Connect with us

Blog

Honda Kenalkan 3 Model Versi Upgrade di IIMS 2026

Published

on

Honda tahun ini gak cuma bawa model, tapi juga “versi upgrade” dari lineup yang sudah ada. Fiturnya dibikin lebih kepakai, paketnya lebih menarik, dan harganya diatur supaya value-nya terasa.

Honda kembali meramaikan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 yang berlangsung pada 5–15 Februari di JIExpo Kemayoran.

Di pameran kali ini, Honda datang dengan serangkaian penyegaran produk yang difokuskan ke peningkatan value, update fitur yang lebih relevan buat pemakaian harian, plus struktur harga yang dibuat lebih kompetitif di masing-masing segmen.

Strateginya bukan cuma soal meluncurkan model baru, tapi memaksimalkan produk yang sudah ada supaya makin pas dengan kebutuhan konsumen dari sisi kenyamanan, kemudahan dipakai, sampai nilai kepemilikan jangka panjang.

Konsep booth Honda juga dibuat lebih interaktif. Selain menampilkan lini produk terbaru, ada program penjualan, area test drive, sampai layanan Honda Certified Used Car (HCUC) buat yang mau tukar tambah mobil lama ke Honda baru. Aktivitas pendukung seperti Honda Racing Simulator dan Kids Corner juga disiapkan supaya pengunjung lebih betah di booth.

Honda juga membawa program Honda Culture Indonesia (HCI) sebagai wadah kolaborasi dengan komunitas dan konsumen. Isinya beragam, mulai dari IIMS Community Experience, IIMS Go-Kart Competition, sampai sesi talkshow bertema Trust yang membahas sudut pandang konsumen dan pengalaman nyata pengguna Honda.

Shugo Watanabe, President Director PT Honda Prospect Motor, bilang, melalui partisipasi Honda di IIMS 2026, Honda menegaskan komitmennya untuk terus mendengarkan kebutuhan konsumen Indonesia dan menghadirkan pengembangan produk yang relevan dengan pola penggunaan sehari-hari.

“Setiap penyegaran yang kami lakukan berangkat dari masukan konsumen dan dinamika pasar, sehingga kami dapat terus menghadirkan produk dengan value yang semakin baik, sekaligus mempertahankan kualitas dan kepercayaan yang telah dibangun Honda di Indonesia dalam jangka panjang,” kata Watanabe.

Soal penyegaran produk, Honda bilang arah pengembangannya banyak datang dari masukan konsumen, pola pemakaian, dan data pasar. Jadi yang diperbaiki fokus ke hal yang paling terasa dipakai sehari-hari, seperti kenyamanan kabin, fitur keselamatan, dan konektivitas, tanpa bikin value-nya jadi kemahalan.

Segmen SUV jadi sorotan utama Honda di IIMS 2026. Ada tiga model yang dapat penyegaran dengan pendekatan berbeda, menyesuaikan kebutuhan di tiap tahap pengguna.

New Honda WR-V diarahkan buat konsumen yang baru mau naik kelas ke SUV, dengan update desain, fitur konektivitas dan kenyamanan, plus reposisi harga yang lebih kompetitif.

New Honda BR-V N7X Edition tampil dengan karakter lebih tangguh buat keluarga, tapi tetap mempertahankan aspek kenyamanan dan keselamatan yang sudah jadi kekuatan model ini.

Sementara New Honda CR-V e:HEV ditujukan buat konsumen loyal CR-V yang mau masuk ke teknologi hybrid, dengan efisiensi lebih baik tanpa menghilangkan rasa premium dan kenyamanan berkendara khasnya.

Model lain juga tetap dipajang, termasuk Honda Brio S CVT buat first time buyer. Pengunjung juga bisa coba langsung Honda STEP WGN e:HEV dan New Honda HR-V e:HEV di area test drive. Khusus New Honda HR-V E dan E+, sejak Januari 2026 juga sudah dapat penyesuaian harga.

Biar makin menarik, Honda menyiapkan berbagai program penjualan selama IIMS 2026. Mulai dari DP ringan, bunga rendah sampai 0 persen, cicilan mulai Rp 2 jutaan, hingga tenor pembiayaan sampai 7 tahun. Ada juga program lucky dip, direct gift, dan layanan trade-in.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Mobil Listrik Bisa Dicas di Rumah, Tapi Listriknya Kuat?

