Blog
Fast Charging Bikin Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak, Memang Iya?

Kalau lagi ngobrol soal mobil listrik, satu pertanyaan ini hampir pasti muncul, “Sering fast charging, baterainya cepet jebol nggak sih?”
Wajar sih. Soalnya logikanya sederhana. Kalau ngecas HP pakai charger cepat terus, panas. Lama-lama baterai ngedrop. Terus jadi buat kita mikir, “Mobil listrik kan baterainya jauh lebih gede. Apa gak lebih parah?”
Ternyata jawabannya gak sesederhana itu. Fast charging itu memang “berat”, tapi bukan musuh utama
Jadi, fast charging memang bikin baterai kerja lebih keras. Arus listrik besar masuk dalam waktu singkat, dan itu memicu panas. Panas inilah yang jadi faktor utama degradasi baterai.
Tapi…mobil listrik bukan HP.

Baterai mobil listrik sudah dibekali battery management system (BMS) dan sistem pendingin aktif. Ada yang pakai cairan, ada juga yang pakai udara. Fungsinya menjaga suhu baterai tetap aman.
Kalau suhu mulai naik, sistemnya bakal otomatis nurunin kecepatan ngecas atau bahkan menghentikan fast charging sementara
Yang bikin baterai cepat capek itu bukan fast charging-nya doang. Menurut beberapa riset, degradasi baterai itu lebih dipengaruhi oleh kombinasi kebiasaan. Misalnya, sering fast charging saat baterai hampir nol, atau langsung ngecas cepat habis dipakai ngebut jauh.
Bisa juga membiarkan baterai sering dibiarkan 100 persen atau 0 persen dalam waktu lama.
Makanya banyak pabrikan nyaranin ngecas harian cukup di 20–80 persen, dan fast charging dipakai saat butuh aja, misalnya perjalanan jauh.
Jadi, kalau ditanya aman atau gak Jawaban singkatnya, aman, asal gak berlebihan.
Perlu diingat kalau yang bikin baterai cepat turun performanya adalah cara pakainya, bukan cuma metode ngecasnya.
Blog
Sunyi Jadi Ciri Mobil Listrik, Tapi Ada Risikonya

Buat yang pertama kali coba mobil listrik, satu hal yang langsung kerasa adalah… sunyi. Nyalain mobil, gak ada suara mesin. Jalan pelan, masih aja senyap. Bahkan kadang bikin mikir, “Ini mobil beneran udah nyala belum, sih?”
Nah, kondisi ini memang bukan kebetulan. Mobil listrik dari sananya emang dirancang minim suara.
Kenapa mobil listrik bisa senyap?
Soalnya mobil listrik gak pakai mesin bensin atau diesel. Gak ada proses pembakaran, gak ada ledakan di ruang mesin, dan gak ada knalpot. Yang kerja cuma motor listrik, dan itu kerjanya halus banget.
Suara yang biasanya kedengeran cuma dari ban yang muter atau angin kalau mobil udah agak ngebut. Di kecepatan rendah? Hampir nihil.
Sunyi itu enak, tapi…
Buat pengemudi, jelas enak. Kabin lebih tenang, perjalanan terasa santai, dan gak capek di telinga. Tapi buat orang di luar mobil, ceritanya bisa beda.

