Blog
Kenapa Lampu Sein Mobil Eropa Sering Beda Arah?

Pernah gak sih bingung waktu naik mobil Eropa terus malah salah nyalain wiper pas mau belok?
Ini salah satu “culture shock” paling umum buat orang yang baru pindah dari mobil Jepang ke mobil Eropa. Soalnya posisi tuas sein dan wiper memang sering kebalik.
Kalau mobil Jepang umumnya tuas sein ada di kanan, mobil-mobil Eropa justru banyak yang naruh sein di kiri. Akibatnya, tangan yang sudah refleks kadang langsung salah gerak.
Tapi sebenarnya bukan karena pabrikan Eropa mau bikin ribet.
Awalnya, posisi sein di kiri dibuat supaya tangan kanan pengemudi tetap fokus di setir atau perpindahan gigi. Dulu mayoritas mobil Eropa masih manual, jadi logikanya tangan kanan dipakai oper gigi, sementara tangan kiri mengoperasikan sein.

Makanya kebiasaan itu terus terbawa sampai sekarang, bahkan di mobil modern yang sudah otomatis sekalipun.
Lucunya lagi, aturan ini gak benar-benar baku. Beberapa mobil Eropa ada juga yang posisi seinsnya “normal” buat orang Indonesia. Tapi mayoritas memang masih mempertahankan layout khas mereka.
Karena itu banyak orang bilang adaptasi paling susah saat pertama kali pakai mobil Eropa bukan tenaga atau fiturnya, tapi justru soal sein dan wiper.
Belok dikit, eh yang nyala malah wiper. Malu sendiri jadinya.
Blog
Benarkah Baterai Mobil Listrik Harus Diganti Setelah 8 Tahun?

Salah satu hal yang masih bikin calon pembeli mobil listrik ragu adalah soal usia baterai. Apalagi, biaya penggantian baterai kerap dianggap mahal sehingga muncul anggapan bahwa pemilik mobil listrik harus menyiapkan dana besar setelah kendaraan berusia 8 tahun.
Anggapan ini gak sepenuhnya tepat. Pasalnya, usia garansi baterai tidak otomatis menjadi batas usia pakai baterai tersebut.
Baterai mobil listrik memang bisa mengalami penurunan kemampuan menyimpan energi seiring waktu dan pemakaian. Tapi, bukan berarti baterai harus langsung diganti begitu melewati usia tertentu.
Garansi 8 Tahun Bukan Berarti Baterai Kedaluwarsa
Angka 8 tahun cukup sering muncul ketika membahas garansi baterai mobil listrik. Namun, ketentuan garansi setiap merek dan model kendaraan bisa berbeda.
Garansi merupakan perlindungan dari pabrikan selama periode dan kondisi tertentu. Cakupannya bisa meliputi kerusakan baterai atau penurunan kapasitas hingga batas yang ditentukan dalam ketentuan garansi.
Artinya, ketika masa garansi berakhir, baterai tidak otomatis rusak atau kehilangan kemampuannya untuk menyimpan energi.
Baterai yang sudah berusia lebih dari 8 tahun masih bisa digunakan selama kondisinya layak dan mampu memenuhi kebutuhan berkendara pemiliknya.
Sebaliknya, kondisi baterai juga perlu diperhatikan meski usia kendaraan belum mencapai 8 tahun, terutama jika muncul gejala yang tidak biasa.
Karena itu, pemilik mobil listrik sebaiknya memeriksa ketentuan garansi sesuai model kendaraan, termasuk durasi, batas kilometer, dan ketentuan kapasitas baterai yang ditanggung.

