Blog
Porsche Bikin Mesin Kopi Rp130 Jutaan, Ada Spoiler Ducktail

Porsche kembali bikin kolaborasi unik. Kali ini bukan mobil, melainkan mesin espresso edisi khusus yang terinspirasi dari salah satu model legendarisnya, 911 Carrera RS 2.7.
Mesin kopi bernama La Marzocco Linea Micra Special Edition ini punya desain yang cukup menarik. Ada spoiler ducktail mungil di bagian atasnya, lengkap dengan pilihan warna dan detail khas Porsche.
Soal harga, jangan kaget dulu. Mesin espresso ini dibanderol 7.911 dollar AS atau sekitar Rp130 jutaan sebelum pajak. Harganya bahkan lebih mahal dari mesin espresso hasil kolaborasi Porsche sebelumnya, yang dibanderol 7.000 dollar AS dan ludes terjual hanya dalam delapan jam.
Terinspirasi Porsche 911 Carrera RS 2.7
Desain mesin kopi ini mengambil inspirasi dari Porsche 911 Carrera RS 2.7. Bukan cuma lewat spoiler ducktail di bagian atas, tetapi juga penggunaan warna dan detail yang identik dengan mobil sport tersebut.
Jarum merah dan hijau pada indikator tekanan, misalnya, terinspirasi dari warna khas Porsche. Bagian kenop juga mendapat emblem bertuliskan “RS” dan “2.7”.
Di sisi mesin, ada pelat edisi terbatas bertuliskan “One of 911”. Jadi, pemiliknya bisa tahu kalau mesin kopi tersebut merupakan bagian dari produksi khusus.
Ada tiga pilihan warna yang disiapkan. Konsumen di Amerika Serikat bisa memilih kombinasi putih-hijau atau oranye kehitaman. Masing-masing warna diproduksi terbatas sebanyak 911 unit.
Sementara itu, konsumen di Jerman mendapat pilihan khusus berwarna putih-biru, seperti warna Porsche 911 Carrera RS 2.7. Versi ini jauh lebih terbatas karena hanya tersedia 150 unit.

Spesifikasi Mesin Kopi Porsche
Secara teknis, mesin espresso ini menggunakan basis La Marzocco Linea Micra. Portafilternya bisa diatur untuk menggunakan satu saluran, dua saluran, atau model bottomless.
Pengguna juga bisa mengatur suhu dan menjadwalkan waktu penyeduhan lewat aplikasi. Tangki airnya punya kapasitas dua liter, sementara lampu LED disematkan untuk menambah kesan mewah.
Spoiler ducktail yang jadi ciri khas kolaborasi ini juga bukan cuma hiasan. Bentuknya diterapkan pada bagian dudukan cangkir di atas mesin.
Porsche dan La Marzocco juga membuat penggiling kopi khusus yang terinspirasi dari La Marzocco Pico. Pilihan warnanya mengikuti mesin espresso, dengan harga 2.125 dollar AS sebelum pajak.
Penggiling kopi ini punya tiga pengaturan memori, tingkat kehalusan gilingan yang bisa diatur tanpa batasan bertahap, serta mode penggilingan manual.
Ada juga portafilter dengan pengaturan magnetis dan hopper yang bisa menutup otomatis. Detail tulisan RS dan logo kolaborasi Porsche juga ikut disematkan.
Kalau membeli mesin espresso dan penggiling kopinya sekaligus, total harganya mencapai 10.036 dollar AS atau sekitar Rp165 jutaan, belum termasuk pajak dan biaya pengiriman.
Aksesori Kopi Porsche Juga Dijual
Kalau punya dana lebih dari Rp100 juta dan masih ingin melengkapi perlengkapan ngopi, Porsche juga menyediakan beberapa aksesori khusus.
Ada kaleng aroma kopi yang dibanderol 135 dollar AS. Selain itu, tersedia serbet barista seharga 69 dollar AS.
Porsche juga menjual miniatur 911 Carrera RS 2.7 dengan pilihan warna yang senada dengan mesin espresso.
Buat yang lebih suka koleksi perlengkapan minum, tersedia cangkir espresso dalam beberapa desain. Cangkir yang warnanya cocok dengan mesin kopi dijual dalam paket dua buah lengkap dengan tatakan, seharga 105 dollar AS.
Sementara pilihan desain lainnya bisa dibeli satuan dengan harga sekitar 35 dollar AS.
Melihat mesin espresso kolaborasi Porsche sebelumnya yang langsung ludes dalam delapan jam, bukan gak mungkin edisi terbaru ini juga bakal cepat habis. Apalagi, jumlah produksinya memang dibatasi.
Blog
Fast Charging Mobil Listrik Ibarat Makanan Cepat Saji