Di kecepatan pelan, mobil listrik bisa datang tanpa suara sama sekali. Pejalan kaki, pesepeda, atau orang di parkiran bisa gak sadar kalau ada mobil mendekat. Apalagi di area perumahan atau pusat perbelanjaan.
Makanya, mobil listrik sering dibilang terlalu senyap sampai berpotensi bikin bahaya.
Buat ngatasin masalah itu, sekarang banyak mobil listrik dibekali suara buatan alias Acoustic Vehicle Alerting System (AVAS).
Fungsinya ngasih bunyi saat mobil jalan pelan, biasanya di bawah 20–30 km per jam. Jadi orang sekitar bisa sadar kalau ada mobil lewat, tanpa harus bikin ribut.
Uniknya, suara ini beda-beda tiap merek. Ada yang kayak dengungan halus, ada juga yang dibikin futuristis biar kedengeran “mobil masa depan”.
Di beberapa negara, fitur ini bahkan udah wajib. Jadi mobil listrik nggak boleh terlalu senyap di kecepatan rendah.
Walaupun udah ada suara buatan, pengemudi mobil listrik tetap harus ekstra waspada. Jangan mentang-mentang mobil sunyi terus ngerasa aman.
Lewat gang sempit, area sekolah, atau parkiran, kecepatan harus dijaga. Soalnya, gak semua orang langsung ngeh ada mobil listrik yang lagi jalan.
Di sisi lain, pejalan kaki juga perlu adaptasi. Sekarang gak bisa cuma ngandelin suara mesin, tapi harus lebih rajin lihat kiri-kanan.
Mobil listrik yang senyap itu bukan kekurangan, justru salah satu keunggulan. Jalanan jadi gak berisik, kabin lebih nyaman, dan polusi suara berkurang. Tapi di balik itu, tetap ada tanggung jawab.
Blog
Ini Warna Mobil Favorit Orang Sedunia!

Warna mobil yang sering kamu anggap membosankan justru jadi favorit jutaan orang di seluruh dunia.
Pernah gak kamu perhatiin, begitu lihat parkiran mal atau jalan tol, yang paling sering kelihatan hampir selalu mobil warna putih, hitam, abu-abu, atau silver? Ini bukan kebetulan lho, tapi memang fakta yang muncul dari data penjualan mobil di seluruh dunia.
Pilihan warna mobil itu bukan cuma soal “enak dipandang”. Di balik itu, ada alasan psikologis, praktikal, sampai budaya yang bikin warna tertentu jadi favorit banyak orang. Apa saja sih warna mobil yang paling banyak digunakan di dunia?
- Putih
Kalau ditanya warna yang paling banyak dipilih di seluruh dunia? Putih jawabannya. Banyak laporan dari riset otomotif menyebutkan bahwa sekitar 30 sampai 35 persen mobil di jalanan global dicat warna putih. Ini bukan tren sesaat, tetapi sudah berlangsung bertahun-tahun.
Pertama karena praktis di cuaca panas. Putih memantulkan panas lebih baik daripada warna gelap, jadi interior mobil tetap relatif lebih sejuk di negara tropis atau panas.
Kedua, resale value kuat. Mobil putih cenderung lebih mudah dijual lagi karena banyak pembeli yang tidak keberatan dengan warna netral.
Terakhir, bersih & timeless. Putih memberi kesan minimalis, bersih, dan cocok buat semua jenis model mobil.
No wonder, di banyak pasar besar seperti China, Eropa, dan Amerika Utara, putih selalu nongol di puncak daftar warna favorit!

- Hitam
Setelah putih, hitam jadi pilihan populer berikutnya. Warnanya sering diasosiasikan dengan kelas, kemewahan, dan kesan elegan, makanya banyak SUV mewah atau sedan premium datang dengan warna hitam sebagai opsi utama.
Meskipun warna gelap bisa menyerap panas lebih banyak (kurang ideal di iklim tropis), hitam tetap digemari karena kesan dramatisnya di jalan. Dan buat sebagian orang, mobil hitam terasa seperti statement gaya tersendiri.
- Abu-abu & Silver
Warna abu-abu (gray) dan silver juga sering muncul di posisi atas daftar warna favorit dunia. Dua warna ini punya “smart look” yang cocok di banyak model mobil modern.
Negara-negara seperti di Eropa bahkan menunjukkan bahwa abu-abu kadang bisa menyalip hitam dalam hal popularitas karena memberikan nuansa lebih modern dan futuristik pada body car.
Warna Cerah? Masih Ada tapi Minoritas
Kalau kamu suka warna merah, biru, atau hijau tenang, mereka tetap ada kok! Cuma, kalau dibanding warna netral tadi, partisipasinya di jalanan dunia masih relatif kecil.
Biru dan merah kadang muncul sekitar 5–10 persen dari semua mobil.
Warna-warna cerah seperti kuning, oranye, atau hijau hanya sedikit mewarnai parkiran, biasanya di model sport atau edisi khusus.
Kenapa Banyak Orang Pilih Warna Netral?
Soal preferensi warna itu bukan sekadar selera, tapi juga soal praktikalitas dan nilai ekonomi, salah satunya yaaa… karena mudah dijual kembali.
Blog
Kenapa Mobil Baru Sudah Jarang Pakai Rem Tangan Manual?

