Connect with us

Blog

Ini Bahaya Abu Vulkanik yang Nempel di Mobil

Published

on

Buat pemilik mobil dampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau adalah satu hal yang gak boleh dianggap sepele.

Sekilas, abu yang menempel di bodi mobil memang terlihat seperti debu biasa. Tapi sebenarnya, abu vulkanik punya kandungan partikel kecil yang cukup kasar dan bisa bikin beberapa bagian mobil bermasalah kalau dibiarkan terlalu lama.

Mulai dari cat mobil yang kusam, filter udara cepat kotor, sampai gangguan pada sistem AC dan rem bisa terjadi kalau abu vulkanik gak segera dibersihkan.

Cat Mobil Bisa Baret Halus Gara-gara Abu Vulkanik

Bagian mobil yang paling gampang kena dampak abu vulkanik tentu saja bodi.

Banyak yang mengira tinggal lap pakai kain sudah cukup buat membersihkan abu yang menempel. Padahal, cara ini justru bisa bikin masalah baru.

Abu vulkanik punya tekstur seperti partikel pasir yang sangat halus. Saat digosok di permukaan cat, partikel tersebut bisa bikin lapisan clear coat tergores.

Awalnya mungkin gak terlalu kelihatan, tapi lama-lama bodi mobil bisa terlihat kusam dan muncul baret halus.

Kalau mobil penuh abu, jangan buru-buru dilap. Lebih aman siram dulu pakai air supaya kotoran terangkat sebelum dicuci.

Filter Udara Mesin Bisa Cepat Kotor

Abu vulkanik juga bisa masuk ke sistem mesin lewat saluran udara.

Filter udara memang bertugas menyaring kotoran sebelum udara masuk ke ruang pembakaran. Tapi kalau sering terkena abu vulkanik, filter bisa lebih cepat kotor.

Akibatnya, aliran udara ke mesin bisa terganggu. Mobil bisa terasa kurang bertenaga, respons mesin menurun, bahkan konsumsi bahan bakar bisa jadi lebih boros.

Buat yang tinggal di daerah dengan paparan abu cukup tinggi, kondisi filter udara sebaiknya lebih sering dicek.

AC Mobil Bisa Ikut Terganggu

Bukan cuma mesin, kabin mobil juga bisa kena efek abu vulkanik.

Saat AC menggunakan mode udara luar, partikel abu bisa ikut masuk lewat sistem ventilasi. Di sini filter kabin punya tugas penting untuk menyaring debu sebelum udara masuk ke dalam kabin.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Ada Garis Warna-warni di Ban Baru, Apa Sih Fungsinya?

Published

on

By

Pernah beli ban mobil baru dan melihat ada garis warna-warni di bagian tapaknya? Ada yang merah, biru, kuning, bahkan beberapa warna sekaligus.

Sekilas, garis tersebut mungkin terlihat seperti hiasan atau tanda khusus yang menunjukkan kualitas ban. Padahal, fungsinya bukan buat mempercantik tampilan ban atau memberi tahu konsumen soal performanya.

Garis warna-warni itu justru punya tugas penting saat ban masih berada di pabrik.

Bukan Hiasan, Garis Warna Buat Apa?

Garis berwarna pada tapak ban digunakan untuk membantu proses identifikasi material dan produk selama produksi.

Berdasarkan informasi dari Carscoops, Perusahaan asal Jerman, REA, yang memasok peralatan penanda untuk industri ban, menjelaskan bahwa garis warna otomatis bisa digunakan untuk membedakan jenis material, termasuk kompon karet yang digunakan dalam pembuatan ban.

Penanda ini membantu pekerja maupun mesin di pabrik mengenali material atau produk tertentu selama proses produksi berlangsung.

Jadi, garis warna tersebut lebih ditujukan untuk kebutuhan internal pabrik, bukan untuk konsumen yang membeli ban.

Begitu ban sampai di toko dan dipasang ke mobil, garis warna-warni itu sebenarnya sudah gak punya fungsi penting lagi. Seiring pemakaian, garis tersebut bakal terkikis karena ban terus bergesekan dengan permukaan jalan.

Arti Warna Garis Ban Gak Selalu Sama

Nah, bagian ini yang sering bikin salah paham.

Garis warna pada ban gak punya arti universal yang berlaku untuk semua merek. Misalnya, garis biru pada ban merek A belum tentu punya arti yang sama dengan garis biru pada ban merek B.

Setiap produsen bisa menggunakan sistem penandaan sendiri untuk kebutuhan identifikasi selama proses produksi.

Bahkan, kombinasi warna juga bisa punya arti tersendiri. Dalam sistem penandaan tertentu, dua warna digunakan bersama untuk mengidentifikasi kompon tapak ban.

