Connect with us

Blog

Batas Kecepatan Tol di Berbagai Negara, Indonesia Paling Pelan?

Published

on

Kalau lagi masuk jalan tol, biasanya tanpa sadar kita langsung “set” ke kecepatan aman. Di Indonesia, angkanya juga sudah cukup familiar, gak terlalu pelan, tapi juga gak bisa dibilang bebas ngebut.

Tapi pernah kepikiran gak, sebenarnya batas kecepatan tol di Indonesia itu termasuk cepat atau justru pelan dibanding negara lain?

Di Indonesia, batas kecepatan di jalan tol umumnya berkisar antara 60 km/jam sampai 100 km/jam, tergantung jenis ruas dan kondisinya. Di beberapa jalan tol tertentu bahkan bisa sampai 120 km/jam, tapi tetap ada aturan minimum supaya lalu lintas tetap lancar.

Angka ini sebenarnya dirancang bukan cuma soal kecepatan, tapi juga keselamatan. Faktor seperti kondisi jalan, kepadatan kendaraan, sampai perilaku pengemudi ikut jadi pertimbangan.

Kalau dibandingkan dengan luar negeri, baru terasa bedanya.

Di Jerman misalnya, ada ruas jalan tol yang terkenal karena tidak memiliki batas kecepatan tetap, yaitu Autobahn. Tapi bukan berarti bebas ugal-ugalan, karena tetap ada rekomendasi kecepatan dan aturan ketat soal keselamatan.

Sementara itu di Amerika Serikat, batas kecepatan tol bervariasi tergantung negara bagian, umumnya di kisaran 105 sampai 130 km/jam. Jalan yang panjang dan lurus jadi salah satu alasan kenapa batasnya bisa lebih tinggi.

Berbeda lagi dengan Jepang. Meski dikenal dengan teknologinya yang maju, batas kecepatan di tol justru relatif konservatif, sekitar 80 sampai 100 km/jam. Alasannya mirip dengan Indonesia, kepadatan lalu lintas dan faktor keselamatan.

Kalau dilihat dari sini, Indonesia sebenarnya ada di tengah-tengah. Gak seketat Jepang, tapi juga gak se-“longgar” beberapa ruas di Jerman atau Amerika.

Yang menarik, batas kecepatan ini bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa paling sesuai dengan kondisi jalan dan kebiasaan penggunanya. Jalan yang mulus belum tentu aman buat ngebut kalau lalu lintasnya padat atau perilaku pengemudinya belum tertib.

Jadi, meski kelihatannya di luar negeri bisa lebih kencang, bukan berarti aturan di Indonesia ketinggalan. Justru disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Bukan Karena Rusak, Banyak Orang Jual Mobil Demi Naik Kelas

Published

on

By

Pernah lihat mobil bekas yang kondisinya masih mulus, kilometer rendah, bahkan usia pakainya belum terlalu lama, tapi sudah masuk pasar jual beli?

Banyak orang mungkin langsung berpikir, mobil tersebut dijual karena ada masalah. Padahal, kenyataannya gak gitu.

Banyak pemilik mobil memilih melepas kendaraannya bukan karena sudah rusak atau sering masuk bengkel, melainkan karena ingin naik kelas ke mobil yang lebih baru dengan fitur yang lebih lengkap.

Hal ini juga terlihat dari studi OLX Autos Indonesia Consumer Profile 2021. Dalam riset tersebut, alasan terbesar konsumen membeli mobil bekas adalah untuk upgrade ke mobil yang lebih baru, dengan persentase mencapai 34 persen.

Artinya, mobil bekas yang beredar di pasaran tidak selalu berasal dari kendaraan yang sudah bermasalah. Sebagian justru berasal dari mobil yang masih layak pakai, tetapi pemiliknya ingin mengganti dengan model yang lebih sesuai kebutuhan.

