Connect with us

Blog

Jangan Kaget! Mobil Baru Kini Bisa Tahu Kamu Lagi Melamun

Published

on

Kalau selama ini mobil cuma punya kamera buat parkir atau ADAS, sekarang ceritanya beda. Mulai 7 Juli 2026, semua mobil penumpang baru yang dijual di Uni Eropa wajib dibekali Driver Monitoring System (DMS) atau sistem yang bisa memantau kondisi pengemudi lewat pergerakan mata dan kepala.

Sebenarnya teknologi ini bukan barang baru. Beberapa merek mobil sudah lebih dulu memakainya buat mendeteksi pengemudi yang mulai ngantuk atau kehilangan fokus. Bedanya, sekarang fitur tersebut bukan lagi pelengkap, melainkan jadi syarat wajib untuk semua mobil baru yang dipasarkan di Eropa.

Bahkan, aturan serupa juga diprediksi bakal menyusul di Amerika Serikat mulai 2027.

Mata Terlalu Lama Lihat Layar? Mobil Langsung Kasih Peringatan

Sistem yang diwajibkan Uni Eropa ini bernama Advanced Driver Distraction Warning (ADDW). Cara kerjanya mengandalkan sensor inframerah dan software yang bisa membaca arah pandangan mata serta gerakan kepala pengemudi.

Yang dipantau bukan cuma kondisi mata, tapi juga ke mana pengemudi terlalu lama mengalihkan pandangan.

Misalnya, saat mata terlalu lama menatap panel instrumen, layar infotainment, setir, dasbor, atau konsol tengah.

Kalau pengemudi terus melihat area tersebut lebih dari 6 detik saat mobil melaju di kecepatan 20-50 kph, atau lebih dari 3,5 detik saat kecepatannya di atas itu, mobil bakal langsung mengeluarkan peringatan berupa suara dan tampilan visual.

Supaya gak gampang salah deteksi, sistem ini juga dibekali toleransi sekitar 50 milidetik.

Kenapa Sampai Dibikin Wajib?

Alasannya sederhana, karena pengemudi yang kehilangan fokus masih jadi salah satu penyebab utama kecelakaan.

Komisi Eropa memperkirakan sekitar 10-30 persen kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut terjadi akibat pengemudi terdistraksi.

Kalau aturan ini berjalan sesuai harapan, sistem pemantau pengemudi diyakini bisa membantu menyelamatkan sekitar 25.000 nyawa hingga 2038.

Di Amerika Serikat kondisinya juga gak jauh berbeda. Data National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menunjukkan gangguan konsentrasi menjadi penyebab 16 persen kecelakaan fatal, 21 persen kecelakaan yang menimbulkan korban luka, dan 22 persen dari seluruh kecelakaan lalu lintas.

Dianggap Ganggu dan Bikin Khawatir

Meski tujuannya bagus, teknologi ini ternyata juga menuai pro dan kontra.

Sejumlah pengulas otomotif menilai sistem seperti ini kadang terlalu sensitif. Kedipan mata normal atau gerakan kepala biasa bisa saja dianggap sebagai tanda pengemudi mengantuk. Akibatnya, mobil terus memberikan peringatan meski pengemudi sebenarnya masih fokus.

Selain itu, ada juga yang khawatir harga mobil bakal makin mahal karena harus dibekali perangkat elektronik tambahan.

Yang paling banyak disorot justru soal privasi.

Secara aturan, sistem ADDW seharusnya bekerja dengan konsep closed-loop, artinya data yang dikumpulkan tidak dikirim ke luar kendaraan.

Namun, sejumlah pegiat privasi mempertanyakan apakah semua pabrikan benar-benar menjalankan aturan tersebut.

Laporan Risky Business yang mengutip media Belgia VRT bahkan menyebut Volvo mengakui sistem pemantau pengemudinya memproses data secara real-time melalui server cloud eksternal yang aman.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru, apalagi sebelumnya beberapa pabrikan seperti GM, Hyundai, dan Kia pernah terseret kasus pengumpulan data kebiasaan berkendara konsumen yang kemudian dijual ke broker data dan digunakan perusahaan asuransi untuk menentukan besaran premi.

