Blog
Dijuluki Princess Otomotif, Ini Koleksi Mobil Ratu Elizabeth II

Salah satu wanita di Inggris yang gak punya SIM adalah Ratu Elizabeth II. Mau naik mobil ke mana aja beliau ini kebal hukum alias gak bakal kena tilang. Kok bisa sih? Simpelnya, beliau itu Ratu alias bukan rakyat biasa kaya kita. Tapi kamu harus tau, Ratu Elizabeth jago otomotif dan punya banyak koleksi mobil mewah, lho!
Omong-omong, Ratu Elizabeth II udah punya ketertarikan sama dunia otomotif sejak muda. Buktinya waktu Perang Dunia II menjadi satu-satunya orang istana yang jabat sebagai mekanik di Auxiliary Territorial Service (ATS). Pantes aja kan banyak orang menjuluki Princess Auto Mechanic?
FYI koleksi mobil Ratu Elizabeth II gak main-main. Berikut beberapa koleksi mewah Ratu Elizabeth II yang harganya fantastis!
Bentley State Limousine

Satu-satunya mobil Ratu Elizabeth II yang paling ikonik itu Bentley State Limousin (2022). Ratu sering pakai mobil ini di akhir masa jabatannya. Kabarnya, harga Bentley State Limousin ini sekitar Rp189,6 miliar. Wow banget gak tuh?
Baca juga: Pesona Mobil Bentley Terbaru, Generasi Paling Bertenaga?
Land Rover

Ratu Elizabeth II suka banget sama mobil Land Rover. Saking sukanya, Ratu punya koleksi 30 model Land Rover, dari series 1 sampe yang Defender paling baru. Yang paling terkenal adalah Land Rover Defender State Car (2016). Ratu memesan mobil ini buat memperingati ulang tahunnya ke-60. Konon, mobil mewah satu ini harganya capai Rp 9 miliar!
Daimler

Percaya atau gak, Ratu Elizabeth II adalah kolektor mobil Daimler. Beliau sempe punya Daimler DS Limousine 1953, Daimler V8 Super Saloon 1962, Daimler Majestic V12 1960, dan Daimler Super V8 1948. Konon, mobil mewah seharga Rp700 juta sampe Rp 3 miliar ini emang khusus buat Elizabeth II, lho!
Aston Martin DB6 Volante
Elizabeth II memesan mobil keluaran 1965 waktu ulang tahun Pangeran Charles ke-21. Ratu memakai mobil seharga Rp1,2 m ini buat datang ke acara resmi kerajaan sampe keliling perkebunan. Oiya, Pangeran Charles sempet memodif Aston Martin ini pake bahan bakar bioetanol. Jadi, mobil makin ramah lingkungan deh!
Itu tadi beberapa koleksi mobil Elizabeth II. Kira-kira kamu paling suka koleksi yang mana?
Blog
Kenapa Banyak Orang Beli Mobil Listrik Buat Jadi Mobil Kedua?

Pernah gak kepikiran, kenapa banyak orang yang beli mobil listrik tapi mobil bensinnya masih dipertahankan?
Padahal kalau dipikir-pikir, kalau mobil listrik sudah dipakai setiap hari, harusnya mobil lama bisa dijual buat nambah biaya, kan? Nyatanya gak gitu.
Fenomena ini justru cukup sering ditemui di Indonesia. Banyak pemilik mobil listrik yang menjadikan EV sebagai kendaraan kedua di rumah, sementara mobil bensin tetap dipakai untuk kebutuhan tertentu.
Terus kenapa fenomenanya kayak gitu?
Mobil Listrik Enak Buat Dipakai Harian
Banyak pemilik EV memilih mobil listrik buat menemani aktivitas sehari-hari.
Mulai dari berangkat kerja, nganter anak sekolah, sampai jalan ke mal atau nongkrong, semuanya bisa dilakukan tanpa harus mampir ke SPBU.
Kalau di rumah sudah ada charger, tinggal colok semalaman. Besok paginya baterai sudah penuh dan mobil siap dipakai lagi.
Belum lagi biaya “isi energinya” yang biasanya lebih murah dibanding isi bensin.
Tapi Kalau Keluar Kota, Mobil Bensin Masih Jadi Andalan
Meski jaringan SPKLU terus bertambah, gak sedikit orang yang masih merasa lebih tenang pakai mobil bensin buat perjalanan jauh.
Alasannya sederhana.
Isi bensin cuma butuh beberapa menit, sementara ngecas mobil listrik tetap memerlukan waktu, apalagi kalau sedang ramai.
Makanya, saat liburan, mudik, atau road trip lintas kota, banyak yang memilih tetap memakai mobil bensin.

