan yang praktis karena pengguna gak perlu repot mencari charger.

Sementara mild hybrid cocok buat yang ingin merasakan teknologi elektrifikasi tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar hybrid konvensional atau PHEV.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Ada Lubang Kecil di Bawah Pintu, Jangan Ditutup

Published

on

By

Pernah lihat ada beberapa lubang kecil di bagian bawah pintu mobil?

Ukurannya memang kecil dan letaknya juga gak terlalu kelihatan. Karena itu, gak sedikit yang mungkin mengira lubang tersebut cuma bagian dari desain atau bahkan lubang yang gak sengaja dibuat.

Padahal, lubang kecil itu punya fungsi penting.

Namanya drain hole atau lubang pembuangan. Tugasnya adalah membantu mengeluarkan air yang masuk dan mengendap di dalam pintu mobil.

Air ternyata bisa masuk ke dalam pintu

Pintu mobil memang dirancang supaya bagian dalamnya terlindungi dari air. Tapi bukan berarti air sama sekali gak bisa masuk.

Saat hujan atau ketika mobil dicuci, sebagian air bisa melewati celah di sekitar kaca dan masuk ke bagian dalam pintu.

Tenang, kondisi tersebut memang sudah diperhitungkan oleh pabrikan.

Air yang masuk kemudian diarahkan ke bagian bawah pintu dan dikeluarkan melalui lubang kecil tersebut.

Makanya, lubang itu memang sengaja dibuat.

Kalau lubangnya tersumbat, apa yang terjadi?

Masalah bisa muncul kalau lubang tersebut tertutup kotoran.

Debu, lumpur, daun kecil, atau kotoran lainnya bisa menumpuk di bagian bawah pintu dan menghambat aliran air.

Kalau air gak bisa keluar dengan baik, air bisa menggenang di dalam pintu.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan bagian logam di dalam pintu lebih mudah mengalami korosi atau karat.

Selain itu, air yang mengendap juga bisa menimbulkan bau lembap dan mengganggu komponen tertentu yang berada di dalam pintu.

Jangan ditutup atau disumbat

Karena ukurannya kecil, ada saja yang menganggap lubang tersebut perlu ditutup supaya air atau kotoran gak masuk.

Padahal justru sebaliknya.

Jangan menyumbat lubang pembuangan tersebut.

Lubang itu memang dibuat sebagai jalur keluarnya air.

Kalau terlihat kotor, cukup bersihkan secara perlahan supaya jalurnya kembali terbuka. Gak perlu menusuknya menggunakan benda tajam atau benda keras karena bisa merusak bagian di sekitar lubang.

Bisa dicek saat cuci mobil

Lubang pembuangan di bawah pintu termasuk bagian yang gampang diperiksa sendiri.

Saat mencuci mobil atau melakukan pemeriksaan sederhana, coba lihat bagian bawah setiap pintu.

Pastikan lubangnya gak tertutup lumpur atau kotoran.

Kalau setelah hujan atau mencuci mobil terdengar suara air seperti “kocak-kocak” dari dalam pintu ketika mobil bergerak, ada baiknya bagian tersebut diperiksa.

Bisa jadi ada air yang tertahan karena jalur pembuangannya gak bekerja dengan baik.

Kecil, tapi fungsinya penting

Jadi, kalau menemukan lubang kecil di bagian bawah pintu mobil, jangan buru-buru menganggapnya sebagai cacat atau bagian yang harus ditutup.

Lubang tersebut justru membantu menjaga supaya air gak menetap di dalam pintu.

Kelihatannya sepele, tapi kalau sampai tersumbat, bisa jadi masalah di kemudian hari.

Makanya, saat bersih-bersih mobil, bagian kecil seperti ini juga jangan sampai dilewatkan.

Continue Reading

Blog

Ternyata Ada Makna di Balik Logo Mobil di Setir

Published

on

By

Arcfox Alpha S5 interior mobil

Kalau diperhatikan, hampir semua mobil punya logo merek di bagian tengah setir.