Bukan Cuma Kamera Pengemudi

Aturan baru Uni Eropa ini ternyata gak cuma mewajibkan Driver Monitoring System.

Semua mobil penumpang dan van baru juga harus dibekali Autonomous Emergency Braking (AEB) yang lebih pintar, termasuk mampu mendeteksi pejalan kaki dan pesepeda.

Selain itu, pabrikan juga diwajibkan meningkatkan visibilitas ke depan, memperluas area kaca keselamatan untuk melindungi pejalan kaki saat tabrakan, hingga melakukan pengujian tambahan pada ban yang sudah aus.

Dengan aturan ini, Uni Eropa berharap keselamatan di jalan bisa meningkat. Di sisi lain, tantangan soal akurasi sistem dan perlindungan data pribadi juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

AC Mobil Masih Nyala Saat Mesin Dimatikan, Bahaya Gak?

Published

on

By

ac mobil

Buat yang terbiasa nyetir mobil, mungkin pernah dengar saran untuk mematikan AC terlebih dahulu sebelum mematikan mesin. Katanya, kebiasaan ini bisa bikin aki lebih awet dan mesin gak cepat rusak.

Makanya, sebagian pengemudi punya urutan tersendiri saat mau memarkirkan mobil. AC dimatikan dulu, baru mesin menyusul.

Tapi, memangnya AC mobil harus dimatikan sebelum mesin? Atau kebiasaan ini sebenarnya gak terlalu berpengaruh pada mobil zaman sekarang?

Jawabannya, mematikan AC sebelum mesin bukan keharusan pada kebanyakan mobil modern. Sistem kelistrikan dan pengaturan AC pada mobil masa kini umumnya sudah dirancang untuk menangani pengoperasian normal.

Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu diketahui soal kebiasaan ini.

Kenapa Banyak yang Menyarankan AC Dimatikan Dulu?

Pada mobil konvensional, kompresor AC umumnya digerakkan oleh mesin melalui sabuk. Ketika AC dinyalakan, kompresor membutuhkan tenaga tambahan dari mesin.

Karena itu, ada anggapan bahwa mematikan AC sebelum mesin bisa mengurangi beban mesin ketika mobil dinyalakan kembali.

Sebagian pengemudi juga mengaitkan kebiasaan ini dengan usia aki. Apalagi, saat mesin mati, alternator tidak lagi mengisi daya aki.

Namun, pengaruhnya gak sesederhana itu. Saat mesin dinyalakan, kompresor AC pada banyak mobil modern tidak selalu langsung bekerja dengan beban penuh. Sistem kendaraan bisa mengatur kerja AC sesuai kebutuhan dan kondisi mesin.

Jadi, mematikan AC terlebih dahulu bukan jaminan aki lebih awet atau mesin lebih tahan lama.

GPS tracker di mobil

Kalau AC Dibiarkan Menyala, Apa Bisa Merusak Mobil?

Pada kebanyakan mobil modern, membiarkan pengaturan AC tetap menyala saat mesin dimatikan umumnya tidak menjadi masalah.

Ketika mesin dinyalakan kembali, sistem kendaraan akan mengatur kerja komponen sesuai rancangan masing-masing. Beberapa mobil bahkan memiliki pengaturan yang mengelola beban kelistrikan ketika proses menghidupkan mesin berlangsung.

Namun, perilaku sistem AC bisa berbeda tergantung model dan teknologi mobil. Karena itu, petunjuk penggunaan dari pabrikan tetap menjadi acuan utama.

Kalau buku manual kendaraan menyarankan prosedur tertentu sebelum mesin dimatikan, sebaiknya ikuti petunjuk tersebut.

Terus, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Kalau ingin membiasakan diri mematikan AC sebelum mesin, sebenarnya gak masalah. Kebiasaan ini bisa membantu pengemudi lebih teratur saat memarkirkan mobil.

Namun, jangan menganggapnya sebagai cara wajib untuk menjaga aki atau mesin tetap awet.