Fitur Baru Jadi Alasan Banyak Orang Ganti Mobil

Perkembangan teknologi otomotif yang semakin cepat membuat banyak orang mulai tertarik mengganti mobil meski kendaraan lamanya masih bisa digunakan.

Dulu, alasan utama mengganti mobil mungkin karena mesin sudah mulai bermasalah atau biaya perawatan semakin tinggi.

Sekarang, faktor kenyamanan dan teknologi juga punya pengaruh besar.

Misalnya, mobil keluaran terbaru menawarkan fitur yang sebelumnya hanya tersedia di kendaraan premium, seperti kamera 360 derajat, sistem bantuan berkendara ADAS, konektivitas smartphone, hingga teknologi elektrifikasi seperti hybrid dan mobil listrik.

Buat sebagian orang, punya mobil dengan fitur lebih modern bisa menjadi alasan kuat untuk melakukan upgrade.

Kebutuhan Hidup Ikut Mengubah Pilihan Mobil

Selain teknologi, perubahan kondisi hidup juga sering membuat seseorang mengganti kendaraan.

Contohnya, saat masih lajang seseorang mungkin merasa cukup dengan mobil kecil yang irit bahan bakar. Tapi saat sudah berkeluarga, kebutuhan berubah dan mobil dengan kabin lebih luas seperti MPV atau SUV mulai dilirik.

Begitu juga dengan orang yang sebelumnya sering bepergian jauh. Mereka mungkin mencari mobil dengan kenyamanan lebih baik, fitur keselamatan lebih lengkap, atau konsumsi bahan bakar yang lebih efisien.

Jadi, bukan berarti mobil lama sudah gak bagus. Tapi, kebutuhan pemiliknya sudah berubah.

Fenomena Ini Bikin Pasar Mobil Bekas Semakin Menarik

Banyaknya orang yang melakukan upgrade juga membuat pilihan mobil bekas semakin beragam.

Gak sedikit kendaraan dengan usia muda dan kondisi masih prima yang masuk ke pasar karena pemiliknya ingin mengganti model terbaru.

Tapi, calon pembeli tetap perlu melakukan pengecekan sebelum membeli. Riwayat servis, kondisi mesin, transmisi, kaki-kaki, hingga kelengkapan dokumen tetap harus diperhatikan.

Pada akhirnya, keputusan mengganti mobil bukan cuma soal kendaraan masih bagus atau gak. Bagi sebagian orang, mobil adalah bagian dari kebutuhan yang terus berubah.

Jadi, kalau menemukan mobil bekas yang masih terlihat segar di pasaran, belum tentu pemilik sebelumnya menjual karena ada masalah. Bisa jadi, mereka hanya ingin upgrade ke mobil yang lebih baru.

Continue Reading

Blog

Mobil Sering Dipakai Macet, Kapan Wajib Servis?

Published

on

By

Banyak pemilik mobil masih berpatokan pada angka di odometer untuk menentukan jadwal servis. Selama kilometernya belum sampai batas servis berkala, kendaraan dianggap masih aman dipakai.

Padahal, mobil yang setiap hari dipakai menghadapi kemacetan punya kondisi kerja yang berbeda dibanding mobil yang lebih sering melaju di jalan bebas hambatan. Mesinnya memang tidak menempuh jarak jauh, tapi justru bekerja lebih lama karena sering berhenti dan berjalan secara berulang atau stop and go.

Terus, mobil yang sering dipakai di jalan macet memang harus diservis lebih cepat? Jawabannya, bisa iya.

Saat terjebak macet, mesin mobil tetap menyala walaupun kendaraan nyaris gak bergerak. Artinya, oli mesin tetap bekerja melumasi komponen, kipas pendingin terus berputar menjaga suhu mesin, dan sistem transmisi maupun rem juga lebih sering digunakan.

Kondisi seperti ini membuat beberapa komponen mengalami beban kerja lebih berat dibanding saat mobil melaju dengan kecepatan stabil.

