Connect with us

Blog

Termurah se-Indonesia, Ini 5 Fakta Mobil Wuling Air ev!

Published

on

Wuling Air ev

Mobil listrik mana lagi yang udah kejual 11.000+ unit di pasar ev Indonesia? Satu-satunya, ya Wuling Air ev ini. Bodinya kecil mungil, cocok buat cewek-cewek yang mau tampil feminim. Dibalik bodi mobil yang cewek-able, ternyata mobil satu ini punya beberapa fakta menarik yang mungkin belum kamu ketahui. 

Biar gak penasaran, langsung aja kita cari tau 5 fakta menarik dari Air Ev ini! 

Charging Wuling Air ev
slot usb Wuling Air ev
eksterior Wuling Air ev
interior Wuling Air ev
dashbord Wuling Air ev

Desain mobil futuristik

Wuling terus berinovasi membangun mobil Global Small Electric Vehicle (GSEV) atau mobil listrik yang bentuknya kecil. Salah satunya ya Wuling Air EV yang desainnya futuristik dan terkesan elegan. 

Mobil 4 seater ini punya 6 pilihan warna, Atlantis Blue, Avocado Green, Bandung Blue, British Green, Carnelian Red, dan Pristine White. Mobil ini juga udah punya konsol tengah dan beberapa tombol otomatis. 

Varian

Kamu tau belum kalo Wuling Air EV punya 3 tipe berbeda? Tipe pertama Air ev Long Range yang punya fitur tambahan wide screen, smart start system, center console, waterproof baterai, easy home charging, dan 2 air bags. 

Tipe kedua, Air ev Standar Range. Mobil ini punya waterproof baterai, easy home charging, 2 air bags. Sedangkan tipe ketiga, Air ev Lite cuma punya 1 airbag dan easy home charging aja.

Simple charging

Percaya atau gak, keamanan baterai Air ev udah ngelewatin 41 hasil uji baterai yang lolos standar industri. Kapan pun kamu butuh, tinggal change di rumah atau SPKLU aja. Kamu gak butuh waktu lama-lama buat ngecharge, kok. Sekali ngecharge cuma butuh waktu 8,5-11 jam (20-100%) dengan minimal daya 2,2 kW. 

Seberapa awet sih baterai Wuling Air ev? Untuk tipe Long Range, sekali ngecharge bisa nempuh 300 km, sedangkan Standar Range dan Lite bisa nempuh jarak 200 km. Kurang lebih bisa PP Jakarta ke Bandung, deh!

Punya colokan rahasia

Kamu pasti gak nyangka kalo Wuling Air ev sempet-sempetnya mikir colokan rahasia. Yup, bener banget. Di bawah spion kaca tengah ada colokan USB yang bisa kamu manfaatin buat pasang kamera depan atau dashcam kalo ngerekam perjalanan. Adanya colokan kayak gini gak bikin kabel terurai panjang kan? 

Harga Wuling Air ev ekonomis

Menurut kamu berapa harga yang cocok buat mobil listrik futuristik? Dilansir dari laman Wuling.id, harga promo Air ev-Lite Rp 190 juta, Air ev- Standar Range Rp 224 juta, Air ev- Long Range Rp 275 juta. Masih aman di kantong kan? 

Kalo kamu mau tau lebih lanjut review lebih lanjut tentang mobil Air ev, langsung cek di Youtube Halotomotif aja. Mimin cantumin di bawah ini videonya! 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Mengenal Beda Mild Hybrid, Full Hybrid, dan Plug-in Hybrid

Published

on

By

Toyota prius HEV di GIIAS 2024

Mobil hybrid makin banyak ditemui di Indonesia. Pilihannya juga beragam, mulai dari SUV, MPV, sedan, sampai hatchback. Menariknya lagi, sekarang istilah hybrid gak cuma satu. Ada yang disebut mild hybrid, full hybrid, dan plug-in hybrid (PHEV).

Buat yang baru mulai melirik mobil elektrifikasi, tiga istilah ini sering bikin bingung. Sama-sama ada embel-embel hybrid, tapi ternyata cara kerjanya cukup berbeda.

Nah, biar gak salah paham, yuk kenalin satu per satu.

Apa Itu Mobil Hybrid?

Sebelum masuk ke jenis-jenisnya, perlu dipahami dulu bahwa mobil hybrid adalah kendaraan yang menggunakan dua sumber tenaga.

Biasanya kombinasi antara mesin bensin dan motor listrik. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar sekaligus mengurangi emisi gas buang.

