Blog

Kenalan Sama WLTP, NEDC, EPA, dan CLTC

Published

on

Kalau lagi lihat spesifikasi mobil listrik, pasti pernah nemu angka jarak tempuh yang bikin bingung.

Misalnya ada mobil yang diklaim bisa menempuh 600 kilometer. Tapi pas lihat di sumber lain, angkanya cuma 500 kilometer. Bahkan ada yang turun lagi jadi sekitar 450 kilometer.

Padahal mobilnya sama.

Nah, perbedaan itu biasanya bukan karena ada yang salah tulis. Penyebabnya adalah standar pengujian yang dipakai berbeda.

Sama kayak konsumsi bahan bakar mobil bensin yang bisa berbeda tergantung metode tesnya, jarak tempuh mobil listrik juga punya beberapa standar pengukuran. Yang paling sering ditemui adalah NEDC, WLTP, EPA, dan sekarang mulai banyak juga CLTC.

Buat yang lagi cari mobil listrik, memahami perbedaan standar ini penting supaya gak salah berekspektasi.

NEDC, angkanya biasanya paling bikin senang

NEDC atau New European Driving Cycle merupakan metode pengujian yang sudah dipakai sejak lama di Eropa.

Masalahnya, standar ini dibuat saat kondisi lalu lintas dan karakter kendaraan masih jauh berbeda dibanding sekarang.

Dalam pengujiannya, mobil diuji dengan pola berkendara yang relatif santai. Kecepatan rata-rata rendah, akselerasi pelan, dan simulasi kondisi jalan juga gak terlalu menantang.

Alhasil, hasil jarak tempuh yang keluar biasanya cukup optimistis.

Makanya banyak mobil listrik yang punya klaim jarak tempuh tinggi kalau memakai standar NEDC. Tapi saat dipakai sehari-hari, hasilnya sering kali gak semanis angka di brosur.

Kalau diibaratkan, NEDC ini seperti menghitung konsumsi BBM saat jalanan kosong terus tanpa macet.

WLTP, sekarang paling sering dipakai

Karena NEDC dianggap sudah kurang relevan, kemudian hadir WLTP atau Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure.

Saat ini WLTP menjadi salah satu standar yang paling banyak digunakan oleh pabrikan mobil di berbagai negara.

Dibanding NEDC, pengujian WLTP jauh lebih realistis. Kecepatan kendaraan lebih bervariasi, akselerasi lebih sering dilakukan, dan durasi tes juga lebih panjang.

Karena simulasinya lebih mendekati kondisi berkendara sehari-hari, hasil yang didapat biasanya lebih masuk akal.

Makanya, kalau melihat satu mobil dengan angka WLTP lebih rendah daripada NEDC, itu hal yang normal.

Banyak pengguna EV juga menganggap angka WLTP cukup dekat dengan pemakaian nyata, meski hasil akhirnya tetap tergantung cara mengemudi dan kondisi jalan.

EPA, standar yang terkenal paling “jujur”

Kalau melihat mobil listrik asal Amerika Serikat, biasanya mereka menggunakan standar EPA atau Environmental Protection Agency.

Di kalangan pecinta EV, EPA punya reputasi sebagai standar yang paling konservatif.

Kenapa? Karena metode pengujiannya lebih ketat dibanding standar lain. Hasilnya pun cenderung lebih rendah.

Tapi justru karena itu banyak orang menganggap EPA sebagai angka yang paling aman untuk dijadikan patokan.

Misalnya ada mobil listrik dengan jarak tempuh 550 kilometer versi WLTP. Saat diuji EPA, bisa saja hasilnya cuma sekitar 480-500 kilometer.

Kelihatannya turun jauh, tapi biasanya angka tersebut lebih mendekati kondisi penggunaan di dunia nyata.

Makanya kalau melihat mobil dengan klaim EPA 500 kilometer, banyak orang merasa cukup yakin mobil tersebut memang bisa mendekati angka itu dalam penggunaan normal.

CLTC, bikin angka jarak tempuh terlihat panjang

Belakangan, standar CLTC atau China Light-Duty Vehicle Test Cycle juga makin sering muncul.

Wajar saja, karena sekarang banyak mobil listrik asal China yang masuk ke Indonesia.

Nah, CLTC ini sering menghasilkan angka yang lebih tinggi dibanding WLTP.

Pola pengujiannya dinilai lebih ringan sehingga hasil jarak tempuhnya terlihat lebih panjang.

Makanya jangan heran kalau ada mobil listrik yang diklaim mampu menempuh 700 kilometer berdasarkan CLTC, tapi saat dikonversi ke WLTP angkanya bisa turun cukup banyak.

Bukan berarti mobilnya jadi lebih boros, tapi memang metode tesnya berbeda.

Jadi yang mana yang harus dipercaya?

Sebenarnya gak ada standar yang bisa menjamin hasilnya bakal sama persis saat mobil dipakai di jalan.

Soalnya masih banyak faktor lain yang berpengaruh, mulai dari gaya berkendara, kondisi lalu lintas, suhu udara, penggunaan AC, kontur jalan, sampai beban kendaraan.

Jadi mulai sekarang, kalau melihat brosur mobil listrik dengan klaim jarak tempuh yang fantastis, jangan cuma fokus ke angkanya.

Cek juga standar pengujiannya.

Sebab mobil dengan jarak tempuh 500 kilometer versi WLTP bisa saja punya performa nyata yang lebih baik dibanding mobil dengan klaim 600 kilometer versi NEDC atau CLTC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version