Artinya, membaca satu warna saja belum tentu memberikan informasi yang lengkap.

Jadi, jangan langsung menganggap ban dengan garis merah lebih bagus, lebih sporty, atau punya performa lebih tinggi dibandingkan ban yang garisnya berwarna biru atau kuning.

Warna tersebut bukan patokan kualitas, daya cengkeram, atau tingkat performa ban.

Justru Kode di Dinding Ban yang Perlu Diperhatikan

Kalau sedang membeli ban baru, ada beberapa informasi yang jauh lebih penting daripada garis warna-warni tadi.

Salah satunya adalah ukuran ban yang tercetak di dinding samping atau sidewall. Selain itu, ada indeks beban (load index) dan peringkat kecepatan (speed rating) yang perlu disesuaikan dengan spesifikasi kendaraan.

Jangan lupa periksa juga kode tanggal produksi ban.

Contohnya, kode empat angka “2125” menunjukkan bahwa ban diproduksi pada pekan ke-21 tahun 2025.

Dua angka pertama menunjukkan pekan produksi, sedangkan dua angka terakhir menunjukkan tahun produksinya.

Informasi ini penting karena ban yang dijual dalam kondisi baru belum tentu baru diproduksi beberapa minggu sebelumnya. Bisa saja ban tersebut sudah tersimpan di gudang selama beberapa waktu.

Dengan memeriksa kode tanggal produksi, kamu bisa mengetahui usia ban sebelum membelinya.

Jangan Lupa Perhatikan Arah Pemasangan Ban

Selain kode produksi, ada juga tanda yang perlu diperhatikan saat memasang ban, terutama untuk ban directional.

Jenis ban ini biasanya punya tanda panah di dinding samping yang menunjukkan arah putaran yang benar.

Kalau pemasangannya terbalik, ban gak akan bekerja sesuai arah yang dirancang oleh produsennya. Karena itu, teknisi perlu mengikuti petunjuk tersebut saat memasang ban ke pelek.

Berbeda dengan garis warna-warni di tapak ban, tanda arah putaran ini memang punya fungsi langsung terhadap pemasangan dan penggunaan ban.

Jadi, saat membeli ban baru, jangan cuma melihat motif tapak atau warna garisnya. Pastikan ukuran dan spesifikasinya sesuai dengan mobil, periksa tanggal produksinya, serta pastikan pemasangannya benar.

Intinya, garis warna-warni pada ban mobil bukan penentu kualitas atau performa. Penanda itu lebih berguna untuk kebutuhan identifikasi di pabrik. Buat pemilik mobil, justru kode ukuran, indeks beban, peringkat kecepatan, dan tanggal produksi yang lebih penting diperhatikan.

Continue Reading

Blog

Benarkah Baterai Mobil Listrik Harus Diganti Setelah 8 Tahun?

Published

on

By

Salah satu hal yang masih bikin calon pembeli mobil listrik ragu adalah soal usia baterai. Apalagi, biaya penggantian baterai kerap dianggap mahal sehingga muncul anggapan bahwa pemilik mobil listrik harus menyiapkan dana besar setelah kendaraan berusia 8 tahun.

Anggapan ini gak sepenuhnya tepat. Pasalnya, usia garansi baterai tidak otomatis menjadi batas usia pakai baterai tersebut.

Baterai mobil listrik memang bisa mengalami penurunan kemampuan menyimpan energi seiring waktu dan pemakaian. Tapi, bukan berarti baterai harus langsung diganti begitu melewati usia tertentu.

Garansi 8 Tahun Bukan Berarti Baterai Kedaluwarsa

Angka 8 tahun cukup sering muncul ketika membahas garansi baterai mobil listrik. Namun, ketentuan garansi setiap merek dan model kendaraan bisa berbeda.

Garansi merupakan perlindungan dari pabrikan selama periode dan kondisi tertentu. Cakupannya bisa meliputi kerusakan baterai atau penurunan kapasitas hingga batas yang ditentukan dalam ketentuan garansi.

Artinya, ketika masa garansi berakhir, baterai tidak otomatis rusak atau kehilangan kemampuannya untuk menyimpan energi.

Baterai yang sudah berusia lebih dari 8 tahun masih bisa digunakan selama kondisinya layak dan mampu memenuhi kebutuhan berkendara pemiliknya.

Sebaliknya, kondisi baterai juga perlu diperhatikan meski usia kendaraan belum mencapai 8 tahun, terutama jika muncul gejala yang tidak biasa.

Karena itu, pemilik mobil listrik sebaiknya memeriksa ketentuan garansi sesuai model kendaraan, termasuk durasi, batas kilometer, dan ketentuan kapasitas baterai yang ditanggung.

