Connect with us

Blog

Harga Bensin di Tiap Negara Berbeda, Siapa yang Paling Mahal?

Published

on

ron bensin setiap kendaraan berbeda ya

Kalau lagi isi bensin di Indonesia, mungkin rasanya masih “ya udah lah ya”. Gak yang murah banget, tapi juga belum yang bikin mikir dua kali buat jalan.

Tapi coba deh bandingin sama negara lain. Di beberapa tempat, isi bensin bisa terasa jauh lebih ringan. Tapi di negara lain? Bisa bikin kalian bengong sebelum bayar.

Ambil contoh tetangga dekat dulu, Malaysia. Harga bensin RON95 di sana ada di kisaran 2,05 ringgit per liter. Kalau dirupiahin, itu sekitar Rp 6.500–7.000 per liter. Lebih murah dari Indonesia.

Geser dikit ke Amerika Serikat. Harga bensin di sana rata-rata sekitar 0,75 dolar AS per liter, atau kira-kira Rp 11.500–12.000. Masih tergolong masuk akal, apalagi buat negara sebesar itu.

Nah, mulai terasa beda begitu masuk ke negara maju di Asia kayak Jepang. Harga bensin di sana sekitar 1,0 dolar AS per liter, alias sekitar Rp 15.000–16.000.

Masih oke? Coba lihat Jerman. Di sana, harga bensin bisa tembus 2,1 dolar AS per liter, atau sekitar Rp 32.000–34.000.

Dan kalau mau yang lebih “niat” lagi, lihat Singapura. Harga bensin di sana bisa sampai 2,7–2,8 dolar AS per liter. Kalau dirupiahin? Sekitar Rp 42.000–45.000 per liter.

Iya, hampir lima kali lipat harga di Indonesia. Padahal kalau dipikir-pikir, minyaknya sama-sama dari bumi juga. Kok bisa beda sejauh itu?

Jawabannya ternyata bukan di minyaknya, tapi di “cerita” di balik harga itu.

Di Malaysia, harga bisa murah karena pemerintah masih kasih subsidi besar. Negara ikut menanggung sebagian biaya, jadi masyarakat gak bayar full.

Mirip juga dengan beberapa negara penghasil minyak. Mereka punya cadangan sendiri, jadi lebih gampang jual bensin dengan harga rendah.

Sementara di Jerman atau negara Eropa lain, ceritanya beda. Harga bensin sengaja dibuat mahal karena pajaknya tinggi. Tujuannya buat ngurangin penggunaan mobil dan menekan emisi.

Jadi makin mahal bensin, harapannya orang makin mikir buat sering-sering bawa mobil.

Lalu ada Singapura, yang punya cara sendiri. Di sana, bukan cuma bensin yang mahal, punya mobilnya saja sudah mahal duluan. Negara ini memang dari awal membatasi kendaraan, karena lahannya kecil dan jalanannya terbatas.

Jadi harga bensin tinggi itu bagian dari strategi biar jumlah mobil tetap terkendali.

Beda lagi dengan Amerika Serikat. Di sana, mobil itu kebutuhan utama. Jarak antar kota jauh, transportasi umum gak selalu jadi pilihan utama, dan budaya berkendaranya kuat banget.

Makanya harga bensin dijaga tetap relatif terjangkau, supaya aktivitas masyarakat nggak terganggu.

Kalau ditarik garis besar, kelihatan satu hal, harga bensin itu bukan sekadar soal mahal atau murah. Tapi soal negara mau warganya hidup seperti apa.

Ada yang bikin murah supaya mobilitas lancar. Ada yang bikin mahal supaya orang beralih ke transportasi umum. Ada juga yang posisinya di tengah-tengah.

Jadi lain kali kalau kamu lihat harga bensin di negara lain yang “kok bisa segitu?”, jangan langsung kaget. Karena ternyata, di balik satu liter bensin, ada kebijakan, strategi, dan cara pandang tiap negara yang beda-beda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Mau Coba Mobil Listrik dan Hybrid GWM? Yuk Mampir ke PIM!

Published

on

By

Buat yang penasaran seperti apa rasanya mengendarai mobil listrik atau hybrid dari GWM, ada kesempatan menarik yang bisa dicoba akhir pekan ini.

PT Inchcape GWM Retail Indonesia (IGRI) menggelar GWM Showroom Event di Lobby 3A Pondok Indah Mall (PIM) 1, Jakarta, Sabtu (20/6/2026). Acara yang berlangsung dari pukul 10.00 sampai 18.00 WIB ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menjajal langsung berbagai model elektrifikasi GWM lewat sesi test drive.

