Blog
6 Kebiasaan Ajaib Cewek di Mobil yang Gak Bisa Dilakuin Cowok

Percaya gak kalo cewek punya kebiasaan ajaib di mobil yang jarang dilakuin para cowok? Eits, gak maksud beda-bedain gender kok, tapi para cewek sering ngelakuin berbagai hal secara bersamaan. Entah posisi lagi nyetir sendiri apa dibonceng, biasanya mereka bakal ngelakuin beberapa hal yang bikin cowok geleng-geleng.
Gak percaya cewek bisa multitasking? Baca artikel ini sampai habis, deh!
Kebiasaan cewek di mobil
Para cowok mesti nganggap cewek gak bisa baca Maps. Di sisi lain, cewek punya bakat terpendam yang bantuin mereka buat menghemat waktu, seperti berikut ini.
Masukin banyak barang
Salah satu kebiasaan cewek yang jarang dilakuin cowok adalah bawa banyak barang. Entah itu parfum, baju, botol minum, skincare, pouch makeup, sampe bekal makanan. Sebenernya gak ada yang salah kalo bawa banyak barang cuma bagi cowok itu memenuhi mobil aja sih. Sabar ya, Guys!
Gak mau lewatin momen
Mau lagi nyetir mobil atau jadi penumpang, para cewek biasanya gak mau melewatkan setiap momen. Apalagi kalo ada cahaya bagus di waktu golden hour, kaum cewek mesti siap-siap selfie sebanyak-banyaknya.
Terus, kalo gak dapet foto bagus di mana? Biasanya mood para cewek bakal berantakan alias gampang bete. Buat para cowok budiman, harap pahami kemauan cewek, ya!
Nyuapin anak
Kebiasaan yang bisa dilakuin cewek di mobil berikutnya nyuapin anak. Khususnya buat ibu-ibu yang punya jadwal padat dan gak sempet makan bareng di rumah. Memang keliatannya ribet kalo bawa bekel, tapi para ibu-ibu lebih memilih nyuapin di mobil daripada anak gak sarapan. Kalo para cowok bisa gak ya ngelakuin ini?
Touch up di Mobil
Bukan rahasia umum, make up udah jadi kebiasaan cewek di mobil. Dari masuk mobil biasanya cewek-cewek langsung nurunin kaca mobil buat ngaca, terus pake skincare dan pelembap. Nanti kalo udah selo tinggal lanjutin pake lipbalm, lipstik, bedak, sampe eyeliner. Pokoknya sampe tujuan udah cantik badai aja deh!
Pakai perhiasan
Percaya gak sih kalo cewek punya kebiasaan pake perhiasan di mobil? Biasanya para cewek pake cincin, kalung, gelang, atau anting-anting. Padahal sebenernya, aksesori ini bisa nyangkut di baju atau terselip di kursi mobil. Hem, jago banget kan kaum hawa ini?
Ngeroll rambut
Cewek mana yang gak pingin tampil cantik paripurna? Mau lagi nyetir atau jadi penumpang, sebagian cewek gak bisa lepas dari rol rambut. Soalnya rol rambut bikin poni lebih ngembang dan rambut makin curly. Jadi, rambut udah makin cantik aja kalo lagi pergi-pergi atau ketemu orang penting.
Itu tadi beberapa kebiasaan multitask cewek di mobil. Buat para cewek tetap hati-hati kalo ngelakuin kegiatan multitask, ya!
Blog
Mengenal Crash Test, Untuk Menguji Seberapa Aman Mobil?