Kenapa Kapasitas Baterai Bisa Menurun?
Sama seperti baterai pada perangkat elektronik, baterai mobil listrik juga mengalami degradasi atau penurunan kemampuan menyimpan energi.
Seiring waktu dan siklus pengisian daya, kapasitas energi yang bisa disimpan baterai dapat berkurang dibandingkan ketika masih baru.
Dampaknya, jarak tempuh mobil dalam sekali pengisian daya bisa ikut menurun. Meski begitu, perubahan jarak tempuh gak selalu disebabkan oleh kondisi baterai karena suhu lingkungan, kecepatan berkendara, penggunaan AC, kondisi jalan, dan gaya mengemudi juga berpengaruh.
Kecepatan penurunan kapasitas baterai pun gak sama pada setiap mobil. Faktor yang memengaruhinya antara lain jenis dan desain baterai, suhu operasional, pola pengisian daya, serta intensitas pemakaian kendaraan.
Jadi, gak tepat jika semua baterai mobil listrik dianggap memiliki usia pakai yang sama.
Kapan Baterai Mobil Listrik Perlu Diganti?
Penggantian baterai umumnya dipertimbangkan ketika kondisinya sudah tidak memenuhi kebutuhan atau mengalami kerusakan yang memerlukan penggantian.
Misalnya, kapasitas baterai menurun cukup jauh sehingga jarak tempuh tidak lagi memadai bagi pemiliknya. Kondisi lain yang perlu diperiksa adalah munculnya peringatan sistem baterai atau gangguan yang terdeteksi saat pemeriksaan di bengkel.
Namun, penurunan kapasitas tidak selalu berarti seluruh baterai harus diganti. Tindakan perbaikan bergantung pada desain baterai, hasil diagnosis, ketersediaan komponen, dan rekomendasi pabrikan.
Pada kendaraan tertentu, teknisi mungkin dapat memperbaiki bagian yang bermasalah atau mengganti komponen tertentu. Sementara itu, kasus lain memang membutuhkan penggantian unit baterai.
Karena biaya dan prosedurnya bisa berbeda, pemeriksaan di bengkel resmi atau teknisi yang memiliki kompetensi menangani kendaraan listrik menjadi langkah penting sebelum memutuskan penggantian.
Bagaimana Cara Membuat Baterai Lebih Awet?
Ada beberapa kebiasaan yang bisa membantu menjaga kondisi baterai mobil listrik.
Pertama, ikuti rekomendasi pengisian daya dari pabrikan. Batas pengisian harian dan kebutuhan mengisi hingga 100 persen bisa berbeda, tergantung model dan jenis baterainya.
Kedua, hindari membiarkan baterai berada dalam kondisi sangat rendah terlalu lama. Jika mobil akan ditinggal dalam waktu lama, ikuti panduan penyimpanan yang diberikan pabrikan.
Ketiga, gunakan pengisian daya cepat atau fast charging sesuai kebutuhan dan petunjuk kendaraan. Pengisian cepat tidak otomatis membuat baterai rusak, tetapi pengaruhnya terhadap degradasi bergantung pada teknologi baterai, suhu, sistem pengelolaan termal, dan pola pemakaian.
Terakhir, lakukan pemeriksaan berkala sesuai jadwal perawatan. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi gangguan dan mengetahui kondisi baterai berdasarkan sistem diagnostik kendaraan.
Jadi, Baterai Mobil Listrik Harus Diganti Setelah 8 Tahun?
Jawabannya, ya gak selalu. Angka 8 tahun sering berkaitan dengan masa garansi baterai, bukan batas pasti usia pakainya.
Baterai mobil listrik bisa tetap digunakan setelah masa garansi berakhir selama kondisinya masih layak. Waktu penggantian bergantung pada kesehatan baterai, kebutuhan berkendara, hasil pemeriksaan, serta ketentuan pabrikan.
Jadi, calon pembeli mobil listrik gak perlu langsung menganggap baterai harus diganti begitu kendaraan berusia 8 tahun. Yang lebih penting adalah memahami garansi, melakukan perawatan sesuai petunjuk, dan memeriksa kondisi baterai secara berkala.
Blog
Mobil Hybrid Gak Pernah Dicas, Kok Baterainya Bisa Terisi?