Ada yang logonya besar, ada juga yang dibuat menyatu dengan desain setir. Sekilas, bagian ini memang terlihat seperti tempat yang pas untuk memajang identitas merek.

Tapi ternyata, bagian tengah setir bukan cuma tempat naruh logo.

Di balik area tersebut terdapat salah satu fitur keselamatan penting pada mobil, yaitu airbag pengemudi.

Di balik logo ada airbag

Pada mobil yang sudah dilengkapi airbag pengemudi, modul airbag biasanya ditempatkan di bagian tengah setir.

Ketika sensor mendeteksi kondisi tabrakan tertentu, sistem akan mengaktifkan airbag sehingga kantong udara mengembang dengan sangat cepat.

Airbag ini membantu memberikan perlindungan tambahan untuk pengemudi, terutama pada bagian kepala dan dada, saat terjadi kecelakaan.

Makanya, bagian tengah setir bukan area yang sebaiknya digunakan untuk memasang aksesori tambahan sembarangan.

Logo berada tepat di atas modul airbag

Nah, lalu kenapa logonya ada di situ?

Karena bagian tengah setir memang menjadi lokasi modul airbag. Logo biasanya ditempatkan pada penutup modul tersebut.

Jadi, ketika melihat logo merek di tengah setir, sebenarnya kita sedang melihat bagian luar dari area yang menyimpan perangkat keselamatan.

Itulah sebabnya desain bagian tengah setir dibuat dengan konstruksi tertentu supaya penutupnya bisa terbuka ketika airbag mengembang.

Interior Chery J6

Jangan asal pasang aksesori di setir

Karena ada airbag di baliknya, pengemudi sebaiknya gak sembarangan menambahkan aksesori pada bagian tengah setir.

Misalnya memasang emblem tambahan, hiasan keras, atau benda lain yang bisa mengganggu kerja penutup airbag.

Kalau airbag mengembang saat kecelakaan, benda yang dipasang di area tersebut justru berpotensi ikut terdorong dengan keras.

Selain itu, modifikasi pada setir juga bisa mengganggu sistem keselamatan kendaraan kalau dilakukan tanpa memperhatikan konstruksi aslinya.

Airbag bukan pengganti sabuk pengaman

Meski airbag ada di balik logo setir, bukan berarti fitur ini bisa menggantikan fungsi sabuk pengaman.

Keduanya bekerja sebagai sistem perlindungan yang saling melengkapi.

Sabuk pengaman membantu menahan tubuh agar tetap berada pada posisi yang tepat, sementara airbag memberikan perlindungan tambahan ketika terjadi benturan.

Makanya, tetap gunakan sabuk pengaman meski mobil sudah punya banyak airbag.

Jadi, logo di tengah setir bukan cuma pajangan

Sekarang kalau melihat logo mobil di tengah setir, jangan cuma menganggapnya sebagai tempat untuk menunjukkan merek.

Di balik bagian tersebut ada perangkat yang dirancang untuk membantu melindungi pengemudi ketika terjadi kecelakaan.

Jadi, area kecil di tengah setir ternyata punya fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar tempat menaruh logo.

Dan satu hal yang perlu diingat: jangan jadikan area tersebut tempat memasang aksesori sembarangan.

Continue Reading

Blog

Dulu Hitam, Sekarang Putih, Ternyata Ini Alasan Pelat Nomor Berubah!

Published

on

By

Buat yang sudah lama berkendara, pasti masih ingat kalau pelat nomor kendaraan di Indonesia identik dengan warna hitam dengan tulisan putih.

Sekarang, jangan kaget kalau melihat mobil baru memakai pelat dengan dasar putih dan tulisan hitam.

Perubahan ini memang sudah diterapkan secara bertahap oleh Kepolisian. Tapi sebenarnya, apa alasan warna pelat nomor diganti dari hitam menjadi putih?

Ternyata, salah satu tujuan utamanya berkaitan dengan sistem tilang elektronik atau ETLE.

