Blog
Sering Terlihat di Jalan Tol, Apa Sih Arti Marka Chevron?

Kalau sering lewat jalan tol, pasti pernah lihat area jalan yang dicat garis-garis miring warna putih. Biasanya ada di dekat pintu keluar tol atau di titik pertemuan jalur masuk dengan jalur utama. Sekilas kelihatan kayak “ruang kosong”, tapi sebenarnya area ini bukan buat dilewatin.
Nama resminya marka chevron, atau sering juga disebut marka serong. Ciri khasnya gampang dikenalin, garisnya miring dan utuh, tidak terputus sama sekali. Artinya simpel, kendaraan dilarang masuk ke area ini.
Kenapa dilarang? Karena marka chevron memang dibuat buat jaga jarak dan alur kendaraan. Di jalan tol, kecepatan tinggi dan manuver mendadak bisa berbahaya. Dengan adanya marka ini, pengemudi diarahkan supaya gak asal potong jalur, terutama di titik-titik rawan.

Aturannya juga bukan asal-asalan. Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 34 Tahun 2014, marka serong dijelaskan sebagai tanda area jalan yang bukan jalur lalu lintas kendaraan. Jadi meskipun kelihatannya bisa dilewati, secara aturan memang gak boleh ya.
Makanya, marka chevron paling sering ditemui di pertemuan dua jalur, misalnya antara jalur utama tol dan jalur keluar. Tapi di beberapa ruas tol, marka ini juga dipasang di jalur lurus yang dikenal rawan kecelakaan, meski tidak ada percabangan.
Intinya, kalau lagi di tol dan lihat marka bergaris serong, jangan tergoda buat motong jalan. Tetap di jalur masing-masing, karena marka chevron dibuat buat satu tujuan, bikin perjalanan lebih aman dan tertib.
Blog
Eco Mode, Beneran Bikin Irit atau Cuma Gimmick?

Mobil baru sekarang rata-rata sudah punya fitur “ECO” di mobil, yang katanya bisa bikin konsumsi BBM jadi lebih irit. Tapi di sisi lain, pasti ada juga yang mikir, “ini beneran ngaruh atau cuma fitur biar keliatan canggih doang?”
Soalnya, gak sedikit yang merasa konsumsi BBM tetap segitu-segitu aja, walau eco mode sudah aktif. Akhirnya muncul anggapan kalau fitur ini cuma gimmick.
Padahal, eco mode sebenarnya punya fungsi yang cukup jelas.
Begitu diaktifkan, mobil akan “diatur” supaya nggak terlalu agresif. Respons gas jadi lebih halus, tenaga keluar bertahap, dan putaran mesin dijaga tetap rendah. Tujuannya, supaya konsumsi bahan bakar bisa ditekan.
Makanya, dalam kondisi tertentu, seperti jalanan lancar atau dipakai cruising eco mode memang bisa bantu bikin mobil lebih irit.

Tapi, bukan berarti efeknya selalu terasa. Kalau gaya nyetir masih suka gas dalam-dalam atau sering akselerasi mendadak, ya hasilnya bakal sama aja. Mobil tetap bakal butuh bahan bakar lebih banyak.
Belum lagi kalau dipakai di kondisi yang butuh tenaga ekstra, seperti nanjak atau bawa beban berat. Eco mode justru bisa bikin mobil terasa “ketahan”, dan tanpa sadar pedal gas jadi ditekan lebih dalam. Di situ, efek iritnya malah jadi hilang.
Jadi, eco mode bukan sekadar gimmick, tapi juga bukan solusi instan. Fitur ini lebih cocok dibilang sebagai “alat bantu” biar mobil tetap efisien dengan catatan, cara nyetirnya juga ikut menyesuaikan.
Intinya, mau irit atau gak, bukan cuma soal tombol ECO. Tapi juga bagaimana kaki kanan kamu mainin pedal gas.
Blog
Sudah Tahu Fungsi Regenerative Braking di Mobil Listrik?

Lagi bawa mobil listrik, lepas pedal gas… eh mobil melambat sendiri. Yang bikin makin menarik, katanya di momen itu baterai malah ke isi. Loh, gimana ceritanya?
Nah, di situlah peran fitur yang namanya regenerative braking.
Kalau di mobil biasa, setiap kali kamu ngerem, energi dari laju mobil itu hilang begitu saja jadi panas. Makanya rem bisa panas kalau sering dipakai.
Tapi di mobil listrik, energi itu nggak langsung dibuang. Sebagian “ditangkep” lagi dan diubah jadi listrik buat ngisi baterai. Itulah kenapa disebut Regenerative karena energi yang tadinya kebuang, diregenerasi alias dipakai ulang.
Cara kerjanya cukup simpel. Di mobil listrik, motor itu punya dua fungsi, bisa jadi penggerak, tapi juga bisa jadi “generator”.
Pas kamu injak gas, motor pakai listrik dari baterai buat muter roda. Tapi begitu kamu lepas gas atau mulai ngerem, sistemnya dibalik. Roda yang masih muter bakal “memutar balik” motor tadi, dan dari situ dihasilkan listrik yang disalurin lagi ke baterai.
Makanya, setiap deselerasi itu sebenarnya ada proses ngecas kecil-kecilan.
Terus apa yang bikin mobil bisa melambat sendiri?