Tidak cuma melihat unit yang dipajang, pengunjung bisa merasakan sendiri bagaimana performa, kenyamanan, hingga efisiensi kendaraan GWM saat digunakan di kondisi lalu lintas perkotaan.

Salah satu model yang menjadi daya tarik utama adalah ORA 03. Mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) ini hadir dengan desain yang unik, modern, dan premium. ORA 03 juga menawarkan biaya operasional yang relatif efisien untuk penggunaan harian di dalam kota.

Selain itu, tersedia pula TANK 500 HEV yang memadukan performa SUV premium dengan teknologi hybrid. Buat yang ingin mulai beralih ke kendaraan elektrifikasi secara bertahap, ada juga Haval Jolion HEV yang bisa menjadi pilihan menarik.

Senior Branch Manager Inchcape GWM Retail Indonesia (IGRI), Roberto Dion Dewanto, bilang kalau pengalaman berkendara secara langsung menjadi cara paling efektif untuk mengenalkan teknologi elektrifikasi kepada masyarakat.

“Kami ingin konsumen tidak hanya mendengar atau membaca soal kendaraan elektrifikasi, tapi benar-benar mencobanya sendiri di jalan. Lewat showroom event ini, mereka bisa merasakan langsung performa dan kenyamanan ORA 03 maupun TANK 500 HEV di tengah kondisi lalu lintas Jakarta yang sebenarnya. Ini sejalan dengan filosofi All Scenarios, All Powertrains, All Users yang kami usung, di mana konsumen bebas memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup mereka saat ini,” kata Roberto.

Selain test drive, pengunjung juga bisa berkonsultasi langsung dengan tim GWM terkait spesifikasi kendaraan, simulasi biaya kepemilikan, hingga berbagai program penjualan yang sedang berlangsung.

Menariknya, selama Juni 2026 tersedia sejumlah promo dengan potongan harga yang cukup besar. Konsumen berkesempatan mendapatkan penghematan hingga Rp 175 juta untuk lini TANK HEV Series, hingga Rp 115 juta untuk Haval Jolion HEV, serta hingga Rp 15 juta untuk ORA 03 BEV, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Menurut Roberto, kepercayaan konsumen tidak hanya dibangun dari pengalaman mencoba kendaraan, tetapi juga dari dukungan layanan purna jual yang jelas.

“Sebagai dealer resmi GWM, kami ingin memastikan konsumen merasa yakin sejak hari pertama mereka mengambil keputusan, baik dari sisi produk, sales program yang menarik, garansi, maupun layanan purna jual. Showroom event seperti ini menjadi ruang bagi kami untuk menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan konsumen secara personal,” ujarnya.

Suasana acara juga dibuat lebih santai dan nyaman. Pengunjung bisa mengikuti sesi edukasi produk dan teknologi, menikmati sajian kopi dari barista, hingga membawa pulang merchandise eksklusif dari GWM.

Lewat kegiatan ini, IGRI berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal manfaat kendaraan elektrifikasi sekaligus memperkuat posisinya sebagai dealer resmi GWM yang profesional dan terpercaya di Indonesia.

Continue Reading

Blog

Mengenal Beda Mild Hybrid, Full Hybrid, dan Plug-in Hybrid

Published

on

By

Toyota prius HEV di GIIAS 2024

Mobil hybrid makin banyak ditemui di Indonesia. Pilihannya juga beragam, mulai dari SUV, MPV, sedan, sampai hatchback. Menariknya lagi, sekarang istilah hybrid gak cuma satu. Ada yang disebut mild hybrid, full hybrid, dan plug-in hybrid (PHEV).

Buat yang baru mulai melirik mobil elektrifikasi, tiga istilah ini sering bikin bingung. Sama-sama ada embel-embel hybrid, tapi ternyata cara kerjanya cukup berbeda.

Nah, biar gak salah paham, yuk kenalin satu per satu.

Apa Itu Mobil Hybrid?

Sebelum masuk ke jenis-jenisnya, perlu dipahami dulu bahwa mobil hybrid adalah kendaraan yang menggunakan dua sumber tenaga.

Biasanya kombinasi antara mesin bensin dan motor listrik. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar sekaligus mengurangi emisi gas buang.

Yang membedakan adalah seberapa besar peran motor listrik dalam menggerakkan mobil.

