Connect with us

Blog

Kenapa Lampu Sein Mobil Eropa Sering Beda Arah?

Published

on

interior Cover Mercedes-Benz GLE 450

Pernah gak sih bingung waktu naik mobil Eropa terus malah salah nyalain wiper pas mau belok?

Ini salah satu “culture shock” paling umum buat orang yang baru pindah dari mobil Jepang ke mobil Eropa. Soalnya posisi tuas sein dan wiper memang sering kebalik.

Kalau mobil Jepang umumnya tuas sein ada di kanan, mobil-mobil Eropa justru banyak yang naruh sein di kiri. Akibatnya, tangan yang sudah refleks kadang langsung salah gerak.

Tapi sebenarnya bukan karena pabrikan Eropa mau bikin ribet.

Awalnya, posisi sein di kiri dibuat supaya tangan kanan pengemudi tetap fokus di setir atau perpindahan gigi. Dulu mayoritas mobil Eropa masih manual, jadi logikanya tangan kanan dipakai oper gigi, sementara tangan kiri mengoperasikan sein.

Makanya kebiasaan itu terus terbawa sampai sekarang, bahkan di mobil modern yang sudah otomatis sekalipun.

Lucunya lagi, aturan ini gak benar-benar baku. Beberapa mobil Eropa ada juga yang posisi seinsnya “normal” buat orang Indonesia. Tapi mayoritas memang masih mempertahankan layout khas mereka.

Karena itu banyak orang bilang adaptasi paling susah saat pertama kali pakai mobil Eropa bukan tenaga atau fiturnya, tapi justru soal sein dan wiper.

Belok dikit, eh yang nyala malah wiper. Malu sendiri jadinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Jangan Kaget! Mobil Baru Kini Bisa Tahu Kamu Lagi Melamun

Published

on

By

Kalau selama ini mobil cuma punya kamera buat parkir atau ADAS, sekarang ceritanya beda. Mulai 7 Juli 2026, semua mobil penumpang baru yang dijual di Uni Eropa wajib dibekali Driver Monitoring System (DMS) atau sistem yang bisa memantau kondisi pengemudi lewat pergerakan mata dan kepala.

Sebenarnya teknologi ini bukan barang baru. Beberapa merek mobil sudah lebih dulu memakainya buat mendeteksi pengemudi yang mulai ngantuk atau kehilangan fokus. Bedanya, sekarang fitur tersebut bukan lagi pelengkap, melainkan jadi syarat wajib untuk semua mobil baru yang dipasarkan di Eropa.

Bahkan, aturan serupa juga diprediksi bakal menyusul di Amerika Serikat mulai 2027.

Mata Terlalu Lama Lihat Layar? Mobil Langsung Kasih Peringatan

Sistem yang diwajibkan Uni Eropa ini bernama Advanced Driver Distraction Warning (ADDW). Cara kerjanya mengandalkan sensor inframerah dan software yang bisa membaca arah pandangan mata serta gerakan kepala pengemudi.

Yang dipantau bukan cuma kondisi mata, tapi juga ke mana pengemudi terlalu lama mengalihkan pandangan.

Misalnya, saat mata terlalu lama menatap panel instrumen, layar infotainment, setir, dasbor, atau konsol tengah.

Kalau pengemudi terus melihat area tersebut lebih dari 6 detik saat mobil melaju di kecepatan 20-50 kph, atau lebih dari 3,5 detik saat kecepatannya di atas itu, mobil bakal langsung mengeluarkan peringatan berupa suara dan tampilan visual.

Supaya gak gampang salah deteksi, sistem ini juga dibekali toleransi sekitar 50 milidetik.

Kenapa Sampai Dibikin Wajib?

Alasannya sederhana, karena pengemudi yang kehilangan fokus masih jadi salah satu penyebab utama kecelakaan.

Komisi Eropa memperkirakan sekitar 10-30 persen kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut terjadi akibat pengemudi terdistraksi.

Kalau aturan ini berjalan sesuai harapan, sistem pemantau pengemudi diyakini bisa membantu menyelamatkan sekitar 25.000 nyawa hingga 2038.

Di Amerika Serikat kondisinya juga gak jauh berbeda. Data National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menunjukkan gangguan konsentrasi menjadi penyebab 16 persen kecelakaan fatal, 21 persen kecelakaan yang menimbulkan korban luka, dan 22 persen dari seluruh kecelakaan lalu lintas.

Dianggap Ganggu dan Bikin Khawatir

Meski tujuannya bagus, teknologi ini ternyata juga menuai pro dan kontra.