Published

on

By

Salah satu daya tarik utama mobil listrik itu sebenarnya bukan soal akselerasi atau teknologi canggihnya, tapi hal yang kelihatannya sepele, bisa ngecas di rumah. Pulang kerja, colok, tinggal tidur. Pagi-pagi baterai sudah penuh lagi. Lebih simpel dan katanya lebih irit biaya.

Tapi sebelum sampai ke situ, hampir semua calon pemilik mobil listrik pasti kepikiran satu hal yang sama, “Listrik rumah gue kuat gak, ya?”

Pertanyaan ini wajar. Soalnya mobil listrik memang gak butuh bensin, tapi butuh pasokan listrik yang stabil dan cukup. Bukan cuma kuat di awal, tapi juga sanggup jalan berjam-jam.

Untuk pemakaian rumahan, pengisian daya mobil listrik umumnya dilakukan lewat arus AC. Charger bawaan pabrikan biasanya bermain di kisaran 2.200 watt, sementara wall charger bisa lebih besar lagi. Artinya, selama mobil ngecas, rumah akan menanggung beban listrik tambahan cukup lama, bisa enam sampai delapan jam, tergantung kapasitas baterai.

Di sinilah mulai kelihatan bedanya rumah dengan daya pas-pasan dan rumah yang sudah siap mobil listrik. Secara teknis, listrik 2.200 VA sebenarnya sudah bisa dipakai untuk ngecas. Tapi prakteknya, pemilik harus pintar-pintar atur waktu. AC, rice cooker, pompa air, bahkan setrika, sebaiknya gak dipakai barengan. Kalau lengah sedikit, MCB bisa turun tanpa aba-aba.

Karena itu, banyak pengguna mobil listrik bilang 2.200 VA itu “cukup, tapi ribet”. Bisa dipakai, tapi harus disiplin. Sementara kalau daya rumah di angka 3.500 VA, ceritanya sudah jauh lebih santai. Mobil bisa tetap ngecas, peralatan rumah tangga masih bisa menyala, dan risiko listrik jeglek jauh berkurang.

Makanya, gak sedikit dealer mobil listrik yang sejak awal menyarankan konsumennya untuk memastikan daya rumah minimal di angka tersebut. Supaya pengalaman pakai mobil listriknya gak nyusahin.

Cerita lain muncul saat pemilik mobil listrik ingin naik kelas dengan wall charger. Waktu ngecas memang jauh lebih singkat dan stabil, tapi konsekuensinya jelas, daya rumah harus ikut naik. Biasanya ke 4.400 VA atau bahkan 5.500 VA.

Pada akhirnya, mobil listrik memang menawarkan biaya operasional yang lebih hemat dan pengalaman berkendara yang tenang. Tapi semua itu akan terasa maksimal kalau infrastrukturnya mendukung, termasuk dari rumah sendiri. Jangan sampai mobilnya senyap dan modern, tapi setiap kali ngecas malah bikin ribet dan gak nyaman.

Continue Reading

Blog

Fast Charging Bikin Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak, Memang Iya?

Published

on

By

Kalau lagi ngobrol soal mobil listrik, satu pertanyaan ini hampir pasti muncul, “Sering fast charging, baterainya cepet jebol nggak sih?”

Wajar sih. Soalnya logikanya sederhana. Kalau ngecas HP pakai charger cepat terus, panas. Lama-lama baterai ngedrop. Terus jadi buat kita mikir, “Mobil listrik kan baterainya jauh lebih gede. Apa gak lebih parah?”

Ternyata jawabannya gak sesederhana itu. Fast charging itu memang “berat”, tapi bukan musuh utama

Jadi, fast charging memang bikin baterai kerja lebih keras. Arus listrik besar masuk dalam waktu singkat, dan itu memicu panas. Panas inilah yang jadi faktor utama degradasi baterai.

Tapi…mobil listrik bukan HP.

Mini Aceman

Baterai mobil listrik sudah dibekali battery management system (BMS) dan sistem pendingin aktif. Ada yang pakai cairan, ada juga yang pakai udara. Fungsinya menjaga suhu baterai tetap aman.