Kalau mobil listrik harus diisi daya lewat charger, mobil hybrid punya cara berbeda untuk mengisi baterainya. Bahkan, ada jenis mobil hybrid yang gak perlu dicolok ke sumber listrik sama sekali.
Meski begitu, bukan berarti baterainya bisa terisi sendiri tanpa sumber energi. Ada sistem yang bekerja untuk mengisi daya baterai selama mobil digunakan.
Terus, dari mana listriknya berasal?
Mengandalkan Mesin Bensin dan Pengereman
Pada mobil hybrid konvensional atau full hybrid, baterai bisa mendapatkan energi dari dua sumber utama, yaitu mesin bensin dan sistem pengereman regeneratif (regenerative braking).
Sistem pengereman regeneratif memanfaatkan energi kinetik kendaraan saat melambat atau mengerem. Energi yang biasanya terbuang sebagai panas melalui pengereman konvensional ini diubah menjadi energi listrik oleh motor listrik, lalu disalurkan untuk mengisi baterai.
Itulah sebabnya, ketika mobil hybrid melambat atau pengemudi menginjak pedal rem, sistemnya bisa sekaligus membantu mengisi daya baterai.
Selain itu, mesin bensin juga dapat membantu mengisi baterai melalui generator atau motor-generator, tergantung desain sistem hybrid yang digunakan.
Energi tersebut nantinya dipakai untuk menggerakkan motor listrik, membantu akselerasi, atau menjalankan sejumlah sistem kendaraan.
Kenapa Baterainya Bisa Terisi Saat Mobil Jalan?
Mobil hybrid memiliki sistem yang mengatur kapan mesin bensin dan motor listrik bekerja. Pengaturan ini dilakukan berdasarkan sejumlah kondisi, seperti kecepatan kendaraan, kebutuhan tenaga, serta tingkat pengisian baterai.
Saat mobil melaju pelan atau menghadapi kemacetan, motor listrik bisa mengambil peran lebih besar dalam menggerakkan kendaraan, selama kondisi baterai dan kebutuhan tenaga memungkinkan.
Ketika mobil melambat, sistem pengereman regeneratif dapat memanfaatkan energi untuk mengisi baterai. Sementara itu, mesin bensin bisa menyala ketika dibutuhkan untuk memberikan tenaga atau membantu menghasilkan listrik.
Jadi, baterai mobil hybrid gak harus menunggu diisi melalui kabel. Energi yang tersedia selama mobil digunakan dapat dimanfaatkan kembali oleh sistem kendaraan.
Meski begitu, proses pengisian baterai tidak selalu berlangsung setiap saat. Sistem akan menyesuaikan pengisian dan penggunaan energi berdasarkan kondisi berkendara.

Mobil Hybrid Beda dengan Plug-in Hybrid
Perlu diketahui, gak semua mobil hybrid punya sistem pengisian daya yang sama.
Mobil hybrid konvensional atau HEV (Hybrid Electric Vehicle) umumnya tidak perlu dicolok ke sumber listrik eksternal. Baterainya diisi melalui pengereman regeneratif dan, pada sistem tertentu, melalui mesin bensin yang menggerakkan generator.
Sementara itu, plug-in hybrid atau PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) punya baterai berkapasitas lebih besar dan bisa diisi melalui sumber listrik eksternal, seperti charger di rumah atau stasiun pengisian yang kompatibel.
PHEV juga dapat memanfaatkan pengereman regeneratif dan sistem pembangkit listrik dari mesin, tergantung desain kendaraannya.
Karena kapasitas baterainya lebih besar, PHEV umumnya bisa menempuh jarak lebih jauh dengan tenaga listrik saja dibandingkan HEV. Namun, jarak tempuh dan cara kerja setiap model tetap bergantung pada spesifikasi kendaraan.
Jadi, Gak Perlu Takut Baterai Hybrid Kehabisan Daya?
Pada mobil hybrid konvensional, sistem kendaraan dirancang untuk mengatur tingkat pengisian baterai secara otomatis selama mobil digunakan.
Ketika daya baterai menurun, sistem bisa menyesuaikan kerja mesin bensin dan motor-generator untuk membantu mengisi daya. Pengemudi pun gak perlu mencari tempat pengisian listrik khusus seperti pemilik mobil listrik murni.
Namun, bukan berarti kondisi baterai bisa diabaikan. Baterai tetap memiliki usia pakai dan bisa mengalami penurunan performa seiring waktu.
Karena itu, pemilik mobil hybrid tetap perlu mengikuti jadwal perawatan sesuai rekomendasi pabrikan.
Intinya, mobil hybrid konvensional gak perlu dicas dari luar karena memanfaatkan energi dari mesin bensin dan pengereman regeneratif untuk mengisi baterainya. Jadi, bukan baterainya yang bisa menghasilkan listrik sendiri, melainkan sistem kendaraan yang mengubah dan mengelola energi selama mobil berjalan.
Blog
Benar Gak Sih Bensin Oktan Tinggi Bikin Mobil Lebih Irit?