Yang membedakan adalah seberapa besar peran motor listrik dalam menggerakkan mobil.

Mild Hybrid, Motor Listrik Cuma Membantu

Mild hybrid bisa dibilang menjadi level paling dasar dalam teknologi hybrid.

Pada sistem ini, motor listrik gak bisa menggerakkan mobil sendirian. Tugasnya hanya membantu mesin bensin saat akselerasi, menjaga sistem kelistrikan, atau membantu proses start-stop mesin.

Karena perannya terbatas, kapasitas baterainya juga relatif kecil.

Saat mobil melaju, sumber tenaga utama tetap berasal dari mesin bensin.

Keunggulannya, sistem ini lebih sederhana, bobot kendaraan gak bertambah terlalu banyak, dan harga mobil biasanya lebih terjangkau dibanding hybrid jenis lain.

Makanya banyak pabrikan menggunakan teknologi mild hybrid sebagai langkah awal menuju elektrifikasi.

Full Hybrid, Bisa Jalan Pakai Motor Listrik

Kalau full hybrid, kemampuan motor listriknya sudah jauh lebih besar.

Pada kondisi tertentu, mobil bisa berjalan hanya menggunakan tenaga listrik tanpa bantuan mesin bensin.

Misalnya saat merayap di kemacetan, berjalan pelan di area parkir, atau ketika kecepatan rendah.

Saat baterai mulai berkurang, mesin bensin akan menyala secara otomatis untuk membantu menggerakkan mobil sekaligus mengisi ulang baterai.

Yang menarik, pengguna gak perlu mencolok mobil ke sumber listrik eksternal.

Energi baterai diperoleh dari mesin dan sistem regenerative braking yang memanfaatkan energi saat mobil melambat atau mengerem.

Jenis inilah yang saat ini paling banyak ditemui di Indonesia.

Plug-in Hybrid, Gabungan Hybrid dan Mobil Listrik

Kalau plug-in hybrid atau PHEV, level elektrifikasinya lebih tinggi lagi.

Mobil jenis ini memiliki baterai yang jauh lebih besar dibanding full hybrid. Karena itu, jarak tempuh dalam mode listrik murninya juga lebih jauh.

Bahkan beberapa model bisa menempuh 50 sampai lebih dari 100 kilometer tanpa menyalakan mesin bensin sama sekali.

Bedanya dengan full hybrid, baterai PHEV bisa diisi ulang dari luar menggunakan charger atau stasiun pengisian kendaraan listrik.

Makanya disebut plug-in hybrid.

Dalam penggunaan harian, banyak pemilik PHEV yang jarang menggunakan bensin karena kebutuhan perjalanan mereka sudah bisa dipenuhi oleh mode listrik.

Tapi saat harus melakukan perjalanan jauh, mesin bensin tetap siap bekerja sehingga pengemudi gak perlu khawatir soal jarak tempuh.

Mana yang Paling Irit?

Jawabannya tergantung pola penggunaan.

Kalau hanya melihat teknologi, plug-in hybrid biasanya menawarkan konsumsi bahan bakar paling rendah karena bisa berjalan cukup jauh menggunakan listrik.

Namun efisiensi maksimal baru terasa jika pemilik rajin mengisi daya baterai.

Kalau baterainya jarang dicas, keunggulan PHEV bisa berkurang karena mobil tetap membawa baterai berukuran besar yang menambah bobot kendaraan.

Di sisi lain, full hybrid menjadi pilihan yang praktis karena pengguna gak perlu repot mencari charger.

Sementara mild hybrid cocok buat yang ingin merasakan teknologi elektrifikasi tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar hybrid konvensional atau PHEV.

Continue Reading

Blog

Cobain Autonomous VLA 2.0 XPENG di Guangzhou, Gimana Rasanya?

Published

on

By

XPENG VLA

XPENG sebelumnya udah ngenalin teknologi VLA 2.0 di event Beijing Auto Show bulan April lalu. Nah kemarin, tim Halotomotif akhirnya dapet kesempatan buat nyobain langsung teknologi autonomous driving ini di Headquarter XPENG yang ada di Guangzhou, China lewat acara XPENG Physical AI “Immersive”. Bisa dibilang ini jadi pengalaman yang cukup mind blowing karena kita benar-benar ngerasain mobil nyetir sendiri di kondisi jalanan real.