Sejumlah pengulas otomotif menilai sistem seperti ini kadang terlalu sensitif. Kedipan mata normal atau gerakan kepala biasa bisa saja dianggap sebagai tanda pengemudi mengantuk. Akibatnya, mobil terus memberikan peringatan meski pengemudi sebenarnya masih fokus.

Selain itu, ada juga yang khawatir harga mobil bakal makin mahal karena harus dibekali perangkat elektronik tambahan.

Yang paling banyak disorot justru soal privasi.

Secara aturan, sistem ADDW seharusnya bekerja dengan konsep closed-loop, artinya data yang dikumpulkan tidak dikirim ke luar kendaraan.

Namun, sejumlah pegiat privasi mempertanyakan apakah semua pabrikan benar-benar menjalankan aturan tersebut.

Laporan Risky Business yang mengutip media Belgia VRT bahkan menyebut Volvo mengakui sistem pemantau pengemudinya memproses data secara real-time melalui server cloud eksternal yang aman.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru, apalagi sebelumnya beberapa pabrikan seperti GM, Hyundai, dan Kia pernah terseret kasus pengumpulan data kebiasaan berkendara konsumen yang kemudian dijual ke broker data dan digunakan perusahaan asuransi untuk menentukan besaran premi.

Bukan Cuma Kamera Pengemudi

Aturan baru Uni Eropa ini ternyata gak cuma mewajibkan Driver Monitoring System.

Semua mobil penumpang dan van baru juga harus dibekali Autonomous Emergency Braking (AEB) yang lebih pintar, termasuk mampu mendeteksi pejalan kaki dan pesepeda.

Selain itu, pabrikan juga diwajibkan meningkatkan visibilitas ke depan, memperluas area kaca keselamatan untuk melindungi pejalan kaki saat tabrakan, hingga melakukan pengujian tambahan pada ban yang sudah aus.

Dengan aturan ini, Uni Eropa berharap keselamatan di jalan bisa meningkat. Di sisi lain, tantangan soal akurasi sistem dan perlindungan data pribadi juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Continue Reading

Blog

Gen Z Gak Dipercaya Ganti Ban Mobil? Ada Surveinya Lho!

Published

on

By

Pernah kebayang gak, lagi apes ban mobil kempis di pinggir jalan, terus minta bantuan orang sekitar? Nah, kalau kejadiannya di Amerika Serikat, sepertinya Gen Z bukan orang pertama yang bakal dipercaya buat ganti ban.

Hal itu terungkap dari survei global terbaru yang dilakukan Autotrader UK. Hasilnya cukup mengejutkan, karena gak ada satu pun responden di Amerika yang memilih pengemudi Gen Z sebagai sosok paling bisa diandalkan buat ganti ban mobil.

Survei ini melibatkan lebih dari 3.000 pengemudi dari 15 negara. Di Amerika Serikat sendiri, mayoritas responden justru lebih percaya sama Generasi X alias mereka yang sekarang berusia sekitar 46 sampai 61 tahun.

Sebanyak 67 persen responden memilih Gen X sebagai generasi yang paling jago kalau urusannya perbaikan darurat di pinggir jalan, termasuk ganti ban. Sementara Gen Z? Skornya nol persen.

Ternyata bukan cuma di Amerika. Responden di Inggris, Portugal, dan Australia juga punya pandangan yang sama. Gen Z lagi-lagi gak mendapat satu pun suara sebagai generasi yang dipercaya buat urusan ganti ban.

Kalau dilihat secara global, dukungan buat Gen Z juga cuma 2 persen. Sebaliknya, Gen X masih jadi juaranya dengan 57 persen responden menganggap mereka paling bisa diandalkan.

Cek ban sebelum mudik penting

Gen Z Sebenarnya Pede

Meski banyak orang masih ragu, Gen Z sendiri ternyata cukup yakin sama kemampuan mereka.

Di Inggris, sekitar 43 persen pengemudi muda merasa sanggup ganti ban sendiri, walaupun sekarang makin sedikit mobil yang masih dibekali ban cadangan. Sementara di Amerika, ada 29 persen responden Gen Z yang juga yakin bisa melakukannya.

Jadi masalahnya bukan karena mereka gak pede, tapi lebih ke orang lain yang belum yakin sama kemampuan mereka.

Belajar dari TikTok Sampai AI

Survei ini juga memperlihatkan kalau cara belajar Gen Z memang beda dibanding generasi sebelumnya.

Daripada tanya bengkel atau baca buku panduan, mereka lebih sering cari tutorial lewat media sosial, YouTube, TikTok, sampai memanfaatkan AI buat mencari solusi kalau mobil bermasalah.

Menariknya, Amerika Serikat jadi pengecualian. Di sana, justru generasi Milenial yang paling sering mencari tips otomotif lewat media sosial. Sementara pengguna AI terbanyak untuk urusan perbaikan mobil malah datang dari Generasi X.