Kalau lagi cari mobil baru, pasti pernah lihat pabrikan atau dealer memamerkan hasil crash test bintang 5 sebagai salah satu nilai jual produknya. Bahkan, sekarang banyak konsumen yang menjadikan rating keselamatan sebagai bahan pertimbangan sebelum membeli mobil.
Tapi sebenarnya, apa sih crash test itu? Dan kenapa hampir semua pabrikan berlomba-lomba mendapatkan nilai bintang 5?
Crash Test, Simulasi Kecelakaan yang Sengaja Dilakukan
Sesuai namanya, crash test adalah pengujian tabrakan yang dilakukan untuk melihat seberapa aman sebuah mobil ketika mengalami kecelakaan.
Dalam pengujian ini, mobil sengaja ditabrakkan ke berbagai objek dengan skenario tertentu. Tujuannya untuk tahu seberapa baik struktur bodi, airbag, sabuk pengaman, hingga sistem keselamatan lainnya dalam melindungi penumpang.
Biasanya, di dalam mobil ditempatkan boneka khusus yang disebut crash test dummy. Boneka ini dipenuhi sensor untuk mengukur dampak benturan yang diterima bagian kepala, dada, kaki, hingga leher.
Dari data tersebut, lembaga penguji bisa menghitung risiko cedera yang mungkin dialami penumpang saat kecelakaan terjadi di dunia nyata.
Gak Cuma Tabrak Depan
Banyak yang mengira crash test hanya berupa mobil ditabrakkan dari depan. Padahal, pengujiannya jauh lebih kompleks.
Ada beberapa skenario yang umum dilakukan, kayak tabrak depan (frontal impact), tabrak samping (side impact), tabrak tiang atau pole test, uji perlindungan pejalan kaki, uji perlindungan anak, sampai uji teknologi keselamatan aktif.
Setiap pengujian punya tujuan berbeda. Misalnya, tabrak samping dilakukan untuk melihat kemampuan bodi dan airbag samping dalam melindungi penumpang ketika kendaraan dihantam dari sisi kanan atau kiri.
Sementara pole test mensimulasikan kondisi mobil menghantam tiang listrik atau pohon dengan area benturan yang sempit.
Siapa yang Melakukan Crash Test?
Ada beberapa lembaga independen yang dikenal luas dalam dunia otomotif.
Yang paling sering dijadikan acuan, mulai dari Euro NCAP untuk pasar Eropa, ANCAP untuk Australia dan Selandia Baru, ASEAN NCAP untuk negara-negara Asia Tenggara sampai IIHS di Amerika Serikat.
Masing-masing memang punya metode penilaian yang sedikit berbeda. Tapi tujuannya sama, yaitu memberikan gambaran kepada konsumen mengenai tingkat keselamatan sebuah mobil.

Kenapa Semua Mengejar Bintang 5?
Sistem penilaian crash test biasanya menggunakan rating bintang, mulai dari satu hingga lima bintang.
Semakin tinggi bintangnya, semakin baik pula kemampuan mobil dalam melindungi pengemudi dan penumpang saat terjadi kecelakaan.
Dulu, mendapatkan empat bintang sudah dianggap bagus. Tapi sekarang situasinya berubah.
Perkembangan teknologi keselamatan membuat standar industri ikut naik. Fitur seperti Electronic Stability Control (ESC), Autonomous Emergency Braking (AEB), Lane Keep Assist, hingga enam airbag atau lebih mulai menjadi hal yang umum.
Akibatnya, banyak mobil baru harus mampu meraih bintang 5 agar dianggap kompetitif di pasaran.
Kalau sebuah mobil baru hanya memperoleh tiga atau empat bintang, konsumen biasanya langsung membandingkannya dengan rival yang sudah mendapat lima bintang.
Bintang 5 Bukan Berarti Kebal Kecelakaan
Nah, ini yang sering disalahartikan. Mobil dengan rating bintang 5 bukan berarti penumpangnya pasti selamat dalam semua kondisi kecelakaan.
Rating tersebut hanya menunjukkan bahwa mobil memiliki tingkat perlindungan yang lebih baik dibanding kendaraan dengan nilai lebih rendah berdasarkan skenario pengujian tertentu.
Faktor lain seperti kecepatan kendaraan, kondisi jalan, penggunaan sabuk pengaman, hingga arah benturan tetap sangat berpengaruh terhadap tingkat keselamatan.
Jadi, meskipun mobil sudah punya rating tertinggi, pengemudi tetap harus berkendara dengan aman.
Blog
Mengenal V2L, Powerbank Raksasa di Mobil Listrik

Mobil listrik bukan cuma bisa dipakai buat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seiring perkembangan teknologi, sekarang banyak mobil listrik yang punya fitur tambahan yang cukup menarik, yaitu Vehicle-to-Load (V2L).
Kalau disederhanakan, V2L memungkinkan baterai mobil listrik dipakai untuk menyuplai listrik ke perangkat elektronik di luar mobil. Jadi, mobil gak cuma mengisi daya untuk dirinya sendiri, tapi juga bisa “membagi” listrik ke perangkat lain.
Makanya, gak sedikit yang menyebut fitur ini sebagai powerbank raksasa berjalan.
Cara Kerjanya Gimana?
Sebenarnya konsepnya cukup sederhana. Energi listrik yang tersimpan di baterai mobil dialirkan keluar melalui soket khusus atau adaptor V2L.
Dari situ, pengguna bisa mencolokkan berbagai perangkat elektronik layaknya menggunakan stop kontak rumah.
Mulai dari charger laptop, rice cooker, mesin kopi, kipas angin, televisi, lampu penerangan, sampai peralatan camping bisa mendapatkan suplai daya langsung dari mobil.
Pada beberapa model, daya yang bisa dikeluarkan bahkan mencapai 2.000 hingga 3.600 watt. Angka tersebut sudah cukup untuk menjalankan beberapa perangkat sekaligus.
Cocok Buat Camping dan Aktivitas Outdoor
Salah satu alasan fitur V2L mulai populer adalah karena gaya hidup outdoor yang makin digemari.
Bayangkan saat camping di area yang jauh dari sumber listrik. Pengguna bisa tetap menyalakan lampu, memasak menggunakan kompor listrik, mengisi daya gadget, bahkan menonton film menggunakan proyektor hanya dengan memanfaatkan baterai mobil.
Praktisnya, pengguna gak perlu lagi membawa genset yang berisik atau power station tambahan yang ukurannya cukup besar.
Tinggal parkir, colok perangkat, lalu listrik siap digunakan.