Biar Gak Pusing Mikirin Jarak Tempuh
Satu lagi yang masih sering jadi pertimbangan adalah soal jarak tempuh.
Memang, mobil listrik sekarang sudah punya daya jelajah yang semakin jauh. Tapi buat sebagian orang, terutama yang sering bepergian ke daerah yang belum banyak fasilitas pengisian daya, mobil bensin masih terasa lebih praktis.
Jadi, daripada khawatir harus mencari SPKLU di tengah perjalanan, mereka memilih menyimpan dua mobil dengan fungsi yang berbeda.
Mobil Lama Masih Enak, Ngapain Dijual?
Ada juga yang memilih mempertahankan mobil lamanya karena kondisinya masih bagus.
Daripada dijual dengan harga yang dirasa kurang sesuai, banyak pemilik memilih tetap menyimpannya sebagai mobil cadangan.
Kalau suatu hari mobil listrik sedang dicas atau dipakai anggota keluarga lain, masih ada mobil bensin yang siap digunakan.
Dua Mobil, Dua Fungsi
Sekarang mulai banyak keluarga yang membagi peran kendaraannya.
Mobil listrik dipakai buat aktivitas harian karena lebih hemat biaya operasional dan nyaman digunakan di dalam kota.
Sementara mobil bensin lebih sering keluar garasi saat akhir pekan, liburan, atau perjalanan jarak jauh.
Pola seperti ini membuat keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Nanti Bakal Berubah?
Seiring bertambahnya SPKLU, teknologi baterai yang semakin maju, dan jarak tempuh mobil listrik yang terus meningkat, bukan tidak mungkin pola ini bakal berubah.
Bisa saja beberapa tahun ke depan mobil listrik benar-benar menjadi kendaraan utama di setiap rumah.
Tapi untuk saat ini, buat banyak orang Indonesia, mobil listrik masih lebih sering mengambil peran sebagai mobil kedua. Bukan karena kemampuannya kurang, melainkan karena dianggap paling pas untuk kebutuhan harian, sementara mobil bensin masih jadi andalan saat harus bepergian lebih jauh.
Blog
Gaji Berapa Sih Biar Aman Nyicil Mobil Rp 300 Jutaan?

Mobil baru di kelas Rp 300 jutaan sekarang pilihannya makin banyak. Mulai dari SUV, MPV, sampai mobil listrik juga sudah ada yang bermain di kisaran harga tersebut. Gak heran kalau banyak orang mulai kepikiran buat membawa pulang mobil impiannya.
Tapi sebelum tergoda promo DP ringan atau cicilan murah, ada satu pertanyaan yang wajib dijawab dulu. Sebenarnya, gaji berapa sih yang ideal buat nyicil mobil seharga Rp 300 jutaan?
Jangan sampai cicilan mobil malah bikin keuangan jadi megap-megap setiap akhir bulan.
Kalau ambil patokan harga mobil Rp 300 juta dengan uang muka (DP) 20 persen atau sekitar Rp 60 juta, berarti dana yang dibiayai leasing sebesar Rp 240 juta.
Dengan tenor lima tahun dan bunga yang umum ditawarkan perusahaan pembiayaan, cicilan bulanannya berada di kisaran Rp 4,8 juta sampai Rp 5,2 juta.
Nah, angka ini sebaiknya jangan langsung dibandingkan dengan gaji bulanan. Ada aturan sederhana yang sering dipakai dalam perencanaan keuangan, yaitu total cicilan kendaraan idealnya tidak lebih dari 20-30 persen dari penghasilan setiap bulan.

