Connect with us

Blog

Kenapa Mobil Listrik Gak Punya Knalpot?

Published

on

Pernah kepikiran gak sih, kenapa mobil listrik gak punya knalpot? Padahal, di mobil konvensional, knalpot itu komponen yang cukup penting, bahkan jadi salah satu ciri khas kendaraan.

Nah, di mobil listrik, cerita ini beda total. Gak ada pembakaran, gak ada asap

Alasan paling utama sederhana, karena mobil listrik gak punya mesin bensin atau diesel.

Kalau di mobil biasa, mesin bekerja dengan cara membakar bahan bakar. Dari proses pembakaran itu, muncul gas sisa yang harus dibuang keluar lewat knalpot. Makanya, knalpot itu wajib ada di mobil konvensional.

Sementara di mobil listrik, gak ada proses pembakaran sama sekali. Energi langsung diambil dari baterai, lalu disalurkan ke motor listrik untuk menggerakkan roda.

Karena gak ada pembakaran, otomatis gak ada gas buang. Jadi ya… gak butuh knalpot.

Ini juga yang bikin mobil listrik sering disebut lebih ramah lingkungan. Karena gak ada emisi gas buang dari kendaraan, udara di sekitar jadi lebih bersih, setidaknya dari sisi penggunaan langsung di jalan.

Makanya, mobil listrik sering jadi solusi buat ngurangin polusi di kota-kota besar.

Tanpa knalpot, pabrikan juga jadi punya kebebasan lebih dalam desain. Bagian kolong mobil bisa dimanfaatkan buat hal lain, biasanya untuk penempatan baterai yang ukurannya cukup besar.

Selain itu, tampilan belakang mobil juga jadi lebih clean karena gak perlu lubang knalpot. Makanya, banyak mobil listrik yang desainnya terlihat lebih simpel dan futuristik.

Satu lagi efek yang langsung terasa, suara.

Mobil listrik hampir gak bersuara, terutama saat jalan pelan. Ini karena nggak ada ledakan kecil dari proses pembakaran di dalam mesin.

Buat pengemudi, ini bikin pengalaman berkendara jadi lebih nyaman. Tapi di sisi lain, karena terlalu senyap, beberapa mobil listrik bahkan ditambahkan suara buatan supaya tetap “terdengar” oleh pejalan kaki.

Meski gak punya knalpot, bukan berarti mobil listrik benar-benar tanpa “sisa”. Tetap ada panas dari sistem baterai dan motor listrik yang harus dikelola. Bedanya, bukan dibuang dalam bentuk gas, tapi lewat sistem pendingin.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Sirip Hiu di Atap Mobil, Fungsinya Apa Sih?

Published

on

By

Sirip hiu di mobil fungsinya apa sih?

Kalau diperhatiin di jalan, beberapa mobil punya sirip hiu di atap. Bentuknya kecil, runcing, biasanya ada di bagian belakang atap. Sekilas cuma kayak aksesori biar mobil kelihatan lebih modern. Tapi sebenarnya, fungsi antena model shark fin ini gak sesimpel itu.

Dulu, mobil pakai antena model batang panjang yang bisa ditarik. Selain kurang enak dilihat, antena model ini juga rawan patah apalagi kalau sering masuk parkiran basement atau kena dahan pohon.

Nah, sirip hiu ini hadir sebagai solusi yang lebih praktis sekaligus lebih canggih.

Fungsi utama sirip hiu sebenarnya masih sama seperti antena lama, yaitu menangkap sinyal. Bedanya, sekarang fungsinya sudah lebih banyak.

Di dalam “sirip” kecil itu, biasanya sudah terintegrasi beberapa sistem, mulai dari radio AM/FM, GPS, sampai konektivitas seperti telematika atau bahkan internet di mobil-mobil tertentu.

Makanya, meskipun bentuknya kecil, komponen di dalamnya cukup kompleks.

Selain soal fungsi, desain juga jadi alasan kenapa banyak pabrikan beralih ke shark fin.

Bentuknya yang ramping dan menyatu dengan bodi bikin aliran udara di atas mobil jadi lebih halus dibanding antena batang. Efeknya memang gak signifikan banget ke performa, tapi tetap membantu dari sisi aerodinamika. Plus, tampilannya jelas lebih clean dan modern.

Keunggulan lain, sirip hiu ini lebih tahan terhadap gangguan luar. Karena bentuknya pendek dan solid, risiko patah jauh lebih kecil.

Selain itu, beberapa model juga punya kemampuan menangkap sinyal lebih stabil, terutama untuk GPS dan sistem navigasi. Jadi, gak cuma gaya-gayaan.

Sekarang, shark fin antenna sudah jadi standar di banyak mobil, mulai dari LCGC sampai mobil premium. Bahkan, di beberapa model, desainnya dibuat kontras dengan warna bodi biar jadi aksen tambahan.

Jadi, lain kali kalau lihat “sirip hiu” di atap mobil, jangan cuma dianggap pemanis. Di balik bentuknya yang simpel, ternyata ada teknologi yang lumayan canggih juga.