Pernah merasa mobil bakal lebih irit kalau diisi bensin dengan angka oktan lebih tinggi? Misalnya, biasanya pakai RON 90, lalu beralih ke RON 92 atau RON 98 dengan harapan konsumsi BBM jadi lebih hemat.
Anggapan ini cukup sering ditemui di kalangan pemilik mobil. Apalagi, bensin dengan angka oktan tinggi kerap dianggap lebih bagus untuk mesin.
Padahal, bensin beroktan tinggi gak selalu bikin mobil lebih irit. Efeknya bergantung pada kebutuhan mesin dan spesifikasi kendaraan yang digunakan.
Apa Bedanya Bensin RON 90, 92, dan 98?
Sebelum membahas pengaruhnya terhadap konsumsi BBM, perlu dipahami dulu arti angka oktan atau Research Octane Number (RON).
RON menunjukkan kemampuan bensin menahan pembakaran yang tidak terkendali atau knocking di dalam mesin. Semakin tinggi angka RON, semakin besar ketahanan bahan bakar terhadap gejala tersebut.
Knocking bisa terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar secara tidak semestinya di ruang bakar. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi mengganggu performa dan merusak komponen mesin.
Karena itu, mesin dengan rasio kompresi tinggi atau yang menggunakan turbocharger bisa membutuhkan bensin dengan angka oktan lebih tinggi.
Namun, bukan berarti semua mobil otomatis lebih irit saat menggunakan bensin beroktan tinggi.
Kenapa Bensin Oktan Tinggi Belum Tentu Lebih Irit?
Setiap mesin dirancang dengan kebutuhan bahan bakar tertentu. Jika mobil memang membutuhkan RON tinggi, penggunaan bensin yang sesuai bisa membantu mesin bekerja sesuai rancangan pabrikan.
Sebaliknya, jika mesin dirancang untuk menggunakan RON lebih rendah, beralih ke bensin dengan angka oktan lebih tinggi belum tentu memberikan peningkatan efisiensi yang berarti.
Sebagai contoh, mobil yang sudah dirancang bekerja optimal dengan RON 92 belum tentu menjadi lebih irit ketika menggunakan RON 98.
Artinya, pengendara bisa saja membayar lebih mahal untuk setiap liter bensin tanpa mendapatkan penghematan konsumsi BBM yang sebanding.
Hasilnya juga bisa berbeda pada mobil yang merekomendasikan RON tinggi, tetapi tidak mewajibkannya. Dalam kondisi tertentu, penggunaan RON lebih tinggi mungkin memberikan sedikit peningkatan efisiensi atau performa. Namun, manfaat tersebut belum tentu cukup untuk menutupi selisih harga bahan bakar.

Jangan Cuma Lihat Angka Oktan
Selain angka oktan, konsumsi BBM juga dipengaruhi banyak faktor lain. Gaya berkendara, kondisi lalu lintas, tekanan ban, beban kendaraan, hingga kondisi mesin bisa memengaruhi seberapa banyak bensin yang digunakan.
Misalnya, mobil yang sering dipacu dengan akselerasi mendadak atau terjebak macet bisa lebih boros dibandingkan mobil yang dikendarai dengan halus dalam kondisi lalu lintas lancar.
Jadi, kalau ingin menghemat BBM, mengganti bensin ke RON yang lebih tinggi bukan satu-satunya hal yang perlu dilakukan.
Pengendara juga perlu memastikan tekanan ban sesuai rekomendasi, melakukan perawatan rutin, dan menghindari akselerasi serta pengereman yang berlebihan.
Jadi, Harus Pakai Bensin Oktan Berapa?
Cara paling aman adalah mengikuti rekomendasi bahan bakar dari pabrikan kendaraan. Informasi ini biasanya tersedia di buku manual atau label di sekitar tutup tangki bensin.
Jangan sengaja menggunakan bensin dengan RON di bawah ketentuan hanya karena harganya lebih murah. Pada mesin yang membutuhkan oktan lebih tinggi, bahan bakar yang tidak sesuai berisiko memicu knocking, menurunkan performa, dan dalam kondisi tertentu menyebabkan kerusakan.
Sebaliknya, gak perlu buru-buru memilih bensin dengan RON paling tinggi jika mesin kendaraan memang tidak membutuhkannya.
Kesimpulannya, bensin oktan tinggi bukan jaminan mobil lebih irit. Yang paling penting adalah memilih bahan bakar sesuai spesifikasi mesin agar performa tetap optimal tanpa mengeluarkan biaya BBM yang gak perlu.
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News2 years ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News3 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News3 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
News2 years agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
Blog2 years ago4 Mobil SUV Termahal di Dunia, Kepoin dulu Beli Nanti!
News2 years agoBus Termewah di Dunia, Fasilitasnya Kaya Hotel Bintang Lima!

