Kalau cicilan mobil sekitar Rp 5 juta, kira-kira kayak gini gambarannya:
- Gaji Rp 15 juta: cicilan sekitar 33 persen dari penghasilan, tergolong cukup berat.
- Gaji Rp 18 juta: cicilan sekitar 28 persen, masih dalam batas aman.
- Gaji Rp 20 juta: cicilan sekitar 25 persen, lebih ideal.
- Gaji Rp 25 juta: cicilan sekitar 20 persen, jauh lebih lega.
Artinya, kalau mau kondisi keuangan tetap sehat, gaji sekitar Rp 18 juta hingga Rp 20 juta per bulan bisa dibilang lebih realistis untuk membeli mobil baru seharga Rp 300 jutaan.
Jangan Lupa, Punya Mobil Gak Cuma Bayar Cicilan
Banyak orang cuma fokus menghitung cicilan setiap bulan. Padahal, setelah mobil masuk garasi, masih ada biaya lain yang harus disiapkan.
Misalnya untuk bensin, kebutuhan servis berkala, parkir, tol, sampai asuransi kendaraan.
Kalau mobil dipakai harian, biaya operasionalnya bisa mencapai sekitar Rp 2 juta sampai Rp 4 juta setiap bulan, tergantung jarak tempuh dan jenis kendaraan yang digunakan.
Artinya, selain menyiapkan dana sekitar Rp 5 juta untuk cicilan, pemilik mobil juga perlu memiliki anggaran tambahan agar biaya operasional tidak mengganggu kebutuhan lainnya.
Punya mobil memang bisa bikin aktivitas sehari-hari lebih nyaman. Apalagi buat yang sering bepergian bersama keluarga atau mobilitasnya tinggi.
Tapi, jangan sampai maksain diri cuma karena melihat promo DP rendah atau tenor panjang. Mobil seharusnya membantu mobilitas, bukan malah jadi sumber stres karena cicilan yang terlalu besar.
Kalau setelah dihitung cicilan dan biaya operasional masih menyisakan ruang untuk kebutuhan pokok, tabungan, investasi, serta dana darurat, berarti kondisi keuanganmu sudah lebih siap untuk memiliki mobil.
Blog
8 Kebiasaan Ini Bikin Mobil Kamu Cepat Rusak!