Hal yang lebih penting adalah memastikan aki dalam kondisi baik, melakukan perawatan berkala, dan menggunakan komponen sesuai rekomendasi pabrikan.

Selain itu, kalau AC mulai terasa kurang dingin, mengeluarkan bau tidak biasa, atau terdengar suara yang berbeda dari biasanya, sebaiknya periksa sistem AC di bengkel.

Jadi, perlu mematikan AC sebelum mesin mobil? Pada kebanyakan mobil modern, jawabannya gak wajib. Yang terpenting, pahami karakter mobil yang digunakan dan ikuti petunjuk dari pabrikannya.

Continue Reading

Blog

Sudah Tahu Belum Alasan Tombol Hazard Mobil Pakai Segitiga Merah?

Published

on

By

Di antara banyaknya tombol di mobil dengan simbol yang berbeda-beda, ada satu tombol yang bentuknya cukup mencolok, yakni tombol hazard dengan gambar segitiga merah.

Begitu ditekan, lampu sein kiri dan kanan langsung berkedip bersamaan. Fitur ini biasanya digunakan ketika mobil mengalami kondisi darurat atau perlu memberi peringatan kepada pengguna jalan lain.

Tapi, pernah kepikiran gak kenapa simbol pada tombol hazard berbentuk segitiga? Kenapa bukan lingkaran atau persegi seperti beberapa tombol lain di mobil?

Ternyata, simbol segitiga memang identik dengan tanda peringatan. Bentuk ini digunakan untuk membantu orang mengenali bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Segitiga Identik dengan Tanda Peringatan

Dalam berbagai rambu lalu lintas, bentuk segitiga sering digunakan untuk menyampaikan peringatan kepada pengguna jalan. Misalnya, rambu yang memberi tahu adanya tikungan, persimpangan, atau potensi bahaya di depan.

Bentuk serupa juga digunakan pada tombol hazard untuk menandai fungsi peringatan pada kendaraan.

Simbol segitiga merah membuat tombol ini lebih mudah dikenali di antara tombol-tombol lain di dasbor. Apalagi, hazard merupakan fitur yang perlu ditemukan dengan cepat ketika pengemudi menghadapi situasi tertentu.

Meski begitu, bentuk segitiga pada tombol hazard bukan berarti semua simbol segitiga memiliki arti yang sama. Maknanya tetap bergantung pada konteks penggunaannya.

Kenapa Warnanya Merah?

Selain bentuk segitiga, warna merah juga membuat tombol hazard mudah terlihat.

Merah sering digunakan untuk menandai kondisi yang membutuhkan perhatian atau tindakan segera. Pada tombol hazard, warna ini membantu membedakannya dari tombol pengaturan lain, seperti AC atau sistem audio.

Kombinasi simbol segitiga dan warna merah membuat fungsi tombol lebih mudah dikenali, bahkan oleh pengemudi yang baru menggunakan mobil tersebut.

Kapan Tombol Hazard Sebaiknya Digunakan?

Tombol hazard berfungsi menyalakan lampu sein kiri dan kanan secara bersamaan. Lampu yang berkedip itu menjadi tanda visual bagi pengguna jalan lain bahwa kendaraan sedang memberikan peringatan.

Fitur ini bisa digunakan ketika kendaraan mengalami keadaan darurat, misalnya mogok di jalan atau berhenti karena kondisi yang membahayakan.

Tapi, bukan berarti tombol hazard perlu dinyalakan setiap kali mobil melambat atau saat hujan turun. Ketika berkendara dalam kondisi hujan biasa, pengemudi tetap perlu menggunakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan dan menjaga jarak aman.

Penggunaan hazard saat mobil terus bergerak juga perlu mempertimbangkan situasi karena lampu sein yang berkedip bersamaan bisa membuat arah belok kendaraan lebih sulit diketahui pengemudi lain.

Jadi, tombol hazard dengan simbol segitiga merah bukan sekadar desain khas di dasbor. Bentuk dan warnanya membantu pengemudi mengenali fungsi peringatan, sedangkan penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi di jalan.

Continue Reading

Blog

Kenapa Pedal Gas di Kanan dan Rem di Tengah?