Pelat putih lebih mudah dibaca kamera

Pelat nomor kendaraan bukan cuma berfungsi sebagai identitas mobil atau motor.

Di era tilang elektronik, pelat juga harus bisa terbaca dengan jelas oleh kamera.

Nah, dasar putih dengan tulisan hitam dinilai lebih mudah dikenali oleh sistem kamera dibandingkan kombinasi dasar hitam dan tulisan putih.

Kamera ETLE bekerja dengan menangkap gambar kendaraan yang melintas, kemudian sistem membaca nomor registrasi pada pelat.

Dengan kombinasi putih dan hitam, karakter pada pelat bisa lebih mudah dibedakan oleh sistem pengenalan angka dan huruf.

Jadi, perubahan warna ini bukan sekadar supaya mobil terlihat lebih modern.

Bukan berarti semua kendaraan langsung pakai pelat putih

Meski sekarang kita makin sering melihat pelat putih, penerapannya gak berarti semua kendaraan di jalan langsung berganti bersamaan.

Penggunaan pelat putih berkaitan dengan penerbitan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) baru.

Artinya, kendaraan yang masih menggunakan pelat hitam gak otomatis harus mengganti pelat hanya karena sekarang sudah ada aturan pelat putih.

Penggantian biasanya mengikuti proses administrasi kendaraan, seperti saat kendaraan mendapatkan TNKB baru.

Makanya sampai sekarang kita masih bisa melihat mobil dengan pelat hitam dan putih bersamaan di jalan.

Tulisan di pelatnya tetap hitam

Kalau dilihat sekilas, perubahan paling gampang memang ada pada warna dasarnya.

Dulu:

Dasar hitam + tulisan putih

Sekarang:

Dasar putih + tulisan hitam

Nomor registrasinya sendiri tetap menjadi identitas kendaraan. Jadi, bukan berarti nomor kendaraan berubah hanya karena warna pelatnya berubah.

tilang etle

Ada hubungannya dengan kamera ETLE

Penggunaan pelat putih juga berkaitan dengan kebutuhan identifikasi kendaraan dalam sistem elektronik.

Dengan kamera yang semakin banyak digunakan untuk memantau lalu lintas, nomor kendaraan harus bisa terbaca dengan cepat dan akurat.

Pelat dengan dasar putih dan tulisan hitam memberikan kontras yang lebih sesuai untuk kebutuhan tersebut.

Sederhananya, kalau kamera harus membaca ribuan kendaraan yang lewat, tentu semakin mudah nomor pelat dikenali, semakin membantu sistem bekerja.

Jadi, pelat hitam sudah gak boleh?

Bukan begitu.

Pelat hitam yang masih terpasang pada kendaraan bukan berarti otomatis ilegal hanya karena sekarang ada pelat putih.

Keduanya masih bisa kita temui karena penerapan pelat putih dilakukan secara bertahap sesuai penerbitan TNKB.

Jadi, kalau mobil di rumah masih menggunakan pelat hitam, gak perlu buru-buru menggantinya sendiri hanya karena melihat mobil baru sudah memakai pelat putih.

Yang penting, pelat yang digunakan merupakan TNKB resmi dan sesuai dengan data kendaraan.

Bukan cuma soal warna

Kalau dipikir-pikir, perubahan dari hitam ke putih memang kelihatannya sepele.

Tapi di baliknya ada perubahan cara sistem lalu lintas bekerja. Dulu pelat nomor terutama kita kenal sebagai identitas kendaraan yang dibaca manusia.

Sekarang, pelat juga harus bisa dibaca kamera dan sistem elektronik.

Jadi, lain kali melihat mobil dengan pelat putih, bukan berarti cuma sedang melihat model pelat yang lebih baru.

Warna putih tersebut merupakan bagian dari upaya menyesuaikan identitas kendaraan dengan sistem lalu lintas yang semakin banyak menggunakan teknologi.

Continue Reading

Trending