Sebelum masuk ke pengalaman test drive-nya, kita bahas dulu nih apa itu VLA. VLA atau Vision-Language-Action adalah model AI yang menggabungkan kemampuan melihat, memahami situasi, dan mengambil tindakan dalam satu sistem terpadu. Simpelnya, mobil bisa “lihat” kondisi sekitar lewat kamera lalu langsung memutuskan harus melakukan apa. Teknologi ini nantinya bukan cuma dipakai buat mobil autonomous aja, tapi juga robot humanoid, Robotaxi, sampai perangkat pintar lainnya. Jadi bisa dibilang, VLA ini adalah evolusi autopilot canggih versi XPENG.

Pertama kali cobain teknologi VLA dari XPENG


Sesi pengetesan diawali dengan bikin SIM sementara di kantor kepolisian China. Setelah urusan administrasi selesai, barulah kami mencoba beberapa line-up XPENG yang sudah dibekali teknologi VLA. Ada dua model yang disiapkan, yaitu XPENG P7 dan XPENG G7. Beruntung banget kami kebagian nyobain XPENG P7 yang jadi flagship sekaligus backbone dari brand ini.


Acara dimulai dengan sesi familiarisasi dulu bersama instruktur mengemudi. Kami diajak keliling sekitar 15 menit buat mengenal karakter mobil dan sistemnya. Setelah itu barulah kami duduk di kursi pengemudi dan mulai test drive langsung. Kondisi saat pengetesan juga nggak ideal-ideal amat karena cuaca lagi gerimis dan lalu lintas cukup padat. Tapi justru di situ serunya, karena jadi pembuktian apakah sistem VLA benar-benar bisa diandalkan di situasi nyata.


First impression saat duduk di balik setir, XPENG P7 ini terasa nyaman banget. Posisi duduk gampang diatur karena joknya sudah elektrik lengkap, ditambah setir tilt dan telescopic yang bikin posisi nyetir makin pas. Untuk mengaktifkan VLA juga ternyata simpel. Tinggal set tujuan di maps yang ada di layar multimedia, jalanin mobil secara manual sebentar, lalu tekan tombol bulat di sebelah kiri setir. Setelah itu sistem autonomous langsung aktif tanpa drama.


Selama pengetesan, performa VLA 2.0 ini honestly bikin kagum. Mobil bisa baca lampu lalu lintas, mendeteksi motor dan pejalan kaki, sampai nyalip kendaraan di depannya dengan gerakan yang halus banget. Bahkan kami sempat lewat jalan kecil dengan kondisi kurang bagus dan harus berpapasan sama truk besar. Di momen itu, sistem langsung mengarahkan mobil sedikit ke bahu jalan supaya aman. Ban kanan bahkan sempat keluar dari badan jalan demi kasih ruang ke truk lewat. Setelah aman, mobil langsung balik lagi ke jalur dan lanjut jalan secara autonomous. Tapi demi keamanan, pengemudi tetap harus sesekali menyentuh setir supaya sistem tahu kalau driver masih fokus dan sadar.


Ada juga satu momen cukup tense waktu kami lagi ada di tengah perempatan. Tiba-tiba semua lampu lalu lintas berubah merah secara mendadak. “Semua memang sudah auto, tapi kita tetap harus aware sama sekitar. Walaupun saya percaya mobil ini sebenarnya juga bisa membaca kondisi darurat,” ujar Miki, instruktur mengemudi yang mendampingi kami selama test drive.

Hal menarik dari VLA 2.0 XPENG


Yang bikin teknologi ini makin menarik, VLA 2.0 disebut sudah masuk kategori autonomous driving level 4. Sistemnya juga diklaim bisa membaca kondisi jalan hingga 200 meter ke depan dan menentukan arah mobil secara real-time. Karena basisnya full kamera tanpa lidar, mobil bahkan bisa membaca gerakan tangan polisi lalu lintas dan mencari jalur alternatif meskipun kondisi jalan tidak sesuai dengan maps.


Dibanding teknologi autonomous lain di industri, XPENG VLA 2.0 punya pendekatan yang cukup berbeda. Mereka menghilangkan lapisan perantara “Language Representation”, jadi sistem bisa langsung memproses visual dan menghasilkan aksi lebih cepat layaknya refleks manusia. XPENG juga menyebut teknologi ini sebagai intelligent driving model pertama di China yang punya potensi menuju autonomous driving level 4 dan jadi rival serius buat Tesla FSD. Fokus pengembangannya sendiri ada di empat poin utama, yaitu mengurangi error, respons lebih cepat, pengalaman berkendara yang lebih natural, dan kemampuan AI yang makin adaptif di berbagai kondisi jalan.

Continue Reading

Blog

Mengenal Crash Test, Untuk Menguji Seberapa Aman Mobil?