Mild Hybrid, Motor Listrik Cuma Membantu

Mild hybrid bisa dibilang menjadi level paling dasar dalam teknologi hybrid.

Pada sistem ini, motor listrik gak bisa menggerakkan mobil sendirian. Tugasnya hanya membantu mesin bensin saat akselerasi, menjaga sistem kelistrikan, atau membantu proses start-stop mesin.

Karena perannya terbatas, kapasitas baterainya juga relatif kecil.

Saat mobil melaju, sumber tenaga utama tetap berasal dari mesin bensin.

Keunggulannya, sistem ini lebih sederhana, bobot kendaraan gak bertambah terlalu banyak, dan harga mobil biasanya lebih terjangkau dibanding hybrid jenis lain.

Makanya banyak pabrikan menggunakan teknologi mild hybrid sebagai langkah awal menuju elektrifikasi.

Full Hybrid, Bisa Jalan Pakai Motor Listrik

Kalau full hybrid, kemampuan motor listriknya sudah jauh lebih besar.

Pada kondisi tertentu, mobil bisa berjalan hanya menggunakan tenaga listrik tanpa bantuan mesin bensin.

Misalnya saat merayap di kemacetan, berjalan pelan di area parkir, atau ketika kecepatan rendah.

Saat baterai mulai berkurang, mesin bensin akan menyala secara otomatis untuk membantu menggerakkan mobil sekaligus mengisi ulang baterai.

Yang menarik, pengguna gak perlu mencolok mobil ke sumber listrik eksternal.

Energi baterai diperoleh dari mesin dan sistem regenerative braking yang memanfaatkan energi saat mobil melambat atau mengerem.

Jenis inilah yang saat ini paling banyak ditemui di Indonesia.

Plug-in Hybrid, Gabungan Hybrid dan Mobil Listrik

Kalau plug-in hybrid atau PHEV, level elektrifikasinya lebih tinggi lagi.

Mobil jenis ini memiliki baterai yang jauh lebih besar dibanding full hybrid. Karena itu, jarak tempuh dalam mode listrik murninya juga lebih jauh.

Bahkan beberapa model bisa menempuh 50 sampai lebih dari 100 kilometer tanpa menyalakan mesin bensin sama sekali.

Bedanya dengan full hybrid, baterai PHEV bisa diisi ulang dari luar menggunakan charger atau stasiun pengisian kendaraan listrik.

Makanya disebut plug-in hybrid.

Dalam penggunaan harian, banyak pemilik PHEV yang jarang menggunakan bensin karena kebutuhan perjalanan mereka sudah bisa dipenuhi oleh mode listrik.

Tapi saat harus melakukan perjalanan jauh, mesin bensin tetap siap bekerja sehingga pengemudi gak perlu khawatir soal jarak tempuh.

Mana yang Paling Irit?

Jawabannya tergantung pola penggunaan.

Kalau hanya melihat teknologi, plug-in hybrid biasanya menawarkan konsumsi bahan bakar paling rendah karena bisa berjalan cukup jauh menggunakan listrik.

Namun efisiensi maksimal baru terasa jika pemilik rajin mengisi daya baterai.

Kalau baterainya jarang dicas, keunggulan PHEV bisa berkurang karena mobil tetap membawa baterai berukuran besar yang menambah bobot kendaraan.

Di sisi lain, full hybrid menjadi pilihan yang praktis karena pengguna gak perlu repot mencari charger.

Sementara mild hybrid cocok buat yang ingin merasakan teknologi elektrifikasi tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar hybrid konvensional atau PHEV.

Continue Reading

Blog

Cobain Autonomous VLA 2.0 XPENG di Guangzhou, Gimana Rasanya?

Published

on

By

XPENG VLA

XPENG sebelumnya udah ngenalin teknologi VLA 2.0 di event Beijing Auto Show bulan April lalu. Nah kemarin, tim Halotomotif akhirnya dapet kesempatan buat nyobain langsung teknologi autonomous driving ini di Headquarter XPENG yang ada di Guangzhou, China lewat acara XPENG Physical AI “Immersive”. Bisa dibilang ini jadi pengalaman yang cukup mind blowing karena kita benar-benar ngerasain mobil nyetir sendiri di kondisi jalanan real.