Nunggu mobil listrik dicas di rest area, sambil ngemil makanan bukan jadi hal yang menyenangkan. Makanya, banyak pemilik mobil listrik memilih SPKLU fast charging supaya baterai bisa terisi dan jarak tempuh bertambah dalam waktu singkat.
Namun, ada alasan kenapa pengisian daya supercepat sebaiknya gak selalu jadi pilihan utama. Bukan cuma karena tarifnya bisa jauh lebih mahal dibandingkan mengecas di rumah. Terlalu sering menggunakan fast charging juga berpotensi mempercepat penurunan kesehatan baterai.
Bahkan, Tesla menyarankan pemilik mobilnya untuk lebih sering mengecas di rumah dan menggunakan jaringan Supercharger saat melakukan perjalanan jauh. Tesla juga menyarankan agar pengisian sampai 100 persen dilakukan ketika memang dibutuhkan, misalnya sebelum perjalanan panjang. Sebaliknya, jangan terlalu sering membiarkan kapasitas baterai turun sampai terlalu rendah.
Terus, seberapa penting kebiasaan tersebut buat menjaga baterai mobil listrik?

Idealnya, Isi Daya dari 10 sampai 80 Persen
Saat baterai mobil listrik dicas, ion lithium bergerak menuju elektroda grafit di dalam sel baterai. Pengisian cepat membuat proses ini berlangsung lebih singkat.
Masalahnya, proses tersebut bisa membuat sebagian lithium menumpuk di permukaan elektroda. Fenomena ini dikenal sebagai lithium plating. Kalau terjadi, jumlah lithium yang bisa digunakan untuk menyimpan energi berpotensi berkurang secara permanen.
Selain itu, fast charging juga menghasilkan panas. Kenaikan suhu yang tinggi bisa mempercepat penuaan baterai.
Itulah salah satu alasan beberapa mobil listrik punya fitur battery preconditioning sebelum pengisian daya. Sistem ini membantu menyiapkan suhu baterai agar proses pengisian berlangsung lebih optimal.
Kecepatan pengisian juga gak selalu sama dari awal sampai akhir. Bahkan, mobil listrik yang punya kemampuan pengisian hingga 320 kW, seperti Porsche Taycan, hanya bisa mencapai daya puncak tersebut dalam waktu singkat, maksimal sekitar lima menit.
Karena itu, pabrikan biasanya mencantumkan waktu pengisian dari 10 atau 20 persen sampai 80 persen. Di luar rentang tersebut, kecepatan pengisian umumnya diturunkan untuk menjaga kondisi baterai.
Mengisi daya sampai 100 persen juga bisa memberikan tekanan tambahan pada sel baterai, terutama kalau dilakukan terlalu sering.

Fast Charging Ibarat Makanan Cepat Saji
Dampak pengisian cepat terhadap baterai juga terlihat dalam studi Geotab pada 2026. Penelitian yang melibatkan hampir 23.000 mobil listrik itu menemukan, kendaraan yang rutin menggunakan pengisian DC di atas 100 kW mengalami penurunan kapasitas baterai hingga 3 persen per tahun.
Sementara itu, mobil listrik yang lebih sering menggunakan pengisian dengan daya lebih rendah mengalami penurunan kapasitas sekitar 1,5 persen per tahun.
Kapasitas baterai yang berkurang tentu berpengaruh terhadap jarak tempuh mobil listrik. Semakin kecil energi yang bisa disimpan, semakin pendek pula jarak yang bisa ditempuh dalam sekali pengisian.
Lantas, apakah pemilik mobil listrik harus menghindari fast charging dan pengisian sampai 100 persen sepenuhnya? Gak juga.
Anggap saja fast charging seperti makanan cepat saji atau cokelat. Sesekali boleh dikonsumsi, apalagi ketika sedang terburu-buru. Namun, kalau jadi kebiasaan setiap hari, tentu kurang baik buat kesehatan.
Begitu juga dengan mobil listrik. Fast charging tetap berguna ketika perjalanan jauh atau saat butuh tambahan daya dalam waktu singkat. Namun, kalau punya fasilitas pengisian di rumah dan berencana memakai mobil dalam jangka panjang, mengecas dengan daya lebih rendah bisa jadi pilihan yang lebih bijak.
Hal serupa berlaku untuk pengisian sampai 100 persen. Baterai LFP (lithium iron phosphate) memang lebih toleran terhadap pengisian penuh dibandingkan NMC (nickel manganese cobalt).
Meski begitu, baterai NMC juga masih boleh sesekali dicas sampai penuh. Jadi, pemilik mobil listrik gak perlu terlalu khawatir selama pengisian 100 persen dilakukan sesuai kebutuhan dan rekomendasi pabrikan.
Blog
Pelek Mobil Bisa Buka-Tutup, Cara Baru Hyundai Bikin Mobil Irit

