Blog
Mengenal Crash Test, Untuk Menguji Seberapa Aman Mobil?
Kalau lagi cari mobil baru, pasti pernah lihat pabrikan atau dealer memamerkan hasil crash test bintang 5 sebagai salah satu nilai jual produknya. Bahkan, sekarang banyak konsumen yang menjadikan rating keselamatan sebagai bahan pertimbangan sebelum membeli mobil.
Tapi sebenarnya, apa sih crash test itu? Dan kenapa hampir semua pabrikan berlomba-lomba mendapatkan nilai bintang 5?
Crash Test, Simulasi Kecelakaan yang Sengaja Dilakukan
Sesuai namanya, crash test adalah pengujian tabrakan yang dilakukan untuk melihat seberapa aman sebuah mobil ketika mengalami kecelakaan.
Dalam pengujian ini, mobil sengaja ditabrakkan ke berbagai objek dengan skenario tertentu. Tujuannya untuk tahu seberapa baik struktur bodi, airbag, sabuk pengaman, hingga sistem keselamatan lainnya dalam melindungi penumpang.
Biasanya, di dalam mobil ditempatkan boneka khusus yang disebut crash test dummy. Boneka ini dipenuhi sensor untuk mengukur dampak benturan yang diterima bagian kepala, dada, kaki, hingga leher.
Dari data tersebut, lembaga penguji bisa menghitung risiko cedera yang mungkin dialami penumpang saat kecelakaan terjadi di dunia nyata.
Gak Cuma Tabrak Depan
Banyak yang mengira crash test hanya berupa mobil ditabrakkan dari depan. Padahal, pengujiannya jauh lebih kompleks.
Ada beberapa skenario yang umum dilakukan, kayak tabrak depan (frontal impact), tabrak samping (side impact), tabrak tiang atau pole test, uji perlindungan pejalan kaki, uji perlindungan anak, sampai uji teknologi keselamatan aktif.
Setiap pengujian punya tujuan berbeda. Misalnya, tabrak samping dilakukan untuk melihat kemampuan bodi dan airbag samping dalam melindungi penumpang ketika kendaraan dihantam dari sisi kanan atau kiri.
Sementara pole test mensimulasikan kondisi mobil menghantam tiang listrik atau pohon dengan area benturan yang sempit.
Siapa yang Melakukan Crash Test?
Ada beberapa lembaga independen yang dikenal luas dalam dunia otomotif.
Yang paling sering dijadikan acuan, mulai dari Euro NCAP untuk pasar Eropa, ANCAP untuk Australia dan Selandia Baru, ASEAN NCAP untuk negara-negara Asia Tenggara sampai IIHS di Amerika Serikat.
Masing-masing memang punya metode penilaian yang sedikit berbeda. Tapi tujuannya sama, yaitu memberikan gambaran kepada konsumen mengenai tingkat keselamatan sebuah mobil.

Kenapa Semua Mengejar Bintang 5?
Sistem penilaian crash test biasanya menggunakan rating bintang, mulai dari satu hingga lima bintang.
Semakin tinggi bintangnya, semakin baik pula kemampuan mobil dalam melindungi pengemudi dan penumpang saat terjadi kecelakaan.
Dulu, mendapatkan empat bintang sudah dianggap bagus. Tapi sekarang situasinya berubah.
Perkembangan teknologi keselamatan membuat standar industri ikut naik. Fitur seperti Electronic Stability Control (ESC), Autonomous Emergency Braking (AEB), Lane Keep Assist, hingga enam airbag atau lebih mulai menjadi hal yang umum.
Akibatnya, banyak mobil baru harus mampu meraih bintang 5 agar dianggap kompetitif di pasaran.
Kalau sebuah mobil baru hanya memperoleh tiga atau empat bintang, konsumen biasanya langsung membandingkannya dengan rival yang sudah mendapat lima bintang.
Bintang 5 Bukan Berarti Kebal Kecelakaan
Nah, ini yang sering disalahartikan. Mobil dengan rating bintang 5 bukan berarti penumpangnya pasti selamat dalam semua kondisi kecelakaan.
Rating tersebut hanya menunjukkan bahwa mobil memiliki tingkat perlindungan yang lebih baik dibanding kendaraan dengan nilai lebih rendah berdasarkan skenario pengujian tertentu.
Faktor lain seperti kecepatan kendaraan, kondisi jalan, penggunaan sabuk pengaman, hingga arah benturan tetap sangat berpengaruh terhadap tingkat keselamatan.
Jadi, meskipun mobil sudah punya rating tertinggi, pengemudi tetap harus berkendara dengan aman.