Sebelum masuk ke pengalaman test drive-nya, kita bahas dulu nih apa itu VLA. VLA atau Vision-Language-Action adalah model AI yang menggabungkan kemampuan melihat, memahami situasi, dan mengambil tindakan dalam satu sistem terpadu. Simpelnya, mobil bisa “lihat” kondisi sekitar lewat kamera lalu langsung memutuskan harus melakukan apa. Teknologi ini nantinya bukan cuma dipakai buat mobil autonomous aja, tapi juga robot humanoid, Robotaxi, sampai perangkat pintar lainnya. Jadi bisa dibilang, VLA ini adalah evolusi autopilot canggih versi XPENG.

Pertama kali cobain teknologi VLA dari XPENG


Sesi pengetesan diawali dengan bikin SIM sementara di kantor kepolisian China. Setelah urusan administrasi selesai, barulah kami mencoba beberapa line-up XPENG yang sudah dibekali teknologi VLA. Ada dua model yang disiapkan, yaitu XPENG P7 dan XPENG G7. Beruntung banget kami kebagian nyobain XPENG P7 yang jadi flagship sekaligus backbone dari brand ini.


Acara dimulai dengan sesi familiarisasi dulu bersama instruktur mengemudi. Kami diajak keliling sekitar 15 menit buat mengenal karakter mobil dan sistemnya. Setelah itu barulah kami duduk di kursi pengemudi dan mulai test drive langsung. Kondisi saat pengetesan juga nggak ideal-ideal amat karena cuaca lagi gerimis dan lalu lintas cukup padat. Tapi justru di situ serunya, karena jadi pembuktian apakah sistem VLA benar-benar bisa diandalkan di situasi nyata.


First impression saat duduk di balik setir, XPENG P7 ini terasa nyaman banget. Posisi duduk gampang diatur karena joknya sudah elektrik lengkap, ditambah setir tilt dan telescopic yang bikin posisi nyetir makin pas. Untuk mengaktifkan VLA juga ternyata simpel. Tinggal set tujuan di maps yang ada di layar multimedia, jalanin mobil secara manual sebentar, lalu tekan tombol bulat di sebelah kiri setir. Setelah itu sistem autonomous langsung aktif tanpa drama.


Selama pengetesan, performa VLA 2.0 ini honestly bikin kagum. Mobil bisa baca lampu lalu lintas, mendeteksi motor dan pejalan kaki, sampai nyalip kendaraan di depannya dengan gerakan yang halus banget. Bahkan kami sempat lewat jalan kecil dengan kondisi kurang bagus dan harus berpapasan sama truk besar. Di momen itu, sistem langsung mengarahkan mobil sedikit ke bahu jalan supaya aman. Ban kanan bahkan sempat keluar dari badan jalan demi kasih ruang ke truk lewat. Setelah aman, mobil langsung balik lagi ke jalur dan lanjut jalan secara autonomous. Tapi demi keamanan, pengemudi tetap harus sesekali menyentuh setir supaya sistem tahu kalau driver masih fokus dan sadar.


Ada juga satu momen cukup tense waktu kami lagi ada di tengah perempatan. Tiba-tiba semua lampu lalu lintas berubah merah secara mendadak. “Semua memang sudah auto, tapi kita tetap harus aware sama sekitar. Walaupun saya percaya mobil ini sebenarnya juga bisa membaca kondisi darurat,” ujar Miki, instruktur mengemudi yang mendampingi kami selama test drive.

Hal menarik dari VLA 2.0 XPENG


Yang bikin teknologi ini makin menarik, VLA 2.0 disebut sudah masuk kategori autonomous driving level 4. Sistemnya juga diklaim bisa membaca kondisi jalan hingga 200 meter ke depan dan menentukan arah mobil secara real-time. Karena basisnya full kamera tanpa lidar, mobil bahkan bisa membaca gerakan tangan polisi lalu lintas dan mencari jalur alternatif meskipun kondisi jalan tidak sesuai dengan maps.


Dibanding teknologi autonomous lain di industri, XPENG VLA 2.0 punya pendekatan yang cukup berbeda. Mereka menghilangkan lapisan perantara “Language Representation”, jadi sistem bisa langsung memproses visual dan menghasilkan aksi lebih cepat layaknya refleks manusia. XPENG juga menyebut teknologi ini sebagai intelligent driving model pertama di China yang punya potensi menuju autonomous driving level 4 dan jadi rival serius buat Tesla FSD. Fokus pengembangannya sendiri ada di empat poin utama, yaitu mengurangi error, respons lebih cepat, pengalaman berkendara yang lebih natural, dan kemampuan AI yang makin adaptif di berbagai kondisi jalan.

Continue Reading

Trending