Published

on

By

Buat yang sering nyetir mobil, posisi pedal gas di kanan dan rem di sebelah kirinya mungkin sudah terasa biasa. Tinggal injak gas buat jalan, lalu pindahkan kaki ke rem saat perlu mengurangi kecepatan.

Namun, pernah kepikiran gak kenapa susunan pedal mobil dibuat seperti itu? Kenapa pedal gas gak ditaruh di kiri, sementara rem di kanan?

Ternyata, posisi pedal bukan asal pasang. Susunannya mempertimbangkan kemudahan pengoperasian, kebiasaan pengemudi, dan keselamatan saat berkendara.

Pedal Gas di Kanan, Rem di Sebelahnya

Pada mobil yang umum digunakan saat ini, pedal gas berada di sisi paling kanan. Sementara itu, pedal rem ditempatkan di sebelah kirinya.

Keduanya dibuat berdekatan supaya pengemudi bisa memindahkan kaki kanan dari pedal gas ke rem dengan cepat saat dibutuhkan.

Ketika mobil melaju, kaki kanan digunakan untuk mengatur kecepatan lewat pedal gas. Saat harus mengurangi kecepatan atau berhenti, kaki tersebut dipindahkan ke pedal rem.

Penempatan seperti ini membuat pengemudi gak perlu memindahkan kaki terlalu jauh untuk beralih dari akselerasi ke pengereman.

Kenapa Gak Pakai Kaki Kiri untuk Rem?

Pada mobil manual, kaki kiri punya tugas tersendiri, yaitu mengoperasikan pedal kopling. Karena itu, kaki kanan digunakan untuk pedal gas dan rem.

Sementara pada mobil matik, gak ada pedal kopling yang perlu diinjak. Meski begitu, pengemudi umumnya tetap menggunakan kaki kanan untuk mengoperasikan gas dan rem, sedangkan kaki kiri beristirahat di area pijakan kaki.

Kebiasaan ini membantu mengurangi risiko kedua pedal diinjak bersamaan secara tidak sengaja. Menggunakan kaki kiri untuk mengerem saat kaki kanan masih menginjak gas juga bisa membuat pengoperasian pedal kurang konsisten, terutama bagi pengemudi yang belum terbiasa.

Karena itu, pengemudi mobil matik tetap dianjurkan menggunakan kaki kanan untuk gas dan rem, bukan membagi tugas kedua pedal ke kaki yang berbeda.

Terus, Kenapa Pedal Rem Mobil Manual Ada di Tengah?

Kalau diperhatikan, mobil manual punya tiga pedal. Dari kiri ke kanan, urutannya adalah kopling, rem, lalu gas.

Pedal rem berada di tengah karena posisinya harus bisa dijangkau kaki kanan, sementara kaki kiri digunakan untuk mengoperasikan kopling.

Pada mobil matik, pedal kopling gak ada. Susunannya jadi lebih sederhana, yakni pedal rem di sebelah kiri dan pedal gas di sebelah kanan.

Jadi, meskipun jumlah pedalnya berbeda, prinsip pengoperasian gas dan rem pada kedua jenis mobil tersebut tetap sama: menggunakan kaki kanan.

Bukan Sekadar Soal Kebiasaan

Susunan pedal yang umum digunakan sekarang juga berkaitan dengan standardisasi desain kendaraan dan kebiasaan pengemudi yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Dengan posisi yang konsisten, pengemudi bisa lebih mudah beradaptasi saat berpindah dari satu mobil ke mobil lain, meskipun tetap perlu mengenali karakter pedal masing-masing kendaraan.

Hal yang gak kalah penting, pengemudi perlu menjaga posisi kaki agar gak menginjak pedal gas dan rem secara bersamaan. Saat berkendara, fokus juga harus tetap tertuju pada kondisi jalan, bukan hanya pada pedal.

Jadi, posisi pedal gas di kanan dan rem di sebelah kirinya bukan sekadar desain yang sudah telanjur populer. Susunan tersebut membantu pengemudi mengatur kecepatan dan melakukan pengereman dengan gerakan kaki yang lebih praktis.

Continue Reading

Trending