Kenapa Kapasitas Baterai Bisa Menurun?

Sama seperti baterai pada perangkat elektronik, baterai mobil listrik juga mengalami degradasi atau penurunan kemampuan menyimpan energi.

Seiring waktu dan siklus pengisian daya, kapasitas energi yang bisa disimpan baterai dapat berkurang dibandingkan ketika masih baru.

Dampaknya, jarak tempuh mobil dalam sekali pengisian daya bisa ikut menurun. Meski begitu, perubahan jarak tempuh gak selalu disebabkan oleh kondisi baterai karena suhu lingkungan, kecepatan berkendara, penggunaan AC, kondisi jalan, dan gaya mengemudi juga berpengaruh.

Kecepatan penurunan kapasitas baterai pun gak sama pada setiap mobil. Faktor yang memengaruhinya antara lain jenis dan desain baterai, suhu operasional, pola pengisian daya, serta intensitas pemakaian kendaraan.

Jadi, gak tepat jika semua baterai mobil listrik dianggap memiliki usia pakai yang sama.

Kapan Baterai Mobil Listrik Perlu Diganti?

Penggantian baterai umumnya dipertimbangkan ketika kondisinya sudah tidak memenuhi kebutuhan atau mengalami kerusakan yang memerlukan penggantian.

Misalnya, kapasitas baterai menurun cukup jauh sehingga jarak tempuh tidak lagi memadai bagi pemiliknya. Kondisi lain yang perlu diperiksa adalah munculnya peringatan sistem baterai atau gangguan yang terdeteksi saat pemeriksaan di bengkel.

Namun, penurunan kapasitas tidak selalu berarti seluruh baterai harus diganti. Tindakan perbaikan bergantung pada desain baterai, hasil diagnosis, ketersediaan komponen, dan rekomendasi pabrikan.

Pada kendaraan tertentu, teknisi mungkin dapat memperbaiki bagian yang bermasalah atau mengganti komponen tertentu. Sementara itu, kasus lain memang membutuhkan penggantian unit baterai.

Karena biaya dan prosedurnya bisa berbeda, pemeriksaan di bengkel resmi atau teknisi yang memiliki kompetensi menangani kendaraan listrik menjadi langkah penting sebelum memutuskan penggantian.

Bagaimana Cara Membuat Baterai Lebih Awet?

Ada beberapa kebiasaan yang bisa membantu menjaga kondisi baterai mobil listrik.

Pertama, ikuti rekomendasi pengisian daya dari pabrikan. Batas pengisian harian dan kebutuhan mengisi hingga 100 persen bisa berbeda, tergantung model dan jenis baterainya.

Kedua, hindari membiarkan baterai berada dalam kondisi sangat rendah terlalu lama. Jika mobil akan ditinggal dalam waktu lama, ikuti panduan penyimpanan yang diberikan pabrikan.

Ketiga, gunakan pengisian daya cepat atau fast charging sesuai kebutuhan dan petunjuk kendaraan. Pengisian cepat tidak otomatis membuat baterai rusak, tetapi pengaruhnya terhadap degradasi bergantung pada teknologi baterai, suhu, sistem pengelolaan termal, dan pola pemakaian.

Terakhir, lakukan pemeriksaan berkala sesuai jadwal perawatan. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi gangguan dan mengetahui kondisi baterai berdasarkan sistem diagnostik kendaraan.

Jadi, Baterai Mobil Listrik Harus Diganti Setelah 8 Tahun?

Jawabannya, ya gak selalu. Angka 8 tahun sering berkaitan dengan masa garansi baterai, bukan batas pasti usia pakainya.

Baterai mobil listrik bisa tetap digunakan setelah masa garansi berakhir selama kondisinya masih layak. Waktu penggantian bergantung pada kesehatan baterai, kebutuhan berkendara, hasil pemeriksaan, serta ketentuan pabrikan.

Jadi, calon pembeli mobil listrik gak perlu langsung menganggap baterai harus diganti begitu kendaraan berusia 8 tahun. Yang lebih penting adalah memahami garansi, melakukan perawatan sesuai petunjuk, dan memeriksa kondisi baterai secara berkala.

Continue Reading

Blog

Mobil Hybrid Gak Pernah Dicas, Kok Baterainya Bisa Terisi?

Published

on

By

test drive Honda HR-V hybrid

Kalau mobil listrik harus diisi daya lewat charger, mobil hybrid punya cara berbeda untuk mengisi baterainya. Bahkan, ada jenis mobil hybrid yang gak perlu dicolok ke sumber listrik sama sekali.