Continue Reading

Blog

Alasan Kei Car Jadi Mobil Favorit di Jepang

Published

on

By

Kei car jadi mobil favorit di Jepang.

Kalau lihat jalanan di Jepang, ada satu hal yang langsung kelihatan beda, mobil-mobilnya kecil-kecil. Bentuknya mungil, dimensinya kompak, bahkan kadang terlihat “imut” dibanding mobil pada umumnya.

Mobil jenis ini dikenal sebagai kei car. Dan uniknya, bukan cuma sekadar alternatif, tapi justru jadi pilihan utama banyak orang di Jepang.

Kei car adalah kategori mobil kecil dengan aturan khusus di Jepang. Ukurannya dibatasi, biasanya panjang maksimal sekitar 3,4 meter, lebar 1,48 meter, dan mesin kecil (umumnya 660 cc).

Contohnya bisa dilihat di model seperti Honda N-Box, Suzuki Alto, atau Daihatsu Tanto.

Walau kecil, mobil ini tetap muat 4 orang dan banyak yang desain kabinnya dibuat maksimal supaya tetap lega.

Kenapa Kei Car Begitu Populer di Jepang?

Jawabannya bukan cuma satu, tapi kombinasi dari kondisi dan aturan di Jepang.

Pertama, soal ruang. Jalanan di Jepang, terutama di area perumahan, cenderung sempit. Parkiran juga terbatas. Mobil kecil jelas lebih praktis dipakai harian.

Kedua, biaya. Pemerintah Jepang memberikan banyak insentif untuk kei car. Pajaknya lebih murah, biaya registrasi lebih ringan, bahkan asuransi juga lebih terjangkau dibanding mobil biasa.

Yang menarik, untuk mobil biasa di Jepang, pemilik wajib punya bukti parkir sebelum membeli. Tapi untuk kei car, aturan ini bisa lebih longgar di beberapa daerah. Ini jadi alasan kuat kenapa banyak orang memilih mobil kecil.

Ketiga, efisiensi. Dengan mesin kecil, konsumsi bahan bakar lebih irit. Cocok untuk penggunaan harian seperti antar-jemput atau belanja.

Walau ukurannya kecil, bukan berarti fiturnya seadanya. Kei car modern justru sudah cukup canggih.

Banyak yang sudah dilengkapi fitur keselamatan, layar infotainment, bahkan pintu geser elektrik seperti di Honda N-Box.

Desainnya juga variatif. Ada yang boxy biar lega, ada yang sporty, sampai yang tampil unik dan stylish.

Kenapa Jarang di Indonesia?

Di Indonesia, mobil seperti ini kurang populer. Salah satu alasannya karena kebutuhan konsumen berbeda.

Orang Indonesia cenderung mencari mobil yang bisa muat banyak penumpang, punya tenaga lebih besar, dan cocok untuk perjalanan jauh. Selain itu, harga kei car kalau masuk ke Indonesia juga belum tentu murah karena faktor pajak dan impor.

Continue Reading

Blog

Mobil Sedan Gak Punya Wiper Belakang, Kenapa?

Published

on

By

Kalau diperhatiin mobil sedan gak punya wiper belakang kayak hatchback atau SUV. Padahal sama-sama mobil, sama-sama kena hujan juga.

Ternyata, ini bukan soal hemat fitur atau sekadar desain, tapi lebih ke bentuk bodinya.

Sedan punya desain yang disebut “three-box”, di mana bagian kabin dan bagasi terpisah jelas. Kaca belakangnya juga dibuat lebih landai. Nah, bentuk seperti ini bikin aliran udara saat mobil berjalan jadi lebih rapi.

Angin yang mengalir dari atas atap akan “menyapu” air hujan di kaca belakang, jadi visibilitas tetap cukup terjaga tanpa bantuan wiper.

Berbeda dengan hatchback atau SUV yang punya bagian belakang lebih tegak. Desain ini bikin aliran udara jadi “berputar” di belakang mobil. Akibatnya, air, debu, bahkan kotoran lebih mudah menempel di kaca belakang. Di kondisi seperti ini, wiper jadi penting untuk menjaga pandangan tetap jelas.

Jual mobil bekas cepat laku

Makanya, di mobil dengan bodi belakang tegak, wiper belakang hampir selalu ada. Sementara di sedan, kebutuhan itu tidak terlalu mendesak.

Selain itu, faktor desain juga ikut berpengaruh. Sedan biasanya mengedepankan tampilan yang lebih clean dan elegan. Tanpa wiper belakang, garis desain jadi terlihat lebih rapi.

Tapi, bukan berarti sedan tidak butuh visibilitas ke belakang. Pabrikan biasanya mengakalinya dengan fitur lain, seperti kaca dengan lapisan water repellent atau kamera parkir yang makin umum dipakai.

Jadi, alasan sedan jarang pakai wiper belakang bukan karena “pelit fitur”, tapi memang karena secara desain dan aerodinamika, mobil ini gak terlalu butuh itu.

Continue Reading

Trending