Kalau kamu naik mobil baru, coba perhatiin bagian konsol tengah. Banyak yang sekarang “kosong”. Gak ada lagi tuas rem tangan yang dulu biasa ditarik sampai bunyi “krek”. Sebagai gantinya, cuma ada tombol kecil bertuliskan “P”.
Saking jarangnya, survei menunjukkan bahwa dari puluhan mobil yang diluncurkan dalam setahun hanya sebagian kecil aja yang masih pakai rem tangan konvensional. Bahkan di pasar Eropa, kurang dari 10 persen mobil baru masih punya tuas rem tangan manual!
Kira-kira apa alasannya rem tangan manual sudah jarang digunakan?
- Lebih Praktis dan Modern
Rem tangan manual itu pakai kabel dan tuas, sementara Electronic Parking Brake (EPB) cuma butuh tekan tombol. Lebih ringan dan gampang banget dipakai, apalagi di kota yang sering macet cukup sentuh tombol, selesai!
Selain itu, EPB sering ikut terintegrasi dengan fitur lain seperti Auto Hold atau Hill Start Assist. Jadi saat berhenti di tanjakan, mobil bisa nahan otomatis tanpa kamu harus tarik rem tangan dulu.
- Tampilan Interior Jadi Lebih Rapi dan Lapang
Tuas rem tangan manual itu bentuknya besar dan makan tempat di konsol tengah. Kalau diganti tombol kecil, interior mobil jadi terlihat lebih bersih, lebih lega, dan bisa disulap untuk desain yang lebih modern.
Makanya pabrikan mobil yang ingin desain kabinnya “futuristik” sering banget pilih EPB daripada tuas manual.

- Rem Tangan Konvensional Suka Bermasalah
Rem tangan konvensional pakai kabel baja panjang dari tuas ke rem belakang. Seiring waktu, kabel ini bisa memanjang, berkarat, atau macet karena kotoran jalanan
Akibatnya, performa rem bisa menurun dan butuh sering diservis. EPB yang pakai motor elektrik di kaliper jauh lebih konsisten tanpa kabel panjang yang rawan masalah.
- Lebih Aman
Kalau di mobil baru yang pakai EPB, kadang rem parkir otomatis aktif saat mesin dimatikan, atau otomatis lepas saat kamu mulai jalan. Ini bisa mengurangi human error karena lupa narik rem tangan.
Walaupun rem tangan manual juga terkadang masih jadi pilihan di beberapa model murah atau mobil yang desainnya “old school”, tren global sekarang jelas menuju rem parkir elektronik.
Tapi… Ada Juga Keunggulan Rem Tangan Manual!
Walaupun makin jarang, rem tangan manual punya beberapa nilai plus menurut para pecinta mobil. Pertama terasa lebih “nyata” saat dipakai, terus lebih simpel dan biasanya lebih murah kalau servis, bisa jadi backup juga kalau sistem elektrik bermasalah.
Kalau kamu sendiri lebih suka yang mana nih? Tuas klasik yang bisa kamu tarik atau tombol kecil yang tinggal pencet aja?
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News1 year ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News12 months agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
News2 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News2 years agoiCar – Mobil Listrik Apple Batal Diproduksi
Blog2 years agoMobil Paling Irit BBM, Harga di bawah Rp 300 jutaan!




