Meski begitu, bukan berarti baterainya bisa terisi sendiri tanpa sumber energi. Ada sistem yang bekerja untuk mengisi daya baterai selama mobil digunakan.

Terus, dari mana listriknya berasal?

Mengandalkan Mesin Bensin dan Pengereman

Pada mobil hybrid konvensional atau full hybrid, baterai bisa mendapatkan energi dari dua sumber utama, yaitu mesin bensin dan sistem pengereman regeneratif (regenerative braking).

Sistem pengereman regeneratif memanfaatkan energi kinetik kendaraan saat melambat atau mengerem. Energi yang biasanya terbuang sebagai panas melalui pengereman konvensional ini diubah menjadi energi listrik oleh motor listrik, lalu disalurkan untuk mengisi baterai.

Itulah sebabnya, ketika mobil hybrid melambat atau pengemudi menginjak pedal rem, sistemnya bisa sekaligus membantu mengisi daya baterai.

Selain itu, mesin bensin juga dapat membantu mengisi baterai melalui generator atau motor-generator, tergantung desain sistem hybrid yang digunakan.

Energi tersebut nantinya dipakai untuk menggerakkan motor listrik, membantu akselerasi, atau menjalankan sejumlah sistem kendaraan.

Kenapa Baterainya Bisa Terisi Saat Mobil Jalan?

Mobil hybrid memiliki sistem yang mengatur kapan mesin bensin dan motor listrik bekerja. Pengaturan ini dilakukan berdasarkan sejumlah kondisi, seperti kecepatan kendaraan, kebutuhan tenaga, serta tingkat pengisian baterai.

Saat mobil melaju pelan atau menghadapi kemacetan, motor listrik bisa mengambil peran lebih besar dalam menggerakkan kendaraan, selama kondisi baterai dan kebutuhan tenaga memungkinkan.

Ketika mobil melambat, sistem pengereman regeneratif dapat memanfaatkan energi untuk mengisi baterai. Sementara itu, mesin bensin bisa menyala ketika dibutuhkan untuk memberikan tenaga atau membantu menghasilkan listrik.

Jadi, baterai mobil hybrid gak harus menunggu diisi melalui kabel. Energi yang tersedia selama mobil digunakan dapat dimanfaatkan kembali oleh sistem kendaraan.

Meski begitu, proses pengisian baterai tidak selalu berlangsung setiap saat. Sistem akan menyesuaikan pengisian dan penggunaan energi berdasarkan kondisi berkendara.

Mobil Hybrid Beda dengan Plug-in Hybrid

Perlu diketahui, gak semua mobil hybrid punya sistem pengisian daya yang sama.

Mobil hybrid konvensional atau HEV (Hybrid Electric Vehicle) umumnya tidak perlu dicolok ke sumber listrik eksternal. Baterainya diisi melalui pengereman regeneratif dan, pada sistem tertentu, melalui mesin bensin yang menggerakkan generator.

Sementara itu, plug-in hybrid atau PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) punya baterai berkapasitas lebih besar dan bisa diisi melalui sumber listrik eksternal, seperti charger di rumah atau stasiun pengisian yang kompatibel.

PHEV juga dapat memanfaatkan pengereman regeneratif dan sistem pembangkit listrik dari mesin, tergantung desain kendaraannya.

Karena kapasitas baterainya lebih besar, PHEV umumnya bisa menempuh jarak lebih jauh dengan tenaga listrik saja dibandingkan HEV. Namun, jarak tempuh dan cara kerja setiap model tetap bergantung pada spesifikasi kendaraan.

Jadi, Gak Perlu Takut Baterai Hybrid Kehabisan Daya?

Pada mobil hybrid konvensional, sistem kendaraan dirancang untuk mengatur tingkat pengisian baterai secara otomatis selama mobil digunakan.

Ketika daya baterai menurun, sistem bisa menyesuaikan kerja mesin bensin dan motor-generator untuk membantu mengisi daya. Pengemudi pun gak perlu mencari tempat pengisian listrik khusus seperti pemilik mobil listrik murni.

Namun, bukan berarti kondisi baterai bisa diabaikan. Baterai tetap memiliki usia pakai dan bisa mengalami penurunan performa seiring waktu.

Karena itu, pemilik mobil hybrid tetap perlu mengikuti jadwal perawatan sesuai rekomendasi pabrikan.

Intinya, mobil hybrid konvensional gak perlu dicas dari luar karena memanfaatkan energi dari mesin bensin dan pengereman regeneratif untuk mengisi baterainya. Jadi, bukan baterainya yang bisa menghasilkan listrik sendiri, melainkan sistem kendaraan yang mengubah dan mengelola energi selama mobil berjalan.

Continue Reading

Trending