Makanya, jangan hanya melihat angka kilometer. Perhatikan juga lamanya penggunaan mobil setiap hari.

Jangan Cuma Patok Kilometer

Sebagian besar pabrikan menyarankan servis berkala setiap 10.000 kilometer atau enam bulan, tergantung mana yang tercapai lebih dulu.

Artinya, meski odometer baru menunjukkan 6.000 atau 7.000 kilometer, tetapi sudah lebih dari enam bulan sejak servis terakhir, mobil tetap sebaiknya dibawa ke bengkel.

Apalagi kalau setiap hari digunakan di tengah kemacetan dengan durasi perjalanan yang cukup lama.

Oli Bisa Lebih Cepat Menurun

Salah satu komponen yang paling terdampak saat mobil sering menghadapi kemacetan adalah oli mesin.

Ketika mesin terus hidup dalam waktu lama, oli akan terus bersirkulasi untuk melumasi berbagai komponen. Seiring waktu, kualitas pelumas bisa menurun sehingga kemampuannya dalam melindungi mesin juga berkurang.

Kalau dibiarkan terlalu lama, gesekan antar komponen mesin bisa meningkat dan berpotensi mempercepat keausan.

Servis mobil berkala wajib dilakukan

Rem dan Ban Juga Bekerja Lebih Keras

Kondisi stop and go membuat pengemudi lebih sering menginjak pedal rem dan kembali berakselerasi.

Akibatnya, kampas rem bisa lebih cepat aus dibanding mobil yang lebih sering digunakan di jalan tol. Ban juga mengalami beban lebih besar karena proses pengereman dan akselerasi yang berulang.

Karena itu, saat servis berkala sebaiknya minta teknisi memeriksa ketebalan kampas rem, kondisi ban, serta tekanan anginnya.

Jangan Abaikan Cairan dan Filter

Selain oli mesin, beberapa komponen lain juga perlu diperhatikan, seperti cairan pendingin, minyak rem, filter udara, hingga filter kabin.

Mobil yang sering dipakai di lingkungan perkotaan umumnya lebih banyak terpapar debu dan polusi. Akibatnya, filter udara maupun filter kabin bisa lebih cepat kotor sehingga perlu dicek secara berkala.

Sesuaikan dengan Pola Pemakaian

Pada akhirnya, jadwal servis gak bisa disamakan untuk semua mobil. Kendaraan yang setiap hari dipakai menghadapi kemacetan tentu memiliki beban kerja berbeda dibanding mobil yang lebih sering digunakan untuk perjalanan luar kota.

Kalau mobil lebih banyak dipakai di kondisi stop and go, jangan ragu mengikuti jadwal servis berdasarkan waktu, bukan hanya kilometer. Dengan perawatan yang rutin, performa mobil tetap terjaga dan risiko kerusakan yang lebih besar di kemudian hari juga bisa diminimalkan.

Continue Reading

Blog

Jangan Kaget! Mobil Baru Kini Bisa Tahu Kamu Lagi Melamun

Published

on

By

Kalau selama ini mobil cuma punya kamera buat parkir atau ADAS, sekarang ceritanya beda. Mulai 7 Juli 2026, semua mobil penumpang baru yang dijual di Uni Eropa wajib dibekali Driver Monitoring System (DMS) atau sistem yang bisa memantau kondisi pengemudi lewat pergerakan mata dan kepala.

Sebenarnya teknologi ini bukan barang baru. Beberapa merek mobil sudah lebih dulu memakainya buat mendeteksi pengemudi yang mulai ngantuk atau kehilangan fokus. Bedanya, sekarang fitur tersebut bukan lagi pelengkap, melainkan jadi syarat wajib untuk semua mobil baru yang dipasarkan di Eropa.

Bahkan, aturan serupa juga diprediksi bakal menyusul di Amerika Serikat mulai 2027.