Yang bikin hasil survei ini makin menarik, citra Gen Z ternyata gak seburuk anggapan banyak orang.

Dari para pengemudi muda yang pernah mencoba memperbaiki mobil sendiri, lebih dari 80 persen mengaku berhasil tanpa bikin kerusakan jadi lebih parah. Artinya, usaha mereka cukup berhasil.

Cuma ada satu pengecualian, yaitu di Afrika Selatan. Hampir separuh responden Gen Z di sana mengaku justru bikin masalah mobil makin parah saat mencoba memperbaikinya sendiri.

Continue Reading

Blog

Kenapa Jalan Pelan di Lajur Kanan Bikin Emosi Pengendara?

Published

on

By

Kalau sering lewat tol, pasti pernah ketemu mobil yang santai banget jalan di lajur kanan.

Kecepatannya cuma 70-80 km per jam, padahal lajur kiri kosong. Di belakangnya, antrean mobil mulai mengular. Ada yang kasih lampu dim, ada yang klakson sebentar, bahkan ada yang akhirnya menyalip dari kiri.

Kelihatannya sepele, tapi kebiasaan ini ternyata bisa bikin masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar bikin orang di belakang kesal.

Lajur Kanan Itu Bukan Jalur Santai

Masih banyak yang menganggap semua lajur di jalan tol punya fungsi yang sama. Padahal gak begitu.

Lajur kanan dibuat sebagai lajur untuk mendahului. Jadi setelah selesai menyalip kendaraan di kiri, pengemudi sebaiknya kembali lagi ke lajur semula.

Kalau terus bertahan di kanan padahal gak lagi menyalip, arus lalu lintas jadi terganggu.

Terus Kenapa Banyak Orang Tetap Bertahan di Kanan?

Menariknya, penyebabnya sering bukan karena sengaja. Ada beberapa alasan yang cukup sering terjadi.

Pertama, merasa sudah cukup cepat. Misalnya pengemudi sudah melaju 100 km per jam.

Dalam pikirannya, “Kan udah sesuai batas kecepatan, ngapain harus minggir?”

Padahal persoalannya bukan soal siapa yang paling cepat, tapi menjaga arus kendaraan tetap lancar.

Kalau ada kendaraan yang memang ingin mendahului, lebih baik beri jalan. Setelah itu baru kembali ke lajur kanan kalau memang diperlukan.

Kedua, takut pindah jalur

Ada juga yang merasa lebih nyaman tetap di kanan karena malas pindah-pindah lajur. Apalagi kalau lajur kiri dipenuhi kendaraan yang kecepatannya lebih rendah. Akhirnya mereka memilih bertahan di kanan selama mungkin.

Padahal keputusan itu justru bikin kendaraan lain harus mengerem atau mencari celah untuk menyalip.

Ketiga, kurang paham fungsi lajur

Ini juga masih sering terjadi, terutama pengemudi yang baru mulai rutin menggunakan jalan tol. Mereka mengira lajur kanan hanyalah lajur dengan kondisi jalan yang lebih kosong.

Padahal fungsi utamanya memang untuk mendahului, bukan dipakai cruising terus-menerus.

Efek Domino yang Jarang Disadari

Saat satu mobil melaju pelan di kanan, kendaraan di belakang mulai mengurangi kecepatan. Mobil berikutnya ikut mengerem. Yang di belakangnya lagi juga ikut melambat.

Fenomena ini disebut shockwave traffic, yaitu perlambatan yang menyebar ke belakang layaknya gelombang. Akibatnya, kemacetan bisa muncul tanpa ada kecelakaan atau penyempitan jalan.

Masalah lainnya adalah faktor psikologis. Pengemudi yang merasa terhalang biasanya jadi lebih gampang emosi.

Ada yang mulai membuntuti kendaraan depan terlalu dekat. Ada yang berkali-kali memainkan lampu jauh. Yang paling berbahaya, ada juga yang nekat menyalip dari kiri dengan kecepatan tinggi.

Padahal manuver seperti ini punya risiko kecelakaan yang jauh lebih besar.

Jadi, kalau memang sudah selesai menyalip, pindah lagi ke lajur kiri. Selain bikin arus lalu lintas lebih lancar, kebiasaan sederhana ini juga mengurangi potensi konflik antar-pengemudi di jalan.

Pada akhirnya, berkendara bukan cuma soal seberapa cepat kita sampai tujuan. Tapi juga soal bagaimana semua pengguna jalan bisa sama-sama merasa aman dan nyaman selama perjalanan.

Continue Reading

Trending