Kalau suhu mulai naik, sistemnya bakal otomatis nurunin kecepatan ngecas atau bahkan menghentikan fast charging sementara

Yang bikin baterai cepat capek itu bukan fast charging-nya doang. Menurut beberapa riset, degradasi baterai itu lebih dipengaruhi oleh kombinasi kebiasaan. Misalnya, sering fast charging saat baterai hampir nol, atau langsung ngecas cepat habis dipakai ngebut jauh.

Bisa juga membiarkan baterai sering dibiarkan 100 persen atau 0 persen dalam waktu lama.

Makanya banyak pabrikan nyaranin ngecas harian cukup di 20–80 persen, dan fast charging dipakai saat butuh aja, misalnya perjalanan jauh.

Jadi, kalau ditanya aman atau gak Jawaban singkatnya, aman, asal gak berlebihan.

Perlu diingat kalau yang bikin baterai cepat turun performanya adalah cara pakainya, bukan cuma metode ngecasnya.

Continue Reading

Blog

Sunyi Jadi Ciri Mobil Listrik, Tapi Ada Risikonya

Published

on

By

Charging Wuling Air ev

Buat yang pertama kali coba mobil listrik, satu hal yang langsung kerasa adalah… sunyi. Nyalain mobil, gak ada suara mesin. Jalan pelan, masih aja senyap. Bahkan kadang bikin mikir, “Ini mobil beneran udah nyala belum, sih?”

Nah, kondisi ini memang bukan kebetulan. Mobil listrik dari sananya emang dirancang minim suara.

Kenapa mobil listrik bisa senyap?

Soalnya mobil listrik gak pakai mesin bensin atau diesel. Gak ada proses pembakaran, gak ada ledakan di ruang mesin, dan gak ada knalpot. Yang kerja cuma motor listrik, dan itu kerjanya halus banget.

Suara yang biasanya kedengeran cuma dari ban yang muter atau angin kalau mobil udah agak ngebut. Di kecepatan rendah? Hampir nihil.

Sunyi itu enak, tapi…

Buat pengemudi, jelas enak. Kabin lebih tenang, perjalanan terasa santai, dan gak capek di telinga. Tapi buat orang di luar mobil, ceritanya bisa beda.

Di kecepatan pelan, mobil listrik bisa datang tanpa suara sama sekali. Pejalan kaki, pesepeda, atau orang di parkiran bisa gak sadar kalau ada mobil mendekat. Apalagi di area perumahan atau pusat perbelanjaan.

Makanya, mobil listrik sering dibilang terlalu senyap sampai berpotensi bikin bahaya.

Buat ngatasin masalah itu, sekarang banyak mobil listrik dibekali suara buatan alias Acoustic Vehicle Alerting System (AVAS).

Fungsinya ngasih bunyi saat mobil jalan pelan, biasanya di bawah 20–30 km per jam. Jadi orang sekitar bisa sadar kalau ada mobil lewat, tanpa harus bikin ribut.

Uniknya, suara ini beda-beda tiap merek. Ada yang kayak dengungan halus, ada juga yang dibikin futuristis biar kedengeran “mobil masa depan”.

Di beberapa negara, fitur ini bahkan udah wajib. Jadi mobil listrik nggak boleh terlalu senyap di kecepatan rendah.

Walaupun udah ada suara buatan, pengemudi mobil listrik tetap harus ekstra waspada. Jangan mentang-mentang mobil sunyi terus ngerasa aman.

Lewat gang sempit, area sekolah, atau parkiran, kecepatan harus dijaga. Soalnya, gak semua orang langsung ngeh ada mobil listrik yang lagi jalan.

Di sisi lain, pejalan kaki juga perlu adaptasi. Sekarang gak bisa cuma ngandelin suara mesin, tapi harus lebih rajin lihat kiri-kanan.

Mobil listrik yang senyap itu bukan kekurangan, justru salah satu keunggulan. Jalanan jadi gak berisik, kabin lebih nyaman, dan polusi suara berkurang. Tapi di balik itu, tetap ada tanggung jawab.

Continue Reading

Trending