Blog
Mobil China Harganya Murah tapi Fiturnya Niat, Kok Bisa?

Kalau lagi ngobrol soal otomotif, topik mobil China sekarang hampir pasti muncul. Biasanya dibuka dengan kalimat gini “itu mobil China murah tapi kok fiturnya banyak banget?”.
Pertanyaan ini wajar. Soalnya sekarang, mobil-mobil asal China datang ke Indonesia bawa layar gede, kamera 360, jok elektrik, ADAS, tapi harganya kadang masih di bawah merek Jepang yang fiturnya segitu-gitu aja.
Terus muncul kecurigaan “jangan-jangan kualitasnya jelek, atau ada yang dikurangi nih!”. Padahal, ceritanya gak sesederhana itu.
Ibarat beli semen. Beli satu sak sama beli satu truk jelas beda harga. Nah, pabrikan mobil China itu produksinya gede banget.
Pasar dalam negerinya saja sudah ratusan juta orang. Jadi mobil dibuat massal, bukan cuma buat ekspor. Kalau produksinya sudah segitu banyak, biaya per unit otomatis turun. Makanya fitur bisa dikasih banyak tanpa bikin harga naik jauh.
Terus kalau merek lain masih beli layar, baterai, atau sistem elektronik dari supplier beda-beda, banyak pabrikan China itu satu grup.
Baterai bikin sendiri, layar bikin sendiri, motor listrik bikin sendiri. Ibarat masak di rumah, kalau semua bahan ada di dapur, kan lebih murah daripada jajan semua di luar.
Selain itu, mobil China juga gak jual nama, tapi lebih ke spesifikasi.

Kalau mobil Jepang atau Eropa, kadang orang beli karena “merek yang sudah terbukti”, mobil China ini beda.
Produsen mobil China sadar kalau nama belum sekuat itu. Jadi senjatanya satu yaitu fitur. Makanya konsumen dikasih layar gede, kamera di mana-mana, fitur keselamatan lengkap, interior kelihatan mewah. Orang jadi mikir “Wah, dengan budget segini dapatnya banyak juga ya.”
Sekedar informasi tambahan, di China, merek mobil itu banyak banget. Kalau satu merek pelit fitur, konsumen tinggal pindah ke sebelah. Gak ada drama.
Akhirnya pabrikan dipaksa ngasih lebih. Standar tinggi ini kebawa sampai ke mobil ekspor. Jadi jangan heran, mobil China yang masuk Indonesia itu spesifikasinya sudah niat banget.
Terus Soal Kualitas Gimana?
Mobil China zaman sekarang sudah jauh beda sama dulu. Banyak yang sudah lolos uji tabrak, materialnya rapi, garansinya panjang. Cuma memang, soal tahan 10–15 tahun, pembuktiannya masih jalan. Wajar, karena pemainnya juga relatif baru di pasar global.
Jadi bisa disimpulkan kalau mobil China bisa murah tapi fiturnya banyak itu karena produksinya massal, komponennya bikin sendiri, strateginya memang kasih fitur yang lebih.
Tinggal balik ke selera masing-masing. Ada yang nyaman sama merek lama, tapi ada juga yang mulai beralih ke mobil China dengan fitur yang banyak banget. Kalau kamu tipe yang setia dengan merek lama atau justru tergoda sama mobil China?
Blog
Bensin Tinggal E, Mobil Masih Bisa Dipakai Berapa KM?

Ada satu momen yang hampir pasti pernah dialami semua pemilik mobil, indikator bensin sudah di huruf E. Buat sebagaian orang, itu cuma peringatan kecil,
Tapi buat orang lain.. itu kayak alarm tanda bahaya. Pikirannya bisa langsung ke mana-mana, “Ini mobil masih kuat berapa kilometer lagi, ya?”. Pertanyaan ini wajar banget, apalagi buat yang gak biasa bawa mobil.
Sebenarnya ketika indikator bensin di huruf E itu masih ada sisa bahan bakar, jadi gak benar-benar habis sepenuhnya.
Pabrikan mobil sengaja bikin indikator bensin gak jujur-jujur amat. Saat jarum sudah di E atau lampu bensin menyala, di dalam tangki biasanya masih tersisa sekitar 5–10 persen dari kapasitas total.
Contohnya, tangki mobil kamu kapasitasnya 40 liter, berarti masih ada sisa sekitar 2-4 liter. Atau tangki mobil kamu 50 liter? berarti mobil masih punya cadangan BBM sekitar 3-5 liter.
Sisa bahan bakar ini memang disiapkan sebagai cadangan darurat, buat kamu segera cari SPBU terdekat.