Hyundai dan Kia punya ide baru untuk membuat mobil lebih irit bahan bakar. Keduanya sedang mengembangkan desain pelek yang bisa membuka dan menutup celah di antara jari-jari pelek.
Teknologi ini menarik karena selama ini pelek mobil seperti punya dua pilihan. Model dengan jari-jari terbuka punya aliran udara yang bagus untuk membantu mendinginkan rem. Namun, desain tersebut kurang aerodinamis dibandingkan pelek dengan permukaan tertutup.
Sebaliknya, pelek tertutup bisa mengurangi hambatan angin, tetapi aliran udara ke rem jadi lebih terbatas.
Nah, Hyundai dan Kia ingin menggabungkan kelebihan keduanya lewat bilah yang bisa bergerak. Saat mobil membutuhkan aerodinamika lebih baik, celah pelek bisa ditutup. Sementara saat rem perlu pendinginan, celah tersebut bisa kembali terbuka.

Pelek Bisa Berubah Jadi Tertutup
Hyundai dan Kia sudah mendapatkan paten Amerika Serikat dengan nomor US Patent 12,779,902 B2 pada 3 November 2026. Permohonan patennya sendiri pertama kali dipublikasikan pada Juni 2025.
Dalam desain tersebut, jari-jari utama pelek tetap diam seperti biasa. Bagian yang bergerak adalah rangkaian tambahan di balik jari-jari, yang terdiri dari cincin tengah dan sejumlah bilah.
Ketika cincin diputar ke satu arah, bilah akan bergeser dan menutup celah di antara jari-jari pelek. Hasilnya, permukaan pelek menjadi lebih tertutup sehingga aliran udara di sekitarnya lebih lancar.
Kalau bilah kembali ke posisi semula dan bersembunyi di balik jari-jari, udara bisa kembali mengalir ke bagian rem untuk membantu pendinginan.
Untuk menggerakkan sistem ini, Hyundai menyebut beberapa pilihan teknologi. Mulai dari motor listrik, sistem hidraulis, hingga aktuator pneumatik.
Ada juga opsi menggunakan komponen berbahan shape-memory alloy atau logam yang bisa berubah bentuk ketika diaktifkan secara elektronik.
Komponen tersebut akan mendorong rangkaian bilah ke posisi tertutup. Saat aktuator dilepas, pegas atau mekanisme elastis serupa akan menariknya kembali ke posisi terbuka.
Hyundai juga menjelaskan adanya papan kontrol kecil di dalam pelek untuk mengatur seluruh sistem.
Kalau melihat mekanismenya, teknologi ini memang cukup rumit. Artinya, biaya perbaikan atau penggantian pelek kemungkinan juga gak murah kalau sistemnya mengalami kerusakan.