Merawat mobil ternyata gak selalu soal rajin servis ke bengkel atau pakai oli mahal. Cara menggunakan mobil setiap hari juga punya pengaruh besar terhadap usia pakai berbagai komponennya.
Masalahnya, banyak kebiasaan kecil yang sering dilakuin tanpa sadar justru bisa membuat mobil bekerja lebih berat. Kalau terus dibiarkan, kerusakan bisa muncul lebih cepat dan biaya perbaikannya tentu enggak murah.
Mulai dari kebiasaan menahan kopling, sering menginjak rem saat jalan menurun, sampai malas mengecek indikator di panel instrumen, hal-hal kecil seperti ini bisa berdampak ke kondisi kendaraan.
Berikut beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai dikurangi kalau kamu sering melakukan ini!
Sering Menginjak Pedal Kopling Setengah
Buat pengguna mobil manual, kebiasaan memainkan kopling memang sering dilakukan, terutama saat terjebak macet atau parkir di tempat sempit.
Namun, terlalu sering menahan pedal kopling setengah bisa membuat kampas kopling lebih cepat aus. Gesekan yang terus terjadi membuat komponen tersebut bekerja lebih keras dari seharusnya.
Lebih baik injak kopling penuh saat perlu mengganti gigi dan lepaskan secara perlahan ketika mulai berjalan.
Jarang Memanaskan Mobil yang Lama Gak Dipakai
Mobil modern memang gak selalu membutuhkan waktu lama untuk dipanaskan. Namun, kendaraan yang jarang digunakan tetap perlu diperhatikan kondisinya.
Saat mobil lama diam, oli mesin bisa turun dan belum melumasi seluruh bagian mesin ketika pertama kali dinyalakan. Makanya, setelah lama gak dipakai, sebaiknya biarkan mesin bekerja beberapa saat sebelum langsung dipakai untuk perjalanan berat.
Langsung Menggeber Mesin Saat Baru Menyala
Banyak pemilik mobil yang langsung menjalankan mobil dengan putaran mesin tinggi setelah mesin baru hidup.
Padahal, saat kondisi masih dingin, oli belum sepenuhnya bersirkulasi ke seluruh komponen mesin. Kebiasaan langsung menggeber mobil bisa membuat gesekan antar komponen meningkat.
Cukup berkendara dengan santai di awal perjalanan sampai suhu kerja mesin tercapai.
Sering Mengabaikan Lampu Peringatan di Dashboard
Lampu indikator di panel instrumen bukan sekadar pajangan.
Masih banyak pemilik mobil yang membiarkan lampu peringatan menyala karena mobil masih terasa normal saat digunakan.
Padahal, indikator tersebut bisa menjadi tanda awal adanya masalah, mulai dari gangguan mesin, sistem pengereman, aki, hingga suhu mesin.
Semakin lama dibiarkan, risiko kerusakan yang lebih besar juga makin tinggi.
Terlambat Mengganti Oli
Oli menjadi salah satu komponen penting untuk menjaga mesin tetap bekerja dengan baik.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menunda penggantian oli karena merasa mobil masih nyaman digunakan.
Padahal, oli yang sudah kehilangan kualitasnya tidak mampu melindungi komponen mesin secara optimal. Akibatnya, gesekan meningkat dan bisa mempercepat keausan.
Sering Menghantam Jalan Rusak dengan Kecepatan Tinggi
Jalan berlubang atau polisi tidur memang sulit dihindari. Tapi kebiasaan melewatinya dengan kecepatan tinggi bisa membuat kaki-kaki mobil bekerja lebih berat.
Komponen seperti shock absorber, tie rod, ball joint, hingga bushing bisa mengalami tekanan berlebih.
Kalau sering dilakukan, bukan cuma kenyamanan yang berkurang, tapi biaya perbaikannya juga bisa membengkak.

Membawa Barang Terlalu Berat
Mobil memang dirancang untuk membawa penumpang dan barang, tetapi bukan berarti bisa terus diberikan beban berlebihan.
Muatan yang terlalu berat bisa membuat suspensi, ban, rem, dan mesin bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, komponen tersebut bisa mengalami keausan lebih cepat.
Meremehkan Tekanan Ban
Tekanan ban yang gak sesuai sering dianggap masalah kecil. Padahal, ban memiliki peran besar terhadap keselamatan dan kenyamanan berkendara.
Ban yang kurang angin membuat mesin bekerja lebih berat karena hambatan gulir meningkat. Sementara tekanan terlalu tinggi bisa mengurangi daya cengkeram ban ke permukaan jalan.
Mulai Perhatikan Kebiasaan Berkendara
Mobil yang awet bukan cuma hasil dari servis rutin, tetapi juga dari cara pemiliknya memperlakukan kendaraan setiap hari.
Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Jadi, sebelum mobil mengalami masalah serius, ada baiknya mulai mengubah beberapa kebiasaan sederhana saat berkendara.
Toh, menjaga mobil tetap sehat jauh lebih murah dibanding harus memperbaiki kerusakan besar akibat hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah.
Blog2 years agoIni 5 Lampu Merah Terlama di Indonesia, Kuncinya Cuma Sabar
News2 years ago8 Fitur GWM Tank 500 Yang Kepake Banget
News2 years agoMobil BAIC BJ30 Bakal Ada di Indonesia
News2 years agoMercedes Benz AMG SL 63 Nampang Di Queen Of Tears
News2 years agoIntip Perbedaan Hyundai Stargazer X
News1 year agoVF 3 Mini-SUV Elektrik Harganya 227 Jutaan Rupiah
Blog2 years ago4 Mobil SUV Termahal di Dunia, Kepoin dulu Beli Nanti!
News2 years agoKatakan Selamat Tinggal ke Calo, Kini SIM Gak Bisa Nembak Lagi!


















Pingback: Jangan Asal Pakai Mobil, Ini Jenis Mobil Offroad di Indonesia - Halotomotif