Kalau ditanya dengan kapasitas BBM kurang dari lima liter bisa tempuh jarak berapa KM, ini tergantung dari beberapa hal. Mulai dari kondisi jalan dan gaya nyetir, konsumsi BBM mobil, sampai kapasitas tangki itu sendiri. Tapi secara kasar, mobil bisa jalan sekitar 15-30 KM.
Selain itu, alasan mobil masih bisa berjalan meski indikator sudah E juga berkaitan dengan komponen di dalam tangki. Pompa bensin itu butuh bahan bakar sebagai pelumas sekaligus pendingin.
Kalau bensin benar-benar habis, pompa berisiko cepat panas dan rusak. Makanya, indikator dibuat lebih konservatif supaya pengemudi gak nekat menghabiskan bensin sampai tetes terakhir.
Tapi hal ini bukan berarti kamu jadi sering ngebiarin bensin sampai E. Karena sisa bahan bakar yang sedikit bisa bikin kotoran di dasar tangki ikut tersedot. Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak ke sistem bahan bakar dan membuat komponen bekerja lebih berat.
Blog
Kenapa Tombol Fisik di Mobil Baru Makin Sedikit?

Coba perhatiin interior mobil-mobil baru sekarang. Dashboard rapi, layar besar nempel di tengah, tapi tombol fisiknya minim. Mau atur AC, buka menu dulu. Mau kecilin kipas, harus sentuh layar. Sekilas modern, tapi buat sebagian pengemudi, ini justru bikin ribet.
Perpindahan tombol ke layar sebenarnya bukan sekadar ikut tren. Buat pabrikan, layar sentuh itu lebih fleksibel. Satu layar bisa ganti banyak fungsi tanpa perlu nambah komponen fisik. Desain dashboard jadi lebih simpel, biaya produksi bisa ditekan, dan tampilan terlihat modern.
Selain itu, konsumen sekarang juga makin akrab sama layar. Smartphone jadi benda wajib, jadi pabrikan merasa pengemudi sudah terbiasa geser dan sentuh layar.
Masalahnya, mobil beda dengan ponsel. Saat nyetir, mata harus fokus ke jalan. Tombol fisik bisa dihafal posisinya, diputar tanpa perlu melirik. Layar sentuh menuntut perhatian lebih, apalagi kalau menu terlalu dalam.

Bahkan, lembaga seperti Euro NCAP (program penilaian keselamatan mobil di Eropa) mulai menerapkan standar yang mendorong penggunaan tombol fisik untuk fungsi penting supaya pengemudi gak terlalu melihat layar saat berkendara, ini menyebabkan beberapa pabrikan memikirkan ulang desain mereka
Makanya, belakangan mulai muncul tren balik arah. Beberapa pabrikan kembali menghadirkan tombol fisik untuk fungsi penting seperti AC dan volume. Ternyata, yang kelihatan futuristik belum tentu paling nyaman dipakai harian.
Teknologi memang bikin mobil makin modern. Tapi di balik layar besar dan dashboard minimalis, ada satu hal yang gak boleh dilupain, mobil itu dipakai sambil bergerak. Dan buat urusan nyetir, kadang tombol lama justru lebih safety.
Blog
Banyak Mobil Baru Gak Punya Ban Serep, Ternyata Ini Alasannya!

Dulu, ban serep itu sudah kayak paket wajib. Buka bagasi, pasti ketemu. Mau mobilnya sedan, MPV, sampai SUV, semuanya punya roda cadangan lengkap sama dongkrak. Sekarang? Rata-rata cuma ada cuma ada bagasi, toolkit tipis, atau cairan tambal ban.
Hilangnya ban serep di mobil-mobil modern sebenarnya bukan tanpa alasan. Pabrikan sekarang lagi kejar satu hal, efisiensi.
Ban serep, pelek, dan dongkrak bisa nambah bobot belasan kilo. Bobot itu berpengaruh ke konsumsi BBM, emisi, sampai jarak tempuh mobil.
Belum lagi urusan ruang. Dengan menyingkirkan ban serep, bagasi bisa lebih luas dan lantainya rata. Buat mobil hybrid atau EV, ruang kosong ini sering dipakai buat baterai atau komponen kelistrikan lain.

Sebagai gantinya, pabrikan biasanya nyediain tire repair kit, semacam cairan penambal ban darurat. Memang bukan solusi ideal, tapi cukup buat kondisi bocor kecil dan ngejar bengkel terdekat.
Masalahnya, kondisi jalan di Indonesia gak selalu ramah. Paku, baut, sampai lubang aspal masih jadi menu harian. Di situ, ban serep konvensional jelas lebih menenangkan, apalagi buat yang sering ke luar kota atau lewat jalur sepi.
Pada akhirnya, mobil dengan ban serem mungkin lebih efisien di atas kertas. Tapi, buat sebagian orang, rasa aman itu sesederhana, buka bagasi, lihat ban serep, perjalanan bisa lebih tenang.
BlogBacaan 2 menitIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
NewsBacaan 2 menitMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
NewsBacaan 2 menitVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
NewsBacaan 3 menitIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
NewsBacaan < 1 menitiCar – Mobil Listrik Apple Batal Diproduksi
NewsBacaan 3 menit8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
YouTubeReview Modifikasi Semi-alto Hyundai Creta Prime
NewsBacaan 2 menitFix Harga Wuling Cloud EV Gak Sampe 400 Juta



