Bisa Jadi Penyelamat Saat Listrik Padam
Selain buat rekreasi, fitur V2L juga bisa berguna dalam kondisi darurat.
Saat terjadi pemadaman listrik, mobil bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi sementara untuk menyalakan lampu, modem internet, kulkas kecil, atau perangkat penting lainnya.
Memang kapasitasnya tetap terbatas karena bergantung pada sisa baterai mobil. Tapi untuk kebutuhan darurat beberapa jam, fitur ini cukup membantu.
Apalagi kapasitas baterai mobil listrik saat ini rata-rata sudah berada di kisaran 40 kWh sampai lebih dari 70 kWh. Jauh lebih besar dibandingkan powerbank konvensional yang biasa dipakai sehari-hari.
Apakah Bikin Baterai Cepat Habis?
Jawabannya tentu iya, karena energi yang tersimpan di baterai digunakan untuk menyuplai perangkat lain.
Namun selama pengguna memahami kebutuhan daya yang dipakai, pengaruhnya biasanya gak terlalu signifikan.
Sebagai contoh, jika sebuah mobil memiliki baterai 50 kWh dan hanya digunakan untuk menyalakan lampu, laptop, serta perangkat elektronik ringan selama beberapa jam, konsumsi dayanya relatif kecil dibandingkan total kapasitas baterai yang tersedia.
Karena itu, banyak pabrikan sudah menyiapkan sistem pengaman agar baterai gak terkuras habis saat fitur V2L digunakan.
Mulai Banyak Ditemui di Mobil Listrik
Dulu fitur ini hanya tersedia di beberapa model tertentu. Tapi sekarang V2L mulai menjadi fitur yang cukup umum di berbagai mobil listrik modern.
Alasannya sederhana, konsumen kini gak hanya mencari kendaraan yang efisien, tapi juga kendaraan yang bisa mendukung berbagai aktivitas sehari-hari.
Dengan adanya V2L, mobil listrik jadi punya fungsi lebih luas. Bukan cuma alat transportasi, tapi juga bisa berubah menjadi sumber listrik portabel saat dibutuhkan.
Jadi kalau ada yang bilang mobil listrik cuma bisa dipakai buat jalan, mungkin sekarang saatnya melihat sisi lain yang jarang dibahas. Sebab dalam kondisi tertentu, mobil listrik juga bisa berperan sebagai powerbank raksasa yang siap menyuplai listrik ke mana saja.
Blog
Kenalan Sama WLTP, NEDC, EPA, dan CLTC

Kalau lagi lihat spesifikasi mobil listrik, pasti pernah nemu angka jarak tempuh yang bikin bingung.
Misalnya ada mobil yang diklaim bisa menempuh 600 kilometer. Tapi pas lihat di sumber lain, angkanya cuma 500 kilometer. Bahkan ada yang turun lagi jadi sekitar 450 kilometer.
Padahal mobilnya sama.
Nah, perbedaan itu biasanya bukan karena ada yang salah tulis. Penyebabnya adalah standar pengujian yang dipakai berbeda.
Sama kayak konsumsi bahan bakar mobil bensin yang bisa berbeda tergantung metode tesnya, jarak tempuh mobil listrik juga punya beberapa standar pengukuran. Yang paling sering ditemui adalah NEDC, WLTP, EPA, dan sekarang mulai banyak juga CLTC.
Buat yang lagi cari mobil listrik, memahami perbedaan standar ini penting supaya gak salah berekspektasi.
NEDC, angkanya biasanya paling bikin senang
NEDC atau New European Driving Cycle merupakan metode pengujian yang sudah dipakai sejak lama di Eropa.
Masalahnya, standar ini dibuat saat kondisi lalu lintas dan karakter kendaraan masih jauh berbeda dibanding sekarang.
Dalam pengujiannya, mobil diuji dengan pola berkendara yang relatif santai. Kecepatan rata-rata rendah, akselerasi pelan, dan simulasi kondisi jalan juga gak terlalu menantang.
Alhasil, hasil jarak tempuh yang keluar biasanya cukup optimistis.
Makanya banyak mobil listrik yang punya klaim jarak tempuh tinggi kalau memakai standar NEDC. Tapi saat dipakai sehari-hari, hasilnya sering kali gak semanis angka di brosur.
Kalau diibaratkan, NEDC ini seperti menghitung konsumsi BBM saat jalanan kosong terus tanpa macet.

WLTP, sekarang paling sering dipakai
Karena NEDC dianggap sudah kurang relevan, kemudian hadir WLTP atau Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure.
Saat ini WLTP menjadi salah satu standar yang paling banyak digunakan oleh pabrikan mobil di berbagai negara.
Dibanding NEDC, pengujian WLTP jauh lebih realistis. Kecepatan kendaraan lebih bervariasi, akselerasi lebih sering dilakukan, dan durasi tes juga lebih panjang.
Karena simulasinya lebih mendekati kondisi berkendara sehari-hari, hasil yang didapat biasanya lebih masuk akal.
Makanya, kalau melihat satu mobil dengan angka WLTP lebih rendah daripada NEDC, itu hal yang normal.
Banyak pengguna EV juga menganggap angka WLTP cukup dekat dengan pemakaian nyata, meski hasil akhirnya tetap tergantung cara mengemudi dan kondisi jalan.
EPA, standar yang terkenal paling “jujur”
Kalau melihat mobil listrik asal Amerika Serikat, biasanya mereka menggunakan standar EPA atau Environmental Protection Agency.
Di kalangan pecinta EV, EPA punya reputasi sebagai standar yang paling konservatif.
Kenapa? Karena metode pengujiannya lebih ketat dibanding standar lain. Hasilnya pun cenderung lebih rendah.
Tapi justru karena itu banyak orang menganggap EPA sebagai angka yang paling aman untuk dijadikan patokan.
Misalnya ada mobil listrik dengan jarak tempuh 550 kilometer versi WLTP. Saat diuji EPA, bisa saja hasilnya cuma sekitar 480-500 kilometer.
Kelihatannya turun jauh, tapi biasanya angka tersebut lebih mendekati kondisi penggunaan di dunia nyata.
Makanya kalau melihat mobil dengan klaim EPA 500 kilometer, banyak orang merasa cukup yakin mobil tersebut memang bisa mendekati angka itu dalam penggunaan normal.

CLTC, bikin angka jarak tempuh terlihat panjang
Belakangan, standar CLTC atau China Light-Duty Vehicle Test Cycle juga makin sering muncul.
Wajar saja, karena sekarang banyak mobil listrik asal China yang masuk ke Indonesia.
Nah, CLTC ini sering menghasilkan angka yang lebih tinggi dibanding WLTP.
Pola pengujiannya dinilai lebih ringan sehingga hasil jarak tempuhnya terlihat lebih panjang.
Makanya jangan heran kalau ada mobil listrik yang diklaim mampu menempuh 700 kilometer berdasarkan CLTC, tapi saat dikonversi ke WLTP angkanya bisa turun cukup banyak.
Bukan berarti mobilnya jadi lebih boros, tapi memang metode tesnya berbeda.
Jadi yang mana yang harus dipercaya?
Sebenarnya gak ada standar yang bisa menjamin hasilnya bakal sama persis saat mobil dipakai di jalan.
Soalnya masih banyak faktor lain yang berpengaruh, mulai dari gaya berkendara, kondisi lalu lintas, suhu udara, penggunaan AC, kontur jalan, sampai beban kendaraan.
Jadi mulai sekarang, kalau melihat brosur mobil listrik dengan klaim jarak tempuh yang fantastis, jangan cuma fokus ke angkanya.
Cek juga standar pengujiannya.
Sebab mobil dengan jarak tempuh 500 kilometer versi WLTP bisa saja punya performa nyata yang lebih baik dibanding mobil dengan klaim 600 kilometer versi NEDC atau CLTC.
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News2 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News2 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
News1 year agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
News2 years agoKatakan Selamat Tinggal ke Calo, Kini SIM Gak Bisa Nembak Lagi!
Blog2 years ago4 Mobil SUV Termahal di Dunia, Kepoin dulu Beli Nanti!