Mata Terlalu Lama Lihat Layar? Mobil Langsung Kasih Peringatan

Sistem yang diwajibkan Uni Eropa ini bernama Advanced Driver Distraction Warning (ADDW). Cara kerjanya mengandalkan sensor inframerah dan software yang bisa membaca arah pandangan mata serta gerakan kepala pengemudi.

Yang dipantau bukan cuma kondisi mata, tapi juga ke mana pengemudi terlalu lama mengalihkan pandangan.

Misalnya, saat mata terlalu lama menatap panel instrumen, layar infotainment, setir, dasbor, atau konsol tengah.

Kalau pengemudi terus melihat area tersebut lebih dari 6 detik saat mobil melaju di kecepatan 20-50 kph, atau lebih dari 3,5 detik saat kecepatannya di atas itu, mobil bakal langsung mengeluarkan peringatan berupa suara dan tampilan visual.

Supaya gak gampang salah deteksi, sistem ini juga dibekali toleransi sekitar 50 milidetik.

Kenapa Sampai Dibikin Wajib?

Alasannya sederhana, karena pengemudi yang kehilangan fokus masih jadi salah satu penyebab utama kecelakaan.

Komisi Eropa memperkirakan sekitar 10-30 persen kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut terjadi akibat pengemudi terdistraksi.

Kalau aturan ini berjalan sesuai harapan, sistem pemantau pengemudi diyakini bisa membantu menyelamatkan sekitar 25.000 nyawa hingga 2038.

Di Amerika Serikat kondisinya juga gak jauh berbeda. Data National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menunjukkan gangguan konsentrasi menjadi penyebab 16 persen kecelakaan fatal, 21 persen kecelakaan yang menimbulkan korban luka, dan 22 persen dari seluruh kecelakaan lalu lintas.

Dianggap Ganggu dan Bikin Khawatir

Meski tujuannya bagus, teknologi ini ternyata juga menuai pro dan kontra.

Sejumlah pengulas otomotif menilai sistem seperti ini kadang terlalu sensitif. Kedipan mata normal atau gerakan kepala biasa bisa saja dianggap sebagai tanda pengemudi mengantuk. Akibatnya, mobil terus memberikan peringatan meski pengemudi sebenarnya masih fokus.

Selain itu, ada juga yang khawatir harga mobil bakal makin mahal karena harus dibekali perangkat elektronik tambahan.

Yang paling banyak disorot justru soal privasi.

Secara aturan, sistem ADDW seharusnya bekerja dengan konsep closed-loop, artinya data yang dikumpulkan tidak dikirim ke luar kendaraan.

Namun, sejumlah pegiat privasi mempertanyakan apakah semua pabrikan benar-benar menjalankan aturan tersebut.

Laporan Risky Business yang mengutip media Belgia VRT bahkan menyebut Volvo mengakui sistem pemantau pengemudinya memproses data secara real-time melalui server cloud eksternal yang aman.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru, apalagi sebelumnya beberapa pabrikan seperti GM, Hyundai, dan Kia pernah terseret kasus pengumpulan data kebiasaan berkendara konsumen yang kemudian dijual ke broker data dan digunakan perusahaan asuransi untuk menentukan besaran premi.

Bukan Cuma Kamera Pengemudi

Aturan baru Uni Eropa ini ternyata gak cuma mewajibkan Driver Monitoring System.

Semua mobil penumpang dan van baru juga harus dibekali Autonomous Emergency Braking (AEB) yang lebih pintar, termasuk mampu mendeteksi pejalan kaki dan pesepeda.

Selain itu, pabrikan juga diwajibkan meningkatkan visibilitas ke depan, memperluas area kaca keselamatan untuk melindungi pejalan kaki saat tabrakan, hingga melakukan pengujian tambahan pada ban yang sudah aus.

Dengan aturan ini, Uni Eropa berharap keselamatan di jalan bisa meningkat. Di sisi lain, tantangan soal akurasi sistem dan perlindungan data pribadi juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Continue Reading

Trending