Bisa Bikin Mobil Lebih Irit
Terus, apa manfaatnya?
Menurut perkiraan Hyundai, pelek dan ban menyumbang sekitar 25% dari hambatan aerodinamika kendaraan saat melaju di jalan tol.
Dengan mengurangi hambatan angin, mobil berpotensi menggunakan energi lebih efisien. Dampaknya bisa terasa pada konsumsi bahan bakar mobil konvensional maupun jarak tempuh mobil listrik.
Namun, menutup seluruh celah pelek secara permanen juga punya risiko. Rem menghasilkan panas saat bekerja, sehingga tetap membutuhkan aliran udara agar suhunya gak berlebihan.
Di jalan tol, pengemudi biasanya gak terlalu sering menginjak rem. Jadi, suhu rem cenderung gak setinggi saat mobil digunakan di kondisi lain.
Sebaliknya, ketika berkendara di dalam kota atau melewati jalan menurun dari pegunungan, rem bisa bekerja lebih sering dan menghasilkan panas lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, celah pelek yang terbuka akan membantu udara mengalir ke rem dan komponen lainnya.
Lewat desain tersebut, Hyundai dan Kia ingin membuat pelek bisa menyesuaikan kebutuhan kendaraan. Saat melaju kencang, bilah menutup celah untuk mengurangi hambatan angin. Saat membutuhkan pendinginan, bilah kembali membuka jalur udara.
Belum Tentu Masuk Produksi
Meski sudah mendapat paten, Hyundai belum menjelaskan apakah sistem ini akan aktif secara otomatis pada kecepatan tertentu atau seberapa besar hambatan angin yang bisa dikurangi.
Belum ada juga kepastian kapan teknologi tersebut bakal digunakan pada mobil produksi massal.
Sebab, gak semua teknologi yang sudah dipatenkan akhirnya benar-benar dipakai pada kendaraan. Bisa saja desain ini hanya menjadi salah satu ide pengembangan yang gak dilanjutkan.
Meski begitu, konsepnya cukup menarik. Apalagi, produsen mobil saat ini terus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan jarak tempuh, termasuk lewat detail kecil seperti desain pelek.Pelek Mobil Bisa Buka-Tutup, Cara Baru Hyundai Bikin Mobil Irit
Blog
Ban Mobil Sudah 5 Tahun, Masih Aman Dipakai atau Harus Ganti?

Ada anggapan kalau ban mobil yang usianya sudah lebih dari lima tahun harus segera diganti, meskipun mobilnya jarang dipakai. Aturan ini cukup populer dan sering jadi patokan pemilik kendaraan.
Padahal, ban tetap bisa mengalami penuaan meski mobil lebih sering parkir di garasi. Untuk mengecek umurnya juga gampang. Tinggal lihat kode empat angka di dinding ban. Dua angka pertama menunjukkan minggu produksi, sedangkan dua angka terakhir menunjukkan tahun pembuatannya.
Jadi, apakah ban yang sudah berumur lima tahun pasti harus diganti?
Aturan lima tahun memang masih bisa dijadikan patokan, tetapi bukan berarti semua ban wajib langsung diganti begitu melewati usia tersebut. Dalam kondisi tertentu, ban masih bisa digunakan sampai enam, tujuh tahun, atau bahkan lebih.
Meski begitu, setelah melewati usia lima tahun, kondisi ban perlu lebih sering diperhatikan. Jangan cuma melihat ketebalan tapaknya, karena karet ban juga bisa menua seiring waktu.
Beli Ban Baru, Perhatikan Tahun Produksinya
Saat membeli ban, jangan langsung menganggap semua ban yang dijual sebagai barang baru pasti baru diproduksi. Ban yang belum pernah dipakai pun tetap mengalami penuaan selama disimpan.
Karena itu, sebaiknya pilih ban dengan tanggal produksi paling baru. Misalnya, kalau membeli ban pada 2026, idealnya pilih ban yang diproduksi dalam tiga bulan terakhir, yakni Juli sampai September. Ban produksi Maret atau April juga masih bisa dipertimbangkan.
Sebaliknya, kalau memilih ban produksi akhir 2025, artinya sebagian usia pakainya sudah terlewati sebelum ban tersebut dipasang di mobil.
Ban dengan tahun produksi lebih lama bukan berarti gak boleh dibeli. Namun, konsumen sebaiknya mendapat potongan harga karena usia ban sudah berjalan meski belum digunakan.

Ban Bisa Menua Meski Mobil Jarang Dipakai
Karet ban punya masa pakai. Seiring bertambahnya usia, materialnya bisa mengalami perubahan dan memunculkan retakan kecil.
Awalnya, retakan tersebut bisa sangat halus dan sulit dilihat. Namun, lama-kelamaan retakan bisa makin jelas, terutama di bagian dinding ban atau sidewall.
Kalau sudah terlihat retak, sebaiknya segera ganti ban. Sebab, kerusakan pada bagian ini bisa mengganggu kekuatan ban dan meningkatkan risiko pecah saat digunakan.
Proses penuaan ini berkaitan dengan bahan dan proses pembuatan ban. Salah satunya adalah proses curing, yang melibatkan senyawa karet. Seiring waktu, material tersebut bisa mengalami penurunan kualitas akibat proses thermo-oxidative degradation.
Sederhananya, oksigen perlahan bisa merusak senyawa karet pada ban. Ada juga beberapa faktor lain yang bikin proses penuaan berlangsung lebih cepat.
Cuaca panas menjadi salah satunya. Kalau mobil sering digunakan di daerah dengan paparan matahari tinggi dan melewati aspal yang panas, kondisi ban sebaiknya lebih sering diperiksa.
Ban yang disimpan di gudang gelap pun tetap menua, hanya saja prosesnya lebih lambat. Hal yang sama berlaku untuk ban serep, meskipun tersimpan rapi di bagasi.
Sementara itu, ban serep yang dipasang di bagian luar atau kolong mobil perlu perhatian ekstra. Sebab, posisinya lebih mudah terkena panas matahari, hujan, debu, dan kotoran jalan.
Tekanan angin juga berpengaruh. Ban yang kekurangan tekanan akan menghasilkan panas lebih tinggi saat berputar. Selain itu, paparan ozon, sinar ultraviolet, dan lingkungan dengan kadar garam tinggi juga bisa mempercepat penuaan ban.
Faktor lingkungan ini bukan cuma perlu diperhatikan pemilik mobil yang tinggal dekat pantai. Daerah yang menggunakan garam untuk mencairkan es di jalan juga punya risiko serupa.

Kapan Ban Harus Diganti?
Sejumlah produsen ban punya rekomendasi soal pemeriksaan dan penggantian ban berdasarkan usia.
Michelin menyarankan ban yang sudah berumur lima tahun diperiksa oleh tenaga profesional setidaknya satu kali dalam setahun.
Sementara itu, usia enam sampai delapan tahun dianggap sebagai periode dengan risiko lebih tinggi. Pada rentang usia tersebut, ban disarankan diperiksa setidaknya dua kali dalam setahun.
Produsen juga sangat menyarankan penggantian ban saat memasuki usia delapan sampai 10 tahun. Bahkan, ban wajib diganti ketika sudah mencapai usia 10 tahun.
Saat memeriksa ban, teknisi biasanya gak cuma melihat ketebalan tapaknya. Bagian sidewall atau dinding ban juga diperiksa untuk mencari retakan, karena bagian ini ikut menahan beban kendaraan.
Setelah itu, pemeriksaan dilanjutkan ke bagian crown dan tapak ban untuk melihat retakan atau kerusakan akibat benda asing. Area shoulder, yaitu bagian pertemuan antara dinding ban dan tapak, juga gak luput dari pemeriksaan. Bagian dalam ban pun bisa ikut dicek.
Mengganti ban setiap lima tahun mungkin terasa boros, apalagi kalau kondisi tapaknya masih tebal. Namun, untuk mobil yang menempuh jarak sekitar 15.000 mil atau 24.140 km per tahun, ketebalan tapak ban biasanya sudah mencapai batas penggantian yang diwajibkan secara hukum sebelum usia lima tahun.
Sebaliknya, mobil yang hanya menempuh sekitar 5.000 mil atau 8.047 km per tahun, atau bahkan kurang, bisa saja masih punya tapak ban tebal meskipun usianya sudah cukup tua.
Jadi, jangan cuma mengandalkan usia atau ketebalan tapak untuk menentukan kondisi ban. Setelah berumur lima tahun, pemeriksaan sebaiknya lebih rutin. Kalau sudah muncul retakan atau tanda kerusakan, jangan menunggu sampai ban bermasalah di jalan.
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News2 years ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News3 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News3 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
News2 years agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
Blog2 years ago4 Mobil SUV Termahal di Dunia, Kepoin dulu Beli Nanti!
News2 years agoBus Termewah di Dunia, Fasilitasnya Kaya Hotel Bintang Lima!





