Ini yang sering bikin kaget pertama kali coba mobil listrik. Begitu lepas pedal gas, mobil langsung terasa ngerem sendiri. Itu bukan rem biasa, tapi efek dari regenerative braking tadi.
Besarnya efek ini beda-beda, tergantung mobilnya. Ada yang halus banget, ada juga yang cukup kuat sampai hampir gak perlu injak rem sering disebut one pedal driving.
Terus beneran bisa nambah jarak tempuh? Bisa, tapi jangan dibayangin kayak ngecas full ya.
Regenerative braking itu cuma bantu ngisi sedikit-sedikit. Tapi kalau dipakai di kondisi yang pas misalnya macet atau stop and go, efeknya lumayan buat nambah efisiensi. Makanya mobil listrik biasanya lebih efisien di kota dibanding di tol yang konstan.
Bonusnya, karena sebagian perlambatan ditangani sistem ini, rem konvensional jadi jarang dipakai.
Efeknya? Kampas rem bisa lebih awet dibanding mobil biasa.
Intinya, regenerative braking itu salah satu “trik pintar” di mobil listrik. Energi yang biasanya kebuang saat ngerem, dimanfaatin lagi buat ngecas baterai. Jadi lebih efisien, lebih hemat, dan terasa beda saat dikendarai.
Awalnya mungkin butuh adaptasi, tapi kalau sudah biasa, justru bikin nyetir jadi lebih santai bahkan kadang cukup pakai satu pedal saja.
Blog
Kenapa Mobil Listrik Gak Punya Knalpot?

Pernah kepikiran gak sih, kenapa mobil listrik gak punya knalpot? Padahal, di mobil konvensional, knalpot itu komponen yang cukup penting, bahkan jadi salah satu ciri khas kendaraan.
Nah, di mobil listrik, cerita ini beda total. Gak ada pembakaran, gak ada asap
Alasan paling utama sederhana, karena mobil listrik gak punya mesin bensin atau diesel.
Kalau di mobil biasa, mesin bekerja dengan cara membakar bahan bakar. Dari proses pembakaran itu, muncul gas sisa yang harus dibuang keluar lewat knalpot. Makanya, knalpot itu wajib ada di mobil konvensional.
Sementara di mobil listrik, gak ada proses pembakaran sama sekali. Energi langsung diambil dari baterai, lalu disalurkan ke motor listrik untuk menggerakkan roda.
Karena gak ada pembakaran, otomatis gak ada gas buang. Jadi ya… gak butuh knalpot.
Ini juga yang bikin mobil listrik sering disebut lebih ramah lingkungan. Karena gak ada emisi gas buang dari kendaraan, udara di sekitar jadi lebih bersih, setidaknya dari sisi penggunaan langsung di jalan.
Makanya, mobil listrik sering jadi solusi buat ngurangin polusi di kota-kota besar.

Tanpa knalpot, pabrikan juga jadi punya kebebasan lebih dalam desain. Bagian kolong mobil bisa dimanfaatkan buat hal lain, biasanya untuk penempatan baterai yang ukurannya cukup besar.
Selain itu, tampilan belakang mobil juga jadi lebih clean karena gak perlu lubang knalpot. Makanya, banyak mobil listrik yang desainnya terlihat lebih simpel dan futuristik.
Satu lagi efek yang langsung terasa, suara.
Mobil listrik hampir gak bersuara, terutama saat jalan pelan. Ini karena nggak ada ledakan kecil dari proses pembakaran di dalam mesin.
Buat pengemudi, ini bikin pengalaman berkendara jadi lebih nyaman. Tapi di sisi lain, karena terlalu senyap, beberapa mobil listrik bahkan ditambahkan suara buatan supaya tetap “terdengar” oleh pejalan kaki.
Meski gak punya knalpot, bukan berarti mobil listrik benar-benar tanpa “sisa”. Tetap ada panas dari sistem baterai dan motor listrik yang harus dikelola. Bedanya, bukan dibuang dalam bentuk gas, tapi lewat sistem pendingin.
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News2 years ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News1 year agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
News2 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
Blog2 years ago4 Mobil SUV Termahal di Dunia, Kepoin dulu Beli Nanti!
Tips2 years agoIni 5 Suara Aneh di Mobil, Hati-hati Kalo Denger Suara Ini!