Published

on

By

crash test

Kalau lagi cari mobil baru, pasti pernah lihat pabrikan atau dealer memamerkan hasil crash test bintang 5 sebagai salah satu nilai jual produknya. Bahkan, sekarang banyak konsumen yang menjadikan rating keselamatan sebagai bahan pertimbangan sebelum membeli mobil.

Tapi sebenarnya, apa sih crash test itu? Dan kenapa hampir semua pabrikan berlomba-lomba mendapatkan nilai bintang 5?

Crash Test, Simulasi Kecelakaan yang Sengaja Dilakukan

Sesuai namanya, crash test adalah pengujian tabrakan yang dilakukan untuk melihat seberapa aman sebuah mobil ketika mengalami kecelakaan.

Dalam pengujian ini, mobil sengaja ditabrakkan ke berbagai objek dengan skenario tertentu. Tujuannya untuk tahu seberapa baik struktur bodi, airbag, sabuk pengaman, hingga sistem keselamatan lainnya dalam melindungi penumpang.

Biasanya, di dalam mobil ditempatkan boneka khusus yang disebut crash test dummy. Boneka ini dipenuhi sensor untuk mengukur dampak benturan yang diterima bagian kepala, dada, kaki, hingga leher.

Dari data tersebut, lembaga penguji bisa menghitung risiko cedera yang mungkin dialami penumpang saat kecelakaan terjadi di dunia nyata.

Gak Cuma Tabrak Depan

Banyak yang mengira crash test hanya berupa mobil ditabrakkan dari depan. Padahal, pengujiannya jauh lebih kompleks.

Ada beberapa skenario yang umum dilakukan, kayak tabrak depan (frontal impact), tabrak samping (side impact), tabrak tiang atau pole test, uji perlindungan pejalan kaki, uji perlindungan anak, sampai uji teknologi keselamatan aktif.

Setiap pengujian punya tujuan berbeda. Misalnya, tabrak samping dilakukan untuk melihat kemampuan bodi dan airbag samping dalam melindungi penumpang ketika kendaraan dihantam dari sisi kanan atau kiri.

Sementara pole test mensimulasikan kondisi mobil menghantam tiang listrik atau pohon dengan area benturan yang sempit.

Siapa yang Melakukan Crash Test?

Ada beberapa lembaga independen yang dikenal luas dalam dunia otomotif.

Yang paling sering dijadikan acuan, mulai dari Euro NCAP untuk pasar Eropa, ANCAP untuk Australia dan Selandia Baru, ASEAN NCAP untuk negara-negara Asia Tenggara sampai IIHS di Amerika Serikat.

Masing-masing memang punya metode penilaian yang sedikit berbeda. Tapi tujuannya sama, yaitu memberikan gambaran kepada konsumen mengenai tingkat keselamatan sebuah mobil.

Kenapa Semua Mengejar Bintang 5?

Sistem penilaian crash test biasanya menggunakan rating bintang, mulai dari satu hingga lima bintang.

Semakin tinggi bintangnya, semakin baik pula kemampuan mobil dalam melindungi pengemudi dan penumpang saat terjadi kecelakaan.

Dulu, mendapatkan empat bintang sudah dianggap bagus. Tapi sekarang situasinya berubah.

Perkembangan teknologi keselamatan membuat standar industri ikut naik. Fitur seperti Electronic Stability Control (ESC), Autonomous Emergency Braking (AEB), Lane Keep Assist, hingga enam airbag atau lebih mulai menjadi hal yang umum.

Akibatnya, banyak mobil baru harus mampu meraih bintang 5 agar dianggap kompetitif di pasaran.

Kalau sebuah mobil baru hanya memperoleh tiga atau empat bintang, konsumen biasanya langsung membandingkannya dengan rival yang sudah mendapat lima bintang.

Bintang 5 Bukan Berarti Kebal Kecelakaan

Nah, ini yang sering disalahartikan. Mobil dengan rating bintang 5 bukan berarti penumpangnya pasti selamat dalam semua kondisi kecelakaan.

Rating tersebut hanya menunjukkan bahwa mobil memiliki tingkat perlindungan yang lebih baik dibanding kendaraan dengan nilai lebih rendah berdasarkan skenario pengujian tertentu.

Faktor lain seperti kecepatan kendaraan, kondisi jalan, penggunaan sabuk pengaman, hingga arah benturan tetap sangat berpengaruh terhadap tingkat keselamatan.

Jadi, meskipun mobil sudah punya rating tertinggi, pengemudi tetap harus berkendara dengan aman.

